
Tiba di rumah sakit, Bagas segera membopong tubuh Rania keluar mobil. Di sana sudah ada suster dan perawat lainnya yang bersiap melayani pasien. Bagas segera membaringkan tubuh istrinya ke ranjang yang di bawa oleh perawat tersebut. Mereka segera membawanya ke UGD, sepertinya Rania mengalami pendarahan yang cukup banyak.
"Bertahan, sayang! Kau harus kuat!" Bagas berlari kecil seiring ranjang itu di dorong oleh para perawat.
Memasuki ruang UGD, Bagas di minta untuk keluar oleh suster. Karena akan ada Dokter yang siap menanganinya.
"Sebaiknya anda tunggu di luar! Dokter kami akan segera mengecek keadaan pasien," pinta suster dengan sopan.
"Tapi, suster. Saya ini suaminya, saya akan mendampingi istri saya," raut wajah Bagas terlihat cemas sekali.
"Maaf, tidak bisa. Anda tunggu di luar saja, ya!" ucap suster kembali mengulang kalimatnya.
Bagas melihat Dokter yang akan menangani istrinya berjalan tergesa-gesa memasuki ruang UGD, ia akhirnya menurut dengan apa yang di katakan suster.
Bagas kelihatannya tidak bisa tenang, ia berjalan mondar-mandir untuk menunggu kabar kondisi istrinya dari Dokter. Kemudian datang sekretaris Frans membawakan sebotol minuman untuk tuannya.
"Minum dulu, tuan. Agar anda lebih tenang," sekretaris Frans menyodorkan sebitol minuman ke hadapan tuannya.
"Terima kasih, Frans!" Bagas menerimanya, kemudian mereka duduk di deretan bangku besi yang tersedia di depan ruang IGD.
"Frans, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan istriku?" Bagas menatap sayup sekretarisnya. Ketakutannya akan kondisi Rania semakin besar.
"Lebih baik anda do'akan , agar nona dan calon bayi yang ada di dalam perut baik-baik saja!" tutur sekretaris Frans, tumben bijak.
Bagas mengangguk, kemudian ia terlihat mencari seseorang di sekitarnya. "Frans, kau lihat papaku dimana? Kenapa dia belum sampai?"
"Tadi tuan besar mengirim pesan, katanya dia terjebak macet di lampu merah, saya sudah kirimkan alamat rumah sakit ini. Dan sebentar lagi tuan besar pasti akan segera datang."
"Iya, Frans. Terima kasih banyak!" ucapnya.
"Sama-sama, tuan."
"Aku ada tugas lagi untukmu, sekarang kau pergi ke kantor polisi. Tolong urus proses hukum yang akan polisi berikan pada mereka bertiga. Aku tidak perduli siapapun mereka, karena mereka semua pantas untuk menanggung resiko atas perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap istriku."
__ADS_1
"Baik, tuan. Kalau begitu, saya permisi!" sekretaris Frans segera beranjak dari sana untuk mengerjakan tugas seperti yang Bagas perintahkan.
Setelah kepergian sekretarisnya, Bagas tidak menyadari kalau setitik kristal jatuh dari pelupuk matanya. Sebenarnya ia sangat sedih, masih tidak percaya kalau kakak dan tantenya melakukan itu semua pada istrinya. Namun mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah mereka lakukan.
Tidak lama kemudian apa yang di katakan sekretaris Frans-pun benar, Brahma datang dengan langkah yang tergesa-gesa. Dan raut wajahnya pun tidak kalah cemasnya dengan Bagas.
"Rania bagaimana, Bagas? Apa dia baik-baik saja?" tanya Brahma dengan napas yang tersengal-sengal.
"Sekarang Dokter sedang menanganinya, pa."
"Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang buruk dengannya," Brahma mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Kesedihan tidak bisa di pungkiri dari wajah mereka masing-masing.
***
Sementara di rumah sakit tempat Radit di rawat, bu Sari yang kini tengah duduk di bangku besi menangis tiada henti. Nadira menemaninya di sana dengan terus menenangkan sang ibu. Kesedihan bu Sari semakin menjadi-jadi ketika mendengar Bagas memberi tahu Nadira kalau Rania juga di bawa ke rumah sakit dan masuk ruang UGD akibat pendarahan.
"Bu, kita do'akan saja, ya! Semoga bang Radit dan Rania beserta kandungannya baik-baik saja," tutur Nadira.
Isak tangis bu Sari terdengar cukup keras, ibu mana yang tidak akan menangis ketika anak-anaknya sedang dalam keadaan seperti yang sedang bu Sari alami sekarang ini. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
"Iya, ayah," bu Sari sedikit luluh mendengar ucapan suaminya. Kini pak Burhan menyandarkan istrinya yang semula di bahu Nadira ke bahunya.
Pak Burhan membelai lembut rambut sang istri dan sesekali membenamkan ciuman di pangkal kepalanya seperti pasangan pada umumnya. Kalau begini kan kelihatannya adem banget.
Tidak lama kemudian, Dokter yang menangani Radit di dalam kini keluar. Membuat Pak Burhan, Nadira, terutama bu Sari seketika bangkit dari duduknya.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" bu Sari bertanya sambil mengusap air matanya yang masih mengalir di pipi.
Dokter tersebut kelihatan sangat iba dengan apa yang di alami Radit, namun ia berusaha menutupinya dengan seulas senyuman.
"Keadaan anak bapak ibu baik-baik saja." turur Dokter.
"Alhamdulillaah.." ketiganya mengusap wajahnya masing-masing seraya mengucapkan syukur pada Tuhan.
__ADS_1
"Hanya saja.." Dokter itu kembali berbicara, namun menggantungkan kalimatnya.
"Hanya apa, Dok? Cepat katakan, jangan membuat saya penasaran!" pak Burhan bertanya dengan tidak sabar menunggu Dokter itu nelanjutkan kalimatnya. Ia juga sedikit mengguncang-guncangkan lengan Dokter.
"Iya, iya, baik. Saya akan mengatakannya, tapi bapak ibu sabar dulu, ya!" pak Burhan melepaskan tangan dari lengan Dokter. Mereka menunggu Dokter untuk melanjutkan kalimatnya.
"Anak bapak ibu memang baik-baik saja. Hanya saja, anak bapak ibu mengalami patah tulang di bagian kaki sebelah kirinya," tutur Dokter.
Mendengar ucapan Dokter barusan, bu Sari seketika langsung membungkam mulutnya, ia nyaris ambruk terjatuh ke lantai jika pak Burhan tidak dengan cekatan menangkap tubuh istrinya. Tubuh bu Sari seketika melemas, cobaan apa lagi yang ia dapatkan.
***
"Rania bagaimana, Bagas? Apa dia baik-baik saja?" tanya Brahma dengan napas yang tersengal-sengal.
"Sekarang Dokter sedang menanganinya, pa."
"Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang buruk dengannya," Brahma mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Kesedihan tidak bisa di pungkiri dari wajah mereka masing-masing.
Setengah jam kemudian, Dokter keluar dari ruang UGD tersebut. Bagas segera menghambur maenghampiri untuk menanyakan kondisi Rania.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Istri saya beserta kandungannya baik-baik saja kan?" Bagas bertanya secara beruntun dan tidak sabar menunggu jawaban dari sang Dokter.
"Kenapa Dokter diam saja? Cepat katakan!" rasa ketidak sabaran Bagas membuatnya ingin sekali memaki Dokter itu.
Dokter tersebut sama sekali belum mengatakan walau hanya sepatah kata. Ia masih diam, sementara Bagas terus saja melontarkan pertanyaan bahkan sedikit makian karena Dokter itu tidak mau menjawab pertanyaannya. Bukan apa-apa, Bagas hanya takut kalau benar sampai terjadi sesuatu dengan kandungan istrinya.
Bahkan Bagas berusaha untuk menerobos masuk, tapi Brahma segera menarik Bagas untuk menahannya. Sebelum Dokter menjawab semua pertanyaan tentang kondisi Rania saat ini.
.
.
.
__ADS_1
Coretan Author:
Follow ig: @wind.rahma