Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Martabak Telur Special (Part 2)


__ADS_3

Di perjalanan, untungnya mobil Bagas tidak terjebak macet. Mungkin di karenakan hari yang sudah malam. Dan akhirnya mobilpun masuk ke gerbang utama rumah tuan tajir.


Seperti biasanya, setiap kepulangannya di sambut penuh hormat oleh pelayan di sana. Tapi kali ini, mereka sangat terkejut sekaligus kagum melihat tuannya yang baru saja potong rambut. Bagas meminta sekretaris Frans langsung pulang saja bersama sopir, tidak perlu mengantarnya seperti biasa sampai ke ruang tengah.


Sampai di ruang tamu, Bagas langsung menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya. Bahkan ia setengah berlari, sampai suara sepatu terdengar lumayan keras. Ia sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi istrinya.


Toktoktok


Suara pintu yang di ketuk oleh Bagas. Sengaja, ia tidak langsung membukanya dan masuk ke dalam. Ia ingin istrinya saja yang membuka dan dia akan muncul di balik pintu.


"Masuk!" suara dari dalam kamar, yang pastinya adalah suara Rania.


Tapi anehnya, sang pelaku pengetuk pintu tidak juga mau masuk padahal Rania sudah memberi ijin untuk masuk.


Siapa, sih? Pikir Rania.


Akhirnya Rania yang sedang asik menonton film drakor kesayangannya bergegas membuka pintu. Begitu pintu di buka, taraaaa...


Seseorang dengan tubuh membelakanginya tiba-tiba membalikan badannya. Rania sangat terkejut, melihat seseorang di balik pintu dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Seperti ada yang baru, pikirnya. Tapi apa? Ya, rambutnya. Rambut dengan gaya cepak dan tersisa rambut atasnya seperti potongan gaya rambut Verrel Bramasta. Rania bisa akui kalau Bagas itu tampan juga juga. Lebih tampan dari sebelumnya. Tapi kalau mengingat perlakuannya yang selalu membuat menyebalkan, ia tarik kembali kata-kata tampan untuk suaminya itu. Bibir dengan senyum yang ia baru saja lemparkan ke Bagas langsung ia tarik kembali juga.


Percuma tampan kalau jahat, tampanmu gak berguna.


Kalau di ingat lagi, sedikit demi sedikit Bagas juga sudah berubah, dari pengakuannya kemarin. Yang menurut Rania itu benar atau bohong. Atau hanya sebuah tipu dayanya untuk menerbangkan lalu menjatuhkannya. Begitulah dari sudut pandang Rania menilai perubahan Bagas.


"Suaminya datang bukannya di sambut malah di biarin aja!" protes Bagas.


"Ya udah, masuk aja!"


"Gak usah jutek, aku cium baru tahu rasa!"


"Ihh.." Rania merinding sendiri, menggidikan bahunya. Entah kesambet apa dia bisa ngomong gitu.


Rania menutup pintu setelah Bagas masuk ke dalam. Setelah itu Bagas memintanya untuk duduk di sampingnya.


"Kemarilah! Duduk denganku!" Bagas menepuk sofa di sebelahnya.


Rania menurut saja, ia pun duduk di sampingnya. Hanya ada jarak beberapa senti saja di antara mereka.


"Jadi gimana?"


"Gimana apanya?" Rania bingung.

__ADS_1


"Penampilanku dengan gaya rambut baru. Tampan bukan?"


Mendengar dia ngomong gitu, aku jadi pengen bilang, Idih.. Pedenya di habisin sendiri gak nyisain buat orang lain. Tapi yang keluar dari mulut malah,


"Iya"


Bodoh banget aku, kenapa bisa mulutku mengatakan iya seolah-olah aku menyetujui dengan kepedeannya.


"Haha. Tentu saja aku tampan. Dari lahir."


Rania tersenyum masam dan sedikit mengerutkan alisnya, memang orang yang sedang ada di sampingnya itu benar-benar gila. Sifat gila nya selalu kumat dengan sikap yang berbeda.


"Kamu suka kan?" tanya Bagas dengan beberapa kali menaikan dan menurunkan alisnya.


Tidak tahu lagi caranya menghindari sifat gila suaminya yang sedang kumat, akhirnya Rania memilih mengalihkan perhatiannya dengan menunjuk bingkisan yang Bagas bawa.


"Itu apa?"


"Oh, ini" Bagas mengangkat bingkisan yang ada di sebelahnya.


Bagas memberikan bingkisannya pada Rania, "Aku sampai lupa, ini untukmu!"


Rania langsung saja menerimanya, "apa ini? Bom?"


Rania membukanya dengan hati-hati, karena di balik kata special pasti ada kata kejutan. Siapa tahu yang di dalamnya terdapat sebuah kepalan tangan yang kalau di buka auto nonjok ke muka. Tapi ternyata kata Bagas benar, dia sudah soudzon. Di dalamnya adalah makanan berupa martabak telur, kelihatannya. Karena terlihat berbeda dari martabak telur yang pernah ia temui.


"Jangan cuma di lihat, makanlah!"


Rania mencoba mengambil sepotong martabak telurnya, menggigitnya sedikit. Menyungah perlahan seperti chef yang sedang menjadi juri dalam ajang master chef indonesia.


"Enak?" tanya Bagas memastikan.


"Enak" jawab Rania kemudian menggigit kembali potongan martabak di tangannya.


Bagas senang, akhirnya Rania suka dengan martabak yang di bawakannya. Tidak sia-sia dia telah mengelabui si tukang martabak itu, bahwa itu ia beli untuk istrinya yang sedang hamil. Padahal, boro-boro hamil. Di sentuh aja belum pernah.


"Kamu tahu tidak, kenapa martabak itu aku bilang triple special?"


"Kenapa?"


"Yang pertama, memang nama di gerobak penjual itu martabak special"

__ADS_1


"Hehe" Rania tersenyum.


"Yang kedua, ini pertama kalinya aku membeli makanan di pinggir jalan. Karena biasanya seorang tuan tajir membeli makanan di restaurant ternama, berkelas, dan bintang lima"


Mulai deh, Rania mulai malas dengan sifat sombongnya yang mulai kumat.


"Yang ketiga, martabak ini itu di antri oleh pembeli sampai 10 meter. Tapi aku tidak harus melakukannya, karena aku bilang ini untuk istriku yang sedang hamil"


"Apa?"


"Ya kan itu cuma buat alasan saja sama tukang dagangnya, supaya cepat dapat"


"Huh, dasar curang"


"Biarin aja, yang penting kamu suka"


Rania tersenyum, di balik senyumannya itu mengartikan, ternyata suaminya yang ia kenal begitu kejam dan jahat terhadap dirinya, bisa tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat jadi konyol. Mungkin benar, Tuhan telah memberinya hidayah agar menjadi orang yang lebih baik dari sebumnya.


"Eh, kamu tahu tidak?" Bagas mengingat sesuatu lagi.


"Apa?"


"Kenapa martabak itu bisa special?"


"Kan sudah kau sebutkan tadi, dari pertama sampai ketiga"


"Bukan?"


"Terus apa?"


"Di bikinnya dari telur angsa"


Hah?! Gila. Kenapa gak bilang dari tadi, sih? Ya walaupun enak sejuta enak juga kalau tidak tahu dari awal jadi enek juga.


Bagas malah tertawa terbahak, ketika Rania sempat berhenti mengunyah, dan tiba-tiba makanan yang sudah ia telan seperti mau keluar lagi sudah balik sampai tenggorokan. Rania bergegas menuju kamar mandi untuk mengeluarkan makanan yang sudah ia telan.


Hoekkk.. Hoekkk


Begitulah suara yang terdengar dari kamar mandi. Bagas masih tertawa terbahak-bahak. Sampai ia merasa lemas dan merasa geli sendiri.


Sementara Rania di kamar mandi menggerutu.

__ADS_1


Tuh kan, apa aku bilang. Pasti di balik sikapnya yang tiba-tiba baik, ada kejahilan dia yang tersembunyi. Pantesan aja pas pertama kali di buka aja beda, rasanya juga sedikit beda dari martabak telur lainnya. Dasar tuan gila. Sialan!


Bersambung...


__ADS_2