Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Nama Putri Bagas & Rania


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti di halaman rumah Bagas, dia adalah Brahma. Yang tidak sabar untuk bertemu lagi dengan cucu yang belum juga di beri nama. Setelah turun dari mobil, Brahma bergegas melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah Bagas. Dia tidak menemukan Bagas di ruang tamu, mungkin Bagas dan Rania beserta cucunya ada di kamar.


Brahma menghampiri pelayan yang sedang membersihkan piring di meja makan yang tidak jauh dari ruang tamu.


"Dimana Bagas?" Brahma bertanya pada pelayan tersebut.


Pelayan itu menoleh ke asal suara. "Tuan Bagas ada di kamarnya."


"Bisa panggilkan dia sekarang?! Beri tahu dia kalau saya sudah datang!" titah Brahma, segera di angguki oleh pelayan tersebut.


"Baik, tuan," pelayan itu menaruh lagi beberapa tumpukan piring kotor di meja, yang barusan akan dia bawa ke dapur.


Pelayan itu sudah berada di depan pintu kamar tuan dan nonanya. Kemudian dia mengetuk pintu kamar tersebut.


Tok tok tok..


Suara ketukan pintu membuat Bagas dan Rania menoleh ke sumber suara.


"Biar aku saja yang membukanya!" Bagas mencegah Rania yang nyaris bangkit dari duduknya, untuk membukakan pintu.


Bagas membuka pintu kamarnya, dan muncul pelayan di ambang pintu.


"Permisi, tuan! Ada tuan besar di depan," ucap pelayan memberi tahu.


"Beri tahu dia untuk langsung kemari!"


"Baik, tuan," pelayan itu membungkukan tubuhnya sekilas, sebagai tanda hormat seperti biasanya. Kemudian pergi dari hadapan Bagas.


"Ada apa?" Rania bertanya penasaran.


"Papa sudah datang," jawabnya.


Saat ini Rania sedang mengganti popok putri kecilnya. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja Rania sudah dapat menyelesaikannya. Seperti seorang ibu yang sudah begitu berpengalaman dalam mengurus seorang bayi.


"Kau harus perhatikan kalau aku sedang mengganti popoknya, karena siapa tahu nanti aku sedang di kamar mandi. Dan kau harus belajar menggantikan popoknya!"


Bagas memeluk tubuh istrinya yang sedang membungkuk dari belakang. "Iya, sayang. Aku ini kan suami sekaligus seorang papa yang siaga."


"Papa? Aku sudah bilang, kalau putri kita akan memanggilmu dengan sebutan ayah!"

__ADS_1


"Tidak mau, pokoknya harus papa!" mereka kembali mempermasalahkan soal sebutan.


"Ada apa Bagas? Harus papa, apa?" tiba-tiba pak Brahma datang dan tidak sengaja mendengar pembicaraan putra dan menantunya.


"Em.. Papa," Bagas dan Rania mencium punggung tangan Brahma.


"Cucu opa baru sehari tidak ketemu saja sudah besar dan semakin cantik," pujinya, ia menyubit pelan pipi cucunya dengan gemas.


"Iya, pa. Alhamdulillaah dia juga tidak rewel," ucap Rania.


"Syukurlah. Sini, opa gendong, nak!" Rania memberikan putrinya pada mertuanya.


"Jadi, tadi maksud kamu apa, Bagas? Apa yang harus papa itu?" Brahma kembali bertanya ketika Bagas tadi belum sempat menjawab pertanyaannya.


"Begini, pa. Jadi aku sama Rania ini mempermasalahkan soal sebutan kita sebagai orang tua. Aku mau putri kita menyebutku dengan sebutan papa dan menyebut Rania dengan sebutan mama. Sedangkan Rania maunya ayah dan ibu. Begitu, pa," jelas Bagas, jujur mereka sedikit malu dengan hal kecil seperti itu mereka permasalahkan.


"Kalau menurut papa, lebih baik putri kalian menyebut kalian dengan sebutan papa dan mama saja. Itupun kalau Rania setuju," Brahma menyetujui pendapat putranya.


"Yes, aku yang menang. Wle," umpat Bagas dengan menjulurkan lidahnya pada Rania. Sedangkan Rania melirik tajam mata Bagas, tentu saja mertunya ini akan menyetujui pendapat putranya.


"Iya, ayah," jawab Rania mengalah.


"Cucu opa ini siapa namanya? Kok opa belum di kasih tahu, sih?" tanya Brahma pada bayi di pangkuannya, dengan gaya bicara yang sengaja dia rubah seperti anak kecil.


"Cucu opa ketawa. Senang nak, di gendong opa?" Brahma membuat nada bicaranya seperti tadi, dan tanpa mereka duga, bayi itu lagi-lagi meresponnya dengan tawa yang cukup lama.


Bagas, Rania, dan Braham juga ikut tertawa. Tawa bahagia, memiliki putri pintar yang ajaib, baru usia beberapa hari sudah bisa tertawa yang mengeluarkan suara. Semakin gemas saja.


"Assalamu'alaikum.." salam dari dua orang yang berbeda membuat semua orang yang ada di dalam kamar menoleh, mereka adalah pak Burhan dan bu Sari.


"Walaikumussalaam..." jawab serentak.


"Aduh.. Cucu nenek semakin cantik saja," puji bu Sari ketika sudah berjalan menghampiri pak Brahma.


"Iya, dia sudah pintar. Sudah bisa tertawa," seru pak Brahma.


"Wah, benarkah? Coba nenek gendong," bu Sari menerima bayi tersebut lalu di gendongnya.


"Ini kamar bayi, mewah sekali," ujar pak Brahma, yang sedari tadi mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan.

__ADS_1


"Ini kamar Bagas dan Rania, ayah. Hanya saja kemarin Bagas meminta pelayan untuk mendokerasi ruangan ini," jelas Rania. Memang sebagian kamarnya di dekorasi menggunakan hiasan-hiasan untuk menyambut kedatang anak pertama Bagas dan Rania di rumahnya.


"Oh, jadi putri kalian ini namanya siapa?" pak Burhan memiliki pertanyaan yang sama dengan pak Brahma, begitupun juga dengan semuanya yang bertanya-tany. Siapa nama putri pertama Bagas dan Rania ini?


"Aku dan Rania sudah sepakat akan memberikan nama 'Khanza Azkadina Kusuma'," jawaban Bagas membuat semuanya mengangguk setuju.


"Nama yang sangat cantik, cocok dengan wajahnya yang manis ini," Brahma tak henti-hentinya memuji.


"Iya, ibu setuju. Namanya bagus," sahut bu Sari.


"Siapapun namanya, yang penting cucu kakek ini sehat ya, nak. Menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua seperti ibumu," ucap Burhan kemudian mencium pipi cucunya.


"Di karenakan semuanya ngumpul di sini, bagaimana kalau kita mengambil gambar dengan Khanza, untuk di abadikan," Bagas memberi penawaran yang langsung di setujui oleh semua orang.


"Iya, benar. Kalau begitu cepat ambil kameramu, Bagas!" seru pak Brahma tidak sabar.


"Iya, pa," Bagas segera mengambil kamera yang sering di gunakan untuk mengambil gambar biasanya. Tidak lama, ia kembali lagi.


"Sini, biar ayah yang fotoin kalian lebih dulu," ujar pak Burhan kepada Bagas, Rania, Brahma beserta Khanza.


Bagas pun memberikan kamera tersebut pada pak Burhan. Lalu mereka siap-siap untuk di ambil gambarnya oleh Burhan, setelah Bagas memberi tahu cara mengambil gambar dengan kamera tersebut.


"Wah, bagus juga ya, kameranya," ujar pak Burhan.


"Ayo, ayah. Cepat ambil gambarnya!" seru Rania, ketika ayahnya masih diam saja.


"Iya, iya. Sabar Rania. Siap, ya?! Satu, dua, tiga. Ckrekk.." Brahma mengambil gambar berulang kali.



Kini giliran Brahma yang mengambilkan gambar untuk Bagas, Rania, Khanza, serta kedua besannya. Mereka nampak bahagia sekali. Bersatunya Bagas dan Rania juga menyatukan antara dua keluarga, yang kini nampak harmonis sekali.


.


.


.


Coretan Author:

__ADS_1


Jangan lupa like, vote yang banyak, dan tinggalkan komen di kolom komentar.


Follow ig: @wind.rahma


__ADS_2