Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Berkat Sirine


__ADS_3

Tiba-tiba saja Bagas menghentikan langkahnya, ketika melihat ada tiga orang sedang berdiri menghadap ke arah yang membelakanginya. Ia melihat sosok wanita di celah berdirnya ketiga orang itu.


"Rania.." ucapnya lirih.


Brahma yang sempat tertinggal, kini ikut menghentikan langkahnya di samping putranya. Ia ikut melihat apa yang sedang Bagas lihat saat ini.


"Arsilla.. Hera..."


Panggilan Brahma membuat ketiga orang yang sedang berdiri membelakanginya itu menoleh, Rania juga. Tiba-tiba saja wajah Arsilla terlihat panik, takut, pikirannya berhamburan kemana-mana. Orang yang memanggil namanya barusan adalah Brahma, papanya. Saat itu juga, yang ada di pikiran Arsilla adalah bukan Rania yang tamat riwayatnya, melainkan dirinya sendiri.


"P-pa papa?" Arsilla membulatkan matanya sempurna, raut wajahnya di penuhi rasa ketakutan yang melebihi Rania tadi. Sedangkan Hera terlihat lebih santai, tidak sepanik keponakannya.


Semburat kebahagiaan terpancar di wajah Rania, setidaknya ketakutannya bisa berkurang walau sedikit saja. Bagas tercekat ketika melihat sebilah pisau menghadang istrinya, ia segera melangkahkan kaki untuk menyelamatkan istrinya, namun langkahnya sempat terhenti ketika Hisam mengalungkan sebelah tangannya ke leher gadis itu beserta dengan pisau yang siap di tancapkan ke perut Rania kapanpun dia mau.


"Selangkah lagi kamu maju, aku tidak akan segan-segan menusuk istrimu! Kamu bukan hanya akan kehilangan istri kesayanganmu, tapi kamu juga akan kehilangan anakmu!" Hisam mengancam Bagas dengan senjata tajamnya.


"Jangan sakiti menantuku! Kalau kamu sampai berani melakukan hal itu, saya pastikan kamu akan menyesalinya!" ujar Brahma tak kalah sengitnya.


"Dan kamu, Silla. Papa benar-benar tidak menyangka kalau kamu bisa melakukan hal senekad ini, papa pikir kamu sudah benar-benar berubah, ternyata papa salah besar. Sekarang juga, kamu dan kamu Hera, ikut papa! Papa mau bicara sama kalian berdua!" Brahma terlihat sangat marah, matanya melotot dan memerah, rahangnya kian mengeras akibat tersulut emosi.


Karena Arsilla dan Hera tetap mematung di tempat, akhirnya Brahma menarik paksa lengan putri dan adik iparnya itu dengan kasar. Sehingga Arsilla berteriak meminta ampun. Namun Hisam tidak memperdulikan Arsilla dan Hera, karena baginya tujuan utamanya itu adalah Rania.


Brahma sudah pergi membawa Arsilla dan Hera ke tempat lain, sedangkan di sana hanya ada Rania, Bagas, dan Hisam yang masih menjulurkan pisau ke arah perut gadis itu.


"Sepertinya aku pernah melihat dirimu, tapi dimana?" Bagas mengingat-ingat pria yang sedang ada di hadapannya. "Kau ini, teman istriku di SMA, kan? Aku melihatmu di saat acara perpisahan angkatan kalian, benar kan?"


Hisam mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Ternyata ingatanmu tajam juga. Ya, aku memang teman istrimu. Tapi asal kamu tahu, semenjak hari itu, kita bukan lagi teman. Melainkan pasangan yang sepakat untuk berselingkuh di belakangmu!"


Rania menggelengkan kepalanya keras, hanya untuk memberi tahu kalau apa yang di katakan Hisam itu sama sekali tidak benar. Ia tidak berani berbicara, ketakutannya yang besar seakan telah mengunci mulutnya.


Bagas terbahak, kemudian ia menatap Hisam dengan tatapan penuh emosi. "Kau pikir aku itu orang bodoh, yang bisa kam bodohi dengan begitu gampangnya?"


Hisam masih terlihat santai, rupanya ia harus mencari cara lain untuk mempengaruhi Bagas supaya bisa percaya dengan apa yang ia katakan.


"Kalau kamu tidak percaya, ya terserah! Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang seragam SMA yang Rania terima pada saat ia akan pulang dari acara itu, dia pasti tidak bilang kan kalau itu dariku? Ya, karena sebelum dia kembali ke mobil untuk pulang bersamamu, kita sempat meresmikan hubungan kita terlebih dahulu, karena kita sudah cukup dekat saat masa sekolah. Dan dia mau menikah denganmu itu karena terpaksa, bukan? Rania tidak pernah mencintaimu, Rania hanya mencintaiku. Kita sering bertukar kabar tanpa kamu ketahui. Apakah kamu masih belum percaya juga?" Hisam berusaha untum meyakinkan Bagas, kalau yang di katakannya itu benar.


Bagas tertegun, waktu itu Rania memang mengatakan kalau seragam yang di corat-coret itu pemberian dari temannya, Diva. Hanya saja Diva ada urusan, sehingga harus di titipkan pada Hisam untuk memberikan kepadanya.

__ADS_1


"Cukup, Hisam! Kamu ini sudah keterlaluan!" tampik Rania, ia mendongak ke arah Hisam yang tersenyum menyeringai padanya.


"Sayang, kau jangan pernah percaya dengan perkataan Hisam! Apa yang fia katakan ini sama sekali tidak benar!" Rania memekik, ia takut kalau suaminya akan mempercayai perkataan Hisam.


"Tunggu, Rania! Apakah yang di katakan dia itu benar? Kalau seragam yang kau katakan itu pemberian dari Diva ternyata dari laki-laki ini?" Rania menunjuk Hisam, dan malah menatap Rania dengan sorot mata tajam.


"Aku minta maaf kalau aku berbohong soal itu, aku tidak mau kalau hubungan kita saat itu yang baru saja membaik akan kembali berantakan!" seru Rania, rupanya Bagas sudah mulai terpengaruh oleh perkataan Hisam.


"Aku tidak suka di bohongi, walaupun itu hal kecil!" Bagas menggelengkan kepala, ia tidak menyangka kaalu istrinya menyembunyikan hal itu selama ini.


"Sayang, semua yang di katakan Hisam itu tidak benar! Dia hanya ingin mempengaruhi dirimu, kau jangan pernah gampang percaya dengan orang seperti dia! Saat ini saja dia mencelakaiku, mana mungkin dia ini kekasihku?" Rania terus berusaha agar Bagas tidak sampai terpemgaruh.


"Iya, kalau kau mengaku kekasih istriku, mengapa kau malah mencelakainya? Bahkan kau sampai bersekongkol dengan kakak dan tanteku!" sepertinya Bagas mulai mempercayai Rania, karena itu sudah seharusnya.


Tidak mau menyerah sampai di situ saja, Hisam akhirnya kembali membuat mempengaruhinya.


"Aku melakukan semua ini karena marah padanya, karena dia sudah melanggar kesepakatan kami. Kalau dia tidak akan pernah melayanimu di atas tempat tidur. Hanya aku yang berhak menyentuhnya setiap saat. Kemudian ketika aku mendengar dia hamil, aku sangat marah. Dia pasti hamil anakmu, karena aku tidak mengeluarkannya di dalam!" ujar Hisam, bukannya membuat Bagas terpengaruh, justru membuatnya terbahak dengan sangat keras.


"Hahaha, kau pikir aku akan percaya dengan semua omong kosongmu itu? Tidak, tidak sama sekali. Lepaskan istriku sekarang juga!" melihat Bagas tidak lagi mempercayainya, Hisam pun tidak tahu lagi harus berbuat apa.


"Kamu lihat apa yang akan terjadi, aku akan berbuat nekad sekarang juga!" Hisam kembali tertawa seperti orang yang sudah kehilangan akalnya.


"Jangan..." Bagas berteriak, ketika Hisam mengangkat pisau itu lebih tinggi dan...


***


Sementara di tempat lain, masih di dalam gudang tua tersebut. Brahma berdiri di hadapan Arsilla dan Hera yang kini mereka tengah meminta ampunan pada Brahma.


"Papa tidak habis pikir dengan ulah kamu, Silla. Kamu juga Hera, bukannya membimbing Arsilla ke arah yang lebih baik, kamu justru malah menjerumuskan Silla! Mulai detik ini, sesuai janji papa, papa akan mengambil semua fasilitas yang sudah papa berikan sama kamu. Papa minta kamu tantemu keluar dari rumah papa, jangan pernah menginjakan kaki lagi di rumah itu!" Brahma sudah benar-benar marah, Brahma tidak pernah marah seperti ini, sebelumnya.


Arsilla menganga tidak percaya, kalau papanya ternyata akan mengambil fasilitas dan mengusirnya sungguhan. Ia tidak mau papanya melakukan ini semua, ia tidak mau hidup gelandangan dan miskin seperti Rania. Ia segera berjongkok dan memeluk kaki papanya dan bergelayut di sana.


"Pa, Silla mohon! Jangan lakukan itu ya, pa! Kalau papa usir Silla dari rumah itu, Silla tidur di mana? Silla tidak punya siapa-siapa, lagi. Silla mohon, papa tarik lagi ucapan papa, ya!" Arsilla kini mengeluarkan air mata penyesalannya, setelah ia melakukan kesalahan yang sudah melebihi batas.


"Kamu sudah keterlaluan, Silla. Kamu tidak hanya membahayakan keselamatan adik ipar kamu, tapi kamu juga membahayakan bayi yang ada di dalam perutnya!" ucap Brahma dengan nada yang menggetarkan tubub Arsilla dan Hera.


"Silla minta maaf, Pa! Maafkan Silla, Silla tahu Silla salah, pa. Kalau Silla pergi dari rumah papa, bukannya papa juga tidak mempunyai siapa-siapa lagi?" ucapan yang Arsilla lontarkan ada benarnya juga, ia pasti akan sangat kesepian di rumah. Terlebih Bagas sekarang sudah pisah rumah.

__ADS_1


"Silla, apa kamu tahu? Selama ini papa sudah berkoban untukmu, nak. Dengan cara memasukkan mantan suami kamu ke penjara, dan sekarang kamu malah berurusan lagi dengan keluarganya. Sekarang kamu malah bergabung dengan adik dari mantan suami kamu, untuk mencelakai Rania. Pikiran kamu iti dimana, Silla?"


Setitik kristal jatuh dari kedua mata Brahma, ia tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran putri dan adik iparnya. Namun ia harus bisa bersikap tegas, ia tidak mau memanjakan Arsilla dengan selalu membelanya walaupun ia sudah melakukan kesalahan besar.


Tiba-tiba Arsilla terkejut, ia baru tahu kalau papanya telah memenjarakan mantan suaminya. Brahma tidak pernah membicarakan soal ini pada Arsilla sebelumnya.


"Maafkan aku juga, mas! Aku akan terima konsekuensinya dengan pergi dari rumah, mas," kini Hera membuka suara, namun ia sama sekali tidak menunjukkan kalau dirinya bersalah.


"Saya tidak tahu tahu, apakah saya harus memaafkan kalian berdua. Kalau sampai terjadi hal buruk dengan Rania dan kandungannya, maka saya akan..." belum sempat Brahma melanjutkan kalimatnya, suara teriakan dari Bagas dan Rania membuatnya tiba-tiba tertuju pada suara teriakan itu.


"Rania..." lirihnya, apa yang telah terjadi dengannya. Apa pria itu benar-benar nekad?


Brahma sempat melangkahkan kaki untuk kembali menyusul Bagas. Seketika ia menghentikan langkahnya, ketika mendengar suara sirine berbunyi. Sepertinya ada polisi datang ke gudang tua itu.


"Jangan..." Bagas berteriak, ketika Hisam mengangkat pisau itu lebih tinggi dan...


Ketika pisau itu nyaris menusuk perut Rania, tiba-tiba Hisam mengurungkan niatnya. Ketika mendengar suara sirine berbunyi. Sepertinya ada polisi yang datang ke gudang tua tersebut.


Wajah Hisam, Arsilla dan Hera nampak panik dan ketakutan. Hisam segera menarik lengan yang melilit di leher Rania, kemudian mendorong tubuh gadis itu dengan sangat keras ke lantai. Ia harus segera pergi ke tempat itu, ia harus segera menyelamatkan dirinya sendiri.


Arsilla dan Hera pun kini tengah di landa ketakutan, bagaimana jika polisi menangkapnya? Lalu mereka akan di bawa ke kantor polisi, lalu di penjara dengan tuduhan penculikan dan akan melakukan pembunuhan berencana. Mereka akan di jerat pasal berlapis.


Jika semua itu benar, maka Arsilla akan menyusul mantan suaminya di penjara. Dia juga tidak hanya akan menerima resiko bahwa akan hidup miskin setelah melakukan hal buruk terhadap Rania, melainkan harus tinggal di balik sel jeruji besi yang akan mengurunginya selama waktu yang nanti akan di beri sesuai hukuman atas kesalahan yang di lakukan.


.


.


.


Coretan Author:


Jangan lupa like, vote, komen.


Next part bisa di baca nanti jam sebelas malam.


Follow ig: @wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2