
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Rania sudah menyuruh pegawainya untuk pulang. Sementara dia masih ada di sana, menata barang yang belum rapi sepenuhnya, sambil menunggu Bagas untuk menjemputnya. Namun, lima belas menit sudah berlalu Bagas tak kunjung datang untuk menjemputnya juga.
Rania mengambil ponsel yang ia taruh di tas yang ia letakan di atas meja yang tidak jauh dari tempat ia berdirinya saat ini. Ia mengecek ponselnya, terdapat pesan tanpa terdengar notifikasi sebelumnya. Pesan dari nama yang tertera di sana, My Husband.
Bagas:
Sayang, hari ini aku tidak bisa jemput. Maaf, ada meeting mendadak. Tapi, aku sudah suruh Frans untuk jemput kamu.
Itu pesan sejak tiga puluh menit yang lalu. Rania tertegun, kalau Bagas sudah meminta sekretaris Frans untuk menjemputnya, lalu kenapa dia belum sampai juga? Mungkin sekretaris Frans terjebak macet. Pikirnya.
Rania memutuskan untuk menunggu sepuluh menit lagi, kalau sekretaris Frans belum sampai juga, terpaksa ia harus naik angkutan umum untuk sampai ke rumahnya.
Delapan menit juga telah berlalu, namun belum ada tanda-tanda sekretaris Frans akan datang. Ia berjalan keluar untuk menunggu di luar saja, siapa tahu sekretaris Frans akan datang sebentar lagi.
Dua langkah berjalan, tiba-tiba sosok pria bertubuh tinggi muncul di ambang pintu. Membuatnya terkejut karena kepalanya yang di tutup oleh ciput sweater warna hitam.
"Aaa..." Rania menjerit karena reflek, dan melangkah mundur satu langkah.
Pria itu segera membuka ciput bawaan sweater hitamnya, dan nampak jelas wajah Reyhan di baliknya.
"Ini aku, Rania," ujarnya. Rania menghela napas lega, ternyata pria itu bukan orang yang akan menjahatinya.
"Rania, kamu belum pulang juga?" Reyhan berjalan mendekat.
"Belum. Kamu sendiri ngapain balik lagi?" tanya balik Rania, sambil mengatur napasnya yang masih terengah-engah.
"Oh, tadi ada urusan sebentar. Dan pas aku lewat, aku lihat ruko ini masih terbuka lebar. Aku pikir ada maling, ternyata kamu masih ada di sini." balas Reyhan cemas.
"Aku lagi nunggu jemputan sekretaris suamiku, tapi aku tungguin belum nongol juga," terus terang Rania.
"Kalau begitu aku antar pulang kamu, ya?! Ini sudah hampir petang, takutnya kamu kenapa-kenapa di jalan kalau sampai naik angkutan umum," tawar Reyhan dengan senang hati.
"Tidak usah, Rey. Terima kasih tawarannya! Sebentar lagi sekretaris suamiku akan datang," tolak Rania sopan.
"Yakin?" Reyhan memastikan.
Seketika ponsel Rania bunyi, ia segera melihat layar ponselnya dan tertera nama Frans di sana. Ia langsung mengangkat telpon dan menempelkannya ke dekat telinga.
"Hallo, Frans. Kau dimana?" Rania diam sejenak untuk mendengar jawaban.
"Apa? Mogok? Kok bisa?" tanya Rania tidak percaya.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi, Frans?" Rania kesal, karena sudah puluhan menit ia menunggunya.
"Ya sudah. Ok!" katanya lagi, dan itu menjadi kalimat terakhir dalam obrolan telpon sebelum akhirnya ia mematikan sambungannya.
Rania menatap wajah Rania yang terlihat bingung setelah menerima telpon dari sekretaris Frans. "Kamu kenapa Rania? Sekretaris suami kamu gak bisa jemput?."
Rania mengangguk lemah, "iya."
"Ya sudah, aku antar kamu pulang sekarang. Tolong jangan tolak tawaran aku lagi, Rania! Aku takut kalau terjadi sesuatu dengan kandungan kamu." Reyhan mencemaskan Rania.
Rania terdiam, bingung. Apa ia harus menerima tawaran Reyhan, atau pulang naik angkutan umum saja? Tapi yang di katakan Reyhan benar, bagaimana kalau terjadi sesuatu di jalan? Tapi, kalau ia terima tawaran Reyhan, tidak enak juga. Selalu saja harus merepotkan Reyhan.
"Iya," jawab Rania pasrah, tidak ada pilihan lagi selain harus ikut dengan Reyhan.
Di perjalanan pulang, jalanan begitu macet. Karena mobil yang di tumpanginya harus bersaing dengan mobil lain pada jam pulang kerja, berlomba-untuk segera sampai ke tujuan masing-masing.
Sudah hampir sepuluh menit, mobil sama sekali tidak bisa bergerak. Jalanan ibu kota memang selalu ramai dan di padati oleh kendaraan roda empat. Rania menoleh pada Reyhan yang pandangannya fokus ke depan. Sepertinya ini waktu yang pas untuk menanyakan soal kedekatannya dengan Diva sudah sejauh mana.
"Rey," panggil Rania lirih.
"Hem" Reyhan menoleh. "Ada apa, Rania?"
"Tanyakan saja, Rania? Tidak usah sungkan seperti itu! Ingat tidak, dulu kamu selalu menanyakan atau menceritakan masalah jika kamu butuh solusi, kenapa sekarang kelihatan canggung?" ujar Reyhan semangat jika mengingat waktu Rania sering curhat padanya, dan ia selalu ada untuknya. Namun semangat itu seketika memudar ketika ia mengingat sesuatu.
"Ya mungkin karena sekarang kamu sudah bersuami yang sudah menganggap kamu sebagai istri sungguhan, itu yang membuat kamu membatasi diri denganku sekarang, hem." Reyhan tersenyum getir meratapi dirinya.
Kenapa Reyhan begitu semangat mengingatkan waktu aku sering curhat padanya? Padahal aku ingin menanyakan soal kedekatannya dengan Diva. Reyhan terlihat aneh, apa dia menaruh hati padaku? Ah, rasanya tidak mungkin. Justru aku yang pernah mengagumi dirinya, sebelum akhirnya suamiku sendiri yang membuat aku tidak bisa berpaling pada pria lain. Suamiku tidak akan pernah tergantikan. Batin Rania.
"Diva gimana, Rey?" pertanyaan Rania membuat raut wajah Reyhan mengeluarkan aura tidak suka.
"Gimana apanya, Rania?" kilah Reyhan, pura-pura tidak paham arah pembicaraan Rania.
"Sudah sejauh mana kedekatan kamu dengan Diva?" tanya Rania dengan beraninya.
"Kedekatan? Hah, ngaco. Dia itu bukan siapa-siapa, Rania."
Rania menatap Reyhan dalam. Betul kata Diva, Reyhan memang tidak pernah membalas perjuangannya. Reyhan sama sekali tidak menyukai nama Diva di sebut di hadapannya. Tapi kenapa, Reyhan? Diva juga cantik, baik.
"Kamu kenapa, Rania?" Reyhan mengamati dirinya, apakah ada yang salah sehingga membuat Rania menatapnya seperti itu.
"Kamu yang kenapa, Rey? Kamu kenapa gak pernah menghargai sedikit saja usaha Diva untuk mendekati kamu? Dia suka sama kamu, Rey!"
__ADS_1
"Tapi aku yang gak suka sama dia, Rania," pekik Reyhan. Membuat Rania merasa bersalah karena sudah mencampuri perasaan orang lain.
"Maafkan aku, Rania. Kalau kamu tersinggung dengan ucapan aku barusan!" ucap Reyhan meminta maaf, sementara Rania menunduk karena merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Rey! Harusnya aku yang minta maaf. Tapi kalau boleh tahu, apa alasan kamu tidak pernah menyukai kehadiran Diva?" Rania kembali menatap Reyhan serius, ini semua karena ia merasa iba dengan perjuangan cinta yang tidak pernah mendapat balasan sekedar senyuman.
Reyhan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Karena aku sudah memiliki seorang kekasih, Rania!" ucapnya tanpa tidak pernah Rania sangka.
"Hah? Benarkah? Siapa dia? Apa kamu sedang tidak membohongiku, Rey?" Rania benar-benar terkejut, ia tidak bisa percaya begitu saja dengan pengakuan Reyhan.
"Benar. Nanti kamu akan tahu sendiri siapa orangnya. Kamu ingat, waktu aku tidak masuk kerja karena urusan keluarga? Sebenarnya aku sedang melangsungkan pertungan dengan kekasihku!" ujarnya, membuat Rania semakin bingung dan tidak percaya saja.
"Kenapa kamu gak pernah bilang sama aku, Rey? Mungkin aku bisa hadir ke acara tunanganmu. Kamu gak lagi bercanda kan, Rey?" Seru Rania bertubi-tubi.
"Tidak, Rania!" tampik Reyhan. "Itu alasan aku selalu acuh pada temanmu itu, aku tidak mau sampai mengecawakan gadis tunanganku. Kamu paham kan, Rania?"
Rania mengangguk ragu, ia masih tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari bibir Reyhan. Rasanya pendengarannya sedang rusak, sehingga membuat perkataan yang begitu jelas tetap terdengar samar.
Jalanan mulai normal, dan terlihat semakin lenggang. Itu membuat mobil Reyhan dapat melaju dengan cepat dan tidak lama kemudian mereka sampai di tujuan. Namun, Rania meminta Reyhan untuk memberhentikan mobilnya di jarak yang tidak begitu dekat dengan gerbang utama kediaman tuan tajir. Takutnya ada kesalahpahaman. Ia juga akan berbicara jujur dengan Bagas pulang dengan siapa, dan kenapa harus pulang dengan Reyhan.
"Terima kasih, Rey, sudah antar aku pulang!" ucap Rania.
"Sama-sama," balasnya.
"Rey, maafkan ucapan aku yang tadi, ya! Aku tidak berniat untuk mencampuri urusan pribadi kamu. Aku tidak tahu kalau kamu sudah memiliki tunangan. Tadinya aku mau kasih saran, apa salahnya kalau kamu coba untuk buka hati buat Diva? Aku bicara seperti ini bukan karena aku temannya, bukan juga karena dia temanku. Tapi yang aku tahu, Diva itu orang baik, Rey. Kamu harus ingat itu!" Pesan Rania sebelum akhirnya ia turun dari mobil Reyhan.
Reyhan menatap punggung Rania yang sedang berjalan menuju gerbang utama kediaman suaminya. Dia pikir Rania akan kembali menoleh, ternyata perkiraannya salah.
Maafkan aku, Rania! Aku sudah membohongi kamu. Aku sama sekali tidak memiliki seorang kekasih, apalagi tunangan. Sebenarnya aku menjauhi temanmu itu karena aku ada alasan lain. Alasan yang tidak bisa aku ceritakan sama kamu. Ini berkaitan dengan masalalu-ku dulu. Yang membuat aku tidak bisa memberi celah temanmu masuk dalam kehidupanku.
.
.
.
Coretan Author:
Nabung poin yang banyak, atuh! VOTE seribu ya. Jangan lupa bantu rekomendasikan TUAN TAJIR ke media sosialmu, agar semakin ramai pembaca.
__ADS_1