Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Isi Kantong Plastik Hitam


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Bagas mendapati pesan dari sekretaris Frans untuk meminta data penting. Bagas pamit kepada Rania untuk ke ruang kerjanya sebentar, Bagas juga berpesan untuk jangan tidur dulu kepada Rania. Tunggu dia kembali, pinta Bagas. Rania mengiyakan saja.


Dan mungkin ini kesempatan Rania untuk membuka sesuatu pemberian Hisam tadi. Ia duduk di tepi ranjang tempat tidur, perlahan mulai membuka isi di balik si kantong plastik hitam.


"Wow" ucap Rania takjub, begitu melihat isi dari kantong plastik hitam tersebut.


Rania langsung mengambil sebuah baju putih seragam SMA yang sudah di corat-coret, banyak sekali tanda tangan tertera di sana. Tidak ketinggalan juga noda pilox menempel di sana. Di saku bajunya, ada sebuah kertas putih kecil, Rania segera mengambilnya dari saku tersebut. Begitu di buka, ada sebuah tulisan tangan di sana. Kemudian Rania baca yang isinya:


Rania..


Ini hadiah pertemuan terakhir untukmu, sebuah baju yang pasti kamu juga menginginkannya untuk di jadikan kenangan. Ini mungkin gak berarti apa-apa bagimu. Tapi yang pasti, jujur aku menyukaimu sejak lama. Hari ini, aku melihatmu sudah bersama dengan orang yang hidup bersamamu selamanya. Maaf jika pengakuanku mengganggumu, dari kalimat pertama, hari ini adalah pertemuan terakhir. Aku tidak akan hadir lagi dalam hidupmu, semoga kamu bahagia dengan pria yang menjadi suamimu itu. Tapi jika Tuhan mengizinkan aku bertemu lagi denganmu nanti, aku pasti akan senang. Walaupun kita hanya sebatas teman. Memang teman.


Salam hangat,


Hisam.


Setelah membaca surat itu Rania diam tak begeming, ia masih tidak mengerti dengan isi surat itu. Tapi setelah ia baca ulang, isi surat itu lebih mengarah pada Hisan yang mengatakan perasaannya terhadap dirinya. Ia juga baru tahu bahwa Hisam menyimpan perasaannya selama ini kepadanya, tapi mungkin itu lebih baik daripada ia mengetahui dari dulu. Jika saja Hisam dulu mengatakan perasaan pada dirinya, itu juga akan membuat lebih kecewa, karena Rania hanya menganggapnya sebagai teman, teman yang tidak terlalu ia kenal. Tapi, ah, sudahlah, dia hanya sebatas orang yang seharusnya tidak hadir di tengah-tengan kehidupan Rania, apalagi sekarang.


Tiba-tiba saja, ketika Rania masih menatap selembar kertas berisi surat dari Hisam tersebut, pintu terbuka begitu saja oleh Bagas yang langsung masuk. Itu membuat Rania jadi salah tingkah dan surat itu ia remas di tangannya kemudian ia masukan ke saku celananya.


Bagas langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur sesudah ia menutup pintunya kembali. Rania terlihat sedikit panik, panik kalau Bagas melihat surat itu. Tapi sepertinya tidak.


"Hey, apa itu?" tanya Bagas ketika melihat baju yang di penuhi noda pilox di pangkuan Rania.


"Em, i-ini.. Pemberian dari Diva tadi" jawab Rania gugup, bohong juga. Ia takut kalau Bagas tahu itu betul-betul pemberian dari Hisam, akan muncul masalah baru di rumah tangganya yang baru saja membaik.


"Oh" jawab Bagas singkat.


"Kau belum mengantuk?" tanyanya lagi sambil memposisikan tubuhnya dengan menyandarkan punggung ke sandaran tempat tidur.


"Kau yang bilang agar aku menunggumu sebentar!" Rania menaruh baju itu di meja kecil samping tempat tidur, ia masukan kembali bajunya ke kantong plastik hitam.


Bagas tersenyum karena Rania menuruti perintahnya.


"Kau tidur saja jika mengantuk, jangan di tahan, tidak perlu menungguku!"

__ADS_1


"Tidak! Aku takut kau marah dan... Kau beri lagi penderitaan baru untukku" jawab Rania dengan nada bicara seperti menyindir.


Mendengar itu Bagas langsung tertawa dan tangannya mengusap wajah Rania.


"Kau ini, pintar menyindir orang juga, ya"


"Aku tidak menyindirmu, kalau kau merasa ya bagus. Lagian juga aku bukan orang pintar, hanya seorang gadis bodoh!" katanya lagi.


"Hahaha. Sudahlah, tidak perlu menyindirku lagi seperti itu!" pinta Bagas langsung memposisikan tubuhnya terlentang bersiap untuk tidur. Raniapun sama, membaringkan tubuhnya yang semula duduk. Mereka berdua saling menatap langit-langit kamar.


Tiba-tiba Rania jadi penasaran, data penting apa yang di pinta sekertaris Frans sampai ia memintanya saat ini juga, malam hari. Padahal besok mereka akan kembali bertemu.


"Kau menyerahkan data penting apa tadi?" Rania kembali berbicara setelah keheningan menyelinap di dalam pikiran mereka beberapa menit.


"Frans, maksudmu?" Bagas menoleh Rania yang sudah memandangnya.


"Iya"


"Kakak perempuanmu tadi di jemput ke Briliant Group, Frans yang mengurusnya. Karena aku dengar dia ada niatan akan bekerja di sana" jelas Bagas membuat Rania terkejut.


"Hem, jadi kau sudah tahu rencana itu"


"Aku bahkan sempat melarangnya" kata Rania.


"Kenapa?"


"Aku tidak mau kak Nadira di perlakukan sama sepertiku olehmu"


"Kau tenang saja, semuanya akan baik-baik saja!" ucapan Bagas membuat kekhawatiran Rania sedikit hilang, ia tahu Bagas sudah berubah, tapi tetap saja rasa khawatir itu tetap ada.


"Tidur, ya, sudah malam!"


"Iya"


Bagas menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Rania dan juga dirinya. Sebelum Bagas memejamkan mata, ia mengucapkan:

__ADS_1


"Selamat tidur sayang" tanpa menunggu jawaban ataupun balasan ucapan selamat tidur dari Rania, Bagas langsung saja memejamkan matanya. Karena ia tahu, Rania tidak akan membalas ucapan selamat tidurnya.


Dan benar saja, Rania tidak membalas ucapan selamat tidur Bagas. Terasa canggung untuk mengucapkan kata-kata seperti itu. Apalagi ia akan mengatakannya pada seseorang yang tadinya jahat, kejam, tiba-tiba aja jadi luluh.


*****


Pagi hari tiba, di tempat kediaman pak Burhan dan bu Sari. Nadira sedang meminta restu dan ridho dari sang ibunda. Ada pak Burhan dan Radit juga duduk di sana.


"Bu, do'ain Nadira, ya! Hari ini keputusan dari suami Rania menerima atau tidaknya Nadira bekerja di sana" ucap Nadira sembari memegangi tangan ibunya.


"Enak banget kamu Nad, baru mau kerja aja, itu juga belum tentu di terima udah di antar jemput segala. Kayak ratu aja. Lah abang, yang udah bertahun-tahun kerja di sana boro-boro di jemput, tiap hari harus naik angkot, apalagi buat naik jabatan" timpal Radit yang sedang memakan kue roma sebagai teman ngopinya.


"Gak usah pusing begitu, Dit! Kita desak Rania saja supaya membicarakan masalah kamu pada Bagas, lagian Rania sekarang bisa seperti itu berkat kamu" timpal pak Burhan.


Bu Sari dan Nadira menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak dan ayah sama saja.


"Ayah, Radit, kita syukurin aja yang ada! Banyak di luar sana yang jadi pengangguran, susah mendapatkan kerja. Seharusnya kamu bersyukur, Dit!"


"Ah, ibu ini. Kalau Radit terus-terusan jadi OB, kapan Radit kayanya, bu?!" protes Radit kemudian bangkit berdiri dari duduknya.


"Bang, ikut bareng sama Nadira aja kalau gitu!" tawar Nadira menghentikan Radit yang nyaris pergi dari sana.


"Gak usah! Abang bagian shift siang" jawabnya sambil berlalu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Kalau suka jangan lupa tinggalkan like ya, vote juga menggunakan poin ataupun koin. Tambahkan ke favorit agar mendapat notifikasi ketika updet next chapter.


__ADS_2