Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Bagas


__ADS_3

Waktu makan malam pun tiba. Waktu para penghuni rumah berkumpul di meja makan, beberapa sang pelayan yang menaruh menu makan malam ini di meja dengan hati-hati.


Rania mengambi secentong nasi dan menaruhnya di atas piring putih di hadapan Bagas kemudian menanyakan lauk apa yang dia inginkan.


"Aku mau itu saja!" jawab Bagas mengedikkan dagunya ke arah rendang, dan segera di ambilkan oleh Rania.


Rania mengambil nasi dan lauk yang ia taruh di atas piring di hadapannya. Kemudian mereka makan tanpa ada suara yang terdengar. Tapi, tiba-tiba saja.


PRAKKK


Sepasang sendok dan garpu di letakkan dengan keras oleh Arsilla di samping piringnya. Ia langsung berdiri dari kursi dan nyaris pergi dari meja makan, tapi pak Brahma sang mertua Rania menanyakan ada apa dengannya.


"Aku sudah tidak punya nafsu makan lagi!" jawabnya sambil berlalu.


Bagas dan Rania hanya menatapnya sekilas, mereka tidak perduli dengan Arsilla. Bagas sudah bisa mengira, bahwa kakaknya ini semakin muak melihat adik iparnya. Apalagi ia tadi sempat mendengar teriakan kakaknya yang akan membunuh Rania. Tapi Bagas tidak menanyakan pada Rania apa yang sebenarnya terjadi. Ia memilih diam dan tidak memperdulikannya.


Sementara pak Brahma segera mengambil selembar tissue dan memilih untuk memberhentikan makannya. Rupaya ia sudah tidak punya selera lagi untuk makan setelah Arsilla yang pergi begitu saja.


Bagas pun sudah bisa menebak, papahnya pasti akan menyusul kakaknya dan menanyakan ada apa dengannya. Padahal Bagas sendiri tidak pernah mendapat perhatian seperti itu dari ia kecil. Papahnya yang super sibuk dengan urusan kerjaan lain, di tambah ibunya sudah meninggalkannya sejak melahirkannya.


Kali ini Bagas memiliki istri, istrinya begitu sabar dalam menghadapi kekejamannya. Padahal ia sudah membuat istrinya begitu menderita, tapi istrinya selalu menuruti apa yang ia mau. Walaupun sebenarnya ia tahu, dia melakukan itu bisa juga karena tajut ia akan mengancam yang ke sekian kali.


Istrinya sering memberi perhatian yang tidak pernah ia dapatkan semasa ia hidup. Apalagi ibu dari istrinya, yang saat itu mengelus pangkal rambut sampai pundaknya, membuat ia terharu. Tapi ia pandai sangat menyembunyikannya. Ia sangat menginginkan sosok ibu, dan kehadiran ibu dari istrinya mungkin dapat mengobati kerinduannya pada ibunya. Maka sejak saat itulah, Bagas berusaha untuk merubah sikap dan sifat agar ia menjadi manusia yang lebih baik dari sekarang. Meskipun tidak gampang, ia akan berusaha.


Beberapa menit kemudian, Bagas sudah selesai makan dan menarik selembar tissue untuk mengelap sisa makanan di bibirnya. Biasanya setelah ia melakukan rutinitas seperti itu, ia langsung beranjak pergi meninggalkan Rania sendiri di meja makan.


Tapi kali ini tidak, ia menunggu sampai Rania selesai dan berniat untuk kembali ke kamar secara bersamaan. Bagas memandangi Rania yang masih mengunyah makannnya.


Eh, kenapa dia tidak langsung pergi? Kenapa juga dia ngelihatin aku seperti itu. Aku jadi risih ini.


"Kau selalu selesai paling akhir" ucap Bagas membuka pembicaraan.


"Inilah cara saya" jawab Rania sambil menyendok makan suapan terakhir.


Bagas tidak mengerti dengan apa yang di katakan Rania barusan.

__ADS_1


"Cara apa?"


"Cara untuk menikmati hidup"


"Oh, ya?"


"Ya. Percuma, kau tidak akan mengerti"


Kemudian Rania mengambil segelas air putih yang belum sempat ia minum, dan kali ini ia meminumnya sampai habis. Setelah itu ia menarik selembar tissue untuk mengelap mulutnya.


Rania segera berdiri dari kursinya, di ikuti oleh Bagas. Rania melangkahkan kaki untuk kembali ke kamar, biasanya ia yang berjalan di belakang Bagas, tapi saat ini malah Bagas yang berjalan di belakangnya.


Sampai di kamar, Rania membaringkan tubuhnya di atas karpet tempat biasa ia tidur. Sedangkan Bagas membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Rania merogoh ponsel yang ada di saku depan celana, tiba-tika ketika ia menatap layar ponsel, ia jadi ingat tentang ruko yang ia sewa. Kemudian ia membuka kunci layar dan mencari kontak orang yang harus ia hubungi. Ia mengetikan pesan WhatsApp pada kontak yang ia namai Rey. Setelah itu ia meletakan ponselnya di samping kepalanya. Rania menatap langit-langit kamar, memikirkan hal yang terjadi akhir-akhir ini pada dirinya, perlakuan Bagas terhadap dirinya berubah drastis.


Apa dia benar-benar berubah ya? Aku akan pastikan bagaimana ia ke depannya. Apa dia hanya baik sesaat, atau ia akan benar-benar jadi baik permanen.


Rania terus saja memikirkan hal itu, tapi sebanyak apapun ia berfikir, tetap saja ia tidak mendapatkan jawaban yang benar-benar masuk akal bagi dirinya.


Tidak terasa, jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Waktu Bagas tersita oleh 1 hal yang ia pikirkan sampai berulang-ulang kali. Kemudian ia tersadar dari lamunannya. Tidak ada suara yang terdengar kecuali detik jam yang terus berputar. Ia melihat ke arah Rania, ternyata Rania sudah terlelap. Lalu Bagas pun memilih untuk tidur saja, dan akhirnya mereka tenggelam ke dalam dunia mimpi.


*****


Pagi hari, Bagas bangun dari tidurnya. Ia merasa sangat haus, padahal pendingin ruangan kamarnya mampu membuat orang yang ada di sana tidak akan pernah mau minum saking dinginnya.


Ia berjalan menuruni anak tangga untuk sampai ke meja makan. Ia mengambil gelas putih dan ia menuangkan air setengahnya. Bagas menghabiskan minumnya dan ia letakan kembali gelas di atas meja.


Ketika ia akan kembali ke kamar, tiba-tiba saja,


PRANGGG..


Suara piring yang jatuh ke lantai berasal dari dapur. Dengan cepat ia menghampiri seseorang yang menjatuhkan benda tersebut.


"Sudah saya bilang, hati-hati dalam mengerjakan tugas. Apa kau tahu, gaji kau selama sebulan tidak mampu membayar piring mahal yang telah kau pecahkan. Haha, jangankan gaji, harga dirimu pun bahkan tidak dapat membayar semua ini!" maki Bagas pada pelayan yang tidak sengaja memecahkan piringnya.

__ADS_1


Pelayan itu sampai menangis dan berlutut di kaki Bagas. Memohon ampun atas kesalahan yang baru saja ia perbuat.


"Ampun, tuan. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya mohon tuan, jangan pecat saya!" pelayan itu terus meminta ampunan.


Tapi Bagas tidak perduli dengan pelayan itu, ia malah menendangnya sampai tubuh pelayan itu terlempar.


Bagas terus memaki sang pelayan. Tiba-tiba muncul sorang wanita dari belakang Bagas.


"Bagas" panggilnya lirih.


Bagas langsung menengok pada wanita yang memanggilnya.


"Mamah minta sama kamu nak, kamu jangan kasar sama orang. Kamu harus bisa bersikap baik pada orang lain. Buang sifat kasar dan sombong kamu. Karena kamu tidak akan merasa tenang. Cobalah berdamai dengan dengan diri kamu sendiri. Jangan sampai emosi kamu biarkan selalu menguasai diri kamu nak. Kamu harus ingat! Kamu sayang sama mamah kan? Kalau kamu sayang sama mamah berarti kamu juga harus bisa menghargai seorang wanita, nak. Kamu ingat pesan ibu ya!"


Bagas memeluk wanita yang ada di hadapannya itu erat-erat. Begitupun wanita itu, memeluk balik Bagas dengan pelukan hangat.


"Iya mah, Bagas janji. Mulai detik ini Bagas akan menghargai seorang wanita sebagai bentuk sayang Bagas terhadap mamah. Mamah baik-baik ya di sana"


Sang pelayan yang menyaksikannya merasa terharu, kali ini ia menjatuhkan air matanya bukan karena permohonan ampun lagi terhadap tuannya. Tapi melihat tuannya yang kasar itu bisa di luluhkan seketika oleh ibunya.


Seketika Bagas bangun dari tidurnya. Nafasnya tidak beraturan, keringat mengalir dan menderas di kening Bagas, padahal di kamarnya sudah ada 2 pendingin ruangan.


Ternyata aku cuma mimpi. Ucapnya pelan.


"Mungkin aku terlalu merindukan mamah, sampai mamah hadir dalam mimpiku. Mamah datang memberi pesan, yang harus aku laksanakan" katanya pada dirinya sendiri.


Bagas menghela nafas panjang dan kembali memejamkan kedua matanya.


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR


Hallo readers TUAN TAJIR. Semoga selalu terhibur dengan cerita ini.


Like, vote, komen, tambahkan juga ke favorit😊

__ADS_1


__ADS_2