Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Bagas Sakit (Part 3)


__ADS_3

Baru saja Rania membaringkan tubuhnya setelah menyuapi dan memberi Bagas obat, suara pintu kamar di ketuk oleh seseorang yang mengganggu waktu istirahatnya.


Siapa lagi sih, apa jangan-jangan sekretaris Frans kembali lagi.


Dengan malasnya Rania bangun dan melangkahkan kaki untuk membuka pintu yang di ketuk seseorang.


"Permisi nona, maaf menganggu. Saya hanya mengantarkan air hangat dan sapu tangan yang nona minta tadi" ucap sang pelayan yang tadi mengantarkan bubur.


Oh, iya. Aku sampai lupa kalau tadi aku minta air hangat dan sapu tangan.


"Iya, terima kasih bi" ucap Rania sembari menerima air hangat dalam wadah kecil dan sapu tangannya.


"Jangan sungkan jika nona ingin minta sesuatu, katakan saja pada kami sebagai pelayan di sini. Kami pasti akan melayaninya dengan sebaik mungkin!"


"Baik, bi. Sekali lagi terima kasih, ya"


"Iya, nona. Saya permisi" pamit pelayan untuk kembali.


Rania kembali menutup pintunya dan berjalan tempat tidur lalu duduk di samping Bagas. Ia menaruh air hangat pada meja kecil di samping tempat tidur itu. Rania mencoba mencolek lengan Bagas, berniat membangunkannya dan meminta ijin ketika akan mengompres.


"Tuan, tuan" panggilnya lirih. Tapi mata Bagas masih terpejam dan tidak mau bangun juga setelah beberapa kali Rania membangunkannya.


Rania mencoba menggibas-gibaskan tangannya di depan wajah Bagas, memastikan apa ia benar-benar tidur. Tapi sama sekali tidak ada reaksi apa-apa dari Bagas.


Hah, sepertinya ia sudah terlelap tidur. Mungkin efek dari obatnya yang bikin ngantuk. Karena kalau dia cuma pura-pura tidur, pasti dia sudah marah ketika aku mencoba mengganggunya. Ya sudahlah, aku langsung kompres aja dia.

__ADS_1


Rania langsung mencelupkan sapu tangan pada air hangat di dalam wadah yang ia letakan di meja kecil, kemudian ia peras dan di tempelkan ke dahi Bagas. Bagas sama sekali tidak bergerak, berarti benar dia sudah benar-benar tidur. Saking panasnya suhu tubuh Bagas, sapu tangan yang lembab langsung kering, dan Rania mencoba melakukannya beberapa kali sampai suhu tubuh Bagas benar-benar normal.


Setelah beberapa kali Rania melakukannya, ia mencoba membiarkan sapu tangan itu menempel pada dahi Bagas. Ia kembali ke sofa dan membaringkan tubuhnya. Seketika Rania mengingat sesuatu, ia langsung merogoh ponselnya di saku depan celana.


Aku sampai melupakan janjiku untuk bertemu dengan Reyhan. Tapi, gimana ini? Apa aku harus menemui Reyhan atau membatalkannya aja karena tuan Bagas sedang sakit. Aduh, gimana ya kalau Reyhan sudah stand bye nungguin aku. Aku coba telpon dia aja deh.


Rania membuka kunci layar ponsel dan dengan cepat mencari kontak yang ia namai Rey di sana. Rania mengklik dan mendekatkan ponsel ke telinga.


"Hallo, Rey"


"Em, kamu sekarang di mana?"


"Oh, syukurlah kalau masih di rumah. Maaf ya, hari ini aku batalin janji buat ketemuan. Soalnya ada urusan mendadak yang lebih penting"


"Iya, terima kasih ya udah ngertiin. Sekali lagi maaf, ya"


"Ok, terima kasih ya Rey"


"Bye"


Rania mematikan telponnya setelah ia berbicara dengan Rey. Ia memeluk ponselnya di dada dan tersenyum.


Selain tampan, Rey juga orangnya baik walaupun belum lama mengenalnya. Semoga tidak ada apa-apa di balik kebaikannya itu.


Lamunan Rania buyar ketika membayangkan pertama kali ia bertemu dengan Rey di angkot tidak sengaja ketika Bagas memanggil-manggil nama seseorang.

__ADS_1


"Mah, mamah. Bagas janji sama mamah. Mah"


Rania terkejut dan bangun, ia berjalan mendekati Bagas. Ia lihat Bagas masih tidur, tapi mulutnya terus memanggil kata 'mamah'


Sepertinya dia sedang mengigau. Dia terus menyebut mamah, apa jangan-jangan dia sedang merasakan kerinduan terhadap ibunya. Kasihan dia, dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari sosok ibu. Dia pasti begitu rindu terhadap sosok ibu. Sampai ia sakit pun ia mengigau dan memanggil nama mamah. Aku bisa bayangin jika ada di posisi dia yang tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang dan dekapan seorang ibu.


Rania tidak menyadari, seketika air matanya jatuh begitu saja. Ia membayangkan hal yang sama jika ia tidak memiliki ibu. Bahkan ia rela ada dalam posisi seperti ini, ia semua lakukan hanya untuk ibu. Karena jika saat itu Rania telat sedetik saja untuk membawa ibunya ke rumah sakit, ia bisa kehilangan ibunya selama-lamanya.


Maka dari itu Rania tidak bisa benar-benar membenci Bagas. Walaupun ia sering di buat menderita dan di perlakukan tidak layak sebagai manusia, di dalam lubuknya yang paling dalam justru ia sangat berterima kasih pada Bagas yang sudah memberi pinjaman uang untuk menyelamatkan ibunya. Bahkan harga dirinya itu tidak sebanding dengan pengorbanan sosok ibu selama ini.


Rania rela kehilangan semuanya demi menyelamatkan ibu. Karena akan percuma jika Rania mempunyai segalanya tanpa kehadiran sosok ibu di sampingnya. Seperti yang di alami Bagas saat ini. Ia memang memiliki segalanya, tapi itu semua sia-sia karena dia tidak bisa merasakan sosok ibu di dalam hidupnya.


Karena bagi Rania, sosok ibu adalah segalanya. Sosok ibu sudah cukup, bahkan lebih dari cukup dan satu-satunya harta yang ia milikki.


Rania menyeka air mata yang mulai menderas di pipinya menggunakan punggung tangannya. Ia menatap wajah Bagas, wajah orang yang selalu membuat ia kesal, tapi kadang buat dia merasa bahwa hidup itu perlu banyak rasa. Ia membuat Rania menangis, kadang tertawa, kadang juga terharu.


Rania memberanikan diri untuk menyentuh pipi Bagas.


"Tenang saja, aku akan memberikanmu perhatian dan kasih sayang. Aku akan merawatmu walau apa yang semua aku lakukan ini memang tidak akan sebanding dengan sosok seorang ibu. Tapi, setidaknya kau merasakan apa itu kasih sayang" ucapnya pada Bagas yang masih tidur.


Rania kembali menjatuhkan air matanya, dan terjatuh di atas bibir Bagas. Dengan cepat ia mengelap air mata yang jatuh ke bibir Bagas itu. Ia takut Bagas akan bangun dan merasakan sesuatu yang asin. Iya, air mata kan asin ya. Kalau gak percaya bisa di coba. Hehe.


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR

__ADS_1


Hy readers setia TUAN TAJIR. Jadi gimana nih, episode kali ini udah mengandung bawang belum? Masih kurang ya? Ya sudah nanti saya kasih bawang satu kilo deh supaya bikin perih lagi di mata ketika membacanya. Hehe. Ada yang sampe nangis gak baca episode ini? Kalau ada bilang ya di kolom komentar😊


Like, vote, dan tambahkan juga ke favorit ya bagi yang belum. Bagi yang sudah menambahkan ke favorit jangan lupa untuk baca ketika dapat notifikasi up🤗


__ADS_2