
Keesokan harinya. Pagi-pagi Diva datang ke rumah Rania, malam tadi ia sudah menghubungi Rania akan datang ke sana karena ada hal yang harus di bicarakan dan di ceritakan. Diva benar-benar butuh seorang teman, dan ia rasa bahwa Rania adalah teman yang tepat untuk di ajak cerita.
Kini mereka sudah berada di taman belakang rumah Rania, hanya ada mereka berdua saja. Karena Diva meminta suami Rania agar tidak ikut dengan pembicaraannya, alasannya adalah masalah perempuan yang tidak boleh di ketahui oleh seorang pria, sekalipun itu suami Rania sendiri. Raniapun setuju, dia rasa ada sesuatu yang penting, sehingga Diva meminta seperti itu tidak seperti biasanya.
"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan sama aku, Va?" Rania bertanya mengawali percakapan.
Diva terdiam, ia bingung harus menceritakan semua ini dari mana.
"Va? Kamu baik-baik saja, kan?" Rania menepuk bahu temannya pelan, untuk menyadarkannya dari lamunan.
"I-iya, a-aku baik-baik saja, Rania," jawab Diva gugup, ia meremas jemarinya yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Ada apa, Va? Apa ada masalah dengan Reyhan? Terakhir aku lihat hubungan kalian sepertinya kurang baik, ayolah ceritakan!" Rania berusaha membujuk Diva, semoga saja Diva luluh dan mau cerita.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Diva, namun ia berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh di pipinya.
"Rania, keadaan memaksaku untuk terima terima kenyataan, kalau ternyata Reyhan itu tidak akan pernah bisa bersamaku, hiks.." sekuat tenaga Diva menahan tangisnya, namun pada akhirnya isak tangisnya malah mendahului di luar kendalinya.
"Maksud kamu?" Rania menatap temannya bingung, ia tidak paham apa yang sebenarnya Diva maksud.
"Hiks.. Ternyata Reyhan adalah milik kakak aku, Rania. Hiks.. hiks.." Rania menyandarkan Diva di bahunya, berusaha mencerna ucapan Diva barusan.
"Tunggu sebentar! Bukannya kamu pernah bilang kalau kakak kamu itu di penjara, karena kakak kamu di tuduh membunuh seseorang?" Rania semakin di buat bingung.
Diva menyeka air mata yang terus menggulir di kedua pipinya. Ia menarik napas panjang untuk mengontrol dirinya. "Iya, Rania. Ceritanya panjang, dan aku tidak bisa ceritakan ini secara detail."
"Tapi kalau kamu tidak ceritakan, aku sama sekali tidak paham, Va. Aku juga tidak mengerti kenapa hubungan kamu dan Reyhan merenggang, padahal hubungan kalian sudah semakin membaik, kan?" Rania memegang kedua lengan atas temannya, dan menatap kedua bola matanya secara bergantian.
"Jadi begini, Rania. Kakak aku itu di penjara karena tuduhan pembunuhan, dan kamu tahu siapa orang yang mereka kira telah di bunuh kakak aku?"
"Siapa?" tanya Rania penasaran.
"Dia adalah Alertana, suami dari bu Iren sekaligus papa kandung dari Reyhan," jelas Diva, membuat Rania seketika bungkam dan tercengung. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Lalu?" Rania semakin tidak sabar untuk mendengarkan cerita Diva selanjutnya.
__ADS_1
"Jadi itu alasan Reyhan dulu yang tidak begitu menyukai aku. Karena wajah aku mirip sekali dengan wajah kakak aku, yang mereka kira sudah membunuh keluarganya. Dan setelah Reyhan mengetahui kebenarannya, Reyhan mulai mau mengenal aku secara lebih dekat. Itupun permintaan kakak aku. Dan ketika aku tahu kebenaran itu, aku minta dia dan keluarganya untuk membebaskan kakak aku," Diva menyeka air matanya yang tak juga menyurut, rasanya bagian dadanya merasakan sesak yang begitu hebat.
"Lalu apa yang membuat hubungan kamu dan Reyhan merenggang, Va?" Rania semakin tidak sabar menunggu Diva untuk melanjutkan ceritanya lagi.
"Pada saat itu juga, aku meminta kakak aku menggantikan posisi aku dekat dengan Reyhan. Karena aku pikir semuanya percuma. Percuma Reyhan dekat dengan aku kalau itu semua permintaan kakak aku, bukannya itu sebuah keterpaksaan?"
"Di saat yang bersamaan, mama-nya Reyhan juga berpikiran yang sama, kalau dia ingin Reyhan dekat dengan kakak aku, untuk menggantikan papanya yang telah merenggut semua kebahagiaan kakak aku. Pada saat itu, aku merasa hatiku sangat hancur, Rania. Hati aku bagaikan di sayat dan di tusuk oleh pedang, yang menimbulkan luka yang menganga. Hiks.. hiks.." sambung gadis itu. Oleh meanggis sesenggukan di hadapan Rania, membuat Rania merasa iba dengan nasib teman dekatnya itu. Namun Rania tidak bisa memberi solusi apa yang kira-kira tepat untuk Diva. Masalah perasaan, yang akhirnya seperti ini rasanya Rania tidak dapat mencampuri.
"Rania. Aku juga paham dengan maksud mama-nya Reyhan, yang juga sependapat dengan ibu aku. Kalau Reyhan menggantikan tanggung jawab papanya, setidaknya itu memberi keadilan pada kakak aku. Karena kalau bukan Reyhan, mungkin kakak aku akan sulit menemukan pria lain di luaran sana, dengan statusnya yang mantan narapidana dengan tuduhan kasus pembunuhan, juga akan mempersulit kakak aku mencari pekerjaan. Rania, apa yang aku lakukan ini sudah benar? Merelakan Reyhan untuk kakak aku walaupun sangat menyakitkan," Diva kembali menangis, bahkan air matanya tidak dapat ia cegah untuk terus mengalir di kedua pipinya.
"Aku tidak tahu kalau masalahnya seperti itu, Va. Tapi apapaun yang menurut kamu baik, dan itu yang menjadi keputusan kamu, kamu harus ikhlas. Kamu ikuti saja apa kata hati kamu!" tutur Rania, ia membelai rambut temannya setelah ia berhasil menyandarkannya kembali di bahunya.
"Aku cuma bisa berdo'a, kalau kamu akan mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari Reyhan, ya? Kamu jangan nangis lagi!" Rania membantu mengusap air mata di pipi Diva menggunakan kedua ibu jarinya.
"Iya, Rania. Aku sedang mencobanya, aku sedang mencoba belajar ikhlas dan rela, karena ini sudah menjadi keputusan aku sendiri."
"Kalau begitu, jangan nangis lagi, ya! Mana Diva yang aku kenal? Mana Diva yang selalu ceria? Senyum, dong!" Rania berusaha menghibur temannya yang tengah di landa kesedihan. Dan untungnya berhasil, Diva kembali tersenyum walau sedikit saja.
Diva meraih buah tangan Ranai, ia menatap temannya lekat. "Terima kasih banyak ya, Rania. Kamu selalu ada buat aku, di kala senang dan sedih. Aku beruntung punya teman seperti kamu, sekarang aku sudah merasa lega, karena aku sudah menceritakan rasa sakit yang aku pendam selama ini sendirian."
Diva mengangguk, ia benar-benar merasa sedikit lega. Karena tidak baik juga memendam rasa sakit sendirian, lebih baik kita ceritakan pada orang terdekat kita yang bisa di percaya. Setidaknya itu akan mengurangi beban yang mengganjal di hati kita.
"Oh, iya, kamu gak ke ruko?" Rania bertanya setelah melihat matahari semakin tinggi, dan hari mulai siang.
"Em.. sebenarnya kedatangan aku ke sini bukan cuma mau cerita saja, Rania. Aku datang ke sini juga karena aku mau bilang sama kamu, terima kasih banyak karena kamu sudah memberi aku kepercayaan untuk bekerja di ruko kamu sampai saat ini. Sekaligus mau minta maaf, karena aku tidak bisa untuk melanjutkan merja di ruko kamu. Aku pamit mengundurkan diri," Diva menjelaskan tujuan utamanya menemui Rania.
"Lah, kenapa, Va? Apa kamu kecapean ya kerja di ruko aku, dan gajih yang aku berikan tidak sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan?" Rania sedikit terkejut dengan pengunduran diri Diva dari rukonya.
Diva menggeleng keras. "Bukan itu, Rania. Alasannya karena aku harus menjauh dari Reyhan, karena kalau aku masih bertemu dengannya setiap hari, sepertinya itu akan membuat usaha aku untuk melupakannya semakin berat. Kamu ngerti kan maksud aku, Rania?"
"Iya, Va. Aku paham, tapi kamu beneran mau berhenti bekerja di ruko?" Rania meyakinkan sekali lagi, takutnya Diva akan berubah pikiran.
"Iya, Rania. Aku serius, aku mau mengundurkan diri saja dari ruko kamu. Maaf, ya!" ujar Diva menegaskan.
"Iya, Va. Tidak apa-apa. Semoga kamu mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik lagi, ya!"
__ADS_1
"Iya, Rania. Aamiin. Kalau begitu aku pamit dulu, ya!"
"Iya, Va. Hati-hati!" Rania berdiri dari duduknya, dan kini mereka berjalan untuk pergi ke halaman rumah Rania.
"Rania, aku pulang, ya!" pamit Diva sekali lagi, ketika mereka sudah ada di depan gerbang rumah.
Rania mengangguk. "Iya, hati-hati!"
Diva memberi seulas senyum pada Rania, begitupun dengan Rania yang langsung membalasnya. Ketika Diva baru saja melangkahkan kaki pergi dari sana, tiba-tiba Rania berteriak menghentikan langkah Diva.
"Va.." teriakan Rania membuat Diva menoleh padanya. "Kamu masih ingat abang aku, kan? Namanya Radit, dulu dia pernah bilang kalau dia suka sama kamu."
Diva terdiam, ia mengingat-ingat nama dan wajah pria yang baru saja Rania sebut namanya. Setelah ia ingat wajah itu, kemudian ia tersenyum.
"Aku pergi dulu ya, Rania. Sampai ketemu lagi," Diva melambaikan tangannya, dengan seulas senyum yang masih tergambar jelas di bibirnya.
"Hah, semoga impian bang Radit bisa terwujud, kalau ia bisa melihat wajah cantik Diva dengan leluasa suatu hari nanti. Bukan hanya sekedar melihat dari balik pintu kamarnya, setiap Diva mampir ke rumah dulu," Rania tersenyum jika mengingat hal itu, lucu sekali rasanya kalau Diva menjadi kakak iparnya.
"Ada apa dengan bang Radit, kenapa kamu sebut-sebut namanya?" pertanyaan dari seorang pria yang tiba-tiba muncul dari belakang Rania membuatnya sedikit terkejut, tapi untunglah pria yang menjadi suaminya itu tidak mendengar ucapannya barusan.
"Kepo, mau tahu aja. Hehehe.." Rania menulurkan lidah pada Bagas, kemudian pergi meninggalkannya untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara Bagas masih mematung di sana, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan rasa penasaran yang membuatnya tenggelam dalam lamunan.
.
.
.
Coretan Aurhor:
Kira-kira Diva cocok gak ya buat Radit, kalau gak cocok, cocokin aja deh. Masa iya Diva buat tuan Brahma, kan gak lucu juga. Hehehe.
Jangan lupa tinggalkan like dan komen di kolom komentar, ya! Vote yang banyak.
__ADS_1
Follow ig: @wind.rahma