
Setelah di beri tahu oleh Nadira kalau ia di minta untuk belakang rumah, Bagas bergegas menyusul ke sana. Bu Sari dan Radit juga mengikuti karena penasaran. Saat ini Bagas menatap pohon mangga besar nan tinggi yang ada di hadapannya itu.
"Sayang, kau yang benar saja, deh. Masa menyuruhku untuk memanjat pohon ini? Aku ini seorang tuan tajir," protes Bagas dengan raut wajah tidak percaya.
"Lalu kenapa kalau kau tuan tajir? Aku ini sedang mengandung anakmu juga, jadi aku minta tolong untuk ambilkan buah mangga itu," pinta sekaligus paksa Rania.
"Tapi aku tidak bisa memanjat pohon. Kalau aku suruh buat manjat tubuh kau, akulah ahlinya," ucapnya di sertai wajah mesumnya itu. Semua orang yang ada di sana tertawa kecil, kecuali Radit. Rania juga malah menyubit pinggang suaminya karena merasa malu.
"Ish..ayolah, aku mohon! Ambilkan mangga itu untukku, untuk anak kita juga," Rania merengek, ia terlihat seperti anak kecil yang sedang meminta di belikan mainan baru.
Bagas kembali menatap pohon yang menjulang tinggi di hadapannya itu, ia menelan ludahnya sendiri dengan susah. Bagaimana mungkin ia bisa menaiki pohon setinggi itu, pohon kencur saja ia tidak mampu menaikinya. Lah, kan pohon kencur memang tidak bisa di naikki.
"Anda yang punya pohon mangga-nya, kan?" tanya Bagas pada pak Samsul dan di anggukinya, "kalau begitu saya minta tolong anda saja yang naik untuk ambilkan mangga buat istri saya! Saya akan bayar berapapun nominal yang anda sebutkan."
"Tapi Rania sendiri yang bilang kalau ia mau mangga yang di petik langsung oleh suaminya," jawab pak Samsul dengan cepat. Ia juga tidak mau di repotkan oleh wanita hamil, terlebih karena di sana ada suaminya sendiri. Ia juga begitu kerepotan ketika dulu istrinya sedang hamil, apalagi ia memiliki lima orang anak. Maka sudah lima kali ia merasa repot.
Seketika Bagas tertegun, ia mengingat kata-kata Dokter sewaktu di rumah sakit. Beliau mengatakan:
"Kalau perlu turutin semua kemauan istri anda. Kalau tidak, anda akan melihat bayi anda ngeces sepanjang harinya."
Bagas membayangkan kalau ia tidak mau menuruti keinginan istrinya, maka ia akan memiliki anak yang ngeces. Dan dirinya akan melihat pemandangan itu setiap waktu. Bagas segera mengusir ucapan Dokter itu yang seketika menyelinap masuk ke dalam telinganya. Ia juga mengingat kata-kata sekretarisnya yang mengatakan:
"Katakan amit-amit jabang bayi, tuan!"
Bagas memejamkan matanya, kedua tangannya memegangi sisi kepalanya.
"Amit-amit jabang bayi, amit-amit jabang bayi," ucapnya lirih sekali, sehingga membuat semua orang yang melihatnya seperti orang yang sedang berkomat-kamit membaca mantra untuk memanjat pohon.
"Ya sudah, aku akan melakukannya untukmu," jawab Bagas sebenarnya masih tidak yakin apakah ia bisa untuk memanjat pohon.
__ADS_1
"Tidak usah!" pekik Radit, semua orang menoleh kepadanya, "maksudku kalau kamu ragu untuk memanjatnya tidak usah. Rania, jangan paksa suamimu itu untuk melakukan hal yang tidak mampu ia lakukan dengan alasan kamu lagi hamil. Kalau suamimu kenapa-kenapa atau lebih buruknya jatuh dari pohon, bagaimana? Apa kamu mau kalau anak kamu terlahir tanpa seorang ayah?" ucap Radit semangat untuk menggantikan Bagas memanjat pohonnya setelah ia mendengar kalau Bagas akan memberikan uang berapapun nominal yang di sebutkan ia akan memberikannya.
Rania jadi berpikir, kalau yang di katakan abangnya benar lalu bagaimana? Akhirnya Rania menyetujui usul abangnya.
"Memangnya abang beneran mau ambilkan mangga itu buat Rania?" tanya Rania masih tidak percaya.
"Mau lah, kan suami kamu sendiri yang bilang kalau dia akan memberinya uang kalau seseorang menggantikannya untuk memanjat pohon. Bagaimana, apa kamu setuju?" Radit memberi sebuah penawaran.
Rania memicingkan matanya, ternyata apa yang ia pikirkan benar. Abangnya pasti akan melakukan karena ada gajah di balik batu, batunya hilang gajahnya datang. Aku tahu maksud dirimu, ketiban gajah kamu baru tahu. Eh kenapa jadi nyanyi, ya? Hehe.
Wajah pak Samsul berubah menjadi kesal menatap Radit, kenapa bukan dirinya saja ya yang tadi bilang begitu. Tahu gitu kan dia akan jadi untung besar.
***
Di tempat kediaman tuan tajir. Pak Brahma sedang berbicara empat mata dengan Arsilla. Brahma meminta Arsilla untuk menemuinya di kamar, Arsilla-pun dengan girang menemui papahnya di kamar. Ia pikir ia akan mendapat setengah dari harta papahnya itu.
"Ada apa, pah?" tanya Arsilla ketika sudah berada di kamar papahnya.
Brahma berdiri di depan Arsilla dengan membelakanginya.
"Silla, papah langsung to the point saja. Papah mau tanya, kenapa kamu tega melampiaskan semua rasa trauma kamu pada rumah tangga Bagas, adikmu. Dan Rania yang menjadi korbannya?" Brahma membalikan badannya menghadap Putrinya, "Kenapa?" bentak Brahma, membuat tubuh Arsilla tersentak seketika, ia langsung menundukan wajahnya. Jemarinya sibuk meremas jemari lain, bibirnya seakan terkunci untuk membuat alasan yang masuk di akal pikiran papahnya.
Arsilla membisu, ia tidak tahu harus harus menjawab pertanyaannya apa. Karena tidak mungkin juga ia mengatakan yang sebenarnya.
"Papah sedang bertanya padamu, Silla. Ayo, jawab!" Brahma mengguncangkan tubuh Arsilla agar ia mau menjawab pertanyaannya.
Arsilla langsung medongakkan kepalanya, mengangkat tubuhnya berdiri dan memeluk papahnya. Arsilla menangis dan membenakan wajahnya di dada sang ayah. Namun Brahma mematung, ia tidak dapat membalas pelukan Arsilla, lain ketika ia memeluk Rania dengan eratnya.
"Pah, aku minta maaf! Aku melakukan ini semua karena aku khawatir, aku tidak mau rumah tangga Bagas mengalami nasib yang sama buruknya dengan rumah tangga aku," jelas Arsilla sambil menangis.
__ADS_1
Brahma segera melepaskan pelukan Arsilla sedikit kasar, sehingga membuat tubuh Arsilla terjatuh dan kembali duduk di sofa. Brahma juga kembali membelakanginya.
"Papah tahu kamu trauma dengan masa lalu rumah tangga kamu, tapi bukan berarti kamu harus melampiaskan semuanya pada rumah tangga adikmu. Dan sekarang Rania yang menjadi korban penderitaan ulah kamu. Kita itu tidak tahu nasib seseorang, dan kamu tidak berhak menyamakan rumah tangga kamu dengan rumah tangga Bagas. Kalau rumah tangga kamu berantakan, itu salah mantan suami kamu. Jangan libatkan Rania dalam masalah pribadi kamu, Silla."
Pak Brahma terlihat geram, jika saja Arsilla ini laki-laki, mungkin ia sudah menggamparnya. Namun, kepada anak laki-lakinya saja ia tidak berani menyentuhnya, apalagi melakukan itu.
"Pah, aku benar-benar minta maaf!" ucap Arsilla yang kini tengah bergelayut di lengan papahnya.
Brahma melepaskan Arsilla yang menggelayuti lengannya itu, dan memegang erat kedua bahunya. Brahma menatap Arsilla lekat, tajam.
"Kamu minta maaf ke Rania, Silla. Bukan minta maaf ke papah! Papah itu malu sama Rania, sangat... malu. Papah memang tidak pernah memberi anak-anak papah perhatian, tapi papah tidak pernah mengajari anak papah untuk berbuat keji pada orang lain. Kamu paham, Silla?"
"Iya, pah," jawab Arsilla menunduk, ia menangis sampai sesenggukan, mungkin ia telah menyesali perbuatannya. Mungkin.
"Silla, kamu tahu apa kalau kamu sampai mengulangi perbuatan kamu?"
Arsilla mulai berani menatap balik papahnya, "Apa?" tanyanya.
"Papah akan mengambil seluruh fasilitas yang telah papah berikan sama kamu, agar kamu tahu rasanya hidup sederhana seperti Rania," ancaman Brahma membuat Arsilla takut, kalau itu benar-benar terjadi.
Semoga dengan ini akan membuat Arsilla jera dan tidak membuat Rania menderita lagi untuk kesekian kalinya.
.
.
.
Coretan Author:
__ADS_1
Nabung VOTE, ya! Biar bisa vote banyak. Like, komen, tambahkan ke favorit juga.