
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah sila yang ke lima dari dasar negara kita. Tapi terkadang banyak manusia yang tidak mendapat keadilan itu sendiri. Banyak manusia yang mendapat hukuman tidak sebanding dengan apa yang telah di perbuat. Atau bahkan yang lebih buruknya, ada manusia yang menerima hukuman berat tanpa melakukan sesuatu seperti yang di tuduhkan kepadanya. Miris.
Seorang gadis tengah duduk dengan membenamkan kepala di antara kedua kakinya, tangannya memeluk erat lututnya. Baju biru dengan cap TAHANAN membuat gadis yang sedang duduk di sudut ruangan berbesi itu tidak dapat hidup dengan bebas sebagaimana mestinya.
Seorang laki-laki lengkap dengan seragam polisi dan atribut membukakan kunci gembok pintu besi yang mengurung gadis tersebut.
"Bangun! Ada seseorang yang ingin menemui anda," ujar polisi setelah membukakan pintu besi tersebut.
Gadis itu mengangkat wajahnya, melihat pak Polisi sudah mempersilahkannya untuk segera keluar.
"Siapa?" gadis itu bertanya-tanya. Siapa orang yang datang untuk menemuinya. Bahkan selama ia berada di penjara tidak ada satu pun orang pihak dari keluarga Reyhan yang menemuinya di sana, termasuk keluarganya sendiri, kecuali adiknya. Adiknya memang sering datang menemuinya. Sedikit bercerita tentang kehidupannya, sekedar menghibur sang kakak.
"Anda bisa temui saja orang itu, silahkan!" pak Polisi menggerakan tangannya sekali lagi untuk mempersilahkan gadis itu untuk keluar.
Gadis itu segera melangkah keluar dari dalam kurungan yang membuat dirinya merasa tersiksa selama ini. Ia mengikuti langkah polisi dari belakang yang akan mengantarnya pada seseorang yang ingin menemuinya itu.
"Itu orangnya, anda bisa menemuinya sekarang juga!" tunjuk pak Polisi pada sosok laki-laki yang tengah duduk membelakangi, jaraknya kira-kira lima meter dari tempat berdirinya sekarang.
"Baik, terima kasih!" ucap gadis itu mengangguk.
Pak Polisi sudah pergi meninggalkannya untuk tugas lain, sedangkan ia masih berdiri di sana mengamati sosok laki-laki tersebut. Dari pada rasa penasarannya semakin meninggi, akhirnya gadis itu memberanikan diri melangkah lebih dekat menuju laki-laki itu.
Begitu sudah dekat dan berdiri di hadapannya, ia langsung bertanya. "Maaf, apakah anda betul orang yang ingin menemui saya?"
Sosok laki-laki itu mendongakkan wajahnya ketika seorang gadis tengah bertanya padanya. Gadis itu sangat terkejut ketika melihat wajah dari laki-laki tersebut. Ia melangkah mundur, matanya membulat sempurna. Wajahnya di penuhi ketakutan lagi.
"Kamu putra dari pria itu, kan? Mau apa menemuiku?" tanya gadis itu dengan mulut yang gemetar dan sangat ketakutan.
__ADS_1
"Tidak usah takut! Duduklah!" jawab sosok laki-laki itu yang tak lain adalah Reyhan.
"Tidak! Mau apa menemuiku? Pasti kamu mau membuat aku semakin tersiksa, kan? Belum cukup memenjarakan aku selama lima tahun ini? Mau memberi aku hukuman lebih lagi? Hukuman mati, itu kan yang kamu dan keluargamu inginkan?" gadis itu histetis, bahkan ia berasumsi sendiri sebelum Reyhan mengatakan maksud kedatangannya.
"Tidak, tidak! Kamu tenang, ya! Tenang!" Reyhan mengangkat kedua telapak tangannya di depan dada untuk menenangkan gadis itu.
Gadis itu mengatur nafasnya yang semakin tidak beraturan. Setelah merasa tenang, ia mau duduk di depan Reyhan seperti yang Reyhan minta.
"Kedatangan aku ke sini, bukan untuk maksud jahat. Karena aku bukan orang jahat sepertimu. Aku ingin menanyakan kejadian lima tahun lalu, kau belum sempat menjawab pertanyaanku saat itu. Sekarang, tolong jawab pertanyaanku waktu itu?" pinta Reyhan baik-baik. Gadis itu menatap Reyhan tajam, tatapan orang marah. Harusnya Reyhan yang memberi tatapan itu padanya.
"Untuk apa kamu butuh jawaban itu? Semuanya sudah terlambat! Bahkan kamu dan keluargamu menghukumku tanpa ingin mengetahui hal yang sebenarnya. Dasar manusia tidak punya hati!" Gadis itu terlihat marah dan kecewa pada Reyhan, kenapa baru datang sekarang? Selama ini kemana saja?
Reyhan tertegun, mengapa gadis ini malah marah kepadanya. Harusnya dia yang marah pada gadis itu.
"Ya aku tahu, semuanya sudah terjadi begitu lama. Maaf kalau aku baru bisa datang untuk menemuimu hari ini. Jujur, aku begitu membencimu karena kamu seorang pem--"
"Aku bukan pembunuh!" tampik gadis yang masih belum di ketahui namanya itu.
"Terserah! Aku akan menganggapmu seperti itu selama kau belum menjawab pertanyanku hari itu!"
Gadis itu mengusap setitik kristal yang jatuh dari pelupuk matanya. Ia berusaha untuk mengendalikan diri. Memejamkan keduanya matanya, lama.
"Baik, aku akan menjawab pertanyaanmu. Tapi, itupun kalau kamu percaya dengan jawabanku!" balas gadis itu akhirnya sedikit luluh.
"Silahkan jawab!" pinta Reyhan sudah tidak sabar.
Gadis itu kembali menatap Reyhan dengan tatapan serius, begitu pun dengan Reyhan.
__ADS_1
"Aku siapa? Namaku Devi. Apa yang aku lakukan di rumahmu? Aku akan ceritakan dengan sedetail mungkin. Jadi Begini..."
Pada malam hari, kira-kira pukul sebelas malam. Seorang gadis tengah berjalan kaki di tepi jalan raya yang sepi dengan wajah terlihat lelah, matanya sibuk mencari sesuatu. Rupanya ia baru pulang kerja, dan sudah tidak mendapatkan angkutan umum lagi untuk pulang. Pangkalan ojek sudah sepi, ia merogoh ponselnya di tasnya. Ternyata ponselnya mati.
"Yah, lowbat!" keluh gadis itu, dia Devi.
Akhirnya Devi memilih untuk meneruskan langkah kakinya selangkah demi selangkah, siapa tahu Tuhan mengirim seseorang yang bisa membawanya agar cepat sampai ke rumah.
Benar, permintaan Devi di kabulkan. Sebuah mobil hitam melintas dan berhenti di sampingnya, ia menoleh pada pengemudi mobil yang sedang membukakan kaca. Nampak seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan.
"Hay cantik, mau kemana?" godanya, sambil memandang tubuh Devi dari atas sampai bawah yang mengenakan gaun biru muda.
Devi merasa sedikit risih, namun ia tidak boleh mengambil kesimpulan baik buruknya seseorang begitu saja.
"Mau pulang, om" balasnya sedikit tersenyum masam.
"Pulang bareng om aja, mau?" tawarnya dengan mengedipkan sebelah mata berniat menggoda.
"Terima kasih, om. Tapi saya jalan kaki saja!" tolak Devi masih berusaha sopan.
"Yakin mau nolak tawaran om?" godanya lagi, kini ia berani mencolek dagu Devi.
Devi mundur selangkah untuk menjauh, namun pria itu tidak menyerah begitu saja. Ia malah turun dari mobilnya. Devi semakin di buat takut, ia takut kalau pria itu akan berbuat macam-macam padanya.
"Ini sudah malam, lihat jalanan ini begitu sepi! Masih dua kilo meter untuk kamu menuju jalan raya yang ramai. Lagi pula jam segini sudah tidak ada angkutan umum, lebih baik pulang bareng om aja, ya! Tidak usah takut. Tenang saja, pasti aman, kok!" tawarnya sekali lagi, ia berusaha membujuk Devi agar mau pulang di antar oleh dirinya.
Devi bingung, apa dia harus menerima tawaran pria yang tidak di kenalnya. Tuhan meamang mengabulkan permintaannya, namun yang ia kirim malah orang seperti itu. Mudah-mudah pria itu tidak berbahaya.
__ADS_1
Devi memutuskan untuk ikut saja dengan pria itu, walau dengan perasaan sedikit takut.
"Nah, begitu dong! Anak perawan gak boleh jalan sendirian tengah malam begini. Takutnya di culik om-om" pria itu merengkuh tubuh Devi berjalan menuju pintu samping mobil sebelahnya lagi. Mendengar pria itu ngomong begitu, Devi melirik sinis. Lah, bukannya anda juga om-om. Batinnya.