Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Kebahagiaan


__ADS_3

Pesta telah berakhir, para tamu undangan sudah pulang, termasuk keluarga Rania. Walaupun Bagas sempat menahan keluarga istrinya agar menginap saja, tapi mereka tetap memilih untuk pulang saja. Setelah berdebat dengan pak Burhan karena pak Burhan ingin menerima tawaran dari menantunya untuk menginap saja. Tapi bu Sari tahu betul maksud dari keinginan suaminya itu.


Bagas yang sudah selesai mandi dan mengganti pakaian dengan piyama tidurnya, ia ikut membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur bersama istrinya.


Rania yang awalnya asik memainkan ponsel, menonton film drakor seperti biasanya, langsung ia matikan dan menaruh di sampingnya ketika suaminya sudah selesai mengganti pakain tidur dan berbaring di sampingnya.


"Kemarilah!" suruh Bagas dengan tangan yang siap memeluk tubuh Rania, agar Rania memeluknya dan kepala di letakan di dadanya.


Rania menurut saja, sama sekali tidak ada kata protes untuk menolak perintah sang suami. Rania melakukannya sesuai yang Bagas minta. Bisa di bayangkan begitu hangatnya posisi mereka saat ini. Jika penasaran bisa di praktekan dengan pasangan anda! Pasangan yang sah, ya, tentunya.


"Kau tahu, aku sedang merencanakan bulan madu kita?" ucap Bagas memulai percakapan.


"Benarkah?" tanya Rania ragu


"Jadi kau mau bulan madu kemana? Kalau kita mau ke luar pulau, kita bisa pakai helikopter pribadi, aku punya itu!"


"Hem... Aku masih bingung" kata Rania sambil berpikir kemana kira-kira akan bulan madu


"Atau kalau kita mau ke luar negri, bisa pakai pesawat pribadi, aku juga punya"


"Aku pikirkan dulu"


"Atau kalau perlu, kita bisa bulan madu ke luar angkasa, aku bisa pesan roket sekarang juga untuk sampai ke sana" kata Bagas membuat Rania menyubit pinggangnya.


Sombongnya memang tidak pernah menyisakan untuk orang lain, untungnya dia tampan, kalau jelek, sombong, mungkin Rania tidak akan pernah menyukainya.


"Aww.." ringis Bagas bukan sakit, tapi geli.


"Kau terlalu berlebihan, sehingga aku jadi malas mendengar ucapanmu!"


"Aku serius"


"Aku ingin ke..."


"Kemana? Cepat katakan!"


Rania terus berpikir, Bagas mengusap-usap rambut Rania. Sesekali menempelkan ujung hidungnya ke pangkal rambut Rania. Berulang kali di lakukan.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Bandung?" tanya Rania dengan mendongakan kepalanya.


"Bandung? Kenapa Bandung?" Bagas heran, dari sekian banyaknya kota, negara, bahkan tempat-tempat yang sering di kunjungi oleh para pengantin baru, kenapa harus Bandung yang istrinya pilih.


"Aku suka kota Bandung. Kota yang paling di rindukan bagi siapa saja yang meninggalkannya setelah pergi dari sana" tutur Rania dengan semangat ketika mengucapkannya.


"Gimana, ya?" Kali ini giliran Bagas yang tengah berpikir.


"Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika aku sunyi. Aku suka tulisan dari Pidi Baiq. Aku ingin ke sana!"


"Tapi aku ingin ke luar negri, setidaknya ke Bali"


"Ya sudah lah, aku ikut kau saja" wajah Rania yang semula semangat kembali pasrah.


Sejujurnya Rania ingin ke Bandung, tidak perlu luar negri jika Bandung saja sudah mempunyai pesona keindahan alam yang tidak kalah jauh. Rania ingin sederhana saja, yang penting hasilnya yang memuaskan dan langsung tokcer. Tapi mau bagaimana lagi kalau Bagas lebih memilih tempat lain, tidak apa. Ia akan ikut saja kemanapun Bagas akan membawanya pergi. Asal berdua.


*****


Pagi harinya, di halaman gedung Briliant Gruop.


Sekretaris Frans meminta ijin kepada Bagas untuk menjemput Nadira. Bagas yang mendengarnya di buat terkejut, setelah acara pesta semalam ia melihat sekretaris Frans berdansa dengan kakak iparnya, kali ini mau menjemputnya. Seperti ada sesuatu di balik sesuatu.


"Saya pergi dulu, tuan!" pamit sekretaris Frans.


"Pergilah! Semoga berhasil" ucapnya.


Mungkin sekretaris Frans mengerti maksud tuannya mendo'akannya agar berhasil, ia membalasnya dengan senyum yang tersipu malu.


Sekretaris Frans berlalu, membawa mobilnya sendiri. Sedangkan pak sopir ikut turun bersama Bagas karena sebelum sekretaris Frans pergi, ia meminta sopirnya untuk turun dan menunggu saja di sana. Perintah tuannya memang tidak bisa di bantah, tentunya pak sopir nurut saja daripada harus di pecat.


Sekretaris Frans hampir sampai di rumah Nadira, tapi tujuannya untuk ke rumah Nadira langsung, ia urungkan ketika melihat sosok wanita yang sedang menyetop angkot di jalan.


"Bukannya itu Nadira?" tanya sekretaris Frans pada dirinya sendiri.


"Benar, itu dia. Aku harus segera mencegahnya pergi dengan angkot" katanya lagi pada dirinya sendiri.


"Tunggu!" teriak sekretaris Frans yang sudah keluar dari mobil, Nadira yang hendak naik angkot menoleh ke asal suara.

__ADS_1


Nadira menarik kembali sebelah kakinya yang sudah naik ke dalam angkot, melihat seseorang berlari menghampirinya.


"Saya di beri perintah oleh tuan untuk menjemputmu, jadi batalkan saja naik angkotnya!"


Perintah dari tuan? Bagas maksudnya? Apa tadi, untuk menjemput? Ha ha, sekretaris Frans rupanya berbohong demi menyembunyikan gengsinya.


"Oh, baiklah" Nadira mengangguk.


"Pak, maaf saya tidak jadi!" ucap Nadira pada sopir angkot, sopir angkotpun mengangguk dan kembali menjalankan angkotnya.


"Ayo!" ajak sekretaris Frans pada Nadira.


Nadira berjalan mengikuti langkah sekretaris Frans, dan masuk ke dalam mobil ketika sekretaris Frans membukakan pintu di samping kemudi.


Sekretaris Frans mulai menghidupkan mesin mobil ketika ia sudah masuk ke dalam, kemudian ia jalankan mobilnya.


Di perjalanan, tidak ada yang berani membuka suara, apalagi Nadira tidak berani berkata apapun. Keduanya sama-sama mengingat kejadian di pesta, itu membuat Nadira semakin tidak berani untuk menatap sekretaris Frans, bahkan untuk meliriknyapun tidak berani ia lakukan. Yang bisa di lakukan hanya menundukan wajahnya.


Sekretaris Frans-pun sama, ia di buat bingung oleh dirinya sendiri. Kenapa semalam ia begitu berani mengajak kakak ipar tuannya itu berdansa dengannya? Kenapa ia begitu berani mengatakan langsung kepada tuannya ingin menjemput Nadira? Entah dari mana keinginan itu datang pada dirinya. Yang jelas, yang bisa ia rasakan adalah, jantung yang berdegup kencang ketika berada di dekat Nadira.


Perasaan memang begitu, selalu datang tiba-tiba. Dan berlabuh kepada siapa kita tidak tahu. Semoga ini adalah awal kisah kebahagiaan untuk sekretaris Frans. Kebahagiaan untuk Nadira juga.


.


.


.


.


.


.


.


Part ini saya berikan kebahagiaan Bagas dan Rania. Kebahagiaan juga untuk sekretaris Frans. Setujukah sekretaris Frans dengan Nadira, kakak perempuan dari Rania? Kalau setuju nanti bisa saya atur, kalau tidak ya gimana nanti saja. Kalau cocok kenapa tidak? He he.

__ADS_1


Kalau suka bisa tinggalkan like, vote menggunakan poin atau koin. Tambahkan ke favorit untuk yang belum agar dapat notifikasi ketika up next chapter.


__ADS_2