
Rania berdiri dan mengelus perut yang menonjol miliknya, seraya tersenyum lebar. "Alhamdulillaah, lega.. Setelah beberapa hari aku tidak buang air besar," ujarnya.
Setelah selesai buang air besar, Rania segera keluar untuk kembali menemui abangnya yang belum sempat ia tanyakan kondisinya saat ini. Namun pada saat ia keluar, ayahnya juga ada di sana.
"Ayah ada di sini juga?" Rania kembali menutup pintu toilet yang ada di ruang kamar Radit.
"Iya, Rania. Sini!" pak Burhan merentangkan tangannya, bersiap untuk memeluk putrinya yang sedang berjalan menghampirinya.
"Kamu sudah membaik, nak?" pak Burhan mengusap rambut lembut Rania.
"Alhamdulillaah, Rania sudah membaik, ayah," balas Rania ketika pelukan sudah di lepaskan.
"Syukurlah, ayah kemarin juga mencemaskanmu, nak. Ayah juga tidak akan tega jika ada orang yang berani menyakiti putri ayah," pak Burhan mengungkapkan kecemasannya.
"Iya, ayah. Maafkan Rania, karena sudah membuat ayah dan yang lainnya cemas!"
"Tidak, nak. Itu bukan salah kamu, memangnya siapa orang yang berani menyakiti kamu itu? Ayah jadi penasaran," pertanyaan pak Brahma kembali ia lontarkan karena belum juga mendapat jawaban atas siapa yang berbuat jahat pada putrinya.
"Em.." Rania melirik pada Bagas yang menggelengkan kepala untuk memberi kode padanya. "Sudahlah ayah, yang penting mereka sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Kak Nad tidak ikut ke sini?" Rania mencari sosok Nadira yang tidak ada di sana.
"Kakak kamu kan harus kerja setiap pagi, jadi ayah tidak izinkan untuk ikut menemani abang kamu di sini. Dia harus istirahat," jawab pak Burhan. Ia menatap putrinya dengan wajah bahagia, karena Rania beserta kandungannya baik-baik saja. Bu Sari yang menyaksikan pemandangan langka seperti ini ikut bahagia, karena rasanya pak Burhan belum pernah seperduli ini pada Rania.
"Oh iya, bang Radit gimana ceritanya, kok abang bisa kecelakaan seperti ini?" Rania melangkah lebih mendekat ke ranjang pasien abangnya, ia hampir melupakan tujuan utamanya datang ke sana.
Radit menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya. "Panjang ceritanya, Rania. Tapi alhamdulillaah, Tuhan masih memberi kesempatan abang untuk hidup," ucapnya.
"Iya, bang. Abang yang sabar, ya. Semoga lekas membaik juga," ucap Rania prihatin.
__ADS_1
Radit meraih buah tangan Rania. Ia menatap sayup adiknya. "Terima kasih ya, Rania. Kamu sudah datang, padahal selama ini abang selalu saja menyusahkan kamu. Abang minta maaf sama kamu, Rania!"
"Tidak apa-apa, bang. Bagaimanapun juga, abang ini kan abang Rania satu-satunya," Rania memberi seulas senyum pada Radit.
"Rania, tapi kesalahan abang sama kamu itu banyak. Maafkan abangmu ini, ya. Kalau dulu abang memaksa kamu untuk putus sekolah hanya karena abang minta kamu pinjam uang pada Bagas, suami kamu sekarang ini. Abang tahu, waktu itu, sebelum kamu bisa sebahagia ini bersamanya. Kamu pasti sangat menderita, kamu pasti sangat tertekan, tapi kamu tidak memiliki pilihan lain demi kesembuhan ibu." sesal Radit.
"Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya, kenapa abang pilih kamu yang harus pinjam uang pada Bagas, dan menjadikan kamu sebagai jaminannya? Padahal masih ada Nadira, yang sudah lulus dari sekolahnya. Itu karena abang sebenarnya iri sama kamu, Rania. Karena ibu selalu memanjakan kamu di banding Nadira apalagi abang. Makanya ketika ibu sakit, maka kamulah yang harus mengorbankan diri kamu untuk ibu. Maafkan abang, ya!" tambah pria itu dengan penuh penyesalan.
Radit menyeka air mata yang nyaris jatuh dari pelupuk matanya. Sedangkan Rania sudah meneteskan banyak air matanya sejak tadi. Bu Sari, pak Burhan dan Bagas kembali merasa bersalah juga jika mengingat kejadian dulu.
"Tidak apa-apa, bang. Rania sudah melupakan hal itu, karena Rania sangat beruntung memiliki suaminya yang sangat baik seperti Bagas, berkat bang Radit."
"Itu semua gara-gara ibu, ya? Gara-gara ibu sakit waktu itu, jadi Rania yang harus menanggung semua ini?" sahut bu Sari, merasa sangat bersalah.
"Tidak, bu. Mungkin semua sudah seharusnya seperti ini. Yang terpenting sekarang, sudah tidak ada hal yang perlu kita bahas lagi. Lupakan saja! Rania beruntung kok, menikah dengan pria yang begitu menyanyangi Rania. Benar kan, sayang?" Rania menoleh pada Bagas yang sedari tadi menundukkan wajahnya.
"Sayang, kau kenapa?" seketika lamunan Bagas buyar, bahkan ia tidak sadar kalau barusan ia baru saja melamun.
"Tidak, aku tidak apa-apa," jawabnya gugup, Bagas masih bingung apakah ia harus menceritakan kalau dulu ia juga pernah jahat pada Rania. Kalau tidak ia ceritakan, bagaiamana suatu hari mereka mendengarnya dari orang lain?
"Nak, Bagas. Ada apa?" bu Sari mengusap lengan menantunya, tidak biasanya Bagas seperti itu.
"Em.. Sebenarnya... Sebenarnya aku juga mau minta maaf sama ibu, sama ayah, dan semua yang ada di sini terutama Rania," ucap Bagas dengan bibir sedikit gemetar, tapi ia harus menjelaskan semua ini.
Rania mengerutkan keningnya. "Minta maaf? Minta maaf untuk apa?"
Bu Sari, pak Burhan dan Radit juga ikut penasaran, mengapa tiba-tiba Bagas meminta maaf dan terlihat seperti orang yang tengah menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
"Aku minta maaf, karena aku tidak sebaik yang ibu, dan ayah pikirkan. Sebenarnya dulu aku menikahi Rania untuk kepentingan pribadiku?"
"Maksud nak Bagas?"
"Pada waktu itu, Papa meminta aku untuk segera menikah, agar semua harta Papa segera di berikan padaku. Kebetulan saat itu Rania datang untuk meminjam uang, dan aku memanfatkannya."
"Awalnya aku tidak mencintai putri kalian, aku bahkan membencinya. Aku telah membuat putri kalian menderita. Tapi seiring berjalannya waktu, ibu hadir memberikan sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya," Bagas menyeka air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya.
"Aku mendapatkan kasih sayang dari ibu, yang tidak pernah aku rasakan sejak aku kecil. Saat itu juga, Rania juga memberikan kasih sayang yang sama, kasih sayang yang aku rindukan dari almh. Mama. Dan akhirnya, perlahan aku bisa membuka hati untuknya. Bahkan aku bisa mencintai Rania dengan sepenuh hati aku, dan aku tidak mau sampai kehilangan dia," Rania memeluk Bagas, untuk menguatkan hatinya yang rapuh.
"Ibu, ayah, mau maafin aku, kan?" Bagas menatap kedua mertunya, dalam.
Bu Sari mengangguk, sebenarnya ia sedikit terpukul dengan kejujuran Bagas selama ini. Tapi ia pikir semuanya sudah berlalu, dan benar kata Rania, tidak ada yang perlu di bahas lagi.
"Iya, nak. Ibu maafin kamu," suara bu Sari terdengar parah, ia memeluk menantunya dengan penuh kasih sayang seperti ia meyanyangi anak kandunganya sendiri.
Kini semuanya sudah jelas, alasan Radit menjadikan Rania sebagai jaminan waktu itu. Kini mereka sudah saling memaafkan juga, do'akan saja semoga mereka tidak seperti Arsilla. Yang baiknya hanya pura-pura belaka. .
.
.
Coretan Author:
Jangan lupa like, vote, dan komen di kolom komentar ya!
Tambahkan ke favorit juga bagi yang belum.
__ADS_1
Follow ig: @wind.rahma