Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Gara-gara Senyum-senyum


__ADS_3

Pagi ini, matahari sudah masuk ke celah jendela kamar tuan Brahma yang masih terlelap dalam tidurnya. Biasanya Brahma selalu bangun sebelum matahari menampakkan cahayanya, entah kenapa pagi ini dia belum bangun juga.


Suara dering notifikasi pesan masuk ke ponsel Brahma, kini mulai membangunkan pria parubaya tersebut. Ia mengucek kedua matanya dengan sesekali mengerjapkannya. Brahma sontak terkejut ketika melihat hari sudah siang, dia melirik jam di atas nakasnya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia segera membuka selimut yang membalut sekeujur tubuhnya.


Brahma melihat layar ponselnya menyala, begitu di lihatnya ada pesan WhatsApp masuk dari nama yang tertera di sana 'Putraku', tidak salah lagi itu pasti pesan dari Bagas.


Brahma segera membuka kunci layar, dan membaca pesan yang di kirim dari Bagas tersebut. Seketika kedua sudut bibir Brahma mengembang, pesan singkat dari Bagas berhasil membuat Brahma bahagia sepagi ini.


Pa, Rania sudah pulang ke rumah. Papa ke sini, ya!


Itulah pesan singkat yang di kirim Bagas, yang membuat Brahma tidak sabar untuk pergi ke rumah putranya.


Brahma langsung bangun dari tempat tidurnya, ia bergegas melangkahkan kaki pergi ke kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu.


Sepuluh menit kemudian, Brahma sudah nampak rapi memakai kemeja berwarna biru muda, membuatnya terlihat lebih muda dari usianya saat ini. Brahma segera mengambil ponselnya dan berjalan tergesa-gesa dari kamar menuju halaman rumahnya.


Kebetulan mobil sudah ada di halaman rumah, jadi Brahma tidak perlu memanggil pelayan yang bertugas menyiapkan mobil terlebih dahulu. Dia segera masuk ke dalam mobil tersebut. Ketika mesin mobil akan dia nyalakan, seketika Brahma teringat sesuatu, yang perlahan memudarkan kebahagiaan di wajahnya.


Brahma menepuk jidatnya pelan. "Oh, iya. Karena aku terlalu bahagia dengan kehadiran cucu pertamaku, aku sampai melupakan jadwal besuk Arsilla, putriku di penjara."


Sudah hampir dua minggu Brahma tidak membesuk Arsilla di penjara, kemudian dia berpikir akan pergi kemana terlebih dahulu.


"Aku ke rumah Bagas dulu, deh. Nanti pulang dari sana, aku akan besuk Arsilla. Lagi pula, jam besuk kan harus siang atau sore," setelah memutuskan untuk pergi ke rumah Bagas lebih dulu, Brahma segera menghidupkan mesin mobil kemudian mengemudikannya.


***


Sementara di rumah pak Burhan dan bu Sari, mereka juga sedang merasakan kegembiraan karena baru saja mereka mendapat pesan dari Bagas kalau Rania sudah pulang ke rumah kemarin sore. Dan Bagas meminta mereka untuk datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Ayah, ayo cepat siap-siap! Ibu sudah tidak sabar ingin melihat cucu ibu hari ini, apakah wajahnya sudah berubah, ya?" bu Sari sudah siap dengan pakaiannya, sedangkan pak Burhan masih saja bermalas-malasan untuk bangun dari tempat tidurnya.


"Berubah gimana, bu? Memangnya cucu kita ini bunglon?" ujar pak Brahma, membuat bu Sari kesal saja.


"Ih.. ayah ini. Bayi kan memang seperyi itu, ayah tidak ingat dulu anak-anak kita juga pasti wajahnya berubah setiap harinya. Kadang mirip ayah, kadang mirip ibu, kadang mirip kakek neneknya, kadang juga mirip orang lain. Ayo cepat bangun, ayah!" bu Sari menarik kedua lengan suaminya, dan mendorong paksa keluar kamar untuk pergi ke kamar mandi.


"Iya, iya. Ibu ini tidak berubah dari dulu!"


"Ibu memang tidak pernah berubah, ayah. Ibu masih sama, masih sayang sama ayah, sama anak-anak kita juga."


"Iya, ibu masih sama. Sama bawelnya," ejek pak Burhan sambil menyentuh bibir bu Sari.


"Ih.. ayah kurang ajar!" bu Sari menyubit pinggang pak Burhan, sehingga membuat pria itu tertawa karena geli.


Ternyata hubungan asli mereka seperti ini, sedikit romantis juga, sih.


"Lagi ngapain, yah, bu?" Radit yang sedang membawa sepiring pisang goreng dan satu gelas kopi di tangannya menghentikan langkahnya, ketika dia melihat ayah dan ibunya sedang berdebat.


"Ibu sama ayah gak lagi ngapa-ngapain, nak. Kamu mau ikut juga ke rumah Rania, gak? Kan hari ini kamu bagian shift siang," ajak bu Sari.


"Nanti Radit nyusul, deh. Soalnya ada janji sama Diva," Radit menolak ajakan ibunya


"Oh, ya sudah. Kapan-kapan kamu ajak Diva ke rumah, ya! Dan ingat ya, nak! Nanti naik motornya jangan ngebut-ngebut, ibu tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu lagi sama kamu," bu Sari selalu cemas, kalau Radit akan pergi naik motor. Karena saat Radit patah tulang kemarin, butuh waktu satu bulan lebih untuk memulihkannya.


"Iya, bu," jawab Radit, nurut. Kemudian dia pergi dari tempat berdirinya saat ini menuju ruang tamu.


Di ruang tamu, sudah ada Nadira yang sedang menunggu jemputan dari sekretaris Frans. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk bertemu pria yang telah membuat perasaannya semakin tidak karuan akhir-akhir ini.

__ADS_1


Radit menatap aneh wajah adiknya yang satu ini, karena sedari tadi senyum-senyum sendiri.


"Nad, kamu kenapa, sih? Senyum-senyum seperti orang gila saja," Radit sedikit risih melihat adiknya senyum-senyum seperti itu.


"A-apa sih bang? Kapan Nadira senyum-senyum?" Nadira mengelak, ternyata dia tidak sadar kalau ada abangnya di sana ketika dirinya membayangkan wajah sekretaris Frans yang membuatnya mungkin senyum-senyum sendiri.


"Ya barusan, dari tadi malah," ucap Radit ketus, dia mengambil satu potong pisang goreng lagi di piring yang tadi dia bawa.


"Gak tahu ah, kapan coba Nadira senyum-senyum? Udah ah, bang. Nadira mau berangkat dulu, jemputan sudah datang. Assalamu'alaikum.." Nadira berpamitan pada Radit, karena tadi dia juga sudah pamitan pada ibunya, jadi tidak perlu pamitan lagi.


Nadira sudah pergi dari sana, Radit kembali mengunyah pisang goreng yang ada di mulutnya. Kemudian dia menyeruput kopi yang masih mengeluarkan uap panas itu ke dalam mulutnya dengan sangat hati-hati.


"Ahhh.. Nikmat sekali hidup ini, pagi-pagi perut sudah kenyang, di temani secangkir kopi yang sangat manis.." Radi kembali menyeruput secangkir kopi tersebut.


Ngomong-ngomong soal manis, seketika Radit teringat Diva. Apalagi ketika mengingat rasa manis bibir Diva kemarin, rasanya hidup ini semakin tambah manis. Uh, giung.


Radit menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan kedua tangan di jadikan bantalan kepalanya. Kini giliran Radit yang senyum-senyum sendiri, membayangkan wajah Diva membuatnya semakin semangat untuk hidup. Ngomong-ngomong hidup, itu si Jon Radit jadi ikutan hidup juga. Wah, bahaya. Kalau sebatang sabun di jadikan sasaran pemuas bir*hinya lagi. Gawat.


.


.


.


Coretan Author:


Halo pembaca setia cerita novel TUAN TAJIR yang kini jadi TERPAKSA MENIKAHI TUAN TAJIR. Happy Reading, ya, kalian! Semoga cerita ini selalu menghibur kalian semua.

__ADS_1


Follow ig: @wind.rahma


__ADS_2