Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Kain


__ADS_3

Tok tok tok


Sebuah tangan mengetuk pintu kamar seseorang.


"Masuk!" teriak seseorang dari dalam kamar tersebut.


Seseorang pengetik pintu pun membukakan pintu kamar itu setelah mendapat izin dari pemiliknya. Ia mendapati penghuni kamar tersebut sedang berbaring di atas tempat tidur sambil bermain ponsel. Ia berjalan menghampiri dan duduk di tepi ranjang.


"Sila," ucapnya yang tak lain adalah Brahma.


"Eh, Papa." Arsilla segera menghentikan Aktivitasnya dan duduk bersandar di sandaran tempat tempat untuk menemani Papa-nya.


"Ada apa, Pa? Tumben Papa ke kamar aku, ada hal penting lagi yang mau Papa bicarakan?" tanya Arsilla berbondong-bondong.


Brahma menggeleng lemah. "Tidak, Silla. Papa cuma mau tanya, kamu tadi kemana? Kenapa tidak bilang kalau kamu tidak akan makan malam di rumah?" ujar Brahma, wajahnya menampakkan kesedihan yang berhasil ia tutupi.


"Ta-tadi aku pergi sama tante Hera, Pa," jawab Arsilla.


"Lain kali kalau pulang terlambat, beri kabar Papa, ya! Supaya Papa tidak menunggu dan merasa khawatir," pinta Brahma.


"Iya, Pa. Maaf!" ucap Arsilla meminta maaf.


Kemudian Brahma menatap wajah putrinya nanar. Setelah Bagas dan Rania pergi meninggalkannya dari rumah ini, kini Arsilla pun ikut meninggalkannya sendirian di meja makan tadi. Ia takut jika suatu saat nanti putrinya pun akan ikut pergi meninggalkannya. Tidak dapat ia bayangkan jika itu benar-benar terjadi.


Arsilla meraih buah tangan Papanya. "Pa, papa kenapa?"


Lamunan Brahma seketika memudar, ketika Arsilla mencoba menyadarkannya dari lamunan tersebut.


"Tidak, Papa tidak apa-apa!" Brahma memberi seulas senyum untuk membuktikan kalau dirinya memang tidak kenapa-kenapa.


"Memangnya kamu pergi kemana dengan tantemu itu?" Brahma penasaran, ia tahu kalau Hera tidak suka dengan menantu kesayangannya. Ia takut kalau Hera akan mempengaruhi putrinya kembali untuk membenci Rania.


"A-aku tadi pergi jalan-jalan, Pa. Lagipula aku bosan jika terus berdiam diri di rumah. Aku bosan terus mengurung diri di dalam kamar. Aku ingin memulai hidup normal kembali seperti dulu, Pa!" balas Arsilla, memang ia butuh udara segar setelah beberapa tahun depresi dan mengurung diri di dalam kamar.


"Oh, lain kali kamu jangan seperti itu lagi, ya! Kamu kabari Papa jika pulang lewat jam makan malam di rumah!" pinta Brahma.


"Iya, Pa. Eh, tadi aku gak sengaja lewat jalan rumah baru Bagas, Pa. Tadinya aku mau mampir, tapi gak jadi karena rumahnya sepi," ujar Arsilla ketika ia ingat hal itu.

__ADS_1


"Bukannya rumah baru Bagas itu di perkomplekan? Ngapain kamu kesana-sana?" tanya Brahma heran.


"Ta-tadi gak sengaja jalan-jalan lewat sana, Pa," jawab Arsilla seperti ada yang sedang ia sembunyikan.


"Oh. Baguslah kalau kamu tadi gak jadi mampir,"


"Memangnya kenapa, Pa?" Arsilla bingung.


"Lebih baik kamu datang bersama Papa, bukan dengan tantemu Hera. Papa minta kamu jangan terlalu dekat ya dengan tentemu! Papa bukannya melarang, tapi Papa gak mau terjadi sesuatu lagi yang baru. Kamu masih ingat kan apa yang akan terjadi kalau sampai kamu berbuat seperti waktu itu lagi? Papa harap kamu selalu mengingatnya!" tutur Brahma sambil memegang erat sebelah lengan atas Arsilla untuk mengingatkan. Ini bukan ancaman, tapi teguran jika Arsilla berbuat ulah lagi.


"Iya, Pa. Aku ingat!"


"Bagus. Sekarang kamu tidur, ini sudah terlalu malam! Selamat tidur putri Papa!" ucap Brahma, ia mengecup kening atas Arsilla sebelum akhirnya ia keluar dari kamarnya.


Arsilla menarik napas panjang, lalu ia menghembuskannya dengan kasar. Setelah itu ia menutupi sekujur tubuhnya penuh menggunakan selimut kesayangannya.


***


Pagi harinya, di rumah baru tuan tajir.


Jika di tempat lama meja makan adalah tempat yang menyeramkan dengan keheningan, maka di tempat baru meja makan adalah tempat yang begitu menyenangkan sekaligus romantis. Karena hanya ada dua orang di sana, yaitu pasangan somplak. Bagas dan Rania.


"Hari ini kau tidak bekerja?" tanya Rania setelah menelan yang berhasil ia kunyah.


"Aku kan sudah menyerahkan pekerjaanku pada Frans. Jadi kalau tidak ada hal yang terlalu penting, aku tidak akan pergi kesana," jawab Bagas sambil menyendok makanannya.


"Oh." Rania melanjutkan makannya saja, syukurlah kalau suaminya ada di rumah. Jadi hidupnya yang hanya berdiam diri di rumah tidak akan terasa membosankan.


Bagas melirik wajah istrinya, terlihat bersemangat sekali dia makannya. Sampai satu piring penuh berhasil di habiskan. Dan saat ini Rania mau menambah porsi makannya lagi. Namun, bukan itu yang membuat Bagas tertawa di balik telapak tangannya, tapi beberapa butir nasi yang menempel di sekitar mulut Rania.


"Kau mau kemana?" tanya Rania, melihat Bagas beranjak dari kursi.


"Tunggu sebentar!" jawabnya sambil berlalu.


"Kemana dia?" gumam Rania, ia yang mau mengambil secentong nasi lagi pun tidak jadi. Membiarkan piring yang sudah kosong di hadapannya tergeletak begitu saja, ia akan melanjutkan makan setelah suaminya kembali.


Beberapa saat kemudian, Bagas kembali lagi dengan membawa sebuah kain. Kemudian ia berdiri di belakang Rania dengan melipat kain tersebut menjadi bentuk segitiga. Rania di buat penasaran dengan aao yang akan di lakukan suaminya.

__ADS_1


"Kau mau apa?" tanya Rania sedikit waspada, ia takut kalau suaminya ini akan berbuat aneh-aneh lagi.


"Aku akan memasang kain ini di lehermu, agar kau makan tidak berantakan seperti anak kecil."


"Memangnya aku berantakan makannya?" Rania tidak terima di tuduh seperti itu.


"Usap pipimu, banyak sekali butir nasi menempel di sana!" ujar Bagas, Rania mengusap pipinya dan benar ada beberapa butir nasi di sekitar mulutnya.


"Hehe, mungkin ini karena calon anak kita," kilah Rania.


"Terus saja menyalahkan dengan mengatasnamakan calon anak kita!" protes Bagas.


Kemudian Bagas mulai memasangkan kain itu di leher istrinya, ia tidak kuat menahan tawanya jika Rania akan kembali menjelma seperti anak bayi yang akan di beri makan. Rania pun ikut tertawa melihat tingkah konyol suaminya ini.



Setelah memasangkan kain tersebut di leher istrinya, kemudian mereka melanjutkan kembali sarapan pagi itu. Sarapan? Sarapan kok nambah dua piring. Haha.


"Sayang, nanti kita ke rumah ibu, ya! Sudah lama juga kita tidak pergi ke sana, semenjak kita pindah ke rumah ini," ajak Bagas, mungkin dia rindu.


"Iya, beberapa hari yang lalu aku juga pergi je rumah ibu," ujar Rania, keceplosan.


Bagas menghentikan aktivitasnya ketika Rania memberitahu kalau dirinya berkunjung ke rumah bu Sari tanpa memberitahunya. Ia menatap wajah istrinya dengan penuh tanya.


Bagas memicingkan matanya. "Kenapa kau tidak memberitahu-ku kalau kau pergi ke rumah ibu?"


"A-aku, aku.." Rania terlihat gugup, mana mungkin ia menjelaskan alasan yang sebenarnya. Tapi, mana mungkin ia tidak akan memberitahunya, sama saja dengan berbohong.


.


.


.


Coretan Author:


Follow ig: wind.rahma

__ADS_1


Like, komen dan vote juga, ya!


__ADS_2