
Devi memutuskan untuk ikut saja dengan pria itu, walau dengan perasaan sedikit takut.
"Nah, begitu dong! Anak perawan gak boleh jalan sendirian tengah malam begini. Takutnya di culik om-om" pria itu merengkuh tubuh Devi berjalan menuju pintu samping mobil sebelahnya lagi. Mendengar pria itu ngomong begitu, Devi melirik sinis. Lah, bukannya anda juga om-om. Batinnya.
"Ayo masuk!" pria itu membukakan pintu mobilnya, Devi mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
Pria itu tersenyum penuh kemenangan ketika seorang gadis cantik nan seksi berhasil masuk ke dalam mobilnya. Ia bergegas masuk ke dalam mobil karena tidak sabar ingin mengobrol dengan gadis tersebut.
"Perkenalkan, nama om, Alertana. Kamu bisa panggil om Alert! Tapi bagusnya panggil mas Alert saja, biar terdengar lebih indah," ujarnya sambil menggoda.
Devi hanya tersenyum tipis, ia bergidik dan tidak habis pikir melihat pria yang sudah bisa di bilang berumur ini masih bisa genit pada gadis berusia dua puluh tahun seperti dirinya.
Di perjalanan, mereka berbincang-bincang.
"Nama kamu siapa, cantik?!"
"Saya Devi, om," jawab Devi lirih.
"Kan sudah di kasih tahu, panggil saja mas Alert!" pinta Alert menyubit pipi Devi dengan beraninya. Devi segera menepis tangan Alert.
"Maaf, om. Saya tidak suka dengan sikap om yang kurang ajar terhadap saya!" pekik Devi, ia menjauhkan tubuhnya dan merasa waspada takutnya pria itu berbuat yang lebih.
Alert bukannya mikir atau merasa tidak enak, ia justru malah menikmatinya. Ia tidak perduli dengan Devi yang melarang dirinya untuk menyentuh sedikit pun bagian dari tubuhnya.
"Tenang saja, cantik! Mas itu orangnya baik, kok. Gak usah panik seperti itu! Gak usah takut, mas main lembut, sayang!" godanya lagi, kini ia berani menyentuh bagian paha Devi yang terlihat mulus dan putih itu.
__ADS_1
"Jangan kurang aja ya, om!" Devi menepis tangan Alert dengan kasar. Namun, Alert merasa semakin tertantang. Birahinya semakin naik dan memuncak, namun ia tidak mau melakukannya sekarang. Ia harus bersikap tenang, ia tidak boleh menunjukkan keagrefisannya.
Alert menghentikkan laju mobilnya, menatap Devi sudah semakin ketakutan. Tidak, ia tidak boleh melakukannya sekarang. Sebisa mungkin harus di tahan terlebih dahulu, karena ia sedang ada di jalan. Takutnya Devi akan berteriak, walau di tempat sepi takutnya ada orang lain yang kebetulan melewati jalan itu juga. Ia harus mengendalikan dan mengontrol dirinya.
Alert melajukan mobilnya lagi, kini ia memilih diam tak bergeming. Yang dapat ia lakukan saat ini adalah, melirik Devi secara diam-diam. Devi dapat bernapas dengan lega, akhirnya pria di sebelahnya tidak jadi memangsanya. Namun, ia harus tetap waspada. Karena seorang pria tetaplah seorang pria, yang akan tergoda birahinya apabila melihat seorang gadis yang memiliki tubuh montok seperti dirinya.
Devi tersadar, ia belum memberi tahu Alert arah jalan menuju rumahnya.
"Om, jalan ke rumah saya harusnya belok kiri tadi!" ucapnya memberi tahu.
"Memangnya rumah kamu di mana?" tanya Alert dengan nada bicara normal seperti bukan pria yang menakutkan dari sebelumnya.
"Jalan XX, om."
"Oh, maaf mas tidak tahu kalau rumah kamu di sana. Tapi kamu tenang saja, di depan nanti ada pertigaan, belok kanan kita bisa lewat sana." ujar Alert membuat Devi mengangguk, mudah-mudahan Alert bisa di percaya, dan tidak akan lagi berbuat yang macam-macam terhadapnya.
Tidak lama, hanya sekitar lima menitan saja Alert sudah keluar lagi. Namun bukannya kembali ke dalam mobil, ia malah masuk ke sebuah apotek yang buka dua puluh empat jam di sebelah mini market tersebut. Hanya dua menit saja, Alert keluar lagi dari sana. Benar-benar mencurigakan. Kali ini ia berjalan menuju mobilnya.
"Mas belikan minum untuk kamu, mas lihat kamu tadi kecapean setelah jalan kaki. Di minum, ya!" Alert memberikan air minum botolan rasa jeruk itu pada Devi. Dia menerimanya sedikit ragu.
"Terima kasih, om!" ucapnya seraya menerima air minum tersebut.
"Sama-sama, panggil mas saja, ya!" pintanya lagi.
Alert memandang wajah Devi dengan wajah bahagianya, itu membuat Devi semakin risih saja.
__ADS_1
"Kenapa om ngeliatin saya seperti itu?" tanyanya menundukkan wajah.
"Tidak! Maaf ya kalau kamu risih dekat dengan mas. Maafkan sikap mas yang tadi. Di minum dong minumannya!"
"Iya, om."
Alert melajukan mobilnya. Sambil jalan, Devi membuka tutup botolnya, namun begitu di buka, perekat segelnya sudah tidak ada. Seperti botol yang sudah di buka oleh seseorang. Devi mengerutkan dahinya, melirik Alert yang sedang bersiul. Ia jadi ragu untuk meminum minuman itu. Ia berpura-pura minum saja, namun ketika ia berpura-pura meneguk minumannya, Alert tiba-tiba mengerem mendadak. Sehingga membuat minuman itu masuk dan keminum olehnya.
Glekk..
Minuman itu masuk ke dalam tenggorokan dan lepas turun ke perut. Devi membuka matanya sempurna, ia sebenarnya curiga kalau Alert pasti sudah memasukan sesuatu ke dalam minuman tersebut. Sialnya nasibmu malam ini, nak.
Entah kenapa, kepala Devi terasa sangat pusing. Sampai akhirnya ia tidak dapat melihat lagi dengan jelas, wajah Alert pun terlihat buram, dan suaranya terdengar samar.
Alert menepok-nepok pipi Devi, untuk memastikan keadaannya. Tidak ada suara lagi ataupun penolakan ketika di sentuh, Alert terbahak atas keberhasilannya.
"Cantik sekali gadis ini," ujar Alert sambil membelai rambut Devi. Itulah kata terakhir yang terdengar dari mulut Alert walau samar sebelum akhirnya Devi benar-benar tidak sadarkan diri.
***
Devi membuka kedua matanya, mengerjapkannya beberapa kali. Kepalanya benar-benar pusing sekali, semuanya terlihat buram. Ia memijat kepalanya pelan, sampai ia bisa melihat dengan jelasnya.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan? Devi baru sadar kalau ia sedang berada di ruang kamar seseorang. Kemar siapa? Ia membuka selimut yang menyelimuti sekujur tubuhnya saat ini. Begitu di buka, ia terkejut karena tubuhnya polos tanpa busana.
Matanya membulat sempurna. Apa yang sebenarnya sudah terjadi sehingga membuat dirinya ada di dalam sebuah kamar dengan tubuh tanpa busana? Pertanyaan itu memenuhi seisi kepalanya. Kemudian ia teringat dengan pria yang bernama Alert itu, ia ingat kalau semalam ia tidak sadarkan diri. Ia segera mencari keberadaan Alert. Dimana dia?
__ADS_1
Devi mengambil pakaiannya yang tergeletak di bawah lantai, ia segera mengambil dan memakainya lagi dengan tergesa. Pikirannya sudah kacau ketika melihat darah di atas sprei putih tempat tidur. Apakah ia di setubuhi oleh pria berusia empat puluh tahunan itu? Tubuhnya gemetar, ketakutan melanda pada dirinya.
Tiba-tiba ada suara seseorang yang tertawa terbahak, ia langsung menoleh dan mencari sumber suara tawa tersebut. Matanya tertuju pada sosok pria yang baru saja keluar dari kamar mandi. Yang lebih mengejutkan lagi, pria itu hanya mengenakan celana kolor saja. Dia adalah Alert.