
Radit mengajak Diva untuk masuk teman tersebut, dengan menggenggam buah tangan kirinya.
"Iya, bang," Diva pun ikut, kemana pun Radit akan membawanya dia pergi, dia pasti akan ikut.
Setelah masuk ke taman yang cukup luas, Radit mengajak Diva untuk duduk di sebuah bangku yang lagi-lagi tidak asing untuk Diva. Itu adalah bangku di mana dia sering duduk di sana ketika bersama Reyhan. Di taman yang begitu luasnya ini, mengapa Radit memilih bangku itu, apakah ini sebuah kebetulan?
"Ayo Va, duduk!" Radit menarik lengan Diva yang sedari tadi masih berdiri.
"Iya, bang," setelah diam cukup lama, akhirnya Diva duduk di samping Radit.
Jika dulu dia sering duduk di bangku ini bersama Reyhan sebagai masalalunya, maka saat ini Diva duduk bersama dengan Radit yang mudah-mudahan akan menjadi masa depannya.
"Va, kamu ini kenapa, sih? Kok dari tadi abang perhatikan kamu itu bengong... terus?" Radit memicingkan matanya, mencoba mengamati wajah Diva yang nampak sedikit murung.
"Tidak ada apa-apa, bang Radit... Mungkin cuma perasaan bang Radit saja," Diva kembali meyakinkan Radit kalau dirinya memang baik-baik saja.
"Yakin?" Radit masih sedikit meragukan.
"Iya, bang. Emang benar, bang Radit memperhatikan Diva?"
"Hem," Radit mengangguk. "Abang itu selalu perhatikan kamu, apalagi senyum kamu yang manis ini," goda Radit, mencolek ujung dagu runcing milik gadis di hadapannya.
"Ah, bang Radit ini bisa saja. Gombal, deh," Diva kelihatan salah tingkah.
"Bang Radit serius, Diva... Mana ada bang Radit gombal, yang ada gembel."
"Hahaha...." Diva tertawa, entah kenapa, bersama Radit dia seperti menemukan titik kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Radit mungkin bukan laki-laki yang baik, tapi dia sering membuat Diva tertawa dengan hal-hal sederhana. Bagi Diva, Radit sudah lebih dari cukup dengan kriteria pasangan hidupnya. Tapi entah kenapa, sampai sekarang di antara mereka belum juga ada status berpacaran.
"Bang Radit senang lihat kamu ketawa," seketika Diva diam, memudarkan tawa yang barusan keluar dari mulutnya, saat Radit menatap dirinya serius, tidak seperti biasanya.
"Em.. Diva boleh tanya sesuatu gak sama bang Radit?" Diva menggigit bibirnya kuat-kuat untuk mengatakan sesuatu yang penting.
"Boleh. Apa?"
Diva membalas tatapan Radit yang serius sejak tadi, sepertinya pertanyaan yang akan dia tanyakan pada Radit tidak boleh ia tunda-tunda lagi. Diva harus mengatakan hal ini sekarang juga.
__ADS_1
"Sebenarnya bang Radit ini serius gak sih, sama Diva? Maksud Diva, Diva ini akan lebih nyaman kalau kita sudah memiliki status. Diva gak mau kalau hubungan kita cuma sekedar dekat, tapi tidak ada kejelasan," entah dari mana Diva memiliki kekuatan dan keberanian mengatakan hal itu pada Radit, Diva memang benar-benar agresif kalau sudah sayang sama seseorang.
Tapi yang Diva lakukan ini memang benar, tidak ada perempuan yang mau mempunyai hubungan tanpa status. Status itu penting.
Seketika Radit diam, selama ini perlakukan Radit terhadap Diva memang layaknya seorang kekasih. Namun kenapa Radit tidak juga meresmikan hubungannya dengan Diva? Apa ada yang di sembunyikan oleh Radit, sehingga dia belum juga meresmikan hubungan ini?
"Bang.." panggil Diva lirih.
"Hem.. Iya, Va?"
"Kok bang Radit diam, sih? Apa selama ini bang Radit itu memang tidak ada niat untuk serius dengan Diva? Apa Diva yang sudah terlalu berharap sama bang Radit? Iya, kan? Benar, kan? Bang Radit, ayo jawab?" Diva bertanya secara beruntun, ia tidak memberi celah untuk Radit menjawab pertanyaannya. Kedua mata Diva sudah terlihat berkaca-kaca.
"Bukan begitu, Va," kilah Radit, dia berusaha menenangkan Diva terlebih dahulu sebelum dia menjawab semua pertanyaan gadis itu.
"Terus apa dong kalau bukan begitu? Bang Radit tinggal bilang kalau sebenarnya bang Radit memang tidak pernah suka sama Diva!" Diva mengerucutkan bibirnya, mungkin ini salah dirinya sendiri yang selalu berharap lebih pada seseorang.
Diva terus saja bicara, bertanya ini itu, padahal Radit sudah membuka mulutnya untuk memberi jawaban. Seketika Diva berhenti bicara, ketika Radit dengan berani menenangkan gadis itu dengan cara mencium bibirnya. Itulah cara ampuh untuk menghentikan perempuan yang lagi rewel, guys. Buat para suami, bisa lakukan itu pada istrinya. Buat yang belum sah, jangan di coba ya! Bahaya.
Diva tercekat dalam kebisuan, tiba-tiba detak jantungnya berdegup kecang. Darahnya seakan membeku, tubuhnya mematung. Kedua matanya terbuka sempurna. Diva berusaha meneguk salivanya dengan susah. Ingin rasanya Diva menjerit, berteriak, agar dunia tahu kalau dirinya saat ini sedang bahagia. Bahagia sebahagia-bahagianya.
Aaaaaa... Tidak.... Ciuman pertamaku di ambil oleh bang Radit. Huaaaaa... Huh..hah...huh...hah... Huaaaa... Kira-kira aku masih perawan gak ya? Diva menjerit dalam hatinya.
"I-iya, yang. Ma-maksud Diva, bang.." Diva sudah di buat salah tingkah oleh Radit.
"Dengarkan abang bicara dulu, bisa?"
"Bi-bisa, bang."
Radit menghela napas panjang, kemudian membuang napas dari mukulutnya perlahan. "Kamu tahu, kan, kalau abang ini suka sama kamu saat kamu masih SMA?"
"Apa kamu tahu, kalau perasaan itu masih sama sampai detik ini? Bahkan perasaan itu bukan hanya hanya sekedar suka, tapi cinta dan sayang." tambah pria itu.
"Abang hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hati abang sama kamu, Va. Dan mungkin saat ini waktunya sudah tepat. Abang sudah tahu kalau ternyata kamu memiliki perasaan yang sama dengan bang Radit. Jujur, bang Radit ingin kamu bukan hanya sekedar jadi pacar abang, tapi bang Radit mau kamu itu menjadi istri abang. Pendamping hidup abang selamanya, mau?" Radit mengungkapkan seluruh perasaannya pada Diva, ini yang Diva tunggu-tunggu selama ini.
"Mau, bang. Ma-maksud Diva, mau, sayang.." jawaban Diva barusan telah meresmikan hubungannya dengan Radit. Diva telah menerima cinta Radit, pria yang dia cintai juga.
Hari ini, di taman XX, Diva dan Radit telah resmi berpacaran.
__ADS_1
Radit menyelipkan rambut di telinga milik Diva. Saat ini Radit bisa dengan leluasa memandang wajah gadis tersebut. Radit tersenyum, ketika ia bisa melihat kecantikan wajah gadis yang saat ini ada di hadapannya.
Radit menatap Diva dengan tatapan yang membuat Diva merasakan dag dig dug ser. Perasaannya benar-benar sudah tidak karuan. Radit telah membuat dirinya tergila-gila, lebih-lebih dari Reyhan.
"Va.." panggil Radit lirih, namun begitu menggetarkan hati Diva.
"Iya, sayang?"
Seketika Diva terkejut, ketika Radit menggeser duduknya lebih dekat lagi dengannya. Diva di buat bisu lagi oleh Radit, ketika pria itu mengalungkan tangan Diva di lehernya. Radit memegangi kedua pipi chubby miliknya.
"Mau ciuman yang lebih lama lagi?"
Pertanyaan Radit barusan membuat Diva benar-benar tidak bisa mengatakam apapun. Radit sudah menyulap Diva menjadi seseorang yang benar-benar bisu. Jantung Diva berdegup lima kali lebih cepat dari biasanya.
Belum sempat Diva mengangguk sebagai tanda kalau dia menyetujui, atau menggelengkan kepala sebagai penolakan, Radit sudah menghisap bibir Diva dengan lembut.
Awalnya Diva hanya diam, dia tidak bisa membalas serangan yang di berikan oleh Radit karena dia tidak memiliki pengalaman soal begituan. Namun, lama kelamaan dia bisa menerima dengan baik serangan itu.
Kebetulan suasana taman saat itu cukup sepi, jadi aman untuk mereka melakukan hal seperti itu.
Diva memejamkan kedua matanya, mencoba menikmati sensasi bibir Radit yang terasa sedikit manis.
Saat ini, dunia serasa milik berdua. Bahkan suara detik jam pun kalah oleh suara napas keduanya yang saling bersahut-sahutan.
Mmmphhh.. Ahhh.. Nikmat sekali rasanya.
Desahan Diva dalam hatinya membangkitkan birahinya untuk lebih semangat lagi menerima serangan Radit. Tapi awas, jangan sampai kebablasan!
.
.
.
Coretan Author:
Finally, Diva sudah resmi berpacaran dengan Radit. Apa kabar hubungan Reyhan dengan Devi? Apakah semakin membaik, atau justru sebaliknya? Baca lagi kelanjutan ceritanya.
__ADS_1
Follow ig: @wind.rahma