
Bagas kembali dengan membawa dua porsi seblak di kantong kresek di tangannya. Ia takut kalau istrinya tidak akan kenyang jika di belikan satu porsi saja, karena ia yang tengah berbadan dua ini memang akan ngaruh dalam segi konsumsi.
Begitu Bagas masuk ke dalam kamar, ia mendapati istrinya yang tengah duduk di sofa sedang menunggunya. Namun yang membuat ia heran adalah ketika istrinya sedang menatap ke sembarang arah, di sertai senyuman yang menghiasi wajah cantiknya. Raut wajahnya terlihat bahagia, namun apa yang membuatnya ia bahagia seperti ini?
"Sayang, ada apa? Kau nampak begitu bahagia? Ayolah, ceritakan padaku!" ucap Bagas ketika ia duduk di sebelah Rania.
"Ya, kau benar. Aku memang sedang bahagia," balas Rania sedikitpun tak memudarkan senyuman di bibirnya.
"Coba ceritakan, apa yang membuatmu nampak sebahagia ini!" pinta Bagas seraya bersiap untuk menjadi pendengar yang baik.
"Kau pasti akan terkejut!"
"Apa, sih? Jangan buat aku semakin penasaran!" ucap Bagas tidak sabar.
"Pertama, kau mungkin terkejut ketika mengetahui kalau kakak ipar memperlakukan aku dengan buruk. Kedua, barusan kakak ipar meminta maaf padaku!"
"Benarkah?" tanya Bagas tidak percaya.
"Iya. Bahkan dia memelukku, ia juga sampai menangis. Aku sampai terharu di buatnya," jelas Rania sambil membayangkan momen tadi bersama Arsilla.
"Kakak memelukmu? Ah, yang benar saja!" Bagas benar-benar tidak percaya.
"Iya. Aku mengatakan yang sejujurnya. Mudah-mudahan kakak ipar berubah sepertimu," ucap Rania penuh harap.
"Baguslah kalau begitu. Dengan begitu, hidup ini akan menjadi damai dan tentram," ucap Bagas merasa lega.
Tidak, sayang! Masih ada satu lagi. Iya, dia tante Hera. Gumam Rania dalam hati.
"Ini pesanannya, mbak!" Bagas memberikan kantong kresek berisi seblak yang hampir di lupakannya.
"Terima kasih, mang!" balas Rania ketika menerima.
"Mang? Emangnya aku ini tukang ojek?" protes Bagas tidak terima, namun hanya sebatas bercanda.
__ADS_1
"Kan Driver ojek online!" jawab Rania tidak kehabisan kata.
"Hahaha.." Bagas tertawa, ternyata istrinya cukup baik dalam menerima candaannya. Bahkan ia mampu mencandainya balik.
Rania membuka kantong kresek itu dan terdapat dua porsi di dalam sana. Ia mengambil satu porsi.
"Ini dua untuk siapa saja? Untukmu?" tanya Rania bingung.
"Untukmu! Aku sengaja belikan dua porsi, jaga-jaga takutnya kau tidak kenyang. Itu belinya jauh, aku rela antri untuk membeli itu buat menuhin keinginan kamu, lebih tepatnya calon anak kita," jawab Bagas seraya mengelus perut Rania, ia membenamkan wajahnya di sana dan mendaratkan ciuman sekilas.
"Terima kasih calon ayah!" ucap Rania dengan gaya bicara seolah ia adalah calon bayinya.
"Sama-sama, sayang!" balas Bagas juga membalas senyum Rania.
Rania langsung saja memakannya, di sana sudah tersedia sendok plastik. Suapan demi suapan ia masukkan ke dalam mulutnya. Keringat di dahinya mulai bercucuran, dan mulut yang terus mengatakan, "huhh..haah" karena kepedasan. Itu adalah level super pedas seperti yang ia minta.
"Kau baik-baik saja?" tanya Bagas cemas melihat istrinya yang kepedasan itu.
"Minum!" pinta Rania sambil menahan pedas.
"Ah, sial! Ternyata ini tidak senikmat yang aku tonton di youtube, ini membuatku menderita karena kepedasan!" gerutu Rania, tapi ia masih melanjutkan suapan itu sampai akhirnya dua porsi seblak itu ia sikat sampai habis. Tidak menyisakan apapun kecuali noda bekas sedikit kuahnya yang merah melekat di wadah makanan styorofoam.
"Huhhh..haahhh.. Kenapa dia lama sekali!" Rania sudah kewalahan menahan seblak yang membuatnya kepedasan itu.
Tidak lama kemudian, Bagas kembali. Ia membawakan air bersama dengan tekonya, sengaja berinisiatif karena melihat istrinya yang begitu kepedasan membuatnya merasa kasihan.
"Ini, sayang!" Bagas berlari kecil untuk menghampiri istrinya dari ambang pintu. Ia segera menuangkan air ke gelas yang ia bawa bersama teko kaca.
"Cepatlah!" Rania sudah tidak sabar ingin minum, membuat Bagas yang menuangkan air tak karuan sampai bercucuran ke lantai.
Rania menerima satu gelas air minum dan ia teguk habis dalam waktu sekejap. Namun satu gelas saja rasanya tidak cukup, ia meminta Bagas untuk kembali menuangkan airnya. Karena lama, Rania langsung saja merebut teko itu dari tangan Bagas dan menuangkan langsung ke dalam mulutnya, hingga menyisakan setengahnya lagi.
Bagas bergidik sendiri melihat kelakuan istrinya. Tapi itu masih bisa di katakan bagus, lah. Tidak apa-apa dan tidak ada masalah. Dari pada seorang istri yang sudah halal namun masih jaga image dengan suami.
__ADS_1
"Hah, ternyata aku minum sebanyak ini tidak berpangaruh juga. Lidahku terasa terbakar, huhhh..haaahhh. Panaaaasss.." Rania menggibas-gibaskan tangan di depan mulutnya, semoga itu bisa menghilangkan rasa pedas yang melekat di lidahnya.
Beberapa menit kemudian, Rania merasakan perutnya mulas. Ia tidak dapat menahan lagi antara pedas dan mulas itu. Semua jadi campur aduk tidak karuan.
"Aww..perutku sakit sekali!" rengek Rania sambil memegangi perutnya.
"Kau baik-baik saja kan, sayang?" tanya Bagas panik.
"Perutku terasa mulas!"
"Kau tadi makan dulu, kan?" tanya Bagas memastikan, Rania menggeleng.
"Aku sudah bilang, makan dulu!"
"Aku tadi sempat mau makan, tapi kakak ipar mengajakku untuk bicara di dalam kamarnya!" pekik Rania karena merasa di salahkan.
"Ya sudah, kita ke rumah sakit sekarang, ya!" Bagas langsung merengkuh tubuh istrinya bersiap membawa ke rumah sakit. Ia terlihat begitu panik dan khawatir.
"Tidak usah!" tolak Rania.
"Kenapa?"
"Ini sakit perut biasa. Dan sepertinya aku ingin buang air besar!" ucapnya sambil beranjak pergi menuju kamar mandi.
Sementara Bagas semakin tidak tenang, ia berjalan mondar-mandir menunggu Rania untuk segera keluar dari kamar mandi. Ia semakin panik, khawatir berlebihan, ia mencemaskan bayi yang ada dalam perut istrinya. Bagas semakin tidak karuan, perasaannya campur aduk. Bagas mengambil teko sisa Rania istrinya, dan melakukan hal yang sama seperti Rania, yaitu menuangkan langsung ke dalam mulutnya, hingga menyisakan air sedikit lagi. Ia juga sudah duduk, namun bangkit lagi. Berjalan lagi maju mundur maju mundur cantik. Kedip mata biar kau tertarik. Mundur lagi mundur lagi mundur, cantik cantik cantik, cantik. Hayo, siapa yang ikut nyanyi. Hehe.
.
.
.
Coretan Author:
__ADS_1
Jangan lupa untuk VOTE, ya! Like, komen, tambahkan ke favorit bagi yang belum. Ayo, bantu author untuk promosikan cerita ini, dengan merekomendasikan kepada para pembaca lainnya. Seperti di grup facebook atau media sosial lainnya. Agar lebih ramai lagi pembaca, ya! Tapi buat yang ikhlas saja. Terima kasih untuk yang selalu support saya, selalu memberi saya semangat. Author sayang kalian semua. Sampai jumpa di bab selanjutnya.