
Di meja makan yang hanya ada dua orang saja di sana, yakni Bagas dan Rania sedang sarapan pagi ini. Rania menundukkan wajahnya, dan ia merasa selera makannya hilang begitu saja ketika Bagas meminta dirinya untuk berhenti bekerja. Kenapa Bagas harus memutuskan keputusan itu secepat ini, padahal usia kehamilannya baru saja menginjak satu bulan.
Sedangkan Bagas memandang wajah istrinya yang kian menunduk, dengan tangan yang sibuk mengaduk-aduk makanan menggunakan sendok di piringnya yang masih utuh.
Maafkan aku, sayang! Kau pasti sulit untuk menuruti permintaanku. Tapi aku membuat keputusan ini untuk kebaikanmu dan calon anak kita. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada calon bayi kita. Ujar Bagas dalam hati.
Sepuluh menit berlalu, makanan di piring Rania masih saja utuh. Namun Bagas sendiri sudah selesai menghabiskan makanan itu karena masakan istrinya yang begitu enak membuatnya makan dengan lahap.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Bagas lirih, Rania mendongakkan kepalanya dan tersenyum masam.
"Aku, aku tidak apa-apa!" jawab Rania bohong.
Bagas meraih buah tangan Rania. "Aku tahu ini pasti berat untukmu, tapi semua demi kebaikan calon anak kita!"
Rania terdiam, kalau sudah tahu berat kenapa harus membuat keputusan secepat itu.
"Iya, tidak apa-apa. Tapi apa aku boleh sesekali main ke ruko? Kau tenang saja, aku ke sana bukan untuk bekerja!" pinta Rania sedikit memohon.
"Ya, tentu saja. Aku pasti akan mengizinkannya. Kalau hari ini kau akan pergi ke sana pun aku akan mengizinkannya. Tapi untuk hari ini saja, untuk memberi tahu semua pegawaimu kalau kau tidak akan bekerja lagi. Dan kau bisa menyerahkan pekerjaan itu ke pegawaimu!" ujar Bagas membuat Rania sedikit lega, dia pikir Bagas tidak akan pernah lagi mengizinkannya untuk pergi ke ruko. Tapi, syukurlah!
"Benarkah?" Rania terlihat gembira.
"Iya, sayang. Sekarang kau siap-siap, ganti pakaianmu! Aku tunggu di mobil, sepuluh menit!" ujar Bagas.
Rania segera bergegas melangkahkan kaki dari meja makan untuk mengganti pakaian. Sebelumnya ia mengecup pipi sang suami terlebih dahulu sebagai tanda terima kasih.
***
Di ruko.
Pegawai Rania sedang berkumpul di hadapannya. Rupanya ia akan memberitahu tentang keputusan suaminya untuk berhenti bekerja. Semua pegawainya terlihat bertanya-tanya dengan apa yang akan bos-nya ini bicarakan. Rania juga nampak bingung harus bagaimana mengatakannya. Mereka juga pasti akan terlihat sedih seperti dirinya.
"Jadi begini, saya mengumpulkan kalian karena saya ingin memberi tahu kalau saya akan berhenti bekerja membimbing kalian mulai hari ini dan seterusnya. Saya serahkan semuanya pada pak Reyhan, dan Diva juga akan juga akan menjadikan Diva untuk membantu pak Reyhan bekerja," ujar Rania membuat seluruh pegawainya tercengung tidak percaya, termasuk Reyhan.
__ADS_1
"Kamu serius?" tanya Reyhan tidak percaya, apa yang di katakan Rania itu hanya sekedar canda atau sungguhan?
"Serius. Kamu tidak keberatan, kan?"
"Tapi kenapa mendadak seperti ini?" Reyhan masih mengharapkan dirinya menjadi partner kerja Rania.
"Iya, bu. Kenapa ibu membuat keputusan secara tiba-tiba?" sahut para pegawainya.
"Iya, Rania. Kamu yakin mau menjadikan aku partner baru untuk pak Reyhan?" Diva ikut menimpali.
"Itu semua sudah menjadi keputusan saya. Karena saya juga sedang mengandung anak pertaman saya. Saya harap kalian mengerti dengan keputusan saya!" harap Rania yang sebenarnya itu berat untuk ia katakan di depan seluruh pegawainya.
Semuanya menunduk, ada yang bisik-bisik juga karena menyayangkan bos-nya yang tiba-tiba saja pamit undur diri. Mereka akan kehilangan orang yang selama ini membuat mereka selalu bersemangat ketika bekerja. Apalagi ketika Rania menyebutkan kalau Diva akan menjadi pengganti partner-nya. Semangat pegawai yang tidak begitu menyukai Diva down seketika.
Sementara Diva merasa senang dan sedih. Sedih karena Rania harus berhenti dari ruko, dan senang karena ia telah mendapat kepercayaan untuk menjadi bagian paling penting di sana.
"Tapi kalian tenang saja! Saya berhentu bekerja karena alasan saya yang sedang mengandung, bukan berarti saya berhenti sepenuhnya. Karena bisnis ini kan milik saya, dan saya pasti akan mengunjungi ruko jika saya bosan di rumah!" tutur Rania, sedikit membuat pegawainya merasa lega.
Mereka juga berpikir kalau bos-nya ini akan berhenti bekerja total. Tapi benar juga, bisnis ini kan milik bos Rania. Mana mungkin ia menyerahkan begitu saja pada Reyhan dan Diva. Mereka juga sama, hanya seorang pekerja. Hanya saja yang membedakan, Reyhan sebagai tangan kanan dan sebagai kepercayaannya.
"Baik, bu!" jawab para pegawainya serentak. Lalu mereka membubarkan dirinya untuk kembali bekerja mengemas barang dan yang lainnya.
***
Terlihat mobil berwarna merah sedang di kemudikan oleh Hera, dan ada Arsilla duduk di sebelahnya. Mobil yang Hera kemudikan sedang berjalan menyusuri komplek di jalan XX. Tiba-tiba Arsilla teringat sesuatu ketika melihat plang jalan tersebut.
"Tunggu, tante! Sepertinya aku pernah mendengar alamat jalan ini, deh," ujar Arsilla sambil mengingat-ingat.
"Kapan?" tanya Hera sambil fokus menyetir.
Arsilla terus mengingat-ingat, sampai akhirnya ia mengingat sesuatu itu.
"Kalau gak salah, ini kan alamat jalan rumah Bagas? Kemarin Rania share loc ke whatsApp. Bentar, aku cek!" Arsilla mengambil ponselnya di dalam tas, setelah ia cek ternyata benar.
__ADS_1
"Jalan XX nomer.." Arsilla menggantungkan kalimatanya setelah mobil yang ia tumpangi melewati alamat yang ia akan sebutkan.
"Berhenti, tan!" pinta Arsilla, Hera-pun segera berhenti dan menepikan mobilnya.
"Lihat, tan! Benar kan ini alamat rumahnya?" Arsilla menunjukkan alamat yang ada di ponselnya itu pada Hera.
"Iya, benar." Hera mengangguk dan menyeringai. "Akhirnya kita tahu juga alamat rumah baru Bagas. Kebetulan tidak jauh dari rumah teman tante yang tadi," ujarnya.
"Iya, tante. Kita mampir dulu, jangan?" tanya Arsilla.
"Tidak usah! Lain kali kita pasti akan menginjakkan kaki di sana!" ujar Hera, bibirnya menyeringai. Ia mentap rumah Bagas yang terlihat sepi.
"Kenapa tidak sekarang saja, tan?" rupanya Arsilla sudah tidak sabar untuk mampir ke rumah baru adiknya.
"Jangan sekarang, Silla! Kamu lihat, rumahnya sepi. Pasti Bagas dan Rania sedang tidak ada di rumah. Kita akan sia-sia bertamu tanpa ada pemiliknya!"
"Iya, juga. Kalau begitu, sekarang kita akan ke mana lagi?" tanya Arsilla.
"Tante akan membawamu pergi ke suatu tempat yang akan membuatmu bersenang-senang di sana!" jawab Hera membuat Arsilla penasaran
"Tempat apa, tan?"
"Let's go, kita pergi ke sana sekarang!"
Setelah itu Hera kembali menghidupkan mesin, dan menancap gas pergi dari sana.
.
.
.
Coretan Author:
__ADS_1
Followi ig: wind.rahma
Like, vote yang banyak, ya!