
Malam itu juga, Bagas segera meminta sekretaris Frans untuk mengatur semua keberangkatan menuju Maroko kemudian Kutub Utara. Dengan menggunakan pesawat pribadi sepertinya tidak akan membutuhkan waktu yang sangat lama.
Paginya, sopir yang menjemput sekretaris Frans datang ke rumah tuannya untuk mengantarkannya ke bandara. Ia juga membawa Nadira ke rumah Bagas sesuai permintaannya juga untuk menemani Rania selama ia memenuhi permintaannya yang aneh itu.
Perjalanan dari Indonesia tepatnya dari Jakarta ke Maroko membutuhkan waktu sekitar belasan jam, hanya untuk memetik buah dari kebun orang yang belum tentu ia tahu di mana letak kebun tersebut. Dan ia harus pergi ke Kutub Utara yang akan membuatnya kedinginan berada di sana. Ini semua akan Bagas lakukan demi calon anaknya agar tidak ngeces. Wah, hebat.
Setelah Bagas pergi bersama sekretaris Frans yang akan menemaninya, Nadira segera membawa Rania yang masih mematung memandang punggung mobil yang sudah hilang dari pandangan, mengajaknya masuk ke dalam rumah. Sang kakak merengkuh bahu adiknya itu sampai duduk di sofa ruang tamu.
Nadira menatap adiknya ini dengan penuh heran dan kebingungan.
"Rania, lain kali kalo ngidam jangan sampai membuat suami kamu kerepotan seperti itu! Resikonya seperti sekarang, kamu harus di tinggal selama beberapa hari ke depan," ujar Nadira tak habis pikir dengan adiknya.
"Iya, kak Nad. Maaf! Kak Nad kasih tahu ibu juga?"
Nadira menggeleng. "Mana mungkin kakak kasih tahu ibu, yang ada ibu akan khawatir berlebihan kalau tahu Bagas pergi sejauh ity untuk beberapa hari hanya untuk memenuhi ngidam kamu yang gak masuk di akal ini!" ujar Nadira.
"Terima kasih ya, kak Nad. Tapi Rania juga tidak tahu, ini bukan keinginan Rania. Rania harap kak Nad mengerti!" Rania duduk lebih mendekat dan memeluk kakaknya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Nadira membalas pelukan sang adik dengan membelai rambutnya. Nadira tidak habis pikir, kenapa adiknya bisa semanja ini sekarang? Selain mencemaskan adik iparnya, Bagas, Nadira juga lebih mencemaskan sekretaris Frans. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan sekretaris Frans, calon suaminya itu. Tunggu sebentar! Calon suami? Ternyata Nadira ngarep juga. Haha.
***
Beberapa hari kemudian, Rania tengah duduk sendiri di taman belakang rumahnya. Karena Nadira sebelumnya sudah pamit untuk pergi sebentar ke supermarket karena ada sesuatu yang harus ia beli.
Rania memandang gelas berisi air putih yang di meja di hadapannya saat ini. Ia merasa sangat bersalah sekali dengan permintaannya beberapa hari yang lalu, yang membuat Bagas harus benar-benar berjuang untuk mendapatkan jeruk dari Maroko dan es dari Kutub Utara untuk di jadikan es jeruk. Seharusnya ia tidak meminta hal itu.
Benar yang di katakan kakaknya, resiko yang ia tanggung adalah harus di tinggal untuk beberapa hari. Apalagi Bagas maupun sekretaris Frans tidak memberinya kabar sama sekali. Itu yang membuat dirinya semakin khawatir dan merasa bersalah. Saat ini Rania tenggelam dalam lamunan dan pikiran yang membuatnya kacau.
__ADS_1
Saat ia sedang tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba seorang pria yang tidak asing baginya datang menghampirinya dengan membawa nampan berisi es jeruk. Tentu saja kalian bisa tebak siapa dia? Dia Bagas Ardinata Kusuma.
Bagas akhirnya kembali dengan membawakan es jeruk yang ia petik sendiri dari kebun di Maroko dan es yang ia ambil sendiri dari Kutub Utara. Jangan tanya pakai apa dia membawa es tersebut supaya tidak mencair. Karena ada alat tertentu yang sudah Bagas beli ketika ia berada di Maruko. Bagas kembali ke rumah, namun ia tidak mendapati istrinya maupun kakak iparnya.
Pelayan yang memberi tahu Bagas kalau Rania sedang merenung di taman belakang rumah, saat itu juga Bagas segera membuatkan es jeruk sesuai permintaan sang istri.
Begitu Rania lihat pria di hadapannya yang sedang membawakan nampan berisi es jeruk tersebut, ia tercengung dan tidak percaya kalau Bagas telah kembali. Bukannya segera merangkulnya untuk kebahagiaan karena Bagas sudah kembali, Rania justru malah terdiam, membisu, dan menatap Bagas dengan waktu yang cukup lama.
"Es jeruk sesuai permintaanmu telah datang, sayang! Jeruk yang aku petik dari kebun di Maroko dan es yang aku ambil dari Kutub Utara, semua aku lakukan demi kau, Rania sayang!" Bagas meletakkan nampan tersebut di atas meja.
Saat mendengar perjuangan Bagas, saat itu juga Rania menghambur dan segera merangkul tubuh sang suami dengan eratnya. Ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa, Bagas sungguh mengambulkan permintaannya.
Rania meraba tubuh dan pipi Bagas dengan wajah cemas sekaligus bahagian karena suaminya sudah ada berdiri di hadapannya lagi.
"Kau ba-baik saja, kan?" tanya Rania dengan penuh kekhawatiran.
"Tidak, harusnya aku yang minta maaf! Aku yang telah membuatmu susah hanya untuk mengabulkan permintaanku yang tidak masuk di akal ini!" Rania tak henti meminta maaf karena rasa bersalahnya.
"Ini sudah menjadi kewajibanku menjadi seorang suami sekaligus ayah dari calon anak kita. Jadi berhentilah meminta maaf dan jangan mengatakan permintaanmu itu tidak masuk akal!" Bagas menatap kedua manik mata Rania dalam dan secara bergantian.
"Tapi aku takut kalau kau sampai kenapa-kenapa, dan anak kita terlahir tanpa..!" ucap Rania segera di tampik oleh Bagas.
"Shttt.." Bagas menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir sang istri. "Kau jangan bicara seperti itu! Memangnya kau mau kalau itu sampai terjadi gara-gara pikiran dan ucapanmu yang akan menjadi sebuah do'a?"
Rania menggeleng lemah.
__ADS_1
"Yang terpenting saat ini, aku sudah kembali dengan membawa es jeruk sesuai permintaanmu. Sekarang kau minum!" tambah pria itu.
Rania mengangguk lemah, dan benar apa yang di katakan Bagas. Kalau ia berpikiran buruk, maka sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan ia tidak mau itu.
"Ini, minum sampai habis!" Bagas memberikan gelas berisi es jeruk itu, dan di terima oleh Rania.
"Iya," Rania mengangguk kemudian meminum es jeruk itu.
"Enak?" tanya Bagas memastikan.
"Lebih enak dari yang aku bayangkan. Terima kasih, ya!"
"Berarti aku tidak sia-sia pergi ke Maroko lalu ke Kutub Utara." ujar Bagas, Rania tersenyum.
Rania meneguk lagi es jeruk itu hingga menyisakan gelas kosongnya saja. Bagas merasa puas dengan apa yang ia berikan hari ini, dengan perjuangan penuh ia mendapatkan semua itu. Karena belum tentu juga pria lain melakukan itu untuk memenuhi keinginan ngidam sang istri dan calon si buah hati. Tuan tajir gitu, lo.
"Mau nambah lagi? Biar aku buatkan lagi, tapi harus pergi lagi ke Maroko dan Kutub Utara!" ujar Bagas bercanda.
"Hehe, tidak usah. Terima kasih sayang!" Rania kembali memeluk erat tubuh sang suami. Bagas Ardinata Kusuma.
.
.
.
Coretan Author:
__ADS_1
FOLLOW IG: wind.rahma
Yuk nabung poin, biar bisa vote author yang banyak!