Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Pendarahan


__ADS_3

"Jangan..." Bagas berteriak, ketika Hisam mengangkat pisau itu lebih tinggi dan...


Ketika pisau itu nyaris menusuk perut Rania, tiba-tiba Hisam mengurungkan niatnya. Ketika mendengar suara sirine berbunyi. Sepertinya ada polisi yang datang ke gudang tua tersebut.


Wajah Hisam, Arsilla dan Hera nampak panik dan ketakutan. Hisam segera menarik lengan yang melilit di leher Rania, kemudian mendorong tubuh gadis itu dengan sangat keras ke lantai. Ia harus segera pergi ke tempat itu, ia harus segera menyelamatkan dirinya sendiri.


Arsilla dan Hera pun kini tengah di landa ketakutan, bagaimana jika polisi menangkapnya? Lalu mereka akan di bawa ke kantor polisi, lalu di penjara dengan tuduhan penculikan dan akan melakukan pembunuhan berencana. Mereka akan di jerat pasal berlapis.


Jika semua itu benar, maka Arsilla akan menyusul mantan suaminya di penjara. Dia juga tidak hanya akan menerima resiko bahwa akan hidup miskin setelah melakukan hal buruk terhadap Rania, melainkan harus tinggal di balik sel jeruji besi yang akan mengurunginya selama waktu yang nanti akan di beri sesuai hukuman atas kesalahan yang di lakukan.


Hisam, Arsilla dan Hera. Di pikiran mereka saat ini adalah bagaimana caranya untuk kabur dan lolos dari kejaran polisi. Mereka bersiap untuk melarikan diri, namun sayangnya polisi sudah lebih dulu menangkap basah perbuatan mereka.


"Jangan bergerak!" perintah polisi, ketika Hisam berusaha untuk melarikan diri dari sana. Begitupun dengan Arsilla dan Hera.


Hisam, Hera dan Arsilla mematung, memangkat kedua tangannya ke atas. Petugas kepolisian langsung saja memborgol lengan mereka masing-masing. Tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka, termasuk Brahma yang kelihatan sedih ketika melihat putrinya di tangkap basah oleh pihak kepolisian.


Sementara Bagas merasa lega karena polisi datang tepat waktu.


"Rania, sayang.." Ia menarik pandangannya ke arah Rania yang masih saja ketakutan.


"Sayang.." Bagas berjongkok mendekati Rania dan segera melepaskan ikatan yang melilit di di tangan istrinya.



Setelah itu ia segera mendekap tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Ia menghujani begitu banyak ciuman. Jelas sekali kekhawatiran Bagas tersemat dalam wajahnya. Raniapun tak kalah mendekap tubuh suaminya dengan begitu eratnya.


"Aku takut," Rania merintih.


"Rania, ada aku di sini, sayang. Kau jangan takut!" Bagas berusha mempererat lagi pelukannya.


"Awww.." Rania meringis kesakitan, ketika rasa sakit di perutnya kembali ia rasakan.


Bagas segera melepaskan pelukannya, dengan penuh kekhawatiran, ia meraba seluruh bagian tubuh istrinya.


"Kenapa, mana yang sakit?"


"Aaww.." Rania kembali merintih, ketika Bagas menyentuh bagian perutnya yang sakit.

__ADS_1


"Aku akan segera membawamu ke rumah sakit, kau harus kuat, ya!" Bagas bersiap untuk membopong tubuh Rania, namun Rania segera menolaknya.


"Tidak usah, aku tidak apa-apa!" tolaknya, ia tidak mau membuat Bagas terlalu mencemaskanya. Akhirnya ia memilih untuk menguatkan diri saja dengan menggigit bibirnya kuat-kuat, walaupun sebenarnya itu terasa sangat sakit.


"Aku takut terjadi hal buruk dengan calon anak kita, sayang!" kekhawatiran Bagas tergambar jelas di wajahnya.


"Shtt.. Kau tidak boleh bicara seperti itu, aku baik-baik saja!"


Bagas sebenarnya ingin sekali membawa Rania untuk pergi ke rumah, namun ia tidak bisa memaksanya juga kalau Rania sendiri sudah menolak ajakannya.


"Ya sudah, sekarang kita pulang!" Bagas berusaha mengangkat tubuh Rania untuk berdiri, setelah berhasil ia segera merengkuh bahunya untuk membantu berjalan keluar dari gudang tua ini.


Di luar, Bagas dan Rania dapat menyaksikan Hisam, Arsilla dan Hera di seret paksa oleh pihak kepolisian. Sejujurnya Bagas tidak tega melihat kakaknya di perlakukan seperti itu, namun jika mengingat apa yang sudah di lakukan oleh kakaknya yang juga sudah tega terhadap istrinya, rasa iba itu kian memudar.


Bagas mengangkat sudut bibirnya, tersenyum. Ketika melihat sekretaris Frans ada di sana, berdiri di samping salah satu polisi dan kelihatnnya mereka sedang mengobrol.


"Kerja bagus, Frans!" gumam Bagas.


Sekretaris Frans datang tepat waktu bersama dengan pihak kepolisian. Setelah tadi dia meminta bantuan sekretarisnya, sebelum akhirnya ia pergi ke gudang tua untuk mencari keberadaan istrinya.


Sekretaris Frans menoleh, dan melihat tuannya sedang tersenyum kepadanya. Ia segera menyudahi pembicaraannya dengan salah satu pihak dari kepolisian tersebut, dan berjalan menghampiri tuannya.


"Terima kasih banyak, Frans. Kau datang tepat waktu, aku nyaris kehilangan istriku jika kau terlambat sedetik saja!" Bagas sangat-sangat berterima kasih kepada sekretarisnya, untung dia sempat menelpon dan meminta bantuannya. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi.


"Sama-sama, tuan! Saya sudah menghubungi keluarga nona, kalau nona sudah di temukan, dan mereka merasa lega mendengar kabar ini!"


"Bagus, Frans! Kerja bagus." Bagas mengacungi jempol untum sekrtarisnya ini.


"Oh iya tuan. Ada satu hal lagi," sekretaris Frans mengingat sesuatu.


"Apa, Frans? Cepat katakan!" Bagas menatapnya tidak sabar, hal apa yang di maksud sekretaris Frans.


"Ketika saya memberi tahu mereka kalau nona sudah di temukan, mereia juga memberitahuku kalau abang dari nona itu kecelakaan dari motor. Dan saat ini mereka sedang menyusulnya ke rumah sakit!"


"Apa?" Rania terkejut, ia segera meminta Bagas untuk membawanya ke rumah sakit menyusul keluarganya. Bu Sari pasti sangat cemas.


"Cepat, antarkan aku pergi ke sana!" Rania bergelayut di lengan Bagas, ia meminta agar Bagas segera mengantarnya ke rumah sakit tempat abangnya di rawat.

__ADS_1


Namun, ketika Bagas berusaha membantu Rania berjalan yang kelihatan sangat terburu-buru. Tiba-tiba saja, tubuh Rania nyaris ambruk dan terjatuh jika ia tidak segera menangkap tubuh wanita itu. Ia masih dalam keadaan sadar, namun kelihatannya sangat lemas.


"Sayang, kau kenapa?" Bagas menepuk pipi Rania secara perlahan.


Rania terlihat kesulitan untuk bernapas, wajahnya kian memucat. Tiba-tiba darah segar mengalir dari dalam vagin*nya. Dengan cekatan, Bagas segera membopong istrinya yang sudah mulai tidak sadarkan diri.


"Frans, cepat bukakan pintu mobil!" Bagas berlari dengan tergesa-gesa, kekhawatiran dan kepanikan kembali terlihat di wajahnya.


"Baik, tuan." sekretaris Frans bergegas menuju mobil tuannya, dan membukakan pintu samping mobil tersebut.


Brahma yang baru saja keluar dari gudang tua, langsung membulatkan matanya ketika melihat putranya sedang membopong tubuh menantunya dan memasukannya ke dalam mobil. Ia segera menghampiri Bagas dengan langkah yang tergesa-gesa juga.


"Ada apa, Bagas? Rania kenapa?" Brahma tak kalah panik.


"Sepertinya Rania pendarahan, pa. Aku harus segera bawa dia ke rumah sakit!" jawab Bagas dengan napas tersengal-sengal karena panik.


"Papa ikut," Brahma segera lari dan masuk ke dalam mobilnya.


"Frans, kau bawa mobilku! Mobilmu biar di sini dulu. Kau bisa ambil besok saja!"


"Baik, tuan," sekretaris Frans segera masuk ke dalam mobil Bagas untuk mengemudikannya.


"Cepat, Frans! Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan istri dan calon anakku," sekretaris Frans segera mencancap gas dengan kecepatan penuh.


Ia melirik ke arah spion yang menggantung di hadapannya. Ini pertama kalinya ia melihat tuannya sepanik dan sekhawatir ini.


Bagas membelai lembut rambut sang istri di pangkuannya. "Bertahanlah, sayang!" ia menggenggam buah tangan istrinya, kemudian menciumi punggung tangan itu berulang kali.


.


.


.


Coretan Author:


Huaaa, semakin tegang. Bagaiaman kalau Rania sampai kenapa-kenapa? Minta do'anya buat kalian semuaaaa..!

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, tambahkan ke favorit, ya!


Follow ig: @wind.rahma


__ADS_2