
Hari ini Bagas mengajak Rania untuk pergi ke sebuah kafe, untuk merayakan peresmian ruko proyek terbesarnya secara khusus. Karena kemarin Rania tidak bisa ikut untuk mendampinginya, maka hari ini ia harus ikut serta merayakan peresmiannya walaupun hanya berdua.
Bagas menghentikan laju mobilnya ketika sudah berada di depan kafe tersebut. Lalu mereka turun dan masuk ke dalam. Mereka duduk dekat jendela, karena itu deretan meja yang kebetulan kosong. Suasana kafe lumayan ramai pengunjung.
Setelah memesan menu makanan, sudah datang juga, kini mereka berbincang-bincang.
"Sayang, bagaimana kalau kau tidak perlu menyewa ruko lagi? Kau bisa pindah ke ruko yang sudah aku resmikan kemarin, apa kau setuju?" tawar Bagas.
Rania menarik bibirnya dari sedotan. "Memangnya kapan ruko itu bisa segera di tempati?" tanya Rania sambil mengaduk minumannya.
"Mungkin tiga hari lagi, karena karyawan-ku juga sedang mencari banyak orang yang minat menempati ruko itu. Kebetulan kan ruko yang kau sewa tempatnya tidak seluas ruko yang proyekku"
"Iya, sih. Aku setuju, dan aku ada rencana tambah pegawai juga. Soalnya bisnis online-ku sekarang ramai coustamer. Sehingga membuat pegawai kewalahan dalam mengemas barang orderan," keluh Rania.
"Ya sudah, besok kau bisa beritahukan dulu kepada seluruh pegawaimu untuk mempersiapkan pindahan."
"Iya."
Rania dan Bagas menyedot masing-masing minumannya. Setelah beberapa menit saling berdiam, akhirnya mereka membuka percakapan kembali.
"Sayang," panggil Bagas lirih, namun itu terdengar jelas.
"Iya, apa?" jawab Rania.
"Aku juga ada rencana beli rumah baru," ujarnya. Membuat Rania berpikir sejenak.
"Rumah baru? Untuk siapa?" tanya Rania penasaran.
"Untuk kita. Aku ingin kita pisah rumah saja dengan papah! Kau setuju kan?" usul Bagas. Dan berharap Rania menyetujuinya.
"Memangnya kau sudah bicara dengan ayah?" tanya Rania memastikan.
__ADS_1
"Belum, sih. Tapi nanti aku akan coba bicara. Kalau menurutmu, setuju?"
Rania mengangguk. "Terserah kau saja! Aku pasti ikut" balasnya seraya memberi seulas senyum.
Akhirnya setelah berbulan-bulan lamanya aku menanti pisah rumah bisa terkabul juga. Meskipun kakak ipar sudah berubah, tapi masih ada tante Hera di sana. Yang siap mempengaruhi kakak ipar untuk jahat kembali. Hah, aku lega dengarnya. Semoga saja ayah memberi ijin Bagas untuk pisah. Karena bagaimana pun juga kami sudah berumah tangga.
***
Hari begitu cepat berganti, siang pun sudah tergantikan oleh malam yang siap menemani bumi. Dan bulan siap menggantikan matahari untuk menyinari bumi pula, agar kegelapan malam tidak di takuti oleh seluruh penghuninya.
Setelah selesai makan malam, Bagas berjalan menuju kamar papahnya. Ia masuk ketika sudah ijin untuk masuk. Ia mendapati ayahnya sedang berbaring di atas tempat tidur. Ia berjalan menghampiri dan duduk di tepi ranjang.
"Ada apa, Bagas? Tumben sampai datang menemui papah ke kamar!" ujar Brahma sambil berusaha bangun dan duduk bersandar.
"Ada yang mau aku bicarakan, pah!"
"Katakan!"
Brahma seketika terdiam. Ketakutannya selama ini terjadi, ia memang menginginkan Bagas untuk segera menikah dan memiliki istri, namun ia sebenarnya takut kalau akhirnya Bagas pergi bersama istrinya untuk memiliki rumah pribadi. Rumah pasti akan terasa lebih sunyi. Walaupun banyak sekali pelayan yang tidak dapat di hitung berapa jumlah keseluruhannya.
"Pah.." Bagas meraih tangan papahnya.
"Aku tahu mungkin ini berat buat papah, tapi mau bagaimana lagi? Aku ini sudah berumah tangga, dan sebentar lagi akan memiliki seorang anak. Sudah sepantasnya aku tinggal di rumah pribadi. Papah tenang saja, aku pasti akan sering-sering ke sini untuk menemui papah!" tutur Bagas.
Apa yang di katakan Bagas memang benar, sudah sepantasnya ia tinggal di rumah pribadi bersama sang istri. Itu membuat Bagas membuat keputusan kalau ia akan memberi ijin Bagas.
"Iya, Bagas. Papah mengerti" jawab Brahma walaupun berat hati untuk ia ucapkan.
"Terima kasih, pah!" ucap Bagas segera merangkul papahnya.
Ini adalah kali pertamanya Brahma di peluk Bagas, putranya sendiri. Ia yang selalu mencoba memeluk putranya, namun selalu di tolak. Tapi kali ini, Bagas sendiri lah yang datang untuk memeluk dirinya. Benar-benar nikmat Tuhan yang luar biasa. Brahma membalas pelukan putranya itu dengan cepat, karena ia tidak mau menyianyikan kesempatan yang mungkin tidak akan pernah datang lagi. Jika dirinya seorang wanita, mungkin sekarang ia sudah menangis. Namun lain baginya, hanya seorang laki-laki yang hanya bisa mengeluarkan air mata sampai terkumpul di pelupuk mata saja. Setelah batas dinding pelupuk mata tidak dapat menahan bendungannya, maka segera ia seka.
__ADS_1
Mungkin ini berat untuk papah, Bagas. Tapi papah sadar, kamu sudah dewasa. Papah tidak ada hak lagi untuk mengatur hidup kamu. Kamulah yang berhak untuk mengatur semuanya. Berbahagialah, Bagas. Putraku.
Setelah mendapat ijin dari sang papah, Bagas kembali ke kamar dengan raut wajah senang. Ia pasti akan segera mengurus kepindahannya setelah urusan ruko itu selesai.
"Sayang" Bagas menghambur ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya yang sudah menunggu kabar darinya.
"Bagaimana? Apa ayah setuju dengan keinginanmu?" tanya Rania tak sabar.
"Kau bisa lihat ekspresi di wajahku!" Bagas menunjuk wajahnya sendiri, seraya memberi senyuman paling sok imutnya.
"Ayah setuju?"
"Tentu saja. Walaupun aku tahu itu berat buat papah, tapi papah mengerti keadannya" ucap Bagas sedikit memudarkan rasa bahagianya. Ia jadi ikut sedih ketika mengatakan perasaan papahnya yang sebenarnya.
Rania menusap bahu suaminya pelan, berusaha mengertikan perasaannya juga ayah mertuanya. "Kau harus siap kehilangan ayah, ayah juga harus siap kehilangan kau di rumah ini. Sama halnya seperi diriku, yang di paksa keadaan untuk siap meninggalkan ibu dan keluargaku di rumah untukmu. Dan mereka juga berusaha ikhlas untuk kehilangan putri bungsunya dari rumah, demi berbakti diri kepada sang suami" tutur Rania menjadikan Bagas merasa bersalah pada waktu itu. Mengambil paksa anak orang dengan tujuan tertentu. Dan ternyata ini sangat berat juga baginya untuk meninggalkan sang papah.
"Iya sayang," Bagas mengangguk lemah tapi paham.
"Lebih baik kita tidur sekarang, ini sudah larut malam," ajak Rania sambil menarik selimut yang membaluti tubuhnya.
"Iya, selamat tidur," ucap Bagas seraya mencium dahi Rania sekilas.
"Selamat tidur."
.
.
.
Coretan Author:
__ADS_1
Jangan lupa untuk nabung poin, biar vote banyak. Maaf jika ada keterlambatan update. Karena author juga memiliki kesibukan yang tidak dapat di tunda. Harap readers yang manis-manis mengerti. Terima kasih!