
Di perjalanan menuju gedung Briliant Group, tiba-tiba sekretaris Frans menghentikan laju mobilnya di tempat yang cukup sepi dan jarang di lewati kendaraan lain.
"Kenapa berhenti?" Nadira bertanya sambil menengok ke kiri dan ke kanan kaca mobil.
"Maaf, sebenarnya aku sedang menahan buang air kecil. Dan saat ini aku sudah tidak bisa lagi untuk menahannya. Aku permisi, mau cari tempat untuk buang air kecil dulu, ya! Jangan khawatir, cuma sebentar, kok!" sekretaris Frans membuka sabuk pengaman yang melilit tubuhnya, setelah itu langsung keluar dari mobil.
Nadira menatap punggung kepergian sekretaris Frans, menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan tawa. "Ada-ada saja kamu ini, sekretaris Frans!" umpat Nadira.
Sudah hampir sepuluh menit lamanya, sekretaris Frans belum juga kembali ke mobil. Nadira jadi cemas, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan sekretaris Frans? Bagaimana kalau tadi sekretaris Frans pergi agak jauh lalu dia tersesat dan tak tahu arah jalan pulang, aku tanpamu, butiran debu. Lah, kok, jadi nyanyi, hehe.
Bagaimana kalau sekretaris Frans pergi agak jauh lalu dia tersesat dan lupa arah jalan kembali ke mobil? Mana ini sudah hampir jam delapan, Nadira bisa terlambat sampai kantor. Bagaimana pun juga, dia hanya karyawan biasa, menjadi kakak ipar pemilik gedung Briliant Group itu tidak akan menjamin selamat dari teguran atas keterlambatannya.
Nadira akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil, untuk melihat ke sekitar jalanan itu. Siapa tahu sekretaris Frans tidak jauh dari sana. Nadira berdiri di depan body mobil, mengedarkan pandangannya ke sekitar, namun kedua bola mata penglihatnnya tidak juga menemukan sosok pria yang sedang ia cari.
Ketika dirinya tengah sibuk mencari sosok pria yang tak kunjung kembali ke mobil, tiba-tiba penglihatannya menggelap, ketika ada dua buah tangan seseorang menutupi matanya. Nadira sontak terkejut, di tengah jalan yang sepi ini apakah ada seseorang lain selain dirinya dan sekretaris Frans? Apakah dia orang jahat?
"Siapa? Jangan bercanda, ya!" Nadira berusaha melepaskan kedua buah tangan seseorang tersebut, dan begitu di lepaskan ia berbalik badan, mendapati sosok pria yang sedang dia cari saat ini berdiri di hadapannya.
"Aaaaa..." Nadira seketika menjerit, sontak pria itu menutup mulut Nadira demgan refleks.
"Hei, kenapa kamu berteriak? Aku bisa di sangka berbuat macam-macam kalau ada orang yang lewat!" wajah pria yang tak lain adalah sekretaris Frans panik, dia takut ada orang lewat dan mengira dirinya telah melakukan sesuatu pada Nadira.
"Ih.. Jauhkan tangan anda!" Nadira menepis tangan sekretaris Frans sedikit kasar, sekretaris Frans mengerutkan keningnya, aneh.
"Okay, okay. Kenapa kamu berteriak?" sekretaris Frans mengulang pertanyaannya.
Nadira sibuk menciumi telapak tangannya, sedangkan sekretaris Frans terus menatap Nadira dengan heran.
"Aya yang kamu lakukan?"
__ADS_1
Nadira masih sibuk menciumi telapak tangannya dengan sesekali mendengus. "Bukannya anda tadi bilang mau buang air kecil, kan? Kenapa lama sekali? Anda datang tiba-tiba menutup mata saya, dan saya tidak sadar tadi juga memegang tangan anda ketika berusaha melepaskannya. Saya cuma khawatir, kalau anda tidak menemukan air untuk mencuci tangan anda setelah buang air tadi."
Seketika kedua mata sekretaris Frans membelalak. Benar juga yang di katakan Nadira, tangan yang tadi bekas memegangi si Jon miliknya ketika buang air kecil tidak sempat dia cuci karena di sekitar sana tidak ada air. Mungkin maksud Nadira yang sebenarnya, dia jijik dan menganggap dirinya jorok.
"Eh, jangan sembarangan! Kata siapa tidak ada air? Justru tadi aku menemukan sungai yang airnya jernih dekat sini, makanya aku sedikit lama tadi," kilah sekretaris Frans, ia tidak mau di tuduh jorok oleh Nadira yang sebenarnya iya, sih. Dia tidak mencuci tangannya, mana ada sungai dekat sini. Bohong demi kebaikan, boleh, lah.
"Yakin?" Nadira masih ragu, setahu dia juga, tidak ada sungai dekat jalan ini.
"Iya, lah. Untuk apa aku berbohong?"
"Iya, maafkan saya!" akhirnya Nadira percaya juga pada sekretaris Frans, walau sebenarnya dia tetap pada pendiriannya, kalau sekretaris Frans itu jorok.
Nadira melirik jam tangan yang melingkar di pergelangannya, dia panik ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit. Itu artinya dia sudah terlambat sepuluh menit, sementara dirinya masih saja berdiri di sana.
Nadira berniat untuk mengajak sekretaris Frans kembali masuk ke mobil, untuk segera melanjutkan perjalanan menuju kantor. Namun tiba-tiba saja dia mengurungkan niat itu, dia kembali menutup mulut yang sudah terbuka, ketika sekretaris Frans menatap dirinya dengan tatapan tidak biasa dia lakukan
Tentunya Nadira salah tingkah, mengapa sekretaris Frans menatapnya selekat itu? Nadira segera membenarkan rambutnya, membenarkan pakaiannya, pokoknya perasaan Nadira tidak karuan.
Bukannya menjawab, sekretaris Frans malah tersenyum. Sekretaris Frans memegang kedua buah tangan kecil dan halus milik Nadira, serta mengunci kembali kontak mata mereka dan mengatakan;
"Nadira. Aku ingin saat kamu sibuk memasak di dapur, ada aku yang menemani anak-anak kita bermain di depan," ucap sekretaris Frans lembut, serta menatap sayup pada wajah Nadira.
"Aku ingin saat aku sedang sibuk berpakaian, kamu yang memanggilku turun dari kamar untuk sarapan bersama keluarga kecil kita di meja makan," sambung pria itu benar-benar menatap Nadira dengan ketulusan hatinya.
"Aku ingin saat kamu memarahi anak-anak kita, ada aku yang membela mereka dan akhirnya kau pun marah padaku," tambahnya lagi.
"Aku ingin duduk bersama di sofa dan saling memperebutkan remot televisi karena kamu yang ingin menonton drama thailand-mu, aku dengan siaran bolaku, dan anak kita yang ingin menonton doraemon-nya."
"Aku ingin kamu menjadi orang pertama yang melihat dan mengatakan padaku, bahwa rambutku telah ada yang memutih."
__ADS_1
Sekretaris Frans menekuk satu kakinya di atas jalan, lalu mengeluarkan kotak berwarna merah dari saku jasnya.
"I wanna grow old with you! Will you marry me?" sekretaris Frans membuka kotak berwarna merah tersebut, kemudian menampakkan cincin perak yang berkilau.
Nadira benar-benar terkejut, ingin rasanya dia menepuk keras pipinya untuk memastikan tentang apa yang di alaminya saat ini itu nyata atau hanya sebuah mimpi belaka yang nantinya akan membuahkan harapan besar ketika bangun nanti.
Namun, ia tidak perlu memastikan hali itu. Ketika dia berusaha menelan salivanya dengan susah, membuat tenggorokannya sedikit sakit sudah menyadarkan dirinya kalau ini adalah sebuah kenyataan manis.
Ingin rasanya Nadira mengatakan 'iya, mau" namun bibirnya terasa di kunci. Lalu dia menggunakan cara lain, yaitu dengan menganggukan kepala sebagai tanda kalau dia menerima cinta sekretaris Frans. Dan mau menikah dengannya.
Sekretaris Frans tentunya bahagia sekali, ternyata apa yang selama ini dia impikan dapat terwujud. Kemudian dia langsung saja melepaskan cincin perak tersebut dari kotak berwarna merah dan memasangkannya di jari manis Nadira.
Sekretaris Frans berdiri dan langsung memeluk tubuh gadis di hadapannya yang akan menjadi istrinya nanti. Nadira pun membalas pelukan sekretaris Frans dengan begitu hangatnya. Semburat kebahagiaan nampak di wajah mereka. Terutama di wajah sekretaris Frans. Kalau dulu dia hanya bisa mencium bibir Nadira tanpa sengaja, saat ini dia bisa memeluk tubuh gadis itu dengan keinginannya tanpa ada penolakan. Dan mungkin nanti, Nadira sendirilah yang akan meminta sekretaris Frans untuk mencium bibirnya.
Mendapatkan Nadira itu bukan hal yang mudah. Butuh perjuangan besar untuk sekretaris Frans. Seperti halnya perasaan yang barusan dia ungkapkan. Sekretaris Frans harus menghafal dialog tersebut selama tujuh hari tujuh malam, sekaligus mengumpulkan mental yang kuat untuk melakukannya.
Biarpun tempatnya tidak sesuai dengan yang dia harapkan, yang terpenting saat ini adalah waktu yang tepat. Yang lebih pentingnya lagi, saat ini Nadira sudah menjadi miliknya.
Setelah sekian lama sekretaris Frans mencari cinta sejati, setelah hatinya di patahkan oleh wanita yang dulu menjadi kekasihnya, akhirnya sekretaris Frans mendapatkan wanita idaman seperti Nadira. Semoga mereka abadi selamanya.
"Mulai saat ini, kamu panggil aku Mas, ya! Mas Frans," sekretaris Frans membisikan hal itu tepat di telinga Nadira.
.
.
.
Coretan Author:
__ADS_1
Akhirnya.... Kebahagiaan demi kebahagiaan datang pada semua tokoh dalam cerita ini. Selamat untuk kalian, Frans dan Nadira.
Follow ig: @wind.rahma