Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Kembalinya Jessica


__ADS_3

Sekretaris Frans kembali ke ruangan pribadi Bagas dengan membawa segelas air putih di tangannya.


"Ini, tuan!" sekretaris Frans memberikan segelas air putih itu pada Bagas dan langsung di terimanya.


Bagas seperti orang yang kehausan tidak menemukan air selama tujuh hari tujuh malam, ia meneguknya sampai habis tanpa menyisakan air itu setetespun. Bagas meletakkan gelas kosong di meja yang ada di hadapannya.


"Frans"


"Iya, tuan"


"Duduk!"


"Baik, tuan"


Sekretaris Frans kembali duduk di sampingnya, kali ini tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Bagas yang terus senyum-senyum sendiri akibat dirinya yang sedang kasmaran, dan sekretaris Frans yang melihatnya merinding sendiri menggidikkan bahunya. Ternyata begitulah ekspresi dan tingkah laku tuannya ketika jatuh cinta.


Tiba-tiba saja pintu ruangan pribadinya di buka begitu saja oleh seseorang tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Di balik pintu muncul seorang wanita berpenampilan seksi. Dress seatas lutut dan sangat terbuka, membuat belahan dadanya nampak begitu jelas. Kulit putih dan mulus nya itu dapat membuat laki-laki manapun pasti akan tergoda.


Tapi tidak untuk dua orang pria yang sedang ada di dalam ruangan, ia malah semakin tidak suka ketika wanita itu seolah sedang menebar pesona ketika pintu di buka.


"Bagaimana dia bisa masuk ke sini, Frans?"


"Saya tidak tahu, tuan! Saya akan mengecek keamanan di sini agar lebih ketat dalam memasukan orang ke dalam kantor"


Wanita duduk di tengah-tengah antara Bagas dan sekretaris Frans, sedikit mendorong tubuh sekretaris Frans agar menggeser posisi duduknya.


"Tuan, saya bisa langsung menyeret wanita ini keluar jika kau tidak suka dia ada di sini"


"Pergilah, Frans! Urus saja keamanan!"


"Baik, tuan" sekretaris Frans berdiri dari duduknya dan beranjak pergi dari ruangan itu, meninggalkan tuannya bersama wanita lain yang jelas-jelas bukan istrinya.


"Pergilah! Tidak perlu repot-repot mengusirku. Tuanmu lebih senang aku ada di sini. Dan kita akan bersenang-senang. Bye!" ucap wanita itu yang ternyata dia adalah Jessica. Masih inget Jessica gak?


Begitu sekretaris Frans sudah keluar dari ruangan, Jessica mulai menjalankan misinya untuk terus mendekati Bagas. Ia tetap tidak perduli dengan status Bagas yang sudah mempunyai istri. Toh, yang ia tahu mana mungkin Bagas mencintai istrinya. Itu tidak akan pernah terjadi.


Jessica sengaja merapatkan duduknya dengan Bagas, ia sengaja agar tidak ada ruang lagi yang dapat memisahkannya.


"Ada apa kau datang ke sini?"


Jessica menggibaskan rambut panjangnya, sebelah tangannya menyentuh dada bagas. Bibirnya ia dekatkan di depan wajah Bagas. Dadanya ia busungkan seolah-olah ia memang sedang menggodanya. Wajah Bagas tetap datar pandangannya lurus ke depan untuk menghindari tatapan Jessica.


"Aku begitu merindukan kamu, Bagas sayang" ucap Jessica dengan nada bicara yang terdengar manja.


"Jangan sentuh aku!"

__ADS_1


Jessica tetap memainkan tangannya di dada Bagas dan sengaja menggigit bibirnya perlahan untuk menarik nafsu birahi Bagas.


"Aku bilang lepaskan! Kau tidak mendengarnya?"


Karena Jessica tidak mau mendengarkan perintah Bagas, akhirnya Bagas bangkit dari duduknya dan pindah ke kursi kerjanya. Tapi Jessica adalah wanita yang tidak pernah punya prinsip kata menyerah dalam mengejar cinta Bagas, ia pun kembali menghampiri Bagas dan duduk di atas meja di hadapannya.


Dengan sengaja, Jessica perlahan membuka pahanya sedikit demi sedikit agar Bagas dapat melihat celana dalam yang ia kenakan. Sebenarnya, maksudnya bukan itu, tapi agar Bagas tergiur dan tergoda olehnya dengan isi di balik celana dalamnya itu. Tapi Bagas sama sekali tidak tergoda.


Jessica semakin melanjutkan aksinya. Kedua tangannya memegangi pundak Bagas, jadi belahan dada Jessica yang sengaja ia busungkan kali ini tepat di hadapan mata Bagas. Bagas tetap diam saja, karena jika ia bergerak sedikit saja, Jessica bisa lebih nekad.


Jessica mengelus pipi Bagas, dan segera di tepis oleh Bagas.


"Hentikan! Jangan paksa aku untuk melakukan kekerasan terhadap dirimu. Gadis tidak tahu diri!"


Jessica segera menarik tangannya, ia juga tidak mau kejadian Bagas yang mendorng tubuhnya sampai terulang untuk kedua kalinya.


"Ok."


Bagas merogoh ponselnya di saku jas hitam yang ia kenakan. Kemudian memainkan jarinya seperti seseorang yang sedang mengirimkan pesan. Setelah itu ia kembali memasukan ponselnya. Bagas bangkit dari duduknya.


"Apa kau mau ikut denganku?"


"Tentu saja" jawab Jessica dengan semangat, tanpa menanyakan kemana akan pergi.


Bagas berjalan keluar dari ruangan pribadinya, di ikuti oleh Jessica. Sampai di parkiran, sekretaris Frans sudah menunggunya di dekat mobil. Sang sopir pun segera membukakan pintu mobil ketika Bagas sudah berjalan mendekat. Jessica jadi sekarang jadi bertanya-tanya, kemana Bagas ingin membawanya pergi. Tapi pertanyaan itu tidak langsung hilangkan dan di ganti dengan kata tidak perduli kemana Bagas akan membawanya, yang terpenting dia punya kesempatan dekat dengan Bagas.


Bagas semakin merasa risih dengan Jessica.


"Angkat kepalamu atau turun!"


Merasa mendapat ancaman akan di turunkan, Jessica lebih memilih untuk mengangkat kepalanya saja. Ia tidak mau kesalahan kecilnya membuat kesempatan besarnya lenyap begitu saja.


Tidak lama, sekitar 20 menit dari gedung Briliant Gruop, mereka sampai di depan Mall ternama. Tentunya Jessica merasa tidak percaya Bagas akan membawanya ke sana. Di pikirannya hanya ada shopping, shopping dan shopping. Karena apa lagi yang di lakukan di sebuah Mall untuk perempuan selain shopping.


Turun dari mobil, Bagas langsung masuk ke dalam mobil, di ikuti oleh sekretaris Frans di belakangnya. Jessica merasa tampil penuh percaya diri, berjalan sejajar dengan Bagas. Walaupun ketika ia mencoba bergandengan tangan lalu dengan cepat Bagas menepiskannya, Jessica tetap merasa senang. Senang sekali.


Ternyata pikiran Jessica benar, tepat. Bagas membawanya ke lantai dimana hanya ada baju-baju wanita brandid dan sangat bagus. Mahal juga tentunya.


"Sekarang kau pilih baju mana yang paling kau suka! Ingat, yang paling bagus dan mahal!"


Jessica berteriak dan bersorak dalam hati, merasa menang dan menjadi satu-satunya wanita yang paling beruntung saat itu. Harapannya untuk selamanya. Tapi ia tidak mau terlihat agresif dalam mengejar cinta Bagas, ia berusaha menahan ekspresi wajah agar terlihat biasa saja.


"Baiklah!"


Jessica langsung memilih beberapa baju dan memasangkan di tubuhnya, selalu bertanya pada Bagas kalau pilihannya itu bagus atau tidak, cocok atau tidak. Namun Bagas hanya menjawab "Terserah!". Iya terserah dia saja mau pilih yang mana yang menurut dia paling bagus.

__ADS_1


Setelah lama menunggu, akhirnya Jessica memilih beberapa baju yang menurutnya bagus dan cocok untuk dirinya. Bagas meminta Jessica untuk pergi ke kasir duluan. Sekretaris Frans yang melihatnya semakin di buat bingung oleh tuannya ini. Baru tadi siang ia mendengar pengakuan kalau ia sudah mulai jatuh cinta sama istrinya. Tapi kenapa sekarang dia malah belanjain perempuan lain.


Ketika Bagas nyaris melangkahkan kaki untuk menyusul Jessica di kasir, sekretaris Frans menghentikan langkahnya.


"Tuan"


"Apa?"


"Maaf jika pertanyaan saya ini lancang. Sebenarnya apa maksud dari semua yang anda lakukan? Bukannya tadi anda mengatakan sudah mulai menyukai nona?"


"Ya, itu benar. Aku memang menyukai istriku!"


"Tapi kenapa sekarang anda malah membelanjai perempuan lain? Apa yang saat ini anda lakukan kepada perempuan itu sama persis dengan yang anda lakukan dengan perempuan yang di turunkan di jalan ketika anda sudah mendapatkan baju untuk nona waktu itu?"


Bagas tersenyum, "kau cerdas, Frans!" pujinya. Ternyata benar, Bagas membawa Jessica ke Mall membeli baju yang akan ia berikan kepada Rania.


"Terima kasih, tuan, atas pujiannya. Tapi saya bisa lebih cerdas lagi"


"Apa?"


"Bagaimana kalau anda membawa langsung nona untuk memilih baju sesuai seleranya?! bukan dari selera orang lain. Itu pasti akan jauh lebih baik, dan nona perlahan akan jatuh hati juga pada anda!"


Bagas langsung berpikir, ternyata yang di katakan sekretaris Frans ada benarnya juga, kenapa tidak dia bawa langsung istrinya saja untuk belanja memilih baju?


"Kau benar-benar cerdas, Frans"


"Terima kasih, tuan"


"Kalau begitu kita pergi saja!" ajak Bagas.


"Tapi perempuan itu.."


"Sudah, itu bukan urusanku"


Kemudian Bagas dan sekretaris Frans pergi meninggalkan Jessica di sana. Sementara Jessica yang sedari tadi menunggu Bagas untuk melakukan pembayaran ke kasir tidak datang juga. Kemudian Jessica meminta izin kepada kasir untuk menunggunya sebentar, ia kembali ke tempat di mana Bagas berdiri tadi.


Jessica terus mencari Bagas di sekitar sana, ternyata dia tidak menemukannya juga.


"Sial, rupanya dia ingin mempermalukan aku. Heh, lihat saja! Aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku, mengemis cintaku yang selama ini tidak pernah kau balas!"


Jessica mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang ingin meledak, ia menghentakan kakinya dengan keras. Membuat pengunjung lain yangs sedang berada di sana meliriknya.


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR

__ADS_1


Jadi masih ingat gak sama perempuan yang namanya Jessica itu? Udah greget belum sama kelakuan dia? Terus baca kelanjutannya ya.


Like, vote, tambahkan juga ke favorit.


__ADS_2