
Sebuah mobil bak berwarna hitam dengan motor keluaran terbaru di atasnya, memasuki halaman rumah pak Burhan dan bu Sari. Di susul oleh mobil pribadi di belakangnya. Dan turun seorang sekretaris Frans dari dalam mobil tersebut. Ia melangkahkan kaki menuju rumah calon mertuanya tersebut.
Kebetulan pintu rumah calon mertuanya itu terbuka, jadi ia tidak perlu repot-repot mengetuk pintu agar tuan rumah membukakan. Ia juga melihat tuan sedang duduk di ruang tamu. Sekretaris Frans berdiri di ambang pintu.
"Assalamu'alaikum. Permisi! Saya datang ke sini utuk mengantarkan satu unit motor sesuai permintaan tuan.." Sekretaris Frans menggantungkan kalimatnya ketika ia menoleh ke pojokan ada sosok tuan dan nonanya juga di sana.
Sekreatris Frans tersenyum masam, pupus sudah kesempatan untuk mencari perhatian calon mertunya itu.
"Saya permisi, tuan, nona! Saya permisi, pak, bu!" pamit sekretaris Frans undur diri dari ambang pintu kepada orang sedang duduk di sana.
"Nak, Frans! Tidak mau mampir dulu?" teriak bu Sari, namun sekretaris Frans sudah pergi dari sana.
"Saya sudah tahu dari Rania, bu. Kalau kakak ipar itu menginginkan motor keluaran terbaru. Maaf kalau saya tidak bisa menjenguknya kemarin, saya baru tahu tadi pagi," ucap Bagas.
"Tidak apa-apa, nak Bagas. Ibu yang suruh Rania tidak kasih tahu nak Bagas. Ibu tidak mau kalau terus merepotkan kalian. Terima kasih banyak sudah mau memenuhi keinginan abang Rania, tidak sepantasnya nak Bagas melakukan semua itu. Ibu jadi malu, nak," bu Sari tidak kuat menahan malunya, sedangkan pak Burhan terlihat begitu gembira ketika mengetahui menantunya membelikan motor untuk putranya, dengan demikian dia juga bisa pakai sekali-kali.
"Tidak apa-apa, bu! Oh iya, dan ini," Bagas merogoh saku di dalam jas yang ia kenakan. "Ini ponsel untuk ibu, katanya kemarin ibu mengabari Rania menggunakan ponsel tetangga," Bagas menyerahkan ponsel tersebut.
"Tidak usah, nak! Nak Bagas kan sudah belikan waktu itu," tolak bu Sari karena itu akan membuatnya semakin malu, merasa selalu saja merepotkan orang lain.
"Terima aja, bu! Gak baik nolak rejeki!" ujar pak Burhan dengan cepatnya mengambil ponsel tersebut dari tangan menantunya.
"Terima kasih, ya, nak Bagas!" ucap pak Burhan, mengelus ponsel baru tersebut.
"Sama-sama."
"Pak, ibu itu malu kalau terus merepotkan nak Bagas. Sekarang kembalikan ponsel itu pada nak Bagas!" bu Sari berusaha mengambil ponsel itu dari tangan suaminya, namun tidak berhasil.
"Bu, pamali nolak rejeki," kilah pak Burhan, ia tidak perduli dengan rasa malu bu Sari terhadap menantunya.
"Sudah, bu. Tidak apa-apa! Lagipula aku sudah niat belikan ponsel itu untuk ibu," ujar Bagas.
"Nak Bagas, jadi kapan nih mau ajak kita jalan-jalan ke luar negeri? Dan kapan rencana nak Bagas buat belikan rumah baru?" tanya pak Burhan tidak taju malu dan tidak tahu diri, dasar serakah!
Mendengar ayahnya yang sudah kelewat batas, akhirnya Rania ikut angkat bicara.
__ADS_1
"Ayah, harusnya ayah itu bersyukur dengan apa yang ayah miliki sekarang! Ayah, dengan cara ayah mengemis ini itu pada suami Rania, bukan hanya ibu saja yang malu, tapi Rania juga ikut menanggung rasa malu itu, yah. Rania harap ayah mengerti apa maksud Rania!" tutur Rania sudah tidak tahan ingin mengatakan hal seperti barusan.
"Halah, kau sama saja dengan ibumu. Bersyukur, bersyukur, bersyukur!" ujar pak Burhan ketus. Kemudian ia memilih untuk pergi saja dari sana, ia tidak mau di permalukan oleh istri dan putrinya di depan menantunya.
Bu Sari hanya bisa menundukkan wajah malu, suaminya tidak bisa mengendalikan sifat buruk haus akan harta di depan menantunya.
"Nak Bagas, maafkan ayah Rania, ya!" bu Sari sedikit memohon, ia tidak tahu lagi kata apa yang pantas untuk ia ucapkan selain kata maaf untuk menebus sikap suaminya yang tidak mengenakan hati barusan.
Rania meraih buah tangan suaminya. "Sayang, aku juga minta maaf, ya! Tidak seharusnya ayah seperti itu."
"Iya, tidak apa-apa!" Bagas berusaha untuk rendah hati.
"Permisi, ini kunci motor dan surat-surat yang lainnya!" seseorang berdiri di ambang pintu, rupanya itu pegawai dari deller yang tadi.
"Anda sudah menurunkan motornya?" Bagas bangun dari duduknya untuk mengambil kunci motor tersebut.
"Sudah, kalau begitu saya permisi!" pamitnya.
Bagas kembali untuk duduk di kursi yang tadi. "Ini, bu," Bagas menyerahkan yang barusan ia terima dari pihak deller.
"Terima kasih banyak, nak Bagas!" ucap bu Sari tiada henti mengucapkan banyak terima kasih.
"Iya, nak Bagas!"
"Bu, Rania pulang dulu, ya! Lain waktu Rania pasti main lagi ke rumah ibu, atau nanti ibu main ke rumah Rania, ya!"
"Iya, sayang!" bu Sari memeluk putri bungsunya. "Kamu jaga kesehatan ya, Rania sayang! Jangan sampai terjadi apa-apa dengan kandungan kamu! Karena ada calon cucu ibu di dalam perutmu ini," bu Sari mengelus perut putrinya, ia membenakan wajah dan mendaratkan ciuman sekilas di sana.
"Iya, bu! Aku pulang ya." Rania mencium punggung tangan sang ibu, kemudian di susul oleh Bagas.
"Hati-hati, sayang!"
***
Setelah pulang dari rumah ibu dan ayahnya, Rania meminta Bagas untuk membawanya jalan-jalan sebentar. Bukan hanya sebentar, justru Bagas malah membawanya lama. Hingga malam hari pun kini tiba.
__ADS_1
Rania membenamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya dengan senyum yang begitu sumringah. Kini mereka tengah berada di atas tempat tidur. Keheningan menyelinap di antara mereka berdua, hanya detika jam yang saat itu masih terdengar.
"Sayang, mulai pagi tadi dan seterusnya, aku akan selalu ada di sampingmu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian di rumah dengan menghabisakn waktu yang membisankan itu," ujar Bagas membelah keheningan, ia membelai lembut rambut Rania.
"Hah? Benarkah?" Rania mendongakkan wajahnya.
"Iya, sayang." sebuah kecupan mendarat di kening Rania, dengan wajah yang tersipu akhirnya ia memilih untuk membenamkan wajahnya kembali di dada bidang suaminya, dengan sesekali mencium aroma ketiak Bagas yang begitu menyegarkan baginya.
Rania mengetuk-ngetukan jarinya di put*ng milik Bagas, karena saat ini Bagas sedang tidak memakai baju alias tel*njang dada.
"Kalau aku mempunyai satu permintaan, apa kau ingin mengabulkannya?" tanya Rania sedikit ragu.
"Tentu saja. Karena aku tidak akan membiarkan calon anak kita terlahir ngeces, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Jadi katakan, apa permintaanmu itu?" ujar Bagas dengan semangat, ia pasti akan mengabulkan seluruh permintaan istrinya.
"Aku..saat ini mau.." Rania tidak melanjutkan permintaannya, sebenarnya ia juga ragu kalau Bagas akan mengabulkan permintaannya.
"Mau apa, sayang? Katakan saja, jangan sungkan!"
"Aku mau minum es jeruk!" pinta Rania, seketika Bagas terbahak.
"Hahaha.. Ya ampun sayang, kau ini. Minta es jeruk saja susah banget. Jangankan es jeruk, penjualnya saja dapat aku beli!" ujar Bagas dengan sombongnya sambil menepuk dada.
"Masalahnya, aku mau minum es jeruk dengan jeruk yang kau petik langsung dari kebun di Maruko. Dan es yang kau ambil sendiri dari kutub utara," pekik Rania.
"Hah?" Bagas ternganga, ia seperti orang yang baru saja keselek biji kedondong dan saat ini mulutnya terasa terkunci, tidak dapat mengatakan apapun.
"Jadi, apa kau akan mengabulkan permintaanku?" tanya Rania, lagi.
Demi author kalian harus follow akun ig nya, Bagas merasa benar-benar stress saat ini. Memetik jeruk dari kebun orang di Maruko dan mengambil es dari kutub utara, dengan mengatasnamakan si jabang bayi yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
.
.
Coretan Author:
__ADS_1
FOLLOW IG: wind.rahma
Like, Vote, komen juga, ya!