
Ting..
Suara bunyi notifikasi pesan masuk ponsel milik gadis yang bernama Diva, ia segera meraih ponsel yang ia letakan persis di samping tempat tidurnya. Begitu ia buka isi pesan dari seseorang, tiba-tiba kedua sudut di bibirnya mengembang. Entah apa isi pesan dan dari siapa yang membuatnya bisa tersenyum seperti sekarang ini. Yang jelas, ia begitu bahagia setelah membacanya.
Seseorang masuk ke dalam kamar gadis tersebut tanpa ia sadari, tiba-tiba seseorang itu datang mengejutkan lalu membuyarkan lamumannya. Dia adalah Devi, kakaknya.
"Kamu kenapa, Div? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Devi penasaran, ia mengambil sebungkus cemilan yang selalu tersedia di dekat tempat tidur adiknya.
"Em.. Ternyata bang Radit sweet juga, kak!" ujarnya sambil tersipu malu, pipinya mulai nampak berwarna kemerahan.
"Radit? Radit siapa?" Diva lupa, kalau kakaknya tidak tahu dengan orang yang dia maksud barusan.
"Radit itu abangnya teman aku, katanya dia suka sama aku sejak aku masih SMA, karena aku sering mampir ke rumah teman aku itu," jelasnya.
"Jadi sekarang kamu sudah.." Devi menggantungkan kalimatnya.
"Iya, kak. Aku sudah bisa move on dari Reyhan semenjak aku mencoba untuk dekat dengan bang Radit dua bulan lalu. Dan ternyata, aku mulai menyukainya, hehe," Diva menceritakan apa yang dia rasakan saat ini pada kakaknya.
Kebahagiaan terpancar di wajah Diva, setelah sekian lama aura itu tidak muncul di wajahnya. Devi ikut bahagia, jika adiknya sudah tidak lagi berlarut-larut dalam kesedihan yang membuat dirinya merasa semakin bersalah.
"Syukurlah, kalau sekarang kamu bisa menemukan lagi seseorang yang membuat hari-hari kamu berwarna lagi," tutur Devi.
"Iya, kak. Tapi teman-teman di tempat kerja aku sekarang banyak yang tidak suka kalau aku berhubungan dengan bang Radit. Maaf ya kak, dulu aku memang pernah unggah foto aku bersama Reyhan di sosial media, aku juga kemarin sempat unggah foto aku dengan bang Radit. Ternyata mereka bukannya men-support, malah banyak yang bilang gak usah sama dia," wajah Diva berubah menjadi kesal jika mengingat ucapan teman-teman di tempat kerjanya.
Devi menaruh cemilan itu, dan menatap wajah adiknya yang sedang kesal.
"Va, terkadang apa yang kita lakukan itu selalu salah di mata orang lain. Dan mungkin banyak di antara mereka yang lebih suka kamu dengan Reyhan. Terkadang apa yang mereka harapkan tidak sesuai dengan faktanya. Seperti sekarang ini," Devi berusaha menasehati adiknya.
__ADS_1
Ngomong-ngomong Reyhan, Diva jadi penasaran bagaimana hubungannya dengan kakaknya sekarang. Apa semakin membaik?
"Iya, kak. Terkadang juga, apa yang kita lakukan ini, tidak semua orang akan menyukai kita. Pasti akan selalu ada saja orang tidak sukanya. Kalau hubungan kakak sama Reyhan, sekarang gimana?"
Tiba-tiba saja Devi kelihatan gugup, ia kelihatan salah tingkah ketika adiknya menanyakan perihal itu. Ia takut kalau menceritakan hubungannya dengan Reyhan, akan membuka luka yang dulu sempat menganga di hati Diva.
"Em.." Devi menundukkan wajahnya, tidak berani membalas tatapan adiknya yang sedari tadi tidak sabar menunggu jawaban darinya.
"Kak, tidak usah takut kalau aku akan ingat tentang perasaan aku dulu sama Reyhan. Itu sudah jadi masalalu, kan aku sekarang sudah dekat dengan bang Radit. Kemungkinan besar, sebentar lagi kita akan meresmikan hubungan kira. Kakak tidak usah sungkan lagi buat cerita hubungan kakak dengan Reyhan, ya?!" Diva berusaha meyakinkan kakaknya, kalau dia benar-benar sudah bisa move on dari Reyhan.
"Iya, Va. Jadi, hubungan kakak dengan Reyhan sepertinya sudah semakin baik. Kita sudah semakin dekat, dan mama Reyhan juga sempat meminta kakak dan Reyhan untuk cepat tunangan, lalu melanjutkan ke jenjang lebih serius, yaitu pernikahan," jelas Devi, dia pikir adiknya akan murung setelah mendengar ini. Ternyata dia salah, justru Diva kelihatan begitu gembira mendengar kabar ini.
"Serius, kak? Wah, bagus dong kalau begitu. Terus kapan dong acara tunangannya?"
"Tidak tahu. Kakak dan Reyhan belum ada rencana, soalnya kedekatan kita belum sepenuhnya sempurna. Kita masih membutuhkan waktu lagi untuk itu," tambah Devi.
Diva mengacak-ngacak pangkal rambut adiknya, soal nikah, rasanya Diva yang ngebet duluan tuh.
"Oh, iya, ngomong-ngomong acara, kakak jadi ingat sesuatu. Kalau besok kakak di ajak Reyhan untuk datang ke acara dua puluh minggu usia kehamilan temannya," ujar Devi.
Diva menganga, sepertinya yang kakaknya maksud ini adalah Rania. "Wah sama dong, kak."
"Maksud kamu?" Devi tidak paham.
"Iya, jadi bang Radit itu besok ngajak aku untuk berangkat bareng sama dia ke acara adiknya, Rania, teman yang aku ceritakan tadi. Jadi orang yang kakak maksud acara dua puluh minggu usia kehamilan itu, adalah kehamilan Rania."
"Wah, kalau begitu kita besok berangkat bareng aja, ya?" pinta Devi sedikit memohon.
__ADS_1
"Iya, aku tanya bang Radit dulu nanti. Kakak juga jangan lupa untuk bilang ke Reyhan," Diva menaik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum lebar.
"Iya, kalau begitu kamu istirahat, sudah malam!" Diva bangkit dari tempat tidur sederhana milik adiknya.
"Kakak juga, selamat beristirahat!" teriak Diva ketika kakaknya sudah hampir menutup pintu kamarnya rapat.
Di kamar, Devi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sederhana yang hanya muat untuk satu orang saja, yaitu dirinya. Ia mengingat pembicaraan dengan adiknya barusan, seketika sebelah sudut bibirnya terangkat, ia tersenyum.
Devi menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. "Syukurlah kalau Diva sudah menemukan pria lain, yang sanggup menggantikan posisi Reyhan. Dengan demikian, setidaknya itu tidak akan membuat aku selalu di hantui rasa bersalah atas kedekatan aku dengan Reyhan sekarang ini," Devi menarik selimut, lalu membalut sekujur tubuhnya menggunakan selimut tersebut.
Devi menatap langit-langit kosong, yang hanya ada jaring laba-laba di sana dekat lampu kuning yang cukup remang. Dia kembali menghela napas panjang, lalu menghembuskannya lagi.
"Kedekatan Diva dengan pria yang dia sebut Radit, banyak yang tidak menyukainya. Tapi itu tidak ada apa-apanya, di bandingkan aku yang dekat dengan Reyhan. Banyak orang yang bilang aku egois, aku tega merebut Reyhan dari adik aku sendiri, aku sering mendapat tuduhan seperti itu. Padahal itu sama sekali tidak benar dan tidak aku lakukan. Itu semua murni keinginan Diva sendiri, keinginan mamanya Reyhan, bahkan saat itu aku sangat tertekan atas keinginan mereka. Tapi lagi-lagi aku mendapat cacian dan makian dari mereka. Mungkin mereka menginginkan Diva dengan Reyhan, tapi mereka tidak sadar, kalau apa yang mereka harapkan itu melanggar aturan. Mereka tidak bisa menerima kenyatan, bahwasannya Reyhan di utus untuk menjadi bagian dari hidupku," Devi memejamkan kedua matanya, untuk melepas penat yang kini membebani seluruh bagian kepalanya.
Semoga hari esok akan datang kebahagiaan untuk semuanya.
.
.
.
Coretan Author:
Jangan lupa vote, yang banyak.
Follow ig: @wind.rahma
__ADS_1