
Setelah meeting selesai, Bagas kembali ke ruangan pribadinya, dan sekretaris Frans yang setia berjalan di belakangnya. Bagas duduk di sofa yang tidak jauh dari meja kerja.
"Frans, ambilkan minum!" suruh Bagas pada sekretaris Frans yang masih berdiri.
"Baik, tuan" jawab sekretaris Frans menurut dan segera keluar dari ruangan itu.
Tidak lama kemudian, sekretaris Frans kembali membawa segelas air putih. Ia menaruhnya di atas meja di hadapan Bagas. Bagas langsung meneguknya sampai setengah, dan meletakkan kembali gelasnya ke semula.
"Frans"
"Iya, tuan"
Bagas mengedikkan dagunya ke arah samping, memberi kode kepada sekretaris Frans agar duduk. Sekretaris Frans mengangguk mengerti, dan langsung saja duduk.
"Frans, bagaimana keadaan keluarga dari gadis yang tinggal bersama saya saat ini, terutama ibunya?"
Tumben tuan Bagas menyakan keadaan mereka, bukannya ia tidak perduli dengan keluarga itu. Termasuk istrinya sendiri.
"Baik-baik saja, tuan. Mereka hidup rukun dan damai. Ibu dari nona juga sudah benar-benar sehat walafiat"
"Bagaimana kau bisa memastikan keadaan mereka?"
"Saya menyuruh dua orang untuk selalu mengawasi keluarga mereka di sana, tuan"
"Bagus! Pastikan bahwa ibunya selalu sehat!"
Kenapa tuan Bagas jadi seperduli itu, aneh. Apa tuan sudah berubah? Ah, mana mungkin tuan berubah secepat kilat. Butuh waktu puluhan tahun dan manusia tertentu untuk merubah watak tuan. Bahkan, watak tuan tidak dapat di rubah sekalipun oleh siapapun sampai kapanpun.
"Bagaimana sikap gadis itu ketika bersama keluarganya?"
Tuan Bagas benar-benar sudah berubah, ia mulai memperdulikan tentang kehidupan nona Rania.
"Nona adalah gadis yang selalu patuh terhadap ibunya, ia begitu menyayangi keluarganya. Tapi abangnya tidak terlalu menyukai nona. Dia merasa iri dengan nona yang selalu di perlakukan lebih baik sebagai puteri bungsunya."
"Orang yang bekerja di sini sebagai OB?"
"Iya. Kalau tidak keberatan, nona meminta tuan untuk menaikan jabatan abangnya itu!"
Bagas melirik tajam sekretaris Frans setelah mendengar ucapan barusan. Sedetik kemudian ia tersenyum remeh.
"Memangnya dia siapa? Apa dia pikir perusahaan ini abal-abal yang bisa memasukan atau menaikan jabatan dengan sembarang?"
"Satu hal lagi, tuan"
"Katakan!"
"Rencananya, kakak perempuan dari nona pun akan melamar kerja di sini"
Bagas tertawa terbahak mendengar hal yang di sampaikan sekretaris Frans barusan, seperti mendapat hiburan dadakan.
Huh, sepertinya seru jika aku dapat mengendalikan mereka bertiga di bawah telunjukku. Ini pasti akan semakin seru dan menarik.
"Bari tahu saya jika kakaknya datang ke kantor ini!"
__ADS_1
"Baik, tuan"
Tidak ada pembicaraan lagi di antara keduanya. Bagas memilih untuk menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan memejamkan mata.
Sekretaris Frans menatap tuannya bingung, dia sama sekali tidak pernah mendengar ataupun melihat tuannya seperduli itu tentang keluarga istrinya.
"Frans!" panggil Bagas kembali membuka suara setelah lama terdiam.
"Iya, tuan"
"Setelah meeting tadi yang paling rumit yang pernah saya alami, rasanya kita harus me-rifresh otak ini"
Kita? Ya, aku tahu pastinya aku dan anda tuan.
"Maksud tuan butuh liburan?" tanya sekretaris Frans menebak-nebak.
"Sekaligus hiburan"
Hiburan? Hiburan apa yang anda maksud tuan, bukankah selama ini anda tidak menyukainya?
"Kita akan pergi ke suatu tempat, yang belum pernah saya injakkan kaki di sana. Tempat itu pasti menjijikan"
Liburan, hiburan, menjijikan. Sebenarnya apa maksud anda tuan? Oh Tuhan, tuan Bagas semakin aneh saja. Perubahan macam apa yang terjadi pada dirinya? Entahlah.
*****
Rania memtuskan untuk pulang ke rumah yang benar-benar rumah baginya. Ia turun dari angkot dan menyusuri jalan yang tidak jauh lagi dari rumahnya. Melewati beberapa rumah tetangga yang ada segerombolan ibu-ibu biang gosip. Ada yang menyapanya, ada yang menghormatinya karena sekarang Rania telah di pinang oleh tuan tajir. Ada juga yang menggunjing keburukan.
Rania memilih untuk memberi senyum hangat kepada mereka untuk membalasnya. Sampai di rumah, ayahnya sedang duduk di teras depan rumah. Melihat kehadiran Rania ia langsung heboh dan memamerkan puteri bungsunya yang sudah menjadi orang kaya menurutnya kepada segerombolan ibu-ibu biang gosip tadi. Padahal ia tidak tahu, bagaimana rasanya jadi Rania ketika mengadu nasib di istana yang mengerikan itu.
Setelah memamerkan puteri bungsunya, pak Burhan segera membawa Rania masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, ada bu Sari sekaligus Nadira.
"Rania" bu Sari dan Nadira menyebut nama gadis yang baru saja masuk ke ruang tamu, mereka berdua langsung berdiri dari duduknya dan memeluk Rania secara bersamaan.
"Ibu, kak Nadira. Rania Rindu"
"Kami juga, Rania" mereka bertiga saling melepas Rindu di dalam pelukan.
Pak Burhan yang melihatnya langsung menghentikannya.
"Sudah, sudah. Tidak usah drama kalian ini!" pak Burhan berusaha melepaskan mereka yang masih berpelukan.
"Kenapa, ayah? Apa ayah jug mau Rania peluk?"
"Ah, tidak perlu. Sekarang kamu duduk, duduk di sini!" pak Burhan menarik lengan Rania dan mendudukannya di kursi rotan. Pak Burhan ikut duduk di sampingnya.
Aku bisa menebak, apa yang akan ayah katakan!
Bu Sari dan Nadira duduk kembali ke tempat yang tadi mereka dudukki.
"Jadi gimana, Rania? Kamu pasti hidup enak kan di sana? Kamu pasti selalu berpoya-poya di sana dan menikmati posisimu saat ini"
Ayah, seandainya kau tahu. Jika ayah tinggal di sana ayah pasti akan merasakan yang sebenarnya. Ayah pasti hanya di jadikan tukang kebun di sana, bahkan itupun sudah lebih baik.
__ADS_1
"Rania, kamu harus inget dong sama ayah, terutama abang kamu! Berkat abang kamu, kamu jadi bisa jaya seperti ini"
Apa? Berkat? Ini bukan berkat, ini gara-gara.
"Mana? Mana jatah ayah?" pak Burhan mengadahkan sebelah tangannya untuk meminta uang.
Tuh kan, ujung-ujungnya. Sudah ku duga dan bisa aku tebak dari awal.
"Ayah, jangan lakukan itu pada Rania" protes bu Sari, "Lagian, kita juga belum tahu kan gimana anak kita di perlakukan di sana?"
"Iya, ayah. Rania belum tentu hidup enak di sana" sambung Nadira.
"Halah, kalian ini. Bilang aja kalian juga sebenarnya mau minta jatah, cuma ketutup gengsi aja" timpal pak Burhan.
"Bu, kak, sudah! Rania ada kok"
Untung saja aku tadi sempat mengambil uang dulu dari kartu kredit, untuk jaga-jaga takutnya akan terjadi hal seperti ini. Ternyata kejadian juga.
Rani membuka tas slempangnya dan mengambil uang satu gepok yang berjumlah lima juta. Belum juga Rania berikan sudah duluan di embat oleh ayahnya.
"Nah, ini yang namanya anak ayah. Sering-sering ya kayak gini, ayah pasti akan lebih sayang sama kamu!" ucap Burhan sambil menepok-nepokan uangnya pada telapak tangannya.
Rania tersenyum samar.
"Do'akan Rania saja ayah!"
"Urusan do'a minta saja pada ibumu yang lebih pandai!" ucap Burhan kemudian pergi ke kamar.
Bu Sari dan Nadira menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan pak Burhan.
"Astagfirullahal'adzim. Rania, maafkan ayahmu yah, nak!" bu Sari meminta maaf atas kelakuan suaminya, ayah Rania.
"Tidak apa-apa, bu" Rania memaafkan.
"Kamu tahu sendiri ayah kayak gimana dari dulu" tambah Nadira.
"Iya kak, Rania paham!"
Bu Sari dan Nadira pindah posisi duduk, dan duduk di antara Rania. Bu Sari dan Nadira kembali memeluknya.
"Yang sabar yah, nak!" bu Sari berusaha menguatkan puteri bungsunya.
"Tenang saja, Rania baik-baik saja, bu, kak"
Terima kasih ibu, kakak. Kalian selalu mengerti perasaanku. Walaupun aku tidak pernah menunjukkan perasaanku yang sesungguhnya pada kalian.
Tiba-tiba saja, pintu rumah di ketuk tanpa salam. Semua pasang mata tertuju pada pintu, bukannya membuka pintu, mereka malah khawatir kalau Rania pasti akan di todong kembali oleh abangnya setelah ayahnya.
Bersambung...
#CUAP-CUAP_AUTHOR
Hy readers TUAN TAJIR. Maaf ya beberapa hari ini aplikasi sedang di perbaiki, jadi saya bukannya tidak up, sudah up tapi lama menunggu review. Semoga kalian mengerti🙏 Semoga kalian tetap menunggu kelanjutannya. Terima kasih🙏
__ADS_1
Like, vote, dan tambahkan ke favorit.
Klik nama saya di bawah cover, lalu ikuti😊