
Ketika mereka bertiga berjalan menyusuri lorong sekolah, tiba-tiba suara seorang pria membuat Rania, Bagas, dan Diva menghentikan langkahnya.
"Rania.." panggil seorang pria setengah berteriak, membuat mereka bertiga menoleh.
Ketika mengetahui orang yang memanggil nama temannya tersebut, wajah Diva berubah lagi menjadi panik. Panik sepanik-paniknya.
Seorang pria berdiri tegap menggunakan jas hitam berjarak 5 meter dengan tempat berdirinya mereka. Dia adalah Hisam, teman mereka juga, tapi beda kelas. Dan mereka juga tidak terlalu akrab dengan Hisam.
Hisam berjalan menghampiri mereka dan berdiri tepat di hadapan Rania. Senyum Hisam begitu mengembang di bibirnya, seperti sedang senang Rania hadir di sana.
"Rania.. Kamu cantik sekali" ucapnya sambil memandang penampilan Rania dari bawah sampai atas.
Heh?! Sedangkan Rania tidak enak hati dengan pujian Hisam di depan suaminya. Ya, Hisam kan tidak tahu soal pria yang di samping Rania itu suaminya.
Bagas tidak mau diam begitu saja, dan entah kenapa dia juga tidak seperti biasanya, Bagas yang biasanya menunjukan sifat kekejamannya jika ada orang lain yang akan merebut hak miliknya. Apalagi jika masalah pria yang akan mendekati istrinya.
Hisam melirik ke arah Bagas sekilas.
"Rania.. Ini abang kamu, kan? Kok beda banget sih? Mungkin karena aku sudah lama tidak melihat abangmu kali, ya?" tanyanya dengan telunjuk yang menunjuk Bagas.
Bagas langsung menepis tangan Hisam, ia tidak boleh di perlakukan seperti itu. Sifat sombongnya kembali meronta-ronta. Karena ia tidak pernah sekalipun di tunjuk-tunjuk oleh lain, jika bukan dirinya yang menunjuk orang agar tunduk kepadanya.
"Hey, kau bilang apa? Aku ini su-”
"Hisam, aku ingin bicara padamu sebentar, ikut aku!" Diva memotong kalimat Bagas dan menarik lengan Hisam membawanya jauh dari sana. Sebelum pergi, Diva juga mengatakan pada Rania agar masuk duluan. Dia ada urusan sebentar dengan Hisam.
Ada apa dengan Diva dan Hisam? Pikir Rania.
Kemudian Rania mengajak Bagas untuk masuk bersamanya, tidak lupa tangan ia lingkarkan di lengan Bagas agar terlihat romantis ketika mereka bergandengan. Mereka sudah terlihat seperti putri dan pangeran saja.
*****
__ADS_1
Sementara di toilet, Diva menarik Hisam dan menbawanya ke sana agar tidak akan ada orang yang mendengar pembicaraannya. Hisam langsung saja menepis tangan Diva ketika mereka sudah sampai.
"Ada apa, sih?" tanya Hisam yang di buat bingung oleh Diva. Sama, Diva juga terlihat bingung akan menjelaskannya dari mana.
Dulu, ketika Hisam mendengar Rania keluar dari sekolah, ia sangat meyanyangkan sekali. Selain karena Rania anak yang cerdas, itu juga membuat kesempatan Hisam mendekati Rania hilang. Dan saat itu Hisam selalu menanyakan alasan Rania keluar sekolah pada Diva, karena menurutnya hanya Diva yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Diva mengatakan tidak tahu, tapi karena Hisam terus saja menanyakan dengan memaksa akhirnya Diva bilang kalau Rania keluar gara-gara soal biaya yang tidak mampu ia bayar.
Seiring berjalannya waktu, Hisam memberanikan diri untuk menceritakan perasaannya terhadap Rania kepada Diva. Dan berharap suatu saat nanti ia akan menemui orang tua Rania karena ingin mengikat Rania dengan tunangan. Ia berjanji akan membahagiakan Rania, memberinya sesuatu dengan cukup. Dan ingin Rania mengejar paket mendapat ijazah juga, agar ia bisa meneruskan pendidikan ke jenjang kuliah bersama dengan calon istrinya.
Tetapi hari ini harapan Hisam akan lenyap, ketika Diva harus memberitahu Hisam siapa pria yang datang bersama Rania. Diva juga tidak mau jika Hisam terus berharap kepada Rania. Tanpa Hisam sadari, setiap ia mencurahkan isi hatinya kepada Diva tentang Rania, Diva justru malah menaruh hati pada Hisam.
"Hei, kamu kenapa Diva?" Hisam menepuk pundak Diva, membuyarkan lamunannya, membuat tubuh Diva tersentak kaget.
"A-aku baik-baik sa-saja, Sam!" jawabnya terbata-bata.
"Lalu kenapa kau membawaku kemari? Kau mau bicara sesuatu denganku, tentang Rania? Ayolah, katakan!" wajah Hisam berubah semangat jika Diva akan mengatakan sesuatu tentang Rania, tapi wajah semangatnya itu tiba-tiba berubah kecewa ketika Diva mengatakan,
"Pria yang di samping Rania itu, suaminya!" ucap Diva dengan bibir yang gemetar.
Hisam betul-betul kecewa dengan ucapan yang di sampaikan temannya itu, tapi ia tidak mau percaya begitu saja. Siapa tahu yang di bilang Diva hanya omong kosong.
"Aku serius, Sam!"
Tubuh Hisam seketika melemas, tidak ada kekuatan dalam kakinya untuk menopang tubuhnya. Sehingga tubuhnya jatuh ke lantai begitu saja. Pikirannya seketika di buat kacau. Rencana indah yang selama ini ia susun lenyap hanya dalam waktu beberapa detik. Mungkin ini salahnya juga karena telah menaruh harapan pada orang yang belum tentu menjadi miliknya. Mau pada dirinya. Ia sadar, ia bukan siapa-siapa bagi Rania. Dia hanya seseorang yang memendam perasaan tanpa mengungkapkannya. Ia menyesal tidak mengatakan perasaan itu pada waktu Rania masih sekolah. Dan kini, pupus sudah harapannya. Ia hanya bisa berharap Rania akan bahagia walau bukan bersamanya.
*****
Sementara di lapangan, beberapa siswa perempuan, hampir semuanya malah, termasuk teman seangkatan Rania, teriak histeris melihat sosok orang yang begitu terkenal di sosial media. Terkenal akan ketajirannya dan juga ketampanannya. Saat itu berjalan melintas melewati mereka. Mereka sangat takjub melihat pemandangan yang tidak biasa, itu sangat luar biasa. Tuan tajir terlihat lebih tampan daripada di fotonya.
Ingin Rasanya mereka langsung mengahampiri lebih dekat, tapi ketika wanita di sampingnya, di tambah lagi mereka bergandengan tangan, membuat mereka jadi kikuk. Tapi tunggu sebentar, sepertinya mereka mengenali sosok wanita yang ada di sebelah tuan tajir. Namanya Rania, Rania Azkadina yang terkenal cerdas di sekolah mereka, itu menurut sudut pandang mereka yang baik pada Rania. Tapi menurut sudut pandang mereka yang iri, dia adalah Rania. Rania Azkadina yang berasal dari keluarga misqueen.
Rania langsung menghampiri beberapa guru di sana dan menyalaminya. Tidak lupa ia juga memperkenalkan Bagas pada mereka. Ada sebagian guru yang tidak menyangka kalau Rania telah menikah, ada juga yang menyayangkan Rania keluar sekolah karena prestasinya.
__ADS_1
Tidak mau kalah juga, laki-laki seangkatan maupun adik kelas Rania, sangat memuji kecantikannya. Karena waktu sekolah Rania hanya tampil seadanya dan biasa saja. Sementara kaum hawa sibuk membicarakan mereka.
"Kok seorang tuan tajir mau aja, ya, gandengan tangan sama cewek misquen itu?" ucap salah satu siswi di sana.
"Iya. Eh apa jangan-jangan dia pacarnya, atau bisa jadi suami istri?" siswi lain menebak-nebak.
"Ah, mana mungkin. Di sosial media gak pernah ada kabar kalau tuan tajir memiliki istri. Boro-boro istri, dia kan rumornya pria yang dingin. Gak mudah buat para wanita mendekatinya"
"Tapi masa, sih, sekarang dia bisa datang bersama cewek misqueen lagi?"
"Gak tahu juga, kayaknya kita harus lebih update lagi deh tentang tuan tajir si tampan itu!"
Mereka semua pada membicarakan soal Rania dan Bagas. Kebanyakan kaum hawa membicarakan yang baik-baik buat Bagas, dan menbicarakan yang buruk-buruknya untuk Rania. Yaelah, iri bilang boss!
Karena tidak mau berlama-lama lagi, dan hari sudah semakin siang, akhirnya pembaca acara mengumumkan bahwa acara akan secepatnya di mulai. Semuanya langsung duduk di kursi, yang atapi oleh tenda besar seperti acara di hajatan. Tapi Diva belum kelihatan juga, Rania jadi cemas, sebenarnya apa yang terjadi dengannya dan juga Hisam.
Kecemasan Rania pudar ketika Diva akhirnya datang juga bersama Hisam. Diva duduk di samping Rania, mereka ada di dalam barisan ke 3 dari depan. Karena yang paling depan untuk para guru.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Up lagi nih TUAN TAJIR, biar kalian gak penasaran juga. Dukung terus ya karya cerita TUAN TAJIR ini. Like, vote menggunakan poin ataupun koin.
Tadinya mau ngasih visual, tapi di pikir-pikir lebih baik kalian berimajinasi saja dengan tokoh yang kalian sukai dan cocok dengan karakter mereka. Takutnya kalau saya ngasih visul, tidak cocok dengan yang kalian harapkan. Terus takutnya jadi muncul masalah nanti di kolom komentar, karena visual yang kalian harapkan tidak sesuai dengan yang saya beri.