
Bagas dan bu Sari masuk ke dalam ruangan untuk memastikan keadaan Rania. Ia menarik kursi untuk bu Sari duduk di samping putrinya. Ia menatap tubuh istrinya yang masih terbaring, wajah Rania yang masih terlihat pucat dan tubuh yang lemas. Kemudian ia menyusul tatapan cemasnya dengan senyuman yang terselip penuh rasa syukur di kedua sudut bibirnya.
Tangan Bagas perlahan mengusap perut datar milik istrinya. "Aku akan menjadi ayah. Baik-baik di dalam sana, sayang." kalimatnya barusan menggetarkan dirinya sendiri.
Rasanya Bagas benar-benar tidak percaya, padahal baru malam kemarin ia tanya pada Rania tentang datang bulannya. Dan ia mendapat jawaban yang sedikit mengecewakan, karena jadwal datang bulan Rania masih lima hari lagi. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, apa yang selama ini ia harapkan bisa terwujud.
Bagas menyeka air mata yang mulai membasahi pelupuk matanya, lalu ia membenamkan ciuman di perut Rania dan juga puncak kepalanya.
"Ibu akan mempunyai cucu, terima kasih, nak Bagas!" ucap bu Sari juga tak kalah bahagianya, ia memecah keheningan yang sedari tadi menyelinap di antara mereka.
"Iya, bu. Rania akan menjadi seorang ibu, dan aku akan menjadi seorang ayah. Ibu juga akan menjadi nenek dari anak kita," tutur Bagas, membuat bu Sari tidak dapat lagi menahan kebahagiaan yang tak terhingga. Ia sampai menangis saking bahagianya. Namun Rania belum sadarkan diri juga. Sebelum pergi tadi, dokter juga memberi tahu kalau Rania akan sadar dalam waktu sepuluh menit lagi dari sebelumnya.
***
Setelah menunggu hampir sepuluh menit lamanya, akhirnya Rania pun sadarkan diri. Ia merintih saat merasakan sakit di semua tubuhnya. Saat mata Rania terbuka sempurna, ia terkejut melihat ibu dan suaminya ada di sana.
"Ibu, Kau.." Rania beranjak duduk dari baringnya, namun tubuh lemasnya tidak mampu mengangkatnya. Dengan cekatan, Bagas membantu sang istri duduk dan menyandarkan di sandaran ranjang rumah sakit.
"Kau kan menginap di luar kota, kenapa sekarang ada di sini?" tanya Rania setelah ia berhasil duduk di bantu oleh suami.
"Sudah! Jangan terlalu banyak bicara, kau harus banyak istirahat! Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan anak kita."
Rania seketika mengangkat tegas wajahnya. Matanya yang layu, namun tak memudarkan warna kilau hitamnya menatap Bagas dengan tatapan penuh tanya.
"Anak kita?" tanyanya setelah beberapa saat membisu.
"Iya, anak kita." Raut wajah Bagas tidak terlepas dari bahagia, ia juga menyelipkan seulas senyuman hangat. "Kita akan segera memiliki seorang anak," bisiknya, tepat di telinganya dengan mengusap perlahan perut Rania. Rania begitu terkesiap, tubuhnya terasa meremang saat Bagas mengatakan kalimat barusan, membuat suaranya seakan tercekat dalam kebisuan.
"Ibu akan memiliki cucu, Rania." Suara bu Sari membuat Rania menatap Bagas dan ibunya secara bergantian dengan tatapan bingung, rupanya ia masih belum sepenuhnya sadar.
"Apa maksudmu? Apa maksud ibu?" Rania akhirnya bertanya setelah ia membisu beberapa detik untuk mencerna semuanya.
"Kita akan segera memiliki anak, sayang."
"Apa sih maksudnya? Kita akan memiliki anak? Bagaimana ceritanya?"
"Iya, Rania. Kan sekarang kau sedang hamil," ucap Bagas tanpa memudarkan senyuman dan raut wajah bahagianya.
"Hamil? Jadwal datang bulanku kan masih empat hari lagi, mana mungkin aku hamil! Kau kata siapa? Ngarang, ya?" Rania terus bertanya karena masih belum percaya, karena Bagas selalu saja mengira ia hamil ketika ia kekenyangan makan seafood ataupun pusing sedikit. Ia tidak mau di beri harapan palsu oleh harapan Bagas yang terlalu berharap.
"Aku? Kata kakek legendaris, katanya kalau mau hamil keluarkan di dalam saja," candanya membuat Rania mendesis.
"Ish.. Ada ibu," pekiknya.
"Kakek legendaris siapa, nak Bagas?" tanya bu Sari polosnya, ia memang tidak tahu apa-apa mengenai kakek itu.
__ADS_1
"Guruku yang di Jepang, bu" ucap Bagas tanpa beban, membuat Rania ingin menabok pipi suaminya yang mulai gila lagi itu.
"Oh," jawab bu Sari sambil mengangguk.
"Aku bertanya serius, kata siapa aku hamil?" ucap Rania meminta Bagas untuk berhenti bercanda.
"Kata Dokter, sayang. Kau lihat, ini di rumah sakit! Tadi kau pingsan di ruko, si Reyhan dan temanmu itu yang membawanya ke sini," jelas Bagas.
Rania masih menatap Bagas dengan bingung, yang semakin lama semakin tenggelam dalam bola matanya.
"Kau tidak percaya kalau kau hamil? Aku serius, sayang. Mana mungkin aku bohong bawa-bawa ibu, di luar banyak yang lain juga ikut menemanimu di sini," ucap Bagas merasa kesal karena Rania tidak mau percaya juga, mungkin ini karena dirinya yang sering mengira Rania hamil padahal selalu saja tidak.
"Kalau begitu akan panggilkan dokter untuk melakukan USG agar kamu percaya, bagaimana?" tawar Bagas supaya Rania mau percaya padanya.
"Aku setuju, dengan begitu aku akan percaya kalau aku hamil sungguhan."
"Kau tunggu di sini sebentar dengan ibu, aku panggilkan dokter dulu!" Bagas dengan tergesa melangkahkan kaki dan keluar dari ruangan itu untuk menemui dokter yang memeriksa istrinya tadi. Di luar, yang lainnya memangil nama Bagas untuk menanyakan kondisi Rania, tapi Bagas tidak begitu menanggapinya.
Rania memejamkan kedua matanya. Ia memang mendapatkan datang bulan sebelum ia pergi bulan madu ke Bali bersama Bagas. Setelah itu ia belum lagi mendapatkannya, dan ia harusnya datang bulan lagi dalam waktu empat hari mendatang.
Tidak lama setelah itu, Bagas kembali menemui dokter bersama perawat yang tadi memeriksa Rania. Bagas pun meminta dokter untuk melakukan USG pada Rania saat itu juga, untuk membuktikan kalau Rania benar-benar hamil.
Rania melakukan USG di ruangan yang berbeda, tubuhnya mulai gemetar dan tangannya mengeluarkan keringat dingin saat baru saja ia membaringkan tubuhnya di ranjang pasien. Kini Dokter mulai melakukan USG dengan meletakan probe USG di perut Rania dengan baju yang di singkapkan sebagian.
"Bagaimana hasilnya, Dok? Istri saya benar-benar hamil, kan?" tanya Bagas karena bingung melihat gambar yang tertera di layar monitor itu.
"Iya, tuan. Seperti prediksi saya tadi, nona Rania memang positif hamil" ucap Dokter membenarkan, "Nanti saya akan kasih vitamin untuk nona Rania agar kehamilannya selalu sehat" tambah Dokter.
"Baik, Dok."
"Saya permisi keluar sebentar ya, tuan," pamit Dokter.
Bagas betul-betul bahagia sekali saat ini, ia membenakan ciuman lagi di perut sang istri. Ia berharap ciumannya itu bisa sampai pada bagian tubuh bayinya, memberi tahu kalau calon orang tuan dari mereka menyayanginya.
***
Sampai di rumah, Bagas merengkuh bahu Rania membantunya berjalan menuju tangga. Namun ia berpapasan dengan dua orang wanita dengan raut wajah bahagia yang sengaja ia tutupi dengan rasa iba.
"Ya ampun, kau kenapa? Dia kenapa, Bagas?" tanya Arsilla seolah-olah ia terkejut melihat kondisi Rania yang seperti itu.
"Dia baik-baik saja, kak. Dia perlu istrirahat saja, karena saat ini dia sedang hamil. Aku permisi!" ucap Bagas tak mau berlama-lama.
Setelah Bagas membawa Rania naik ke atas, tiba-tiba Arsilla dan Hera saling bertatapan bingung.
"Hamil? Dia ke rumah sakit karena hamil? Lalu racun yang kita taruh di susu itu?" Arsilla masih bingung dengan semuanya, Hera juga. Mereka pikir Rania masuk rumah sakit karena keracunan. Tapi kenapa jadi hamil?
__ADS_1
Hera dan Arsilla kembali geram melihat rencananya yang selalu gagal untuk menyingkirkan Rania. Ia ingin sekali memarahi dirinya yang tak becus untuk menyingkirkan satu gadis yang ia anggap bodoh itu.
Sampai di kamar, Bagas membaringkan tubuh Rania perlahan, tak lupa ia juga memabalut tubuh Rania menggunakan selimut.
"Kau harus banyak istirahat, jangan terlalu kecapean, ya!" pesan Bagas sambil mengalihkan anak sulur rambut yang terulur di wajah Rania. Rania hanya mengangguk.
Toktoktok..
Pintu kamarnya di ketuk, Bagas langsung berteriak untuk siapapun yang sudah mengetuk pintu kamarnya untuk masuk. Terbukalah pintu dengan lebar dan muncul pelayan di baliknya dengan membawa nampan berisi satu gelas susu.
"Permisi tuan, nona. Saya hanya mengantar ini sesuai permintaan tuan," jelasnya sambil menaruh susu itu di nakas.
"Saya bawakan susu ibu hamil untukmu, nona! Semoga bayinya sehat selalu," tambahnya lagi.
"Terima kasih, bi," ucap Rania, mungkin Bagas sudah memberi tahunya kalau ia sedang hamil.
Sebelum pergi, pelayan itu membisikan sesuatu pada Rania. Kebetulan Bagas sedang pamit untuk ke kamar mandi sebentar.
"Maaf, nona! Saya cuma mau kasih tahu, kalau nona Arsilla dengan nona Hera menaruh sesuatu di gelas susu nona Rania tadi pagi. Mereka terlihat mencurigakan, makanya saya buatkan kembali susunya dan menukarnya dengan susu yang di kasih sesuatu dengan mereka," bisiknya.
Mendengar itu, Rania jadi ingat ketika ia pulang dan di sambut sok iba dengan kakak ipar juga tantenya. Rupanya ia telah merencakan sesuatu dan berniat jahat pada dirinya. Untunglah ada si bibi.
"Terima kasih, bi!" ucap Rania.
"Iya, non. Saya permisi," pamitnya kemudian keluar dari kamar.
Bagas keluar dari kamar mandi, kemudian ia membaringkan tubuh di samping sang istri. Bagas terus mengusap perut Rania dan sesekali menciumnya. Ia sangat bahagia dengan kehadiran calon sang buah hati. Semoga Rania tidak nyidam aneh-aneh, karena itu akan menjadi tugas yang harus Bagas laksanakan. Kalau tidak, ia akan mendapatkan bayi yang setiap harinya ngeces. Haha.
.
.
.
.
Coretan author:
Hallo pembaca setiaku yang manis-manis. Senang sekali hari ini bisa updaye tiga episode. Semoga selalu terhibur, ya!
Do'akan semoga saya selalu sehat untuk melanjutkan ceritanya, aamiin. Kita sudah sampai di penghujung musim satu.
Dan sampai jumpa di musim kedua.
Ayo, nabung poin ya buat vote yang banyak, ok!
__ADS_1