
Jalanan yang macet di padati kendaraan lainnya membuat mobil Reyhan tidak dapat bergerak sama sekali. Padahal ia harus mengantarkan Diva yang jarak rumahnya lebih jauh daripada arah ke rumahnya sendiri.
"Ibu kamu tidak apa-apa jam segini kemu belum sampai rumah?" tanya Reyhan memecah keheningan yang semula menyelinap di antara keduanya.
"Aku sudah mengirim pesan tadi, kalau aku akan pulang terlambat," ujar Diva.
"Oh, bagus kalau begitu. Bagaimana kalau kamu mampir ke rumah aku dulu, kebetulan ada sesuatu yang harus aku ambil untuk nanti aku berikan pada temanku. Rumahnya searah dengan alamat rumah kamu, mau?" tawar Reyhan yang tentunya menjadi kebar gembira untuk Diva.
Kalau ia di ajak ke rumah Reyhan, sudah dapat di pastikan ia pasti akan bertemu dengan orang tuanya. Siapa tahu Reyhan mau mengenalkannya pada orang tuanya. Pikir Diva.
"Mau. Boleh?"
"Boleh. Kan aku yang ngajak kamu. Kita lewat jalan alternatif lain untuk menghindari kemacetan ini," ujar Reyhan.
"Iya." Diva tentunya sudah tidak sabar untuk mengunjungi rumah calon mertua, padahal resmi jadian saja belum sudah berharap terlalu jauh.
Akhirnya Reyhan mencari jalan alternatif yang akan mempercepat dirinya untuk sampai ke rumah. Dan benar, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja mereka sudah bisa sampai di tujuan.
"Ini rumahku, ayo turun!" ujar Reyhan ketika ia sudah memarkirkan mobil di halaman depan rumahnya.
Diva pun turun dari mobil, ia tercengung ketika melihat rumah Reyhan ternyata lebih besar daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Lalu kenapa Reyhan mau bekerja di ruko, kalau ia mempunyai rumah sebesar ini? Pikir Diva dalam hatinya. Itu menjadi sebuah pertanyaan yang patut ia tanyakan, nanti.
"Ayo, masuk!" Reyhan menarik lengan Diva yang masih berdiri di samping body mobil, dengan mata yang terus mengedarkan ke seluruh sudut rumah di hadapannya.
Begitu masuk ke dalamnya, ternyata rumah Reyhan tidak kalah bagusnya dengan rumah suami Rania. Meskipun rumah suami Rania masih terbilang paling bagus, tapi setidaknya rumah Reyhan sebelas dua belas dari rumah suami temannya itu.
"Kamu duduk di sini, tunggu sebentar, ya! Aku ambil sesuatu dulu ke kamar," pinta Reyhan, Diva pun mengangguk setuju.
__ADS_1
Reyhan bergegas menaikki tangga, sepertinya kamarnya berada di lantas atas. Sedangkan Diva sibuk memandang ruang tamu yang luasnya sangat besar di bandingkan ruang tamu di rumahnya.
Seorang wanita tengah berjalan dari arah dapur, terlihat di tangannya membawa gelas berisi air putih. Begitu ia akan naik tangga, tiba-tiba matanya tertuju pada sosok gadis yang tengah duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Ia mengerutkan kening heran, siapa sosok gadis tersebut? Perasaan ia tidak memiliki pelayan seorang gadis di rumahnya dari dulu.
Dengan rasa penasaran yang terus menghampiri dirinya, akhirnya wanita itu perlahan melangkahkan kaki untuk menghampiri gadis tersebut. Jaraknya semakin dekat dan rasa penasaran pun semakin membesar. Akhirnya ia memberanikan diri untuk menanyakan identitas gadis itu.
"Kamu siapa?" wanita itu menyentuh bahu Diva dari belakang, sebut saja namanya Iren.
Diva terkejut begitu ada sosok wanita menyentuh bahunya. Ia segera berdiri dari duduknya karena ia pikir wanita itu adalah orang tua dari Reyhan.
Begitu Diva menoleh, Iren lebih di kejutkan lagi ketika melihat wajah gadis itu mirip seperti wajah gadis di masalalu, kurang lebih lima tahun yang lalu.
"Kamu.." Iren menunjuk wajah Diva dengan tangan yang gemetar dan raut wajah yang sudah berubah menjadi ketakutan sekaligus rasa amarah.
"Tante itu ibunya Reyhan, ya? Perkenalkan nama saya.."
"Kenapa kamu ada di rumah saya? PEMBUNUH!" seru Iren dengan nada bicara tinggi.
Diva hanya diam seakan di buat bingung dengan sikap wanita di hadapannya. Mengapa dia mengatainya sebagai pembunuh. Ada apa, ini? Diva bertanya-tanya dalam hatinya. Ia benar-benar tidak tahu apa-apa.
"Jawab pertanyaan saya! Kenapa kamu ada di sini? Untuk apa datang lagi ke sini? Apa hukumanmu itu sudah berakhir sehingga kamu bisa berkeliaran dengan seenak hati? Siapa terget selanjutnya yang akan kamu bunuh itu? KATAKAN! KAMU MAU MEMBUNUH SAYA JUGA?" Iren mengguncang-guncangkan tubuh Diva ketika ia berhasil berdiri, Iren juga menarik rambut Diva dengan kuat sehingga membuat Diva meringis kesakitan.
"Ampun tante, aku sama sekali tidak mengerti apa maksud tante!" Diva sama sekali tidak berontak, tapi ia berusaha untuk melepaskan tarikan rambut yang begitu membuatnya meringis kesakitan.
Dari lantai atas kamar Reyhan, ia mendengar suara keributan. Aneh sekali rasanya ada suara keributan di rumahnya. Seketika Reyhan teringat sesuatu, sepertinya ada bahaya di sana. Reyhan segera bergegas melangkahkan kaki menuruni anak tangga dengan kecepatan maksimal. Dan benar dugaannya, Mama-nya sudah habis-habisan mencaci maki gadis yang ia ke rumahnya itu. Kesalahpahaman pun terjadi lagi.
"PERGI KAU PEMBUNUH! PERGI..!" Iren mendorong tubuh Diva dengan sekuat tenaga, lagi-lagi Diva jatuh tersungkur dengan kerasnya, sehingga membuat keningnya menyentuh lantai dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
Reyhan segera melerai keributan antara Mama-nya dengan Diva. Ia memeluk tubuh Mama-nya yang berontak untuk membuat gadis itu jera.
"Ma, sudah ma! Hentikan! Dia bukan.."
"Lepaskan Mama, Reyhan! Dia pantas menerima semua ini, lepaskan! Dia pembunuh! DIA PEMBUNUH!" Iren terus histeris, Reyhan pun sampai kewalahan mendekap tubuh Mama-nya agar tidak melukai Diva yang tidak tahu apa-apa.
Tidak ada pilihan lain, Reyhan membopong tubuh Mama-nya dan membawanya ke kamarnya. Diva menatap mereka dengan nanar. Dosa apa dia sehingga di tuduh pembunuh oleh ibunya Reyhan.
Pertemuan yang ia impikan dan idamkan sebelumnya akan menjadi pertemuan yang sangat indah itu, ternyata menjadi pertemuan yang sangat buruk. Bahkan tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Perlahan Diva mengangkat tubuhnya berusaha untuk berdiri, sambil memegangi pelipisnya yang berdarah itu. Tanpa menungggu Reyhan terlebih dahulu, Diva pergi melangkahkan kaki dari rumah itu. Ia meninggalkan bekas darah di lantai ruang tamu rumah Reyhan.
Dengan langkah yang tidak beraturan, Diva menyusuri jalan raya untuk mencari sebuah angkutan umum. Pikirannya di penuhi oleh kekacauan kejadian tadi, darah di pelipisnya mengalir bersamaan dengan air matanya yang mengalir begitu saja tanpa henti. Malang sekali nasibmu, nak!
.
.
.
Coretan Author:
Maaf baru update, di tempat kediaman saya kerap sekali mati lampu. Andai saja saya bisa numpang di rumah tuan tajir. Pasti saya gak bakalan tuh ngerasain namanya mati lampu.
Follow ig: wind.rahma
Like, komen, dan vote yang banyak, ya!
__ADS_1