Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Bahan Masakan


__ADS_3

Bagas dan Rania sudah sampai di rumah. Mereka segera menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur secara bersamaan, sehingga membuat tubuh Bagas di tindihi oleh tubuh Rania.


Bruggghh..


"Aaawww.." teriak Bagas dengan reflek ketika punggungnya mendapati beban yang cukup berat.


"Huaa..kenapa kasurnya berubah jadi keras, ya?" ujar Rania dengan mata terpejam, ia tidak sadar kalau ia menjatuhkan diri pada tubuh suaminya.


"Hei, sayang! Minggir, dong! Ini tubuhku bukan kasur, kau ada-ada saja. Menjatuhkan tubuhmu yang berat ini sembarangan!" Bagas berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Rania mau turun.


"Haha maaf aku sudah mengantuk!" ucapnya ketika membuka mata setengah kemudian naik ke atas kasur lalu membaringkan tubuhnya dengan terlentang.


"Ganti dulu pakaianmu!" suruh Bagas sambil menarik tangan Rania berusaha untuk membangunkannya.


"Tidak perlu, aku akan ganti pakaian di dalam mimpi saja, huaaa.." katanya dengan malas karena ia sudah benar-benar di kuasai oleh rasa kantuk.


"Ya, terserah! Kalau begitu aku saja yang akan menggantikan pakaianmu" mendengar kata itu kantuk Rania seketika memudar, ia langsung membuka matanya sampai bulat dan bangun duduk.


"Eh, tidak! Nanti ujung-ujungnya kau akan mengajakku bermain dan malam ini aku sedang tidak mau melayanimu! Rasa kantukku lebih besar di banding nafsumu!" tolak Rania kemudian ia segera bangun dan menghampiri lemari besar tempat pakaiannya.


"Hem, dasar! Siapa juga yang akan menaikimu, si Jon juga sedang lelah, mana mampu ia berdiri, haha" gumam Bagas sambil menggeleng-gelengkankab kepala melihat tingkah istrinya yang kadang konyol juga.


Setelah mereka mengganti pakaian merekamenggunakan piyama, mereka kembali membaringkan tubuh di balut dengan selimut yang menyelimuti sekujur tubuh mereka kecuali kepala. Rania membenamkan kepalanya di atas dada bidang milik suami seperti biasanya, dan sebelag tangannya memeluk tubuhnya. Begitun dengan Bagas yang suka mencium dan mengelus pangkal rambut sang istri.


"Umm..segar.." ucap Rania ketika ia mencium ketiak sang suami. Walaupun lebat dengan bulu di sana, tapi Rania begitu menyukai aroma katiak milik Bagas. Aromanya khas dan tidak di miliki oleh manusia lain, mungkin.


Mungkin di sini juga ada yang seperti Rania, mencium ketiak suami dengan aroma yang khas. Benarkan?


"Apa aku boleh melakukannya untuk beberapa kali lagi?" Rania mendongakkan kepalanya melihat wajah suaminya.


"Kau boleh melakukan sepuasmu!" balasnya sambil tersenyum, namun dengan mata yang terpejam.


"Ummm..." Rania kembali mencium ketiak Bagas dengan gemas karena aromanya yang begitu menggoda. Ia melakukannya beberapa kali.


"Sayang!" panggil Bagas menghentikkan Rania yang nasih menciumi ketiaknya.


"Apa?" Rania kembali mendongakkan kepalanya dan Bagas membuka matanya, ia terlihat seperti sedang mengingat-ingat.

__ADS_1


"Sepertinya kau harus menghubungi kakak ipar, kau harus tanyakan padanya resep masakan yang tadi kita makan. Kau harus catat sedetail mungkin dan tidak boleh ada satupun bumbu yang terlewat, aku ingin besok kita makan makanan seperti tadi" pintanya sambil membayangkan makanan tadi dan seolah-olah ia sedang menikmatinya.


"Haha, itu tidak perlu!" tolak Rania, membuat Bagas yang sedang membayangkan makanan itu seketika hilang.


"Hei, kenapa?" tanyanya heran.


"Aku tidak perlu menanyakan resepnya pada kak Nad, itu mah gampang!" Rania menyentil jari kelingkingnya sendiri, menganggap itu adalah hal yang mudah baginya.


"Maksudmu?" Bagas masih belum mengerti.


"Hei, kau ini gimana, sih? Aku ini adik kak Nadira, kami itu keluar dari rahim ibu yang sama. Dan kami di ajarkan hal yang sama pula. Teorinya begini, kalau kak Nad bisa membuat sebuah masakan, itu sudah pasti aku juga bisa membuatnya. Seperti itu!" jelas Rania menoyorkan kepala Bagas kemudian.


"Kau semakin kurang ajar, ya!" Bagas mencubit hidung Rania dan menggelitikinya.


"Ampun, aku bercanda!" Rania memohon sambil tertawa menahan geli.


"Makin berani aja kau sama suami!" seru Bagas.


"Haha, habisnya kau sendiri yang bodoh, kau kira aku tidak masak, apa?" balas Rania sambil mengusap ujung hidungnya yang memerah.


"Kalau begitu kau kasih resep pelayan untuk membuatkan aku makanan seperti tadi!" ucap Bagas dengan semangat.


"Kalau begitu aku juga yang akan berbelanja bahan masakannya!" kata Bagas.


"Ya sudah, pergi aja sana!" sahut sang istri.


"Maksudnya, pergi bareng!"


"Dengan pelayan?"


"Denganmu sayang.." Bagas mencubit pipi Rania gemas.


"Haha, ya sudah kalau begitu kita tidur. Aku sudah begitu mengantuk!" ajak Rania bersiap untuk memejamkan mata.


"Ok, selamat tidur!" ucap Bagas kemudian mendaratkan ciuman di kening, pipi kanan kiri, dagu, dan di bibir, semuanya di jajah.


"Selamat tidur kembali" Balas Rania yang hanya mencium sebelah pipi Bagas saja.

__ADS_1


Tidak lama, mereka kini tenggelam dalam impian masing-masing. Mungkin Bagas mimpi makan sayur lodeh lagi. Yang janji mau bikinin, di tunggu di mimpi oleh Bagas malam ini juga, titik.


*****


Pagi harinya, pagi-pagi sekali, bukan pagi lagi tapi subuh. Rania menuntun Bagas di keramaian yang jalannya sangat licin sekaligus becek. Bagas yang awalnya semangat untuk berbelanja kini ia berubah berkeluh kesah. Ia pikir membeli bahan masakannya di supermarket, tapi kenyataannya ia harus memasuki tempat yang tidak pernah ia bayangkan, yaitu pasar.


Selain harus berdesak-desakan dengan para manusia yang memburu sayuran dan bahan masakan lain, ia juga harus bertarung melawan beceknya jalanan sisa hujan semalam. Ya, begitulah kondisi pasar wahai tuan tajir.


"Kenapa membawaku kemari?" protes Bagas hampir tidak terdengar akibat gemuruhnya suasana pasar.


"Kau yang meminta dan mengajakku untuk membeli bahan masakan, memangnya kau pikir kita akan pergi kemana?" balas Rania setengah berteriak karena takut tidak terdengar.


"Supermarket" jawab Bagas


"Huuu, kau salah alamat. Inilah tempat yang sesungguhnya. Ayo, kita kesana!" ajak Rania sambil menarik tangan Bagas yang masih kesukilan untuk berjalan.


Setelah hampir satu jam, akhirnya Rania mendapat seluruh bahan masakan yang sudah di rencanakan untuk ia beli.


"Kita sudah mendapatkannya, ayo pulang!" ucap Rania dengan enaknya, sedangkan Bagas berususah payah membawa beberapa kantong plastik di tangannya.


"Hei, bantu aku sedikit saja!"


Rania menoleh pada sang suami yang rupanya keberatan padahal hanya membawa bebera kantong plastik berisi bahan masakan yang tidak seberapa.


"Dasar payah!" maki Rania sambil mengambil kantong plastik di sebelah tangan Bagas.


Beberapa hari lalu di Bali, dia sendiri yang bilang pada saat membawakan oleh-oleh khas Bali yang sempat aku beli dia bilang "itu tidak seberapa dan aku bisa membawanya dua kali lipat dari ini" huh, sekarang saja kau payah. Gerutu Rania dalam hati ketika ia berjalan untuk kembali ke mobil.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Coretan Author:


Maaf, dua hari lalu tidak update di karenakan saya kurang enak badan dan tidak memungkinkan untuk memaksakan diri membuat naskah. Sampai jumpa di next chapter yang akan di update setelah ini.


__ADS_2