
Di dapur, Rania sedang menyajikan makanan hasil masakannya. Ia yang masak sendiri, pelayan yang bertugas memasak di sana hanya membantu beberapa saja itupun jika Rania yang meminta. Karena malam ini yang meminta para pelayan yang bertugas memasak untuk diam saja kecuali ia meminta bantuan untuk mengambil ataupun sedikit memotong bahan masakan untuk menu makan malam ini.
"Nona, bagaimana jika tuan tahu kalau anda yang memasak sementara saya hanya berdiam diri saja" ucap bi Asih juru masak di rumah itu terlihat panik.
"Kau tenang saja, bi Asih! Tuan tidak akan marah, kalaupun dia marah, aku yang akan memarahi dia balik" balas Rania sambil menuangkan beberapa hasil masakannya ke dalam wadah besar.
"Baiklah nona kalau begitu, saya khawatir kalau tuan marah dia bukan cuma memarahi saya saja, tetapi yang lainnya juga"
"Sudahlah, tidak usah berlebihan seperti itu! Lebih baik bantu aku untuk membawakan semua ini untuk di hidangkan ke meja, sebentar lagi tuan akan datang dan makan malam akan segera di mulai" pintanya di angguki cepat oleh bi Asih dan pelayan lainnya.
Ketika menghidangkan makanan ke meja, Rania mendengar suara klakson mobil dari luar. Sepertinya itu adalah Bagas, Rania memutuskan untuk menyambut suaminya dan meminta pelayan untuk menghidangkan semua makanannya.
Setelah Rania pergi dari sana, tiba-tiba muncul Arsilla dan Hera. Ia melihat dan menatap makanan yang sedang di hidangkan oleh para pelayan. Menatap seperti ada yang aneh yang tidak biasa di lihat oleh matanya.
Arsilla juga Hera mengendus-endus makanan itu, di ciumnya aroma wangi dan menggugah selera namun nampak aneh. Kemudian ia menanykannya pada pelayan di sana.
"Hei, kalian masak apa hari ini?" tanya Arsilla pada pelayan sambil menunjuk semua makanan yang sudah siap di meja.
"Ini masakan nona Rania, nona!" jawab salah seorang pelayan yang masih ada di sana.
"Apa kau bilang?" Arsilla memastikan apa pendengarannya tidak salah.
"Ini semua masakan nona Rania, tanpa canpur tangan kami, nona" jelas pelayan itu lagi.
"Hei, mengapa kau membiarkannya masak? Bagaimana kalau dia menaruh racun di masakan yang akan kita makan ini?" bentak dan tuduhnya.
"Astaghfirullaahal'adziim, nona. Mana mungkin nona berbuat sekeji itu, lagipula itu kan makanan yang akan di makan juga oleh nona Rania, masa nona Rania mau meracuni diri sendiri. Saya dan pelayan lain juga menemaninya pada saat ia masak, nona" jelas pelayan saat Arsilla mencoba soudzon.
"Siapa yang mengajarimu berani membantah seperti itu?" seru Hera karena pelayan itu mencoba membela nama Rania.
"Maaf, nona! Tapi memang kenyataannya seperti itu" ucap pelayan.
"Kau mau saya pecat, hah?" Hera maju selangkah lebih dekat dan memelototi pelayan itu.
"Saya bekerja di sini karena tuan Brahma dan sekarang untuk tuan Bagas, dia yang menggaji saya setiap bulan. Jadi kalaupun saya harus di pecat, tuan Bagas-lah yang berhak bukan nona!" jawab pelayan dengan berani dengan mendongakkan kepala, ia merasa dirinya memang benar.
"Kau.." Hera sudah melayangkan tangannya di udara, namun pelayan itu segera pergi dari sana untuk menghindari kemarahan yang akan meledak dari Hera maupun Arsilla.
"Herrghh.." Hera dan Arsilla merasa geram, bukan cuma Rania, bahkan pelayan di rumahnya-pun sudah berani membatah dan membangkangnya.
__ADS_1
"Ini pasti gara-gara gadis kampung itu!" makinya sambil mengepalkan kedua tangan menahan emosi yang sedang mengusai diri.
Sementara di luar, Rania menyambut kepulangan suaminya. Ia mencium punggung tangan Bagas ketika ia baru saja turun dari mobil.
"Biar aku bawakan" Rania mengambil paper bag di tangan Bagas.
"Terima kasih, sayang" mengecup pangkal rambut Rania sekilas.
"Frans, malam ini kau makan di sini saja, istriku masak banyak hari ini dan kau tidak boleh menolaknya!" ajak Bagas pada sekretaris Frans yang masih berdiri dekat mobil.
"Baik, terima kasih, tuan!" angguk sekretaris Frans.
Kemudian mereka masuk ke dalam rumah, Rania meminta pelayan untuk membawakan paper bag-nya untuk di taruh di kamarnya. Pelayan itu mengangguk menurut dengan perintah. Karena tidak sabar, Bagas ingin langsung makan saja tanpa harus mengganti pakaian ataupun mandi terlebih dahulu. Rania menurut saja lagipula ia juga sudah merasa lapar akibat mencium aroma masakannya sendiri tadi.
"Umm.. Aromanya menggugah selera " Bagas menggibas-gibaskan tangannya ke hidungnya untuk mencium aroma makanan itu dengan lebih.
"Ini masakan apa saja, sayang?" tanya Bagas ingin tahu.
"Sayur lodeh, tempe dan tahu goreng, capcay, sayur asem, cah kangkung, dan ini ada sambal terasi kau harus mencobanya" Rania menunjuk satu-satu untuk memperkenalkannya pada Bagas.
"Aku boleh makan semuanya, kan?"
"Boleh, sayang"
Sekretaris Frans menarik kursi dan duduk di sana, ia juga mencium betapa harumnya masakan yang ada di hadapannya ini.
Arsilla dan Hera yang baru akan menaiki anak tangga, mendengar suara Bagas, ia membalikkan badannya untuk mencari keberadaannya. Ia menemukan Bagas duduk di meja makan, sepertinya akan malam. Tadinya ia dan tantenya akan kembali ke kamar, namun melihat Bagas sudah berada di sana, terpaksa ia harus kembali untuk ikut makan malam.
"Ya ampun sayang, kau masak sebanyak ini sendirian?" tanya Bagas setelah melihat banyaknya menu makanan yang berbeda.
"Tentu saja, tapi aku meminta sedikit bantuan pada pelayan jika aku memerlukan apa yang aku butuhkan" jelas Rania masih berdiri di samping Bagas, ia merengkuh pundak suaminya.
"Ayo duduk!" Bagas menarik kursi untuk Rania di sampingnya, Raniapun duduk.
Arsilla dan Hera sudah datang dan ikut duduk di sana.
"Tante dan kakak harus coba makanan yang ini," Bagas menunjuk mangkuk besar berisi sayur lodeh, "ini enak banget, kalian pasti akan menyukainya juga" jelas Bagas dengan semangat namun sama sekali tidak di tanggapi oleh kakak maupun tantenya.
Tidak lama kemudian, Brahma juga datang. Ia mengendus-endus ke meja makan mencium sesuatu yang aneh namun sepertinya enak.
__ADS_1
"Hem.. Wangi apa ini?" sambil mengendus-endus.
"Papah harus coba, ini istriku yang masak, pah. Pasti enak, aku udah coba makanan ini sewaktu makan malam di rumah Rania malam kemarin" ucapnya.
"Benarkah? Papah baru lihat masakan seperti ini, yakin bakalan enak dan sehat?" Brahma merasa ragu, itu kesempatan buat Arsilla ikut bicara.
"Iya, memangnya ini makanan sehat, jangan-jangan ini beracun!" sahut Arsilla membuat Bagas memberi sorot mata tajam.
"Kalau kakak tidak percaya, di cobain aja" balas Bagas.
"Betul kakak ipar, aku tidak mau menerima keluhan kalau kakak ipar dan tante ketagihan masakan aku, ya!" sambung Rania.
Arsilla menatapnya dengan sinis.
Awas saja, ya! Aku akan membuat papah tidak mau mencoba masakan kamu gadis kampung.
"Ayo pah, kakak ipar, tante, Frans, makanannya di coba!" Rania mempersilahkan mereka untuk segera makan hasil masakannya.
Arsilla lebih dulu mengambil makanannya dan ia segera menyendok dan memasukannya ke dalam mulut. Begitu ia kunyah, ternyata...
Sial! Kenapa makanannya enak begini, sih? Aku jadi gagal untuk mengelabuhi mereka kalau makananya enak seperti ini. Gumam Arsilla dalam hati.
"Bagaimana kakak ipar, enak kan?" tanya Rania setelah memperhatikan Arsilla yang terus mengunyah makanannya.
Arsilla jadi merasa malu, ia mau berhenti makan tapi ia tidak mau melewatkan makanan seenak ini.
"Biasa saja" jawabnya datar.
Huh, makanya jangan merendahkan makanan sederhana ini sebelum mencoba. Sudah makan baru tahu rasa, enak kan? Haha, dasar! Gumam Rania.
Melihat Bagas dan sekreatris Frans, yang begitu bersemangat ketika makan. Rania merasa senang, di tambah lagi ayah mertuanya yang memujinya karena masakannya enak, Rania merasa sangat puas. Hera juga yang semula berada di pihak Arsilla, kini ia sedang menikmati makanannya tanpa henti. Apalagi lucu ketika sekretaris Frans terlalu banyak mengambil sambal terasi dan rupanya ia kepedesan, mulutnya tanpa henti terhebuka dengan nafas tidak beraturan, keringatnya juga sampai bercucuran padahal suhu pendingin ruangan ini lumayan menusuk sampai tulang.
.
.
.
.
__ADS_1
Coretan Author:
VOTE sebanyak-banyaknya, ya! Kalau saya sudah pulih akan kembali update teratur seperti biasa.