Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Calon menantu baru (Part 1)


__ADS_3

Di perjalanan menuju rumah pak Burhan dan bu Sari. Rania duduk di belakang kemudi sambil menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.


"Hei, kenapa kau membawa Frans juga?" lirih Rania agar Frans yang duduk di depan tidak sampai mendengarnya.


"Biarkan ia mengenal lebih jauh keluargamu, kakak ipar tentunya!" balas Bagas lirih juga.


Rania mendongakkan kepalanya, "bukankah kau tidak mau jika Frans menjadi kakak iparmu sungguhan?"


"Hem, awalnya memang begitu. Tapi setelah aku pikir, Frans mempunyai hak dan aku tidak dapat menghalanginya. Kecuali jika kakak ipar merasa keberatan di dekati olehnya, aku yang akan menjadi orang pertama mencegah Frans untuk melanjutkan pendekatanya!" jelas Bagas di angguki paham oleh Rania.


"Benar juga" Rania setuju dengan perkatakan suaminya.


"Kalau kau mengetahui masa lalu Frans, kau juga pasti akan ikut-ikutan membantu mendekatkannya dengan kakak ipar!"


"Memangnya kenapa?" tanyanya penasaran.


"Nanti saja aku jelaskan, menyedihkan sekali masa lalunya. Ck... Ck.. Ck.." decak Bagas ketika mengingat lagi cerita masa lalu sekretarisnya.


"Lebih menyedihkan mana dengan hidupku sewaktu kau belum berubah seperti ini?" Rania berusaha menyindirnya.


"Aaah, sudahlah! Kau selalu membuatku merasa bersalah jika mengingat hal itu"


"Haha, baguslah kalau kau merasa" tawa Rania membuat sekretaris Frans meliriknya di kaca spion. Dan terlihat Bagas sedang mengacak-acak pangkal rambut Rania dan mendaratkan ciuman di keningnya sekilas.


Sekretaris Frans yang melihatnya menggelengkan kepala merasa geli sendiri, tuannya begitu beda sejak dia betul-betul jatuh cinta pada istrinya. Sikap dinginnya hilang, kecuali saat di kantor.


"Lihatlah!" Bagas mengedikkan dagunya ke arah spion, "ternyata calon kakak iparku memperhatikan kita sejak tadi"


Sekretaris Frans langsung menundukkan kepalanya ketika ketiaka Bagas berbicara menyindir dirinya, sedangkan Rania malah tertawa.


Haha, ternyata begitu hubungan seorang tuan dengan sekreatrisnya!


Pak sopir yang sedari tadi diam-pun ikut tersenyum, dan melirik pria di sebelahnya yang sedang menunduk akibat ketahuan memperhatikan tuannya.


***


"Assalamu'alaikum.." Rania dan juga Bagas mengucapkan salam bersamaan ketika ia sudah berdiri di depan pintu rumah ibunya.


"Walaikum salam.." jawab seseorang dari dalam, tidak lama pintu di buka dan muncul bu Sari di baliknya.


"Rania..." sambut bu Sari seketika wajahnya berubah bahagia melihat putri bungsunya yang datang.


"Ibu.." Rania langsung menghambur memeluk ibunya, "Rania merindukan ibu.." tambahnya.


"Ibu juga, nak!" melepas pelukannya dan mencium kening putrinya kemudian.


"Bu.." Bagas menyalami bu Sari.


"Nak Bagas.." balasnya sambil mengusap mengusap bahu menantunya ketika bersalaman.

__ADS_1


"Ayo masuk, nak!" bu Sari merengkuk bahu putrinya untuk segera masuk.


Alangkah lebih baik kangen-kangenannya di dalam saja, karena di sekitar rumahnya rawan gosip, dan segerombolan ibu-ibu di sana sudah siap untuk membicarakannya.


Kemudian Rania, Bagas, bu Sari tentunya duduk di kursi ruang tamu. Di susul oleh Frans yang tadi sempat mengambil beberapa paper bag di dalam mobil terlebih dahulu.


"Assalamu'alaikum.." salam sekretaris Frans kemudian menyalami bu Sari.


"Walaikum salam.. Eh, ada nak Frans juga"


"Calon menantu ibu juga tuh, bu!" Bagas menimpali.


"Wah.. benarkah?"


Sekretaris Frans hanya membalasnya dengan senyuman, wajahnya berubah merah jambu menahan malu.


"Silahkan duduk, nak Frans!" perintah bu Sari dengan tangan yang mempersilahkan.


"Terima kasih, bu!" kemudian duduk sebelah Bagas.


"Tunggu sebentar, ya! Ibu buatkan minuman dulu" bu Sari bersiap untuk bangun dari duduknya, namun segera di cegah oleh Rania.


"Tidak perlu, bu!" Rania menurunkan pergelangan ibunya untuk duduk kembali


"Eh, kan ada nak Bagas, ada nak Frans juga, Rania"


"Tidak perlu repot-repot, bu! Ibu duduk saja" ucap Bagas dan akhirnya bu Sari mau duduk kembali.


"Iya, bu" jawab mereka bertiga serentak.


"Yakin gak bakal haus? Ini pertanyaan terakhir, ya!"


"Yakin, bu" jawab mereka lagi kompak.


"Lah, kalian memang janjian dulu, ya?"


"Haha, ibu ini ada-ada saja!" Rania tertawa melihat ibunya yang tidak seperti biasanya, Bagas dan sekretaris Frans-pun jadi ikut tertawa.


"Oh, iya, aku hampir melupakan ini" Rania meminta paper bag yang di bawa sekretaris Frans, dan langsung di berikan padanya.


"Ini, bu!" Rania menyerahkan dua paper bag besar, "untuk ibu, ayah, kak Nad, dan bang Radit" tambahnya, bu Sari segera menerima paper bag tersebut.


"Apa ini, nak?" sambil membuka paper bag itu untuk melihat isinya.


"Ceritanya itu oleh-oleh khas dari Bali, hehe. Maaf, Rania hanya bisa membelikan ibu itu saja! Maaf juga Rania baru bisa datang ke sini, tadi pagi Rania langsung ke ruko" jelasnya.


"Iya, tidak apa-apa, nak! Lagian ibu tidak mengharapkan di bawakan apa-apa. Kamu kembali dengan utuhpun ibu sudah sangat bersyukur. Bagaimana selama di sana, apa kamu senang? Tidak terjadi hal buruk, kan? Soalnya ibu pernah mendapat firasat yang tidak di inginkan selama kamu di sana, ibu begitu mengkhawatirkan kalian, nak!"


Mendengar itu, Rania jadi ingat kejadian di sana ketika ia tenggelam, ia memang tidak memberitahu ibunya. Ia juga mewanti-wanti sang kakak atau siapapun, meminta agar ibunya tidak tahu tentang kejadian itu. Walaupun seluruh stasiun televisi memberitakan kejadian itu. Untunglah, mungkin bu Sari tidak sampai mendengarnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, bu. Rania baik-baik saja. Ibu tidak usah khawatir! Sekarang kan sudah ada menantu ibu yang siap menjaga Rania kapanpun dan dimanapun, iya kan?" menoleh pada Bagas agar mengiyakannya.


"Nah, tepat seperti itu!" sahut Bagas.


"Syukurlah, ibu lega mendengarnya"


"Eh, bu, kak Nad kemana?" tanya Rania setelah membahas dirinya ketika di Bali.


"Ada, lagi masak di dapur!" balas bu Sari sambil menunjuk ke belakang.


"Wah.. Kebetulan, kalau begitu kita boleh makan di sini kan, bu?" Rania beberapa kali mengangkat turunkan alisnya, bibirnya tersenyum merasa senang akan makan bersama di sana.


"Tentu saja, nak Frans juga ikut makan di sini juga, kan?" pertanyaan bu Sari dengan segera di jawab oleh sekretaris Frans dengan reflek.


"Iya dong, bu!" jawabnya, setelah itu diam membungkam mulutnya karena tidak sadar menjawab seperti itu.


Sedangkan Rania, Bagas dan bu Sari di buat tertawa olehnya.


"Tuh kan, langsung gerak cepat dia, bu!" lagi-lagi Bagas menimpali, membuat tawa di ruangan itu pecah kembali. Sekretaris Frans hanya bisa menundukan wajahnya karena malu, tidak dapat mengontrol dirinya dengan sebaik mungkin.


"Sebentar, ya! Ibu ke dapur dulu" bu Sari langsung saja pergi tanpa mendapat cegahan yang kedua kalinya dari Rania ataupun yang lain.


Sesampainya di dapur, Nadira sedang mencicipi setetes air dari sendok sayur yang ia teteskan di telapak tangannya. Dengan cepat Nadira segera mengecupnya untuk memastikan kalau rasanya sudah benar-benar pas dan sesuai.


"Nad, kamu masak lebih banyak dari biasanya, ya!" perintah bu Sari membuat Nadira seketika mengerutkan dahinya.


"Untuk apa masak lebih banyak, bu?"


"Di depan ada Rania dan suaminya. Ada nak Frans juga"


"Hah, benarkah?" Nadira sedikit menengokan kepalnya ke arah pintu walaupun tidak akan pernah kelihatan jika di lihat dari sana.


"Iya, katanya mereka akan makan di sini" tambah bu Sari.


"Sekretaris Frans juga?" Nadira memastikan.


"Iya, Nad. Makanya kamu masak lebih banyak ya, nak!" pintanya dan di iyakan oleh Nadira, kemudian kembali ke ruang tamu.


Hah, ada dia juga. Aduh, kenapa jantungku jadi berdetak tidak beraturan begini, ya! Aaaa, aku bahkan lupa belum mandi, duuuh.. bagaimana ini?


Nadira di buat pusing oleh diri sendiri, memikirkan dirinya yang masih belum mandi dan belum siap untuk bertemu sekretaris Frans saat ini.


.


.


.


.

__ADS_1


.


VOTE sebanyak-banyaknya, ya! Tinggalkan like juga kalau suka, tambahkan ke favorit bagi yang belum, ok?!


__ADS_2