
Mobil milik sang tuan tajir pun memasuki gerbang utama dan berhenti di depan rumah. Sang sopir dengan sigap turun dari mobinya setelah mematikan mesin untuk membukakan pintu sebelah kanan buat tuan dan nona rumah.
Bagas langsung saja turun ketika pintu sang sopir telah membuka pintunya, begitupun Rania turun dari pintu yang sama.
Biasanya Bagas langsung pergi masuk duluan, tapi kali ini ia berdiri dengan tangan seperti pangeran yang siap menggandeng tuan puteri.
Heh, kau pikir aku mau di gandeng olehmu? Tidak. Tidak sama sekali!
Rania bergegas melangkahkan kaki masuk duluan, meninggalkan Bagas yang masih berdiri dalam posisi siap menggandeng. Bagas mengangkat sudut kanan bibirnya membentuk senyum kecil dan kembali menurunkan tangannya. Ia merogoh ponsel di saku jas hitamnya dan mengetikkan pesan.
Setelah kira-kira 2 menit, ia kembali memasukan ponselnya ke semula dan kali ini ia masuk ke dalam rumah, di ikuti oleh sekretaris Frans dari belakang.
Seperti biasa, sekretaris Frans hanya mengantar Bagas sampai ruang tamu lalu berpamitan untuk pulang. Bagas menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya. Dan membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati. Tadinya ia ingin mengejutkan Rania, tapi pas ia lihat Rania tidak ada di sana.
Kemana dia? Pikir Bagas yang sedang menutup pintunya kembali. Ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan, tapi orang yang sedang ia cari tidak ada juga.
Kemudian ia mendengar suara gemericik dari kamar mandi ia sudah bisa menebak siapa orang yang sedang ada di kamar mandi. Tentunya Rania.
Tanpa pikir lagi, ia segera membuka jas hitamnya dan melemparkannya begitu saja ke tempat tidur. Ia berjalan mendekati pintu kamar mandi dan kali ini ia sudah berada tepat di depan pintu.
Bagas langsung saja menerobos masuk ke kamar mandi tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Membuat seorang gadis yang ada di dalam sana terkejut dan reflek berteriak sekencang-kencangnya.
AAARRRGGHHH..
Rania dengan sigap menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya. Walaupun tanpa ia tutupi menggunakan tangan sudah tertutup oleh busa sabun. Semua tubuhnya kecuali kepala tenggelam dalam air dan busa sabun.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk? Di mana letak sopan santunmu?" gerutu Rania.
"Hah, kenapa aku harus minta ijin terlebih dahulu untuk masuk. Tidak apa-apa jiga jika aku langsung masuk. Lagian, aku kan sudah sah jadi suamimu dan kau sudah menjadi istriku"
Mendengar kalimat itu demi Dilan balikan sama Milea, aku benar-benar merasa jijik. Mendingan kau keluar!
"Apa kau sudah sudah tidak waras wahai tuan tajir? Apa kau sudah gila?"
"Ya" jawab Bagas dengan cepat.
Benar-benar sinting ini orang.
"Aku sudah gila karenamu!" ucap Bagas dengan tenang, bibirnya memberikan senyum seperti orang yang sedang haus perempuan.
Jika perempuan lain yang melihatnya, ia pasti akan segera mengerti dengan kode keras yang di berikan Bagas. Tapi bagi Rania justru membuat dirinya merasa risih dan jijik, ia tidak mau melakukannya begitu saja.
Bagas sama sekali tidak mengatakan apapun, ia malah terus tersenyum ketika melihat wajah kesal Rania. Kemudian ia keluar dari kamar mandi.
Sialan! Apa yang sebenarnya ia rencanakan.
Rania memutuskan untuk cepat-cepat menyelesaikan mandinya dan kembali menyiapkan air baru untuk mandi Bagas. Rania keluar dan mendapati suaminya yang sedang berdiri di depan pintu membelakanginya. Ia cepat-cepat melarikan diri dari tempat berdirinya Bagas. Ia tidak mau mendengar kalimat menjijikan yang akan keluar lagi dari mulut Bagas.
Bagas masuk ke kamar mandi menggantikan Rania. Sedangkan Rania sibuk memakai pakaiannya dan menyiapkan pakaian untuk Bagas setelah ia selesai.
Tidak lama, sekitar 5 menit, Bagas keluar dari kamar mandinya. Itu berarti Rania harus segera keluar dari kamar. Bagas langsung menyusul langkah Rania setengah berlari yang nyaris membuka pintu, ia menarik lengan Rania, membuat Rania membalikkan tubuhnya sehingga mereka berhadapan.
__ADS_1
"Kau tidak perlu menunggu di luar, cukup duduk di sofa dan pejamkan mata jika kau mau!" pinta Bagas tidak seperti biasanya.
Rania menyipitkan kedua matanya, mencurigai sebenarnya apa di balik ini semua. Kenapa ia tiba-tiba bisa berubah seratus delapan puluh derajat.
"Hm, baiklah"
Rania menurut saja dengan perintah suaminya. Ia duduk, dan kedua matanya ia pejamkan. Tangannya saling meremas jari yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
Sesekali ia ingin membuka sebelah matanya dan melihat tubuh milik tuan tajir. Tapi keinginanya selalu berlawanan dengan rasa gengsinya. Tapi ia juga ingin sekali, sekali ini saja ia di beri kesempatan untuk melihat tubuhnya. Rania mulai memberanikan diri, hati-hati membuka sebelah matanya sedikit demi sedikit.
Saat itu ia melihat Bagas yang membuka handuk kimononya, dengan cepat Rania menutup kembali matanya rapat-rapat dan membungkam mulutnya agar ia tidak reflek berteriak.
Ia menunggu sampai Bagas memberi perintah untuk membuka matanya. Setelah ia mendengar suara semprotan parfum, ia langsung saja membuka matanya tanpa menunggu perintah terlebih dahulu. Karena Bagas pasti sudah selesai memakai pakaiannya.
Bagas menaruh botol minyak wangi ke atas meja kecil samping tempat tidurnya. Ia melirik Rania yang sudah membuka matanya.
"Apa kau tidak memejamkan mata saat aku memakai pakaian?"
Rania tidak menjawab pertanyaan Bagas, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bagas tersenyum melihat Rania yang masih kesal kepadanya. Kemudian ia duduk di samping Rania. Rania membuang muka agar ia tidak bertemu tatap dengan Bagas.
Dia terlihat lebih cantik dan imut ketika marah. Aku ingin sekali menciumnya.
Bagas mencoba mendekatkan bibirnya perlahan ke wajah Rania. Rania tidak melihat apa yang sedang di lakukan Bagas saat ini karena wajahnya melihat ke samping yang berlawanan dengan Bagas.
Tinggal beberapa senti lagi untuk Bagas bisa mencium kulit lembut pipi chubby Rania. Seketika pintu kamar di ketuk oleh seseorang yang mengganggu adegan ini. Membuat Bagas langsung memundurkan wajahnya kembali.
__ADS_1
Aku berjanji, siapapun pelaku pengetuk pintu kamar yang membuat adegan ini terganggu, akan aku pukul dia!
Bersambung...