
Seperti kebanyakan wanita lainnya, ibu hamil juga identik memiliki mood yang berubah-ubah melebihi wanita yang sedang PMS. Selain itu, wanita hamil juga mempunyai banyak keinginan yang harus di penuhi saat itu juga. Itu yang di rasakan oleh Rania saat ini. Tiba-tiba saja dia bersikap cuek pada Bagas. Rupanya ia sedang ngambek pada suaminya.
Mereka sedang ada di kamar, dan Bagas sedang membujuk Rania untuk makan.
"Makan dulu, ya!" bujuk Bagas, menyendok makanan dan meminta Rania untuk membuka mulutnya, namun Rania tetap saja tidak mau membuka mulutnya.
"Tidak, aku tidak mau makan sebelum kau memenuhi permintaanku!" pekik Rania dengan tegas. Ia mengerucutkan bibirnya agar lebih meyakinkan Bagas kalau dirinya benar-benar ngambek.
"Aku akan menuruti semua keinginanmu, sayang! Tapi kali ini kau harus menuruti keinginanku, aku ingin kau makan dulu, ya! Aaaa.." lagi-lagi Bagas meminta Rania untuk membuka mulutnya, namun usahanya tetap tidak berhasil.
Rania memicingkan matanya, apa Bagas akan benar-benar menuruti permintaannya setelah ia makan? Namun jika mengingat Bagas menuruti permintaannya yang ekstrim pergi ke Maroko dan Kutub Utara, sepertinya Bagas bukan tipe suami yang harus di ragukan lagi.
"Benar, ya, mau menuruti permintaanku?" Rania mencoba memastikan, walaupun permintaannya kali ini tidak begitu merepotkan untuk Bagas.
"Iya, aku akan menuruti semua permintaanmu, percayalah! Jadi kau mau makan dulu, kan?" Bagas berusaha untuk tetap sabar menghadapi istrinya yang sedang hamil.
Rania mengangguk, dan akhirnya mau membuka mulutnya walaupun sedikit setidaknya membuat Bagas merasa lega karena Rania mau makan juga.
"Aaa.. buka mulutmu lebih besar lagi!" pinta Bagas, satu suapan akhirnya berhasil masuk mulut Rania.
Rania tetap mengerucutkan bibirnya, ia bahkan tidak mau menatap wajah suaminya. Makanan yang ada di dalam mulutnya pun sengaja ia simpan di pipi bagian dalam, karena untuk mengunyah saja rasanya sangat malas bagi Rania.
"Habiskan sayang! Aku tidak mau kalau kau sampai sakit gara-gara kau telat makan!" ujar Bagas penuh perhatian.
"Hem."
"Aaa.." Bagas kembali meminta Rania untuk membuka mulutnya dan suapan kedua berhasil masuk sampai suapan terakhir.
Suapan terakhir memang berhasil masuk, namun tiba-tiba saja Rania merasa mual, dan;
"Huoekks.. huoekks.." Rania memuntahkan semua makanan dari perutnya ke pangkuan Bagas, akhirnya Bagas merasakan juga namanya di muntahi.
Sedikit sabar banyak jijik-nya, Bagas menahan bau muntahan yang memenuhi celana dan tangannya juga ikut kecipratan. Jika saja itu orang lain, mungkin Bagas akan memaki habis-habisan atau langsung saja menghajarnya. Namun itu adalah Rania, istrinya sendiri. Mau tidak mau ia harus membersihkannya juga.
__ADS_1
"Maaf!" ucap Rania menatap wajah Bagas yang sudah tidak tahan mencium aroma tidak sedap itu.
"Tidak apa-apa, ini resiko menjadi suami yang baik untuk istrinya!" ujar Bagas, padahal dalam hatinya ia ingin sekali berteriak.
"Aku bersihkan, ya!" tawar Rania bersiap mengambil tisu di atas nakas.
"Tidak usah, sayang! Aku akan membersihkannya sendiri," Bagas segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sepuluh menit kemudian Bagas keluar dari kamar mandi, ia melihat Rania baru saja selesai mengganti sprei akibat terkena muntahannya. Bagas segera menghampiri Rania.
"Aku sudah bilang, aku yang akan membersihkannya sendiri! Kenapa kau masih saja keras kepala, sih?" seru Bagas karena ia tidak mau Rania sampai kecapean.
"Ini bukan sebuah pekerjaan berat, jadi aku masih bisa melakukannya."
Bagas memegangi kedua pipi milik Rania, dan menatapnya penuh rasa cemas. "Lain kali kau harus nurut perkataan suami, kalau aku bilang tidak boleh ya tidak boleh! Aku tidak mau kalau kau sampai kecapean, aku terlalu mencemaskanmu!"
"Iya, iya. Siap bos!" Rania menggerakan tangannya seperti gerakan hormat.
***
Setelah kurang lebih lima menit menunggu, akhirnya seseorang yang Reyhan dan Diva tunggu itu datang juga. Devi duduk di kursi di hadapan mereka, seulas senyum di bibir Devi mengembang ketika melihat adiknya datang bersama dengan pria yang adiknya puja selama ini.
"Hai," Devi menyapa Reyhan dan adiknya. Reyhan membalasnya dengan seulas senyum, sedangkan Diva sama sekali tidak membalas sapaan kakaknya, ia diam tanpa ekspresi.
"Kamu yang namanya Reyhan, kan? Diva sering cerita soal kamu," ujar Devi menebak-nebak, bersikap seolah-olah baru tahu siapa itu Reyhan.
"Aku sudah tahu semuanya, kak. Jadi jangan berpura-pura untuk tidak mengenal Reyhan! Kakak itu orang baik, kakak tidak pandai untuk bersandiwara!" ujar Diva, seketika Devi menatap Reyhan, sekilas. Rupanya Reyhan sudah menceritakan semuanya pada Diva.
Seketika keheningan mulai menyelinap di antara mereka bertiga, bahkan suara detik jam pun tidak berani untuk mengeluarkan suara.
"Aku datang kesini bersama dengan pria yang aku cintai, sekaligus pria yang telah membuat hidup kakak menderita," tambah gadis itu.
"Aku tidak mau bertele-tele, karena aku sudah tidak tahu lagi perasaan apa yang saat ini aku rasakan untuk pria di sampingku ini. Di satu sisi aku sangat mencintainya, di sisi lain aku harus membencinya karena telah membuat hidup kakak menderita."
Devi dan Reyhan menatap Diva dalam, tidak menyangka kalau Diva akan mengatakan hal seperti itu.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak tahu, apakah rasa cintaku ini mampu menghilangkan kebencian yang aku pendam selama lima tahun ini. Atau justru sebaliknya, rasa cinta ini yang akan hilang karena terhapus oleh rasa benci yang begitu mendalam?" tambah Diva, lagi.
Devi yang mendengarnya ikut hanyut dalam kesedihan adiknya, begitupun dengan Reyhan.
Mengapa di saat aku mulai sayang sama kamu, kamu malah membuat sebuah benteng besar untuk menghalanginya, Diva? Batin Reyhan dalam hatinya.
Devi meraih tangan adiknya. "Diva, kalau kamu cinta sama Reyhan dan begitupun dengan Reyhan kalau cinta sama kamu, tidak usah melibatkan masalah kakak ini! Buang semua kebencian itu, ya! Karena kakak sendiri sudah bisa menerima kenyataan pahit ini. Kakak tahu kamu pasti terluka setelah mengetahui kalau orang yang selama ini kamu cintai ini adalah orang yang telah membuat hidup kakakmu ini menderita, tapi kamu juga harus memikirkan perasaan kamu sendiri! Kamu harus memikirkan perasaan Reyhan juga, bisa?!" tutur Devi panjang lebar.
"Tapi, kak--"
"Diva, kamu mau dengerin kakak, kan?" pinta Devi penuh harap, ia menatap sayup wajah adiknya.
Ada kesedihan yang mendalam di balik wajah dan sikap tegar Devi. Namun ia berusaha untuk menutupi semuanya.
Diva menoleh pada Reyhan yang juga sedang menatapanya. Diva masih ragu kalau Reyhan sudah beneran suka pada dirinya, jika bukan karena permintaan kakaknya untuk bersikap baik padanya seperti apa yang Reyhan katakan, mungkin Reyhan tidak akan pernah sebaik sekarang ini pada dirinya.
"Aku tahu kamu kecewa, Diva! Tapi aku benar-benar bodoh karena pada saat itu aku tidak langsung mencari tahu kebenarannya. Mungkin semuanya tidak akan jadi seperti ini!" sahut Reyhan, ia meraih tangan Diva setelah Devi melepaskannya tadi.
"Diva, lihat mata aku!" pinta Reyhan, kemudian melanjutkan kalimatnya setelah Diva berhasil ia bujuk untuk di ajak bicara dengan menatap kedua bola matanya.
"Aku cinta kamu, kamu mau kan jadi pendamping hidup aku?" Reyhan mengungkapkan perasaanya pada Diva di hadapan Devi.
Kalimat indah yang Reyhan katakan barusan adalah kalimat yang Diva nantikan selama ini. Harusnya ia bahagia sekarang karena keinginannya untuk menjadi pacar Reyhan akan segera terwujud hanya dengan menjawab kata 'iya' saja. Namun kali ini lain, Diva justru di buat dilema karena ia bukan hanya memikirkan perasaannya sendiri, dia juga memikirkan perasaan kakaknya.
Papa Reyhan telah merenggut kehormatan milik kakaknya, bukankah kakaknya yang paling pantas untuk mendapatkan cinta Reyhan? Setidaknya kalau Reyhan bersama kakaknya, ada sedikit tanggung jawab dari keluarga Reyhan untuk Devi. Setidaknya itu adil kan buat Devi? Apakah Diva mau menerima cinta Reyhan, atau dia akan mengorbankan perasaannya untuk kebahagiaan kakaknya?
.
.
.
Coretan Author:
Maaf bila ada keterlambatan update! Di tempat kediaman saya mati lampu terus.
__ADS_1
Follow ig: wind.rahma