Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Pengakuan Diva


__ADS_3

Siang harinya, di gedung Briliant Group.


Bagas sedang duduk di kursi ruang pribadinya dan menatap layar laptop dengan serius. Tiba-tiba saja pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang.


"Masuk!" teriaknya.


Kemudian terbukalah pintu dan muncul sekretaris Frans di baliknya. Ia masuk membawa beberapa dokumen dan berdiri di hadapan tuannya.


"Ada apa, Frans?" tanya Bagas tanpa memalingkan pandangannya dari layar laptop.


"Ada beberapa dokumen yang harus tuan tanda tangani" jawab sekretaris Frans.


"Duduk!"


"Baik, tuan" kemudian ia duduk di hadapan tuannya.


Bagas segera menutup laptopnya dan menanyakan apakah ada hal lainnya. Ia duduk bersandar di kursi dengan sesekali memutar kursinya.


"Jadi, bagamaima? Apakah proyek ruko kita sudah selesai?" lanjut tanyanya.


"Sudah 99% tuan, saat ini sedang proses finishing dan kemungkinan akan selesai sempurna untuk satu mingguan lagi" jelas sekretaris Frans dan di angguki oleh Bagas.


"Bagus!" jawab Bagas merasa puas, akhirnya setelah sekian lama proyeknya akan selesai juga. Setelah orang yang di percayainya itu sampai korupsi dan berjanji akan mengembalikan kepercayaannya dengan cara menyelesaikan proyek dengan segera.


"Ini bagian yang harus tuan tanda tangani!" Frans menyerahkan dokumen beserta pulpenya yang ia bawa dan menunjukan kepada tuannya dimana ia harus tanda tangan.


Setelah menandatangani semua dokumennya, Bagas meminta sekretaris Frans untuk kembali mengurus semua yang telah di perintahkannya. Sekretaris Frans-pun menurut dan keluar dari ruangan itu dengan kembali membawa dokumennya.


***


Sementara di ruko, Rania sibuk kebanjiran menerima orderan dari coustamer. Ia sangat kewalahan apalagi hari ini Reyhan tidak masuk karena ada urusan keluarga yang begitu mendadak.


Setelah berjalan beberapa bulan yang lalu, alhamdulillaah bisnis online Rania di percaya oleh para coustamer yang sering order di tempatnya. Mereka selalu merasa puas dengan barang maupun pelayanannya yang ramah. Sehingga semakin hari bisnisnya berkembang dengan pesat. Rupanya ia harus menyewa ruko yang lebih besar untuk memuat barang yang lebih banyak dan merekrut pegawai lebih banyak lagi.


Orderan coustamer semakin banyak namun jam istirahat sudah tiba. Rania meminta seluruh pegawainya untuk berhenti sejenak dan makan siang, tapi mereka menolaknya sebelum semuanya selesai.

__ADS_1


"Saya tidak mau kalian fokus pada pekerjaan sama melupakan waktu makan siang! Saya tidak mau sampai ada yang sakit gara-gara ini!" ucap Rania pada seluruh pegawainya agar menunda dulu pengemasannya.


"Tapi bu.." protes salah satu pegawai


"Saya minta pada kalian untuk istirahat dulu! Karena kalau menunggu semuanya selesai, mungkin sampai sore dan waktu jam makan siang kalian lewat begitu saja sementara orderan akan semakin menumpuk!" Rania lagi.


"Baik, bu. Tapi kita istirahatnya gantian saja ya, bu! Sebagian istirahat, sebagian lagi melanjutkan pengemasan barang" usul pegawainya.


"Baiklah kalau kalian maunya seperti itu. Kalau begitu saya duluan, ya!"


"Iya, bu" jawab mereka.


Rania pergi ke tempat penjual minuman segar biasa ia beli bersama Reyhan. Ia menikmatinya sendirian, minuman dahaga yang ramai peminat jika cuaca sedang bersahabat. Tiba-tiba saja Diva datang menghampiri dan duduk di hadapannya.


"Hei, Va" sapa Rania mengangkat bibirnya yang semula menempel di sedotan.


Diva membalas sapaan Rania dengan senyuman, hanya sekilas. Melihat sikap Diva yang kian hari semakin berubah, Rania merasa canggung ketika berada di dekatnya. Ia tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Namun Diva sendiri yang memulai percakapan.


"Rania.." lirih Diva.


"Aku mau jujur sama kamu, boleh?" bicaranya dengan sangat hati-hati dan lirih.


"Boleh, jujur mengenai hal apa?" Ranua heran, sebenarnya apa yang di katakan oleh Diva.


Jujur? Memangnya Diva sedang membohongiku? Perihal apa? Pikirnya dalam hati.


"Em..jadi begini, Rania. Aduh.. Aku jadi tidak enak mau mulai dari mana" ungkapnya seperti sedang kebingungan, kelihatan darinya yang menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Kenapa, Va? Kamu mau bicara apa, jujur soal apa?" Rania sudah tidak sabar ingin mendengarkan pengakuan Diva.


"Rania, sebenarnya aku suka sama Reyhan.."


"Hah?" ucap Rania spontan ketika mendengar pengakuan Diva tentang perasaannya. Dengan cepat ia segera menutup mulutnya.


"Kenapa, Rania?"

__ADS_1


"Ti-tidak, terus?" Rania meminta Diva untuk melanjutkan kalimatnya.


"Akhir-akhir ini aku beda sikap sama kamu, mungkin kamu juga merasakannya. Itu semua karena aku terlalu cemburu sama kedekatan kamu dengan Reyhan. Aku tahu kamu sudah bersuami, tapi tidak tahu kenapa setiap aku melihat kamu asik dengan Reyhan, aku selalu terbakar dengan rasa kecemburuan ini" ucap Diva dengan wajah malu.


"Mungkin ini pertama kalinya aku benar-benar suka dengan laki-laki. Aku tidak tahu mengapa perasaan ini tidak dapat aku cegah dan tumbuh dengan sendirinya. Aku tidak tahu kenapa aku bisa secemburu itu pada perempuan yang jelas-jelas sudah berumah tangga. Aku tahu kamu tidak akan mungkin melakukan pengkhianatan, justru aku yang merasa sudah mengkhianati persahabatan kita dengan cara menjauhimu, Rania" sambung wanita itu dan menatap Rania dengan penuh rasa malunya.


"Aku ingin kamu mendekatkan aku dengan Reyhan, karena sebesar apapun usaha aku mendekatinya, jika kamu terlalu dekat dengan Reyhan, usaha aku akan sia-sia! Aku harap kamu mengerti maksud aku, Rania!" pinta Diva dengan memohon dan meraih tangan Rania lalu ia genggam.


Rania berpikir untuk mempertimbangkan permintaan Diva, karena selama ini ia hanya menganggap kedekatannya dengan Reyhan hanya sebatas pekerjaan. Tidak lebih! Dan, Rania anggap kalau selama ini kedekatannya dengan Reyhan masih dalam batas wajar. Karena selama ini Reyhan yang selalu memberi masukan ketika ia masih di bawah telunjuk suaminya. Reyhan yang selalu mensupport dirinya untuk menghadapi semua kenyataan yang harus ia terima. Sampai akhirnya Bagas mau luluh juga dengan sendirinya.


Lalu sekarang dengan cara tidak langsung Diva meminta dirinya untuk perlahan menjauhi Reyhan, agar ia mendapat peluang untuk menjalankan misinya mendekati Reyhan. Mungkin itu terasa sulit, tapi untuk teman apa sih yang enggak?


Rania akan berusaha untuk memenuhi permintaan Diva, setelah ia pikir-pikir dan akan kembali ia pikirkan nanti. Ia akan coba mendiskusikan dengan dirinya sendiri mana yang terbaik untuk semuanya.


"Ya sudah, kamu tenang saja, Va! Aku akan berusaha bantu kamu, tapi aku tidak menjajikan, ya! Itu semua kembali lagi pada diri Reyhan, semoga dia juga akan menyukai kamu balik" Rania mengusap punggung Diva yang masih menggenggam tangannya.


"Terima kasih banyak, Rania! Kamu memang sahabat aku yang paling baik. Aku salah menilai kamu beberapa hari lalu, maafkan aku!"


"Tidak masalah, Va" balas Rania membalas senyum Diva yang sudah kembali bersemangat.


"Kalau begitu aku kembali duluan ya, Rania, daah.." pamitnya beranjak dari sana dengan melambaikan tangan, ia terlihat senang sekali.


Rania menatap punggung kepergian Diva yang nampak bahagia setelah ia mau membantu untuk mendekatkannya dengan Reyhan. Kemudian Rania tersenyum getir, sampai segitunya sahabatnya itu, menjauhi dirinya hanya karena sebuah perasaan yang belum menentu.


.


.


.


.


Coretan Author:


Vote yang banyak, ya! Kalau punya poin banyak vote aja 1000, hehe. Kalau mau kasih tip juga silahkan! Like, tambahkan kr favorit!

__ADS_1


__ADS_2