
Ini adalah hari ke tiga Rania di rumah sakit, sebenarnya satu kali dua puluh empat jam pun Rania sudah bisa pulang. Namun, Bagas tidak mau kalau Rania banyak gerak terlebih dahulu, apalagi harus naik mobil perjalanan jauh. Takutnya, sisa darah bekas dia melahirkan akan keluar lebih banyak lagi nantinya.
Saat ini, Rania sedang merenung di atas ranjang tempat tidur ruang kamar inap. Rasa sakit di bagian organ untuk mengeluarkan bayi masih terasa sangat sakit, lebih ke perih. Apalagi ketika ia mau buang air besar, rasa sakit dan perih itu kembali mengingatkannya pada saat menghejan mengeluarkan si buah hati.
"Ternyata ini alasannya, mengapa kita harus menghormati seorang ibu. Perjuangannya begitu besar, begitu mulia, begitu hebat dan tidak dapat di utarakan lagi melalui kata-kata. Menaruhkan nyawa antara hidup dan mati itu benar-benar nyata aku rasakan kemarin. Aku jadi ingat, bahwa keputusan aku menikah dengan Bagas untuk melunasi hutang uang yang aku pinjam demi keselamatan nyawa ibu itu tepat. Karena itu semua yang aku lakukan pun tidak ada apa-apanya, tidak sebanding dengan pengorbanan seorang ibu. Yang aku rasakan ini hanya bagian mengandung dan melahirkan saja, belum nanti aku juga harus menyusuinya selama kurang lebih dua tahun. Belum lagi merawat dan yang lainnya. Pasti akan benar-benar susah menjadi seorang ibu, aku bangga pada ibu yang selalu sabar menghadapi sikap aku yang terkadang mungkin kurang baik dan bisa jadi menyakiti hati ibu selama ini," Batin Rania dalam hatinya.
Rania menyeka air mata yang turun dari matanya sudah melewati dagu runcingnya. Rania tenggelam dalam lamunannya.
Bagas membuka pintu ruang kamar inap istrinya, sambil menggendong putri kecilnya ia berjalan menghampiri istri yang sedang tidur membelakangi.
"Sayang, kau tidur?" Bagas menyentuh lengan istrinya pelan, memastikan apakah Rania ini tidur atau tidak.
Rania membalikan badan, setelah menyeka bekas air matanya tadi. Tidak ingin kalau Bagas akan mencemaskannya.
Rania menggeleng lemah. "Tidak, aku tidak tidur."
"Kamu beri ASI putri kita dulu, ya! Setelah ini kita pulang, aku tahu kamu pasti ingin pulang dari hari kemarin," Bagas menyerahkan bayi cantik yang sedang di gendongnya pada pangkuan Rania, setelah ia berusaha membantu Rania untuk bangun dan duduk menyandar.
Bagas menarik kursi yang tidak jauh dari sana, kemudian duduk di samping ranjang pasien. Menatap wajah putri kecilnya yang sedang di beri ASI oleh istrinya. "Semangat sekali dia minum susunya, sepertinya dia sudah sangat haus."
"Iya," jawab Rania sambil menahan rasa sakit, perih, dan geli di bagian put*ng payud*ranya. Karena itu yang di rasakan seorang ibu menyusui waktu pemula.
"Kau kenapa, sayang?" Bagas bertanya ketika tubuh Rania tidak mau diam, karena menahan rasa geli tersebut.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya menahan geli saja. Mungkin begini awal rasanya menyusui, lama kelamaan pasti akan terbiasa."
Bagas mengangguk, sebetulnya ia masih kurang paham, sih.
__ADS_1
***
Di penjara, tempat Arsilla dan Hera di tahan.
Saat ini tubuh Arsilla semakin kurus, dia bukan hanya kurang makan, tapi juga kekurangan makanan begizi. Di penjara hanya makan seadanya, tanpa ada tawar menawar mau makan dengan apa. Biasanya Brahma datang satu minggu sekali untuk membesuknya. Tapi ini sudah lebih dari sepuluh hari belum datang juga.
"Papa kemana, ya? Kenapa dia belum datang juga untuk mengantarkan makanan yang enak?" Arsilla memukul besi sel dengan cukup keras dengan niat meluapkan kekesalannya. Namun yang baru saja dia lakukan justru mengundang malapetaka baginya, ketika seorang tahanan lain yang sedang tidur merasa terganggu.
"Hei, jangan berisik, dong! Gak tahu apa saya lagi tidur?" bentak seorang wanita yang di kurung di sel yang sama dengan Arsilla dan Hera.
"Tidur, tidur aja kali. Gak usah marah-marah ke orang lain," umpat Arsilla yang terdengar jelas di telinga wanita tersebut.
"Apa kamu bilang?" wanita itu bangkit dari tidurnya, kemudian berjalan menghampiri Arsilla, menatapnya sinis.
Nyali Arsilla sedikit menciut ketika wanita itu menatapnya tajam. Wanita itu memiliki wajah yang cukup menyeramkan juga baginya. "Apa lihat-lihat?" Arsilla bertanya tanpa berani menatapnya. Ia juga menelan salivanya dengan susah.
"Sekali lagi kamu berani ganggu tidur saya, jangan salahkan saya kalau wajah kamu akan hancur berantakan!" ancam wanita tersebut.
"Gak usah jadi jagoan jadi orang! Kalau berani, kamu berhadapan dengan saya!" tantang Hera, ia menyingsingkan lengan baju pendeknya. Agar terlihat lebih menakutkan.
Bibir wanita itu menyeringai, kemudian tertawa dengan begitu keras. "Hahaha... Buat ngadepin orang kayak kamu mah gampang, saya sentil put*ng kamu, kamu akan mohon-mohon minta ampun pada saya. Hahaha..."
Hera menoleh pada kedua put*ng miliknya, kalau saja apa yang barusan di katakan wanita itu benar. Pasti itu akan terasa sangat ngilu.
Hera tidak mau kalah begitu saja, ia langsung saja menarik rambut pendek wanita di hadapannya itu. Tentu saja wanita itupun segera membalasnya. Dan akhirnya saat ini mereka saling jambak-jambakan. Arsilla dan ketiga tahanan lainnya bukannya memisahkan mereka, justru mereka malah diam karena tidak berani.
Akhirnya seorang petugas polisi datang untuk melerai perkelahian mereka. Saat itu juga, Hera dan Arsilla di pindahkan ke sel yang lain. Takutnya terjadi lagi keributan-keributan yang sering terjadi seperti sebelumnya dan sekarang ini.
***
__ADS_1
Sore ini Radit mengajak Diva untuk pergi ke sebuah taman. Tentu saja Diva memenuhi ajakan Radit, karena itu sebuah kesempatan besar agar ia lebih dekat dengan pria yang dia cintai saat ini. Diva kalau sudah jatuh cinta, memang agresif. Ia selalu berjuang keras untuk mendapatkan cinta seseorang yang dia cintai. Namun saat ini, ia tidak lagi harus berjuang keras, karena Radit memiliki perasaan yang sama denganya.
Diva menoleh ke kiri dan ke kanan, ketika mereka sudah sampai di taman. Sepertinya taman ini tidak asing bagi Diva, sepertinya dia sering mengunjungi taman ini dengan seseorang. Tapi siapa? Dia adalah Reyhan. Seketika taman ini mengingatkan Diva pada Reyhan, dulu dia sering di ajak pergi ke taman ini. Kebetulan jarak taman ini dengan ruko Rania pun tidak terlalu jauh.
Semakin dalam Diva mengingat kenangannya bersama Reyhan, semakin sakit yang dia rasa. Diva segera menepis kenangan dalam ingatannya itu. Ia tidak mau lagi terhanyut dalam masa yang membuat hatinya hancur. Karena sekarang ini dia tidak lagi ada di sana. Sekarang Diva sudah hidup dalam bagian Radit. Orang yang dia yakini akan membahagiakannya.
"Va.. Helooo.." Radit melambaikan tangannya di depan wajah Diva, seketika tubuh Diva tersentak ketika dia baru menyadari kalau Radit sedari tadi memanggil namanya.
"I-iya, bang. Ada apa?" jawab Diva terbata-bata.
"Kamu kenapa, Va? Kok melamun, ada masalah?" tanya Radit cemas, sebelumnya Diva terlihat baik-baik saja, dan begitu senang ketika di ajaknya jalan-jalan.
"Ti-tidak ada, bang. Diva baik-baik saja, kok," Diva menyelipkan seulas senyum di bibirnya, agar Radit tidak curiga kalau sebenarnya ia baru saja memikirkan tentang masalalunya bersama seseorang.
"Oh. Ya sudah, ayo!" Radit mengajak Diva untuk masuk teman tersebut, dengan menggenggam buah tangan kirinya.
"Iya, bang," Diva pun ikut, kemana pun Radit akan membawanya dia pergi, dia pasti akan ikut.
Setelah masuk ke taman yang cukup luas, Radit mengajak Diva untuk duduk di sebuah bangku yang lagi-lagi tidak asing untuk Diva. Itu adalah bangku di mana dia sering duduk di sana ketika bersama Reyhan. Di taman yang begitu luasnya ini, mengapa Radit memilih bangku itu, apakah ini sebuah kebetulan?
.
.
.
Coretan Author:
Sudah lihat visual sekretaris Frans di channel youtube saya, belum? Kalau belum, yuk lihat sekarang juga! Jangan lupa di Subscribe, ya!
__ADS_1
Follow ig: @wind.rahma