
Di taman, tengah duduk seorang pria tampan dan seorang gadis cantik. Rupanya mereka sedang berbincang-bincang, namun sama sekali tidak menunjukkan kalau mereka sepasang kekasih. Di lihat dari jarak duduk mereka yang saling berjauhan.
Ya ampun, ada apa, ya? Kenapa dia tiba-tiba mengajakku ketemuan di taman? Semoga saja ada kabar baik.
"Mau apa ingin bertemu denganku di sini, pak?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Diva.
"Panggil saja saya, ma-maksudnya aku. Panggil saja aku Reyhan. Ini di luar pekerjaan!" pinta Reyhan, itu membuat Diva menatapnya semakin bingung.
Apa? Dia menyebut dirinya dengan sebutan aku? Ya Tuhan, ada apa ini? Apa dia... Tenang dulu, Va. Kamu gak boleh berharap yang bukan-bukan dulu.
"Aku? Sejak kapan pak Reyhan menyebut sebutan aku di depan saya?" Diva melihat ada yang aneh dari seorang pria yang begitu ia cinta itu.
"Itu tidak penting Diva!" kilah Reyhan, mendengar namanya di sebut oleh Reyhan, Diva semakin yakin kalau pria di hadapannya itu nampak benar-benar aneh.
What? Apa? Bahkan sekarang dia berani menyebut namaku? Ini kalimat sederhana yang terdengar indah. Tapi, kamu harus tetap terlihat so cuek, Va. Kamu gak boleh menunjukkan sikap kamu yang agresif ini. Jual mahal dikit boleh, lah.
"Hah? Dan sejak kapan pak Reyhan mau menyebut namaku? Bukankah pak Reyhan begitu membenciku? Bahkan pak Reyhan sampai tidak mau walau hanya mendengar namaku?" Diva sama sekali tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, dengan sikap yang tiba berubah aneh seperti itu.
Reyhan menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Diva, saat itu juga Diva menoleh berusaha membuang wajah untuk menghindari Reyhan.
"Diva, aku ingin tanya sesuatu sama kamu. Boleh?" Reyhan menatap Diva, walaupun Diva sama sekali tidak membalas tatapannya. So jual mahal kamu, Div. Awas aja kalau Reyhan pergi kamu nangis-nangis.
"Tanya apa?" dengan nada bicara yang sengaja di buat so cuek.
"Tujuan kamu dekatin aku itu apa, sih?" dari raut wajah Reyhan sejak awal, Reyhan memang terlihat sangat serius.
Kini Diva menoleh, dan mau membalas tatapan Reyhan. Sebentar. Setelah itu kembali mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Aku tidak memiliki alasan untuk mengatakan tujuanku dekatin kamu. Yang aku tahu, aku selalu nyaman apabila dekat dengan kamu." jawab Diva jujur.
Anjay gurinjay, sekarang ngomongnya pakai aku-kamu. Terusin aja, ah. Siapa tahu Reyhan mulai suka sama aku. Hehe. Do'ain, ya!
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa masih mau dekatin aku, padahal aku terus jauhin kamu?"
Sekarang Diva mulai mau lagi untuk memandang Reyhan, rupanya Reyhan ingin bicara serius dengannya.
"Aku tidak tahu. Aku cuma bisa mengandalkan kata hati aku buat terus dekatin kamu, Reyhan."
"Aku tidak tahu kenapa aku mau menjadi si bodoh yang terus mengejar orang yang terus berlari tanpa mau menengoknya ke belakang?" tambah gadis itu.
"Aku tidak tahu kenapa, kenapa aku mau berjuang buat dapetin orang yang sama sekali tidak mau menerima kehadiran aku?" Diva mulai berkaca-kaca.
"Dan aku tidak tahu kenapa, kenapa tiba-tiba saja kamu memintaku datang ke sini, bertemu dengan kamu dan aku mau? Bahkan aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada diriku?" air mata yang menggenang di pelupuk matanya kini jatuh membasahi pipinya.
Reyhan menatap gadis itu dalam. Dari semua yang di katakan oleh Diva itu benar. Mencintai itu tidak butuh alasan, semua datang dari hati tanpa bisa kita cegah. Ketika kita mencintai seseorang, terkadang kita rela melakukan apapun demi orang itu tanpa butuh balasan. Dan mungkin itu yang di rasakan oleh Diva.
Reyhan meraih buah tangan Diva, lalu menggenggamnya. Diva masih menundukkan wajahnya, berusaha menahan isak tangisnya untuk luka yang sedang ia rasa.
Reyhan mengalihakan rambut yang menutupi wajah Diva. Ia juga mengusap air mata yang mengalir di pipi Diva menggunakan ibu jarinya. Kini ia dapat memandang wajah cantik gadis itu dengan leluasa. Ia mengangkat sudut bibirnya tipis, ternyata gadis di hadapannya ini cantik juga. Pikirnya.
Uwu, ternyata Reyhan so sweet juga. Ah, idaman banget ini mah.
Reyhan mengusap lembut pangkal rambut milik gadis itu, lalu ia menyandarkan kepala gadis itu di bahunya. Ya ampun, sweet banget sih bang Rey.
"Izinkan aku memberimu sandaran, agar rasa sakitmu ini berkurang walau hanya sedikit saja," ujar Reyhan. Ia merasa kalau dirinya salah besar, telah memberi luka yang harusnya tidak Diva dapatkan.
Aaaaa, Reyhan. Makin sweet aja, deh. Rasanya pengin teriak sekencang-kencangnya, pengin jingkrak-jingkrak. Ya ampun, mimpi apa aku semalam? Huh hah huh hah, nafas aku sampai sesak. Teriak Diva dalam hatinya.
"Mungkin kamu terkejut melihat aku tiba-tiba berubah seperti ini. Aku yang kamu kenal cuek ini, bisa tiba-tiba berubah sikap menjadi semanis ini. Kamu gak usah berpikir macam-macam, mungkin kamu akan berpikir kalau di balik sikapku ini, aku yang ada maunya. Tenang saja, aku tidak seperti itu." ucap Reyhan membuat Diva tidak dapat lagi mampu membalasnya. Ia sibuk mengatur napasnya yang terasa sesak ini, setelah di timpa kebahagiaan yang bertubi-tubi ini.
Terserah Reyhan. Kalau pun kamu ada maunya, aku tetap bahagia, kok. Yang penting kamu memberi kesempatan untuk aku bisa dekat dengan kamu. Itu sudah lebih dari cukup.
"Diva, lihat aku!" pinta Reyhan, Diva langsung mengangkat kepalanya dari bahu Reyhan perlahan.
__ADS_1
Reyhan memegang erat kedua bahu Diva dengan tangan yang sedikit gemetar. Entah dari mana ia mendapatkan keberanian seperti itu. Reyhan menatap mata Diva secara bergantian, Diva membalas tatapan mata Reyhan, dalam.
Ya Tuhan. Nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan. Matanya begitu indah, wajahnya ganteng banget kalau di lihat dari jarak yang begitu dekat. Bibirnya itu, bikin aku gak kuat nahan buat langsung cium dia. Sekali kecup aja, gak apa-apa, kok. Ngiler banget. Kalau nunggu sah lama, belum tentu juga. Huh hah huh hah. Huaaaa.
"Mulai detik ini, aku akan beri ruang di hatiku untuk namamu. Aku akan memberi kamu kesempatan untuk kamu dekatin aku lagi."
"Tidak. Aku tidak akan dekatin kamu lagi, Reyhan. Sudah cukup, aku lelah berjuang sendiri," pekik Diva.
"Kenapa? Kamu mau nyerah gitu aja? Kamu udah gak suka lagi dengan aku?"
"Bukan. Perasaan aku masih sama. Perasaan aku ke kamu gak pernah berkuranf sedikit pun. Aku mau, gantian dong! Kamu yang kejar aku, masa aku terus yang ngejar kamu. Itupun kalau kamu suka sama aku. Kalau gak suka juga gak apa-apa, aku tetap suka sama kamu. Sampai waktu yang memberi tahu aku untuk berhenti melakukan itu semua." ujar Diva membuat Reyhan seketika diam. Benar, bukan seorang perempuan yang harus berjuang. Jika ia menngingkan seperti itu, berarti dia sudah layak di cap egois.
"Diva. Aku tidak akan membiarkan kamu berjuang sendiri. Aku akan menemanimu. Kita berjuang sama-sama, ya?!" Reyhan mengusap lagi sisa air mata di pipi gadis itu.
Maafkan aku, Diva! Kebencianku terhadap kakakmu membuatmu terluka seperti ini. Luka yang tidak harusnya kamu dapatkan dari kesalahpahamanku terhadap kakakmu. Terima kasih, Tuhan. Kau telah menujukkan kebenaran ini. Batin Reyhan.
Demi apapun, aku tidak tahu harus mengucapkan apa lagi. Aku tidak tahu kata apa yang melebihi sebuah terima kasih untuk aku ucapkan kepada-Mu Tuhan. Hari ini aku benar-benar bahagia. Semoga setelah ini, tidak ada orang lagi yang menyadarkan aku kalau apa yang aku lihat dan aku dengar ini hanya sebuah mimpi. Semoga ini adalah kenyataan manis yang layak aku dapatkan. Ujar Diva dalam hati tak henti bahagia.
Diva menepok pipinya keras berulang kali, untuk memastikan apakah ini semua nyata atau hanya mimpi belaka. Namun, pipinya merah akibat tepokannya yang terlalu keras. Berarti, ini nyata, Diva. Selamat, keinginanmu sebentar lagi tercapai untuk jadi pacar babang tampan satu ini. Selamat berjuang!.
.
.
.
Coretan Author:
Follow ig saya, ya! wind.rahma
VOTE, VOTE, VOTE, yang banyak!
__ADS_1