Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Surprise 1 month kehamilan Rania (Part 3)


__ADS_3

"Selamat datang putra Brahma bersama menantu kesayangan," sambut Brahma sambil merentangkan tangan yang siap untuk merangkul tubuh mereka berdua.


Bagas dan Rania pun jatuh dalam pelukan Brahma. Brahma memeluk keduanya dengan erat, menumpahkan kerinduan yang selama ini ia pendam dan tidak bisa di jelaskan. Semenjak kepergian anak dan menantunya ini, rumah terasa sangat sepi. Padahal ia hanya kehingan dua penghuni rumahnya saja. Tapi entah kenapa ia merasakan hal seperti itu.


Brahma mengecup pangkal rambut putra dan menantunya. Sampai ia tidak sadar, setitik kristal putih sudah menggenangi pelupuk matanya.


"Papa rindu dengan kehadiran kalian berdua, nak," tutur Brahma mengungkapkan kerinduannya selama beberapa hari tidak bertemu. Meskipun satu gedung di Briliant Group, namun Bagas dan Brahma jarang sekali bertemu. Bahkan hampir tidak pernah.


"Kami janji akan sering-sering mengunjungi rumah ayah!" ujar Rania setelah Brahma melepaskan pelukannya.


"Iya, papa tenang saja! Kalau ada waktu, aku dan Rania pasti akan sering datang kesini," sahut Bagas.


"Kami belikan sesuatu untuk ayah, semoga ayah menyukainya."


Rania memberikan salah satu paper bag kecil yang ia bawa di tangannya. Kemudian Brahma menerimanya dengan mengucapkan banyak terima kasih.


"Padahal papa tidak perlu di bawakan apa-apa, dengan kalian datang menemui Papa-pun, Papa sudah sangat bahagia," ujar Brahma tak sanggup untuk menahan kebahagiaannya.


"Kalian sudah makan? Kita ke meja makan langsung saja, ya?! Sepertinya pelayan sudah memasak," tawar Brahma bersiap merengkuh bahu Rania untuk mengajaknya ke meja makan.


"Kita sudah makan tadi, Pa. Masih kenyang, nanti saja, ya!" tolak Bagas dengan sopan, tidak mau membuat Papanya kecewa.


"Oh, ya sudah kalau begitu," balas Brahma sebenarnya sedikit kecewa, sih.


"Pa, aku boleh numpang mandi, gak? Soalnya aku sama Rania habis jalan-jalan dan badan terasa lengket," ujar Bagas, membuat Rania seketika menoleh padanya.


Hah? Numpang mandi? Apa-apaan, sih, dia ini. Kan nanti bisa mandi di rumah. Gumam Rania dalam hati.


"Tentu saja, boleh. Ini kan rumah kamu juga," ucap Brahma mengizinkan.


"Kalau begitu aku tinggal sebentar ya, Pa! Nanti kita ngobrol lagi," ujar Bagas pamit untuk pergi ke kamarnya.


Rania menganggukan wajahnya sebagai bahasa tubuh untuk pamit pada ayah mertua, tidak lupa bibirnya memberi seulas senyum. Sebelum akhirnya ia pergi berjalan menaikki anak tangga untuk samapi ke kamar tempat lamanya.

__ADS_1


Brahma menatap punggung putra dan menantunya dari belakang, ia sebenarnya masih ingin ngobrol lama dengan mereka. Rasanya sedih sekali.


"Papa lihat apa?" tiba-tiba pertanyaan dari seseorang memudarkan lamunan Brahma. Ya, dia adalah Arsilla. Dia juga ikut melihat tangga yang sedang Brahma lihat.


"It-itu, Bagas dan istrinya datang," ujar Brahma sambil menyeka air mata di pelupuk matanya.


Arsilla memicingkan matanya ketika melihat Papa-nya mengumpat untu mengusap sesuatu di bagian matanya. "Oh, Papa nangis?"


"Ti-tidak, Silla. Papa tidak nangis!" kilahnya, kemudian ia mengalihkan pembicaraan. "Kamu nanti temui adikmu, ya! Ajak dia bicara, sudah lama juga kan kalian tidak bertemu?! Papa ke kamar dulu!" Brahma mengusap pangkal Rambut putrinya, sebelum akhirnya ia pergi dari hadapan Arsilla.


Arsilla mengerutkan keningnya, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Papa-nya itu. Kemudian dia duduk di sofa ruang tamu dan membaca majalah yang biasanya tergeletak di meja.


***


Setelah mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian sama-sama berwarna putih, akhirnya Bagas pamit untuk kembali ke rumahnya. Brahma terlihat sangat sedih sekali, ia tidak bisa tinggal satu atap lagi dengan putra dan menantu kesayangannya ini. Arsilla juga ada di sana.


"Eh rumah baru kalian alamatnya di mana? Biar nanti kakak dan Papa main kesana kalau Papa ada waktu. Iya kan, Pa?" tanya Arsilla pada Bagas dan juga Papanya. Brahma mengangguk setuju dengan apa yang di katakan putrinya.


"Oh, ok," ujar Arsilla terlihat senang begitu mengetahui alamat adiknya.


"Kalau begitu kita pamit dulu, Pa, kak!"


"Iya, hati-hati di jalan!" pesan Brahma kepada sang anak.


"Iya."


Bagas dan Rania segera naik ke dalam mobil sport-nya. Penjaga gerbang utama sudah membukakan pintu gerbangnya dengan sangat lebar dan dengan perasaan sedih juga. Sedih karena ia tidak lagi harus membukakan pintu gerbang setiap pagi untuk tuannya yang satu ini.


Sementara di tempat kediaman Bagas, sekretaris Frans dan security dan tiga pelayan tengah sibuk mendekorasi kamar tuannya. Setelah Bagas menghubunginya akan segera tiba di rumah, mereka dengan cepatnya menyelesaikan dekorasi tersebut.


Suara klakson mobil membuat pak Uya, security-nya, segera bergegas pergi dari kamar tuannya untuk segera membukakan pintu gerbang. Sementar sekretaris Frans ketiga pelayan ikut terburu-buru keluar dari kamar dan mengumpat dari sana. Sebelumnya Bagas juga sudah meminta sekretaris Frans untuk tidak memparkirkan mobil di halamannya. Agar Rania tidak curiga dengan apa yang di rencanakan Bagas.


Setelah turun dari mobil, anehnya para pelayan di rumahnya ini menyambutnya dengan penuh hangat lebih dari biasanya. Pelayan itu menyapa dan memberikan senyum lebar. Itu membuat Rania bingung, kenapa dengan mereka? Apa mereka baru saja gajian? Rania tidak mau memikirkan hal itu dengan lebih, ia berusaha bersikap biasa saja seperti biasanya. Bagas juga tidak biasanya merengkuh bahu miliknya saat berjalan untuk ke kamar. Ini patut untuk di curigai.

__ADS_1


Begitu ia membuka pintu kamarnya, ia di buat lebih takjub oleh pemandangan yang tidak kalah indah dari taman XX yang tadi ia kunjungi. Kamar yang sangat indah, dengan dekorasi bunga dan balon bertulisan Happy 1 Month itu membuatnya terharu. Bahwa Bagas selama ini bukan cuma memperhatikan kesehatan calon bayinya. Ternyata ia juga menghitung hari dan bulannya. Ini benar-benar sweet untuk Rania. Sebelumnya ia tidak pernah mendapatkan kejutan seperti ini. Ia sangat beruntung sekali di perlakukan lebih dari sekedar layaknya istri. Ia seraya menjadi anak abg yang mendapat kejutan mansive ketika berpacaran. Jika kalian ada di posisi Rania saat ini, kalian juga akan merasakan kebahagiaan luar biasa yang sama.


Bagas menatap wajah sang istri, setitik kristal jatuh di pipi miliknya. Bagas mendongakkan wajah istrinya tersebut dengan perasaan yang bingung. "Kau kenapa menangis, sayang?" sambil menghapus air mata itu menggunakan ibu jarinya.


Rania langsung saja merangkul tubuh suaminya, ia membenamkan wajah di dada bidang Bagas dengan perasaan bahagia dan sangat terharu. Air mata yang keluar dari matanya ini adalah air mata kebahagiaan, air mata bangga, aif mata haru.


"Terima kasih banyak atas semuanya! Kau melakukan semua ini untukku?" suara Rania terdengar sedikit serak.


"Iya, sayang. Semua aku lakukan untukmu!" ujar Bagas sambil membelai rambut Rania, dan mencium pangkal kepalanya sekilas dengan penuh cinta.


Rania tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Yang jelas hari ini, detik ini sedang merasakan bahagia yang tiada banding. Bagas melepas pelukannya dan menghapus air mata Rania, lagi.


Bagas memegangi kedua pipi Rania, dan menatapnya lekat. "Kau tidak boleh menangis, sayang! Aku hanya ingin melihat senyum di bibirmu setiap saat. Karena itu yang membuat aku semakin jatuh cinta padamu," Bagas mencium kening, pipi kiri kanan Rania.


"Sekarang kau duduk di sana," Bagas menunjuk pada kursi di depan dekorasi itu. "Kita abadikan moment ini, ya!"


Rania mengangguk. Bagas kembali merengkuh bahu Rania, membawanya ke dalam kamar dan Rania duduk di kursi tersebut. Bagas mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk mengambil gambar mereka berdua.


Bagas berdiri di belakang Rania, dan memeluk dan mendekap tubuh itu. Ia juga mencium pipi Rania lagi, untuk mengambil gambar dari ponsel yang sedang ia pegang saat ini. Semburat kebahagiaan tidak dapat mereka sembunyikan di wajah mereka masing-masing. Terpancar semua kebahagiaan mereka saat ini. Jika ada tolak ukur kebahagiaan di dunia ini, mungkin Rania adalah orang paling bahagia. Hari ini, di tempat kediamannya, bersama Bagas. Ia meresakan kebahagiaan tersebut.



.


.


.


Coretan Author:


Follow ig: wind.rahma


VOTE yang banyak, ya!

__ADS_1


__ADS_2