Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Seseorang itu Adalah


__ADS_3

"Aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa? Katakan!" pinta Bagas.


Di tengah-tengah langkah mereka menuruni anak tangga, mereka memberhentikan langkahnya.


"Sebenarnya siapa seseorang yang akan datang ke rumah ini? Sepertinya dia sangat spesial, sehingga membuat dia harus di sambut dengan mengadakan pesta seperti ini" pertanyaan Rania membuat Bagas tersenyum, rupanya ia lupa memberitahu istrinya tentang siapa seseorang yang akan datang itu.


"Oh, dia--"


"Tuan, nona, sudah di tunggu oleh tuan besar di meja makan!" kata pelayan di bawah tangga memotong percakapan Bagas dan Rania.


Sedetik lagi Bagas akan mengatakan dan Rania akan mengetahui seseorang yang datang itu jika saja pelayan itu tidak ada di sana. Tapi ya sudahlah, toh nanti juga tahu sendiri siapa seseorang itu kalau dia sudah datang.


"Baik" jawab Bagas pada pelayan tersebut.


"Ayo, mereka sudah terlalu lama menunggu kita!" ajak Bagas untuk menuruni tangga kembali.


*****


Pagi hari di tempat kediaman tuan tajir, Rania sedang merapikan jas dan juga dasi yang Bagas kenakan. Tiba-tiba pintu kamar mereka di ketuk.


Tok tok tok


"Siapa sepagi ini mengetuk pintu kamar?" tanya Bagas pada Rania.


"Aku tidak tahu! Mungkin pelayan, suruh masuk saja siapa tahu penting!"


"Masuk!" perintah Bagas setengah berteriak.


Sedetik kemudian pintu di buka oleh seseorang, dan muncul sosok wanita yang kira-kira berusia berapa, ya? Soalnya kelihatan masih muda tapi seperti sudah berumur juga. Berpenampilan sexy, bertubuh ramping dan berambut hitam kecoklatan. Wanita itu bisa di definisikan cantik.


Wanita langsung lari menghampiri Bagas dan memeluknya, di hadapan Rania. Bagas juga membalas pelukannya. Benar-benar tidak sopan wanita itu memeluk laki-laki di depan istrinya. Rania masih bingung oleh siapa wanita tersebut. Kenapa Bagas juga malah kelihatan sangat senang ketika di peluk oleh wanita itu. Sialan!


Kenapa dadaku jadi merasa sesak begini, ya, melihat suamiku di peluk wanita lain? Apa aku ini cemburu? Ah, masa, sih? Lagian, dia siapa, sih, beraninya masuk ke kamar langsung meluk laki orang gitu aja. Bagas lagi, malah keenakan di peluk. Gerutu Rania dalam hati.


"Aku merindukanmu" ucap Bagas pada wanita yang di pelukanya, dan mendapat jawaban, "sama" katanya.


Waw, bahkan mereka saling merindukan. Ingin rasanya Rania mengacak-acak, menjambak rambut wanita itu tapi segera ia urungkan ketika Bagas melepaskan pelukannya dan menanyakan,


"Tante kapan sampai di Tanah Air?"


Hah, tante? Jadi wanita yang tadinya akan aku acak-acak rambutnya ini tante-nya Bagas? Oh, jadi ini rupanya seseorang yang para penghuni rumah tunggu kedatangannya selama ini!


"Dua jam yang lalu!" kata tante Bagas yang belum tahu siapa namanya.

__ADS_1


"Ini siapa?" tante Bagas menunjuk Rania seolah-olah dia baru sadar kalau ada manusia lain di kamar selain dirinya dan Bagas.


"Oh iya, tante perkenalkan ini istriku! Sayang, ini tante Hera, tante-ku dan sekarang jadi tante-mu juga!" Bagas saling memperkenalkan tante dan Rania.


"Aku Rania, tante" Rania mengulurkan tangannya.


Hera bukannya menerima uluran tangan tangan Rania, saling menjabat tangan untuk mereka berkenalan, Hera malah menatap tajam Rania dan melihat tubuh Rania dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Jadi ini, istrimu?" tanyanya dengan menunjuk tepat ke wajah Rania. Rania merasa uluran tangannya di balas oleh tante Hera, kemudian ia tarik kembali.


"Iya, tante" jawab Bagas tanpa beban.


"Kamu yakin gak salah memilih istri?" tanyanya lagi dengan tatapan yang tidak suka terhadap Rania.


"Memangnya kenapa, tan?"


"Tante sudah tahu dari Arsilla, gadis miskin kok bisa-bisanya kamu jadiin istri?!" maki Hera


"Tapi tan.."


"Diam kamu, tante gak suka kamu punya istri dari kalangan orang miskin seperti dia!"


"Kamu" Hera menunjuk tepat di wajah Rania, "mau jadi nona di rumah ini? Hah, sampai kapanpun gak akan pernah terjadi selama ada saya"


Rania seperti kembali ke kehidupan beberapa bulan lalu, dimana dirinya di maki habis-habisan oleh kakak ipar. Ia tidak mau kehidupan yang membuat dirinya menderita itu terulang lagi, dengan cepat Rania menepis lengan tante Hera.


"Kau!" tangan tante Hera nyaris menampar Rania jika tidak segera Bagas tangkap.


"Tante, sudah!" Bagas berusaha menghentikan aksi tante Hera.


"Tante tidak sudi mempunyai keponakan yang memiliki istri berasal dari kalangan orang miskin, rasanya seperti odading mang oleh, yang rasanya anj*ng banget!" makinya membuat Rania nyaris tertawa jika tidak segera ia tahan.


"Lepaskan tante, Bagas!" bentak Hera ketika Bagas berusaha membawanya keluar dari kamar.


Sementara Rania di dalam kamar memecahkan tawanya ketika mendengar makian dari tante Hera menggunakan kata-kata dari video yang sedang ramai di bicarakan oleh warga net.


Ingin rasanya aku membalas makian tante Hera dengan perkataan, "odading mang oleh, rasanya seperti anda menjadi Iron Man" Ha ha ha.


Bagas melepaskan tangan tantenya ketika ia sudah membawanya keluar dari kamar.


"Maafkan aku, tante! Aku ingin tante sedikit saja menghormati istriku. Jangan rusak moment kerinduan ini hanya karena satu hal! Tante istirahat saja!" setelah itu Bagas kembali ke kamar dan menutup rapat-rapat pintunya.


"Sialan anak itu! Beraninya dia sama tantenya sendiri, hanya karena membela gadis kampungan? Gadis itu sudah meracuni otak Bagas, harus aku kasih pelajaran dia" gerutu Hera di depan kamar Bagas, ia mengepalkan kedua tangannya, meremas kuat jemarinya untuk melampiaskan amarah. Kemudian pergi.


"Maafkan tante Hera!" ucap Bagas pada Rania di dalam kamar, mereka duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Harusnya aku yang minta maaf padamu karena aku sudah berani berbicara tidak sopan di depan tante Hera" Rania menundukkan kepalanya, entah darimana ia tadi mendapatkan kata-kata bijak yang bisa membungkam mulut tante Hera.


Ternyata benar kata kakak ipar, mungkin riwayatku akan tamat setelah kedatangan tante Hera, seseorang yang mereka maksud selama ini. Tapi tidak! Aku tidak boleh terpengaruh begitu saja oleh omongan kakak ipar. Bagas saja bisa aku taklukan, jadi tidak mustahil kalau tante Hera juga bisa berubah, termasuk kakak ipar sendiri. Kuatkan aku.


Bagas meraih tangan Rania, ia perlahan menggenggamnya.


"Kau tidak perlu takut, tante Hera memang begitu! Dia lebih menakutkan dan bisa saja lebih nekad daripada aku dulu. Tapi kau tenang saja! Ada aku di sini" Bagas berusaha menenangkan istrinya.


"Terima kasih!" ucap Rania dengan wajah yang masih tertunduk.


"Hey, lihat aku!" Bagas meraih wajah Rania agar ia menatap dirinya.


"Aku salut dengan keberanianmu tadi. Seperti yang kau lakukan dulu kepadaku, kau melawan saat harga dirimu aku injak, saat aku memakimu, tapi kebanyakan waktu itu kau hanya diam. Tapi akhirnya kau jadi pemenang. Pemenang dalam hatiku"


"Huh, pagi-pagi sudah ngegembel" maki Rania.


"Gombal bukan gembel"


"Ha ha ha.." Rania tertawa, itu membuat Bagas terlihat senang ketika istrinya sudah tidak murung lagi.


Senyumu, tawamu, kini sangat berarti dalam hidupku. Seorang gadis bodoh yang tidak pernah aku pikirkan akan mengisi hari-hariku dengan penuh kekhawatiran setiap kali ia bersedih. Aku mencintaimu, Raniaku.


.


.


.


.


.


.


#READERS_WAJIB_BACA


Makasih buat kalian yang setia dengan TUAN TAJIR.


Buat kalian yang suka bilang up-nya kelamaan, jadi malas bacanya, ngegantung. Nih saya kasih pencerahan.


Hidup seorang author itu tidak selalu tentang dunia kepenulisan, author juga punya kehidupan nyata, tidak semua ia habiskan dengan menulis. Up kelamaan, padahal baru satu hari gak up tapi udah di maki habis-habisan. Padahal apa kalian tahu di dunia nyatanya bagaimana? Mungkin dia sedang sakit atau ada keperluan lain. Author selalu memikirkan readersnya tapi readers kebanyakan gak mikirin authornya. Ngegantung lebih baik baca yang end, semua Novel juga sama, butuh proses untuk menuju end. Tidak ada Novel yang tiba-tiba di up langsung ending. Mungkin ada tapi kebanyakan butuh proses on going.


Di Noveltoon bacanya gratis, nikmati saja, beda sama platform sebelah yang harus pakai koin. Koin untuk apa? Sebagai pendukung author, karena author juga butuh dukungan. Bikin naskah itu gak gampang, ya! Bukan sekedar ngetik.


Hidup untuk menulis itu menyenangkan, asal tidak sepanjang waktu.

__ADS_1


Segalanya yang berlebihan itu tidak akan sehat baik jiwa maupun raga. Harus ada keseimbangan. Menekuni naskah sepanjang waktu itu tidak akan membantu karya. Karena itu malah akan membuat para author melewatkan berbagai hal lain. Karena terlalu fokus, bisa jadi saltik tidak di perhatikan, logika berkeluyuran entah ke mana, dan alur cerita melenceng tanpa di sadari. Seorang autor perlu jeda agar bisa mencermati tulisannya dengan lebih mendalam.


Saya harap kalian mengerti maksud saya!


__ADS_2