
"Kau terlihat cantik tadi!" puji Bagas sambil mengemudikan mobilnya arah pulang.
"Memangnya selama ini aku jelek?"
"Tidak! Kau cantik. Aku saja yang bodoh baru menyadari hal itu" pujinya lagi, sesekali menoleh pada istrinya yang setia duduk di sampingnya.
"Oh. Jadi selama ini yang bodoh aku atau kau, tuan Bagas?" Rania berusaha memancingnya.
"Sudahlah, jangan mengungkit lagi! Jangan panggil aku dengan sebutan tuan, aku tidak suka mendengarnya!"
"Bukannya kau haus dengan hormat, kan?" Rania terus memancingnya, sampai mana Bagas akan bertahan menahan emosinya.
"Hey istriku.. Kau memang pandai sekali berbicara. Sudahlah, kita cari topik pembicaraan lain saja!"
"Aku istrimu? Kau sendiri yang bilang kalau aku jangan pernah bermimpi untuk menjadi istri sungguhan. Apa aku benar-benar istrimu?"
Tiba-tiba saja Bagas mengerem mendadak, membuat tubuh Rania terlempar ke depan karena ia tidak memakai sabuk pengaman. Sepertinya Bagas mulai terpancing emosi, itu artinya Rania berhasil memancing emosinya.
Wajah Bagas kembali dingin, datar tanpa memberi ekspresi apapun. Pandangannya lurus ke depan. Rania takut juga jika Bagas marah sungguhan, tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin, sedikit gemetar juga.
Ya Tuhan, apa dia beneran marah kepadaku? Apa dia tersinggung dengan omonganku yang terus mengungkit kejahatannya terhadap diriku. Tapi aku sama sekali tidak maksud jika ia benar-benar marah karena tersinggung.
Beberapa detik kemudian, tiba-tiba saja sebuah benda lembab langsung menyentuh pipinya dengan durasi yang cukup cepat, secepat kilat. Sebuah ciuman mendarat di pipi Rania, membuatnya tubuhnya seketika membeku, mematung. Baru saja ia berpikir kalau Bagas akan murka, tapi selang beberapa detik malah menciumnya.
"Kenapa? Kau pasti berpikir kalau aku akan marah padamu?"
Rania berusaha untuk tersenyum, tapi itu segera ia tahan.
"Kau kan memang selalu melakukannya!"
"Melakukan apa? Aku sudah bilang, kalau aku bukan lagi Bagas yang akan memberikan penderitaan kepadamu. Aku telah berubah menjadi Bagas yang akan selalu melindungi, menyayangi, mencintai, dan hal lain yang membuatmu bahagia. Kau coba mau ngetes diriku?"
"Hem.. Baguslah kalau begitu! Aku benar-benar lega jika kau benar seperti itu"
"Ha ha.. Mau lagi?"
"Apanya?" tanya Rania sambil mengerutkan dahi.
"Sun dekat"
"Iih... Aku ingin pulang, aku ingin tidur!"
__ADS_1
"Oh, kau mau nanti saja sambil tiduran? Baiklah! Kau jual aku borong"
"Kau...! Nyebelin" maki Rania dengan memukul pundak Bagas karena Bagas terus saja berbicara mengarah ke perihal adegan suami istri.
*****
Di kamar tuan tajir, yang luasnya lebih luas daripada rumah ibu Rania.
Bagas dan Rania membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Bagas melipat kedua tangannya untuk di jadikan bantalan, walaupun ia sudah menggunakan bantal. Bagas sedang menatap langit-langit kamar. Sedangkan Rania yang tadi mengaku sangat mengantuk malah asik menonton video di youtube.
Mendengar istrinya yang ketawa-ketiwi sendiri, nangis sendiri, kemudian tertawa kembali. Bagas jadi penasaran sebenarnya apa yang sedang istrinya tonton itu.
"Kau sedang menonton apa?" tanyanya sembari menoleh, dan sekilas melihat ke layar ponsel.
"Ini film favorit aku. Bagus banget, drama korea" jawab Rania tanpa memalingkan pandangannya dari layar ponsel.
"Oh, korea. Aku punya film yang tidak kalah bagus, film yang sangat menegangkan" katanya
"Film apa?" Rania melirik sekilas, karena Bagas mengatakannya dengan serius.
"Film Jepang. Banyak adegan-adegan dan pelajaran yang dapat di ambil dari sana"
"Film yang di bintangi oleh sang kakek legendaris. Ia sudah wafat, dan mewariskan film-film pada kalangan anak muda. Sebuah film pemersatu anak bangsa bagi mereka, termasuk aku"
Karena semakin penasaran, Rania mematikan ponselnya terlebih dahulu dan mengubah posisi tubuhnya menjadi miring ke arah samping Bagas.
"Terus?"
"Apa kau mau lihat?"
"Ya, tentu saja" Rania menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Sini, aku pinjam ponselmu"
Bagas mengambil ponsel dari tangan Rania, kemudian ia mencari video itu. Setelah ketemu, ia mengecilkan volumenya. Awalnya Rania menikmati film itu, tapi lama kelamaan film itu berubah menjadi adegan layaknya suami istri. Tentu saja Rania berteriak dengan spontan dan menutup kedua matanya menggunakan bantal.
Bagas tertawa terbahak melihat ekpresi istrinya, suara di balik video itu terdengar begitu jelas. Suara desahan dan rintihan seorang wanita jepang, membuat Rania tidak hanya menutup matanya, tetapi juga telinganya.
Rania langsung merebut ponselnya dari tangan Bagas dan mematikannya. Lalu di leletakan di meja samping tempat tidur. Rania mengubah posisi tidurnya dengan membelakangi Bagas.
"Kau marah kepadaku?" tanya Bagas memastikan ketika Rania tidur membelakanginya. Namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Rania.
__ADS_1
Bagas menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya. Keheningan mulai terjadi di antara mereka.
"Jujur, aku ingin sekali menjamahmu!" katanya, membuat Rania langsung membuka matanya dengan sempurna. Baru saja ia melihat film yang membuatnya merinding sendiri, sekarang malah Bagas berbicara ingin melakukannya.
"Tidak!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Rania, bukan maksud menolak, tapi ia belum siap saja.
"Hem.. Kau tidak mau? Ya sudah, aku tidak akan memaksa. Aku akan tunggu sampai kau sendiri yang memintaku untuk melakukannya!" Bagas pasrah saja.
"Maksudku aku tidak mau melakukannya di sini, aku ingin bulan madu"
Bagas yang baru saja mengeluh, pasrah, berubah menjadi semangat ketika mendengar bulan madu. Ia juga menginginkannya.
"Benarkah?" tanyanya kemudian di angguki oleh Rania.
"Ya sudah, kita atur saja waktunya. Kau mau bulan madu di mana? Di bali, luar negeri, luar angkasa atau bulan madu di awan biru?"
Pilihan Bagas membuat Rania kembali tersenyum ketika mendengar pilihan terakhirnya, memangnya lirik lagu, bulan madu di awan biru.
Rania mengubah lagi posisi tidurnya, kini mereka saling berhadapan. Tidak membelakangi lagi. Jarak di antara mereka cukup dekat, hanya beberapa senti saja.
"Terserah! Aku ikut saja. Yang penting tempatnya sepi"
"Baiklah. Sepi? Di hutan sepi, tuh"
"Iih.. Kau saja sana, aku tidak mau!" Rania kembali mengerucutkan bibirnya, ceritanya ngambek.
Tidak tahan melihat istrinya yang berlaga manja, pakai bibir di kerucutkan segala, Bagas merasa semakin gemas saja. Ia mau adegan malam kemarin terulang lagi. Dengan cepat ia menaiki tubuh Rania dan langsung menghisap bibirnya. Mereka saling tindih, terus bergantian posisi di atas dan bawah. Sampai akhirnya, detik jam pun memilih berhenti daripada harus cemburu melihat tuannya sedang asik bercumbu.
.
.
.
.
.
.
Hei readers yang manis, ikut gemas juga gak? He he. Ada kabar baik nih buat kalian yang terus nanyain visual Rania dan Bagas. Nanti saya kasih visual kalau popularitas TUAN TAJIR tembus 1 M. Kalau nanti pada akhirnya kalian kurang setuju dengan visual yang saya berikan, tidak apa-apa. Kalian bisa berimajinasi sendiri dengan tokoh yang menurut kalian cocok.
__ADS_1