
Tiba-tiba ada suara seseorang yang tertawa terbahak, ia langsung menoleh dan mencari sumber suara tawa tersebut. Matanya tertuju pada sosok pria yang baru saja keluar dari kamar mandi. Yang lebih mengejutkan lagi, pria itu hanya mengenakan celana kolor saja. Dia adalah Alert.
Devi memundurkan langkahnya ketika Alert berjalan mendekatinya. Dengan wajah mesumnya ia berusaha menggoda Devi yang tengah ketakutan.
"Sayang, bermainlah denganku untuk sekali lagi saja!" Alert membelai rambut Devi dan mendapat tepisan kasar.
"Jangan, om! Saya mohon jangan melakukan ini pada saya?" pinta Devi memohon, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Kenapa jangan, sayang? Bukankah kita sudah melakukannya tadi malam? Ayolah, kita bersenang-senang lagi. Kau juga begitu menikmati doronganku tadi malam, sayang!" Alert merentangkan tangannya berusaha memeluk Devi. Begitu Alert maju satu langkah untuk memeluknya, Devi menghindar mengolong melalui bawah rentangan tangan Alert. Selamat, Devi mengelus dadanya.
Alert tidak mau berhenti sampai di situ saja, ia segera menghambur dan memeluk erat tubuh Devi. Devi sangat ketakutan, ia berusaha menolak pelukan Alert. Ia berontak, namun tenaga Alert lebih besar dari pada dia.
Alert menjatuhkan tubuh Devi ke atas tempat tidur. "Jangan lakukan itu, om!" Devi memohon dengan sangat. Namun Alert sudah tidak bisa di kendalikan.
Alert berusaha merobek lengan gaun yang di pakai Devi dengan keras, karena Devi begitu kuatnya mempertahankan pakaiannya itu sehingga Alert susah payah untuk membukanya. Alert menciumi leher Devi dan menikmati permainannya. Sedangkan Devi benar-benar terjebak dan tidak dapat berkutik.
Devi terus berusaha untuk bisa lepas dari Alert, dengan kekuatan kakinya Devi menendang biji milik Alert. Itu cara yang ampuh untuk membuat pria kesakitan dan rasa ngilu mengalir di tubuhnya.
Devi berusaha melarikan diri dari sana, namun sialnya pintu kamar itu terkunci. Alert berjalan mendekatinya lagi dengan membawa pisau cutter di tangannya.
"Bersenang-senang denganku atau kau pergi selamanya, sayang?" ancam Alert dengan bibir yang menyeringai.
"Aku mohon, jangan om!" Devi menangis tanpa henti, ia memilih pasrah dan berdo'a. Semoga saja Tuhan memberinya jalan keluar.
"Ayo sayang, main lagi sayang!" sambil mengacungkan pisau cutter di depan Devi, Alert berjalan semakin mendekat.
Alert siap menghambur untuk memeluk Devi, namun Devi lagi-lagi menepis tangan Alert. Sehingga membuat tubuh Alert menubruk tembok, dan pisau cutter di tangannya menancap di perutnya. Tubuh Alert ambruk. Ia mengucapkan kata tolong sebelum akhirnya nyawanya lenyap.
__ADS_1
Devi mengguncang-guncangkan tubuh Alert, mengecek denyut nadinya namun sudah tidak ada. Devi tidak tahu harus bagaimana. Ia benar-benar takut, sangar takut. Devi mencabut pisau cutter di perut Alert dan ia lemparkan ke samping tubuhnya. Darah dari pisau cutter itu ikut berlumuran di tangan Devi. Devi harus segera pergi sana. Ia melihat kunci di atas nakas, ia membuka pintu kamar itu dan keluar dari sana dengan sesegera mungkin.
"Jadi itulah kenyataan yang sebenarnya, terserah kamu mau percaya atau tidak denganku. Aku sudah mengatakan semuanya dengan jujur!" terus terang Devi pada Reyhan yang masih berada di kantor polisi.
Reyhan membisu, ia masih meragukan cerita Devi. Ia tidak tahu apakah ia harus mempercayai Devi atau tidak. Cctv di rumahnya juga saat hari kejadian itu rusak. Jadi ia tidak tahu kronologi itu dengan jelas.
"Aku tidak perlu menjawab lagi pertanyanmu yang terakhir. Darah yang berlumuran di tanganku itu, sudah aku jawab tadi." tambahnya lagi.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, itu hak kamu! Karena kalaupun kamu percaya dengan ucapanku, percuma juga. Karena aku sudah tersiksa dalam tahanan jeruji besi selama lima tahun ini."
Reyhan tetap membisu, mungkin apa yang di katakan Devi itu benar. Jadi dia berusaha untuk mempercayainya.
"Sekarang pertanyaanmu terjawab sudah, aku akan kembali ke dalam jeruji besi tahanan itu. Selamat siang!" pamit Devi bangkit dari duduknya.
Belum sempat melangkah pergi dari sana, Reyhan sudah menahan pergelangan tangannya mencegah untuk pergi. "Tunggu!"
Reyhan berdiri kemudian menekuk sebelah lututnya, ia memegang erat kedua kaki Devi. "Maafkan aku, aku rasa kamu jujur. Aku tahu papaku memang sering mengkhianati mamaku dengan gadis seumuran kamu. Aku pikir kamu sama seperti gadis yang lainnya, gadis yang sama-sama melayani papaku untuk saling memuaskan birahinya. Aku benar-benar minta maaf!" Sesal Reyhan, ia berlutut di hadapan kaki Devi.
Devi meneteskan air mata, ia tidak tahu harus senang atau justru sebaliknya. Ia senang karena akhirnya masalah selama lima tahun silam dapat terluruskan. Namun ia sedih, kenapa baru hari ini pihak dari keluarga Alert datang dan menanyakan kebenarannya, setelah lima tahun sudah merasa tersiksa berada di dalam jeruji besi.
"Percuma, perminta maafan kamu sudah tidak berarti apa-apa lagi. Semuanya sudah terlambat!" keluh Devi, ia menyeka air mata yang terus saja mengalir di pipinya.
"Berdirilah! Aku tidak butuh permohonan maaf." ucap Devi, sejujurnya hatinya teramat sakit bagai di sayat.
Reyhan bangkit, ia begitu menyesal mengapa baru datang hari ini. Mengapa tidak dari kemarin, tidak dari begitu kejadian ia menanyakan kebenarannya. Ia telah menghukum orang yang sama sekali tidak bersalah. Justru orang yang ia hukum ini adalah korban pelecehan papanya.
Reyhan menatap sayup Devi, ia dapat melihat begitu jelas kesedihan mendalam di balik wajahnya itu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu lagi kata apa yang pantas untuk lebih dari sekedar kata maaf. Tapi, aku mewakili alm. Papaku mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya. Semoga saja ada ruang di hatimu untuk memberikan maaf itu." Sesal Reyhan. Ia terus memohon pada Devi agar ia mau memaafkan kesalahannya.
"Sudahlah, tidak usah di bahas lagi. Lagi pula, itu tidak dapat merubah apapun. Aku hanya ingin menyakan satu hal, siapa namamu?" kini Devi mulai berani membalas tatapan Reyhan.
"Reyhan." sambil mengulurkan tangannya.
Devi tidak menjabat tangan Reyhan. "Kalau kamu ingin mengembalikan kebahagiaanku, tolong kamu bahagiakan saja adikku!" pinta Devi penuh harap.
Reyhan menarik kembali uluran tangan yang tak kunjung di jabat, ia menatap Devi penuh tanya. "Adikmu? Siapa dia?" tanyanya penasaran.
"Namanya Diva. Kamu pasti kenal dengan dia, bukan? Kamu pergi temui dia sekarang juga. Tolong kembalikan kebahagiaanku melalui adikku! Pergilah!" Setelah itu Devi pergi meninggalkan Reyhan yang mematung di sana untuk kembali ke dalam tahanan.
"Diva? Diva teman Rania?" Reyhan bertanya-tanya pada dirinya sendiri sebelum akhirnya ia mengingat satu hal.
"Wajahnya! Wajahnya yang mirip itu, ternyata mereka ada hubungan adik kakak!" ucap Reyhan tidak menyangka. Ia masih mematung di sana, berusaha mencerna semuanya.
Dan sekarang terjawab sudah, alasan Reyhan tidak menyukai Diva karena dia mirip dengan gadis yang ia kira telah membunuh papanya. Gadis yang bernama Devi itu ternyata adalah kakak dari Diva. Ini bukan sebuah kebetulan. Mungkin ini pertanda kalau Diva adalah jodohnya, melalui jalan seperti ini. Melalui jalan kepahitan ini. Rencana Tuhan memang tidak pernah ada yang tahu. Jika Tuhan sudah berkehendak, maka terjadilah.
.
.
.
Coretan Author:
Hari ini update tiga episode sekaligus, nih. Akhirnya terungkap juga masalalu Reyhan, ironis juga, ya! Huaaa.. Saya sampai pegel nih ngetiknya, buat yang baik kasih hadiah atuh! Poin seribu, lah. Atau koin aja, deh. Hehehe.
__ADS_1