
Pagi ini, demi kesehatan kandungan Rania. Bagas mengajak Rania pergi ke tempat olahraga khusus untuk ibu hami dan untungnya Rania mau. Saat ini mereka sudah berada di tempat tersebut, sedang melakukan olahraga sesuai arahan dari guru di tempat itu.
Banyak juga pasangan suami istri di sana yang mengikuti olahraga itu. Kini guru itu memberi arahan untuk semua pasangan suami istri duduk berhadapan.
"Untuk pemasanan, semua bisa tarik napas yang panjang!" ujar guru tersebut, memulai olahraganya.
"Tahan! Saya hitung mundur dari tiga, kemudian keluarkan dari mulut! Okay?!" guru itu memberi arahan, sebut saja dia Jeslyn, karena perempuan.
"Tiga, dua, satu. Buang dari mulut, kemudian lakukan lagi sampai lima kali, okay?!"
Semua pasangan suami istri mengikuti sesuai arahan dari Jeslyn.
"Sekarang, pegang tangan pasangan masing-masing dengan menyilang!" Jeslyn kembali memberi arahan.
"Fokus, ya! Perlahan kalian tarik pasangan kalian ke belakang, itu membantu mengendorkan otot ibu hamil dan bagus untuk di lakukan!" Jeslyn kembali menghitung mundur, dan semua pasangan suami istri di sana melakukan gerakan sesuai yang di arahkan.
"Tarik yang kuat ke belakang, lakukan gerakan itu berulang kali!"
Di saat Jeslyn sibuk memberi arahan, Bagas menyempatkan diri untuk ngobrol dengan Rania, padahal itu di larang kecuali ada hal yang perlu di tanyakan.
"Bagaimana, apa tubuhmu terasa enakan?" tanya Bagas lirih, sambil melakukan gerakan sesuai arahan Jeslyn.
"Hem," jawab Rania singkat, ia tidak mau Jeslyn sampai mendengar perbicangannya.
"Kalau begitu, satu minggu sekali kita datang ke tempat ini, ya?!"
"Hem," jawab Rania singkat, lagi.
"Berarti aku tidak salah mengajakmu pergi ke tempat ini. Ini akan menjadi aktivitas baru kita setiap minggu, agar hari-hari kita tidak membosankan. Sebenarnya tidak pernah membosankan, sih. Tapi akan lebih baik jika ada aktivitas lain. Benar, kan?"
"Jangan berisik, nanti kalau guru itu sampai dengar bagaimana? Kita bisa di beri hukuman!" decak Rania, suaminya ini lebih cerewet darinya setelah ia di nyatakan hamil.
"Dia tidak akan dengar, sayang. Aku sudah mengecilkan volume bicaraku, kau tenang saja! Okay?"
__ADS_1
"Hei, kalian!" Jeslyn menunjuk pada Bagas dan Rania, semua pasang mata tertuju pada mereka.
"Peraturan di sini tidak boleh bicara sebelum selesai! Kecuali ada yang kalian tidak mengerti dengan arahan yang saya berikan, kalian boleh bicara untuk bertanya. Paham?!" tutur Jeslyn, ia memang tidak suka jika ada pasangan yang mengobrol ketika jam olahraga.
"Iya, maaf! ucap Bagas dan Rania secara bersamaan.
Tidak hanya sampai di situ, pasangan Bagas dan Rania juga di beri hukuman dengan menambah satu gerakan lagi ketika pasangan yang lain telah selesai. Huh, sabar.
***
Kembali lagi di tempat Iren dan Reyhan.
Kini Iren dan Reyhan tengah sarapan berdua di meja makan. Kelihatannya mereka juga sedang ngobrol yang menyenagkan, terlihat dari aura wajah mereka yang bersinar.
"Alhamdulillaah, akhirnya semuanya sudah tuntas ya, Rey. Mama merasa sangat lega," ucap Iren.
Reyhan menelan sandwich yang baru saja ia kunyah. "Iya, ma. Apalagi semalam keluarga Devi juga bisa memaafkan kesalahpahaman ini. Ya walaupun itu sangat berat untuk mereka."
Reyhan dan Iren semalam memang pergi ke rumah Devi untuk mengantarkannya dari penjara, sekalian untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Untungnya keluarga Devi dapat menerima semua ini, dan akhirnya semua tuntas sudah. Semoga saja tidak ada kesalahpahaman lagi antara mereka dan keluarga mereka.
"Uhuk..uhuk.." Reyhan tiba-tiba tersedak.
"Kenapa, Rey? Pelan-pelan dong makannya!" ujar Iren sambil memberi minum untuk putranya.
Reyhan meneguk minum yang di berikan mamanya. Kemudian meletakannya kembali di meja setelah ia merasa lebih baik.
"Kita kan bisa minta dia buat datang ke sini sendiri, ma."
"Tidak bisa, Rey! Pokoknya kamu harus jemput dia, ya!" pinta Iren, harus di turuti.
"Iya, ma."
Reyhan mengangguk pasrah, ia tidak mau berdebat dengan mamanya karena ia merasa sedikit keberadaan dengan permintaan tersebut. Karena ia tahu, kalau ia melakukan itu pasti akan menyakitkan untuk Diva. Karena bagaimanapun Diva sangat mencintainya, walau pada akhirnya Diva mengalah dan meminta sang kakak menggantikan posisinya.
***
Sementara di tempat kediaman Brahma.
__ADS_1
Brahma, Arsilla dan Hera juga tengah sarapan di meja makan. Sebelumnya tidak ada bicara di antara mereka bertiga, karena itu salah satu peraturan di rumah itu. Namun tiba-tiba Hera mengajak Arsilla untuk mengobrol dengannya.
"Silla, kita nanti jadi pergi, kan?" Hera menyendok nasi goreng buatan bi Asih, pelayan andalan yang bertugas masak di rumah itu.
Arsilla menoleh pada Brahma yang sama sekali tidak menggubris pertanyaan Hera. "Em.. lain kali ya, tan. Hari ini aku malas untuk pergi kemanapun!" tolak Arsilla.
Hera melirik kakak iparnya, Brahma, sekilas. "Oh, tidak apa-apa! Lain kali, ya?"
"Iya." Arsilla melanjutkan makannya.
Sementara Brahma sudah selesai makan, ia menarik selembar tisu untuk mengelap sisa makanan yang siapa tahu menempel di bibirnya.
"Lain kali kalau mau pergi, sendiri saja. Tidak usah mengajak, Silla! Apalagi kalau pergi ke tempat yang tidak berfaedah, lebih baik diam di rumah!" ujar Brahma sebelum akhirnya ia beranjak dari sana.
"Silla, lain kali gak usah dengar larangan Papa kamu! Karena hanya ada kebosanan saja jika terus berdiam diri di rumah. Kita habiskan hidup kita dengan cara bersenang-senang. Kamu harus dengar apa kata tante!" Bagi Hera, Brahma sudah nampak menyebalkan. Mengapa akhir-akhir ini ia selalu saja meminta Arsilla untuk dekat dengannya?
"Aku sudah selesai, aku duluan ke kamar ya, tante!" Arsilla juga beranjak dari sana.
"Silla.. Silla... Temani tante dulu, Silla! Tante belum selesai. Silla.." panggil Hera setengah berteriak, namun Arsilla sama sekali tidak menggubris panggilan tantenya. Ia tetap berjalan menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya.
"Herrghh.. Sialan! Kenapa semua orang menyebalkan? Ini semua gara-gara gadis kampungan itu, semenjak kehadirannya di keluarga ini semua jadi kacau. Semua jadi berantakan. Awas saja kau gadis sialan, aku akan memberimu pelajaran yang akan membuatmu jera seumur hidup!" bibir Hera menyeringai, ia mengepalkan kedua buah tangannya. Memukul meja dengan sangat keras.
.
.
.
Coretan Author:
Yang nanya saya dari daerah mana karena sering mati lampu? Saya dari Jampang kulon, Sukabumi.
Follow ig: wind.rahma
Jangan lupa untuk like, komen, vote yang banyak, ya!
Rekomendasikan juga cerita ini ke pembaca lainnya, agar lebih banyak pembaca lagi.
__ADS_1