
Reyhan duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.
Mengapa mimpi itu selalu datang? Mengapa kejadian di masalalu itu selalu menghantuiku? Mengapa wajah gadis itu terlihat sangat jelas setiap kali aku memimpikannya?
Reyhan mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya sambil menghembuskan napas dengan panjangnya.
Reyhan termenung, ia membayankan kejadian di waktu itu, persis dengan kejadian di mimpinya barusan. Saat papanya ia temukan dalam keadaan sudah tidak lagi bernyawa, ia segera menghubungi pihak kepolisian. Mamanya datang saat polisi sudah ada, dan sekitar rumahnya sudah ramai di kerumuni banyak orang. Mamanya lebih histeris saat pulang melihat suaminya terbaring di ruang tamu, dengan orang-orang di sampingnya yang sedang mengaji.
Saat itu Reyhan tidak dapat lagi menahan tangisnya, derai tangisnya terus mengalir bersamaan dengan mamanya. Ia memeluk mamanya erat untuk menguatkan, padahal dirinya sendiri sangat rapuh.
Reyhan menoleh pada gadis dengan tangan yang berlumuran darah itu sedang di seret paksa oleh polisi. Gadis itu menangis saat di seret paksa oleh polisi, dia mengulurkan tangannya dan menggeleng keras pada Reyhan, seperti sedang memberi tahu pada Reyhan kalau ia tidak melakukan semua itu. Saat itu Reyhan setuju dengan polisi, kalau gadis itu yang telah membunuh papanya. Bukti di tangannya sudah sangat menguatkan, dia adalah pembunuh papanya.
Gadis itu, dengan wajah yang mirip sekali dengan Diva, menjadi alasan mengapa Reyhan tidak pernah menyukai Diva. Saat pertama kali ia bertemu dengan Diva di jalan dengan Rania, ia sangat terkejut begitu melihatnya. Tapi ia berusaha biasa saja ketika Rania memperkenalkan kalau dia adalah teman dari Rania. Ia berusaha menghargai Rania saat itu. Ia juga tidak mau kalau tiba-tiba marah tanpa alasan, Rania jadi curiga. Dan ia tidak bisa menceritakan masalalunya ini kepada siapa pun, termasuk Rania.
Reyhan kembali meneteskan air mata jika mengingat hal itu. Rasanya saat itu ia seperti di tusuk dengan pedang dan mencabik hatinya. Sakit rasanya di tinggalkan oleh orang tua untuk selamanya. Kini hanya seorang mama yang ia punya. Satu-satunya wanita yang tidak mau ia kecewakan sepanjang hidupnya.
Reyhan kembali membaringkan tubuhnya untuk melanjutkan tidurnya, jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Tidak terasa, ia mengulang bayangan di masalalu hampir satu jam lamanya. Jam dinding yang berwarna biru muda itu, sialnya, membuatnya seperti di paksa untuk kembalu mengingat gadis pembunuh itu. Gaun berwarna biru muda yang robek itu, membuatnya kini mulai bertanya-tanya.
"Saat itu, gaun biru muda milik gadis pembunuh itu robek. Dia langsung di penjara begitu saja dengan hukuman maksimal lima belas tahun penjara. Padahal, dia juga belum mengatakan apapun, dan belum sempat menjawab pertanyaanku. Apa dia benar-benar bersalah?" gumamnya pada diri sendiri.
"Aargghh.. kenapa aku jadi kepikiran gadis itu? Jelas-jelas dia telah membunuh papa!" Reyhan memukul kepalanya berulang lagi, merasa bodoh.
"Tapi kenapa gadis itu mengulurkan tangan dan menggeleng keras ketika aku menoleh, seolah dia sedang menjelaskan kalau dia tidak seperti yang aku pikirkan?" bertanya-tanya lagi, kini terasa ada yang janggal.
"Ah, Rey. Dia itu pembunuh, seorang pembunuh tetaplah pembunuh!" Reyhan meracau, ia tidak boleh jadi dilema seperti ini. Ia tidak boleh tertipu dengan gaun robek di lengannya itu. Mungkin itu hanya bagian dari rencananya untuk melakukan aksi pembunuhan.
Pikiran Reyhan mulai tidak tenang, ia bingung dengan gadis pembunuh itu. Apa dia benar-benar pembunuh?
__ADS_1
"Aku akan pergi ke tempat di mana dia di penjarakan saja, untuk mengetahui hal yang sebenarnya!" ujar Reyhan, ia berusaha untuk menenangkan pikirannya yang kacau ini.
***
Pagi harinya, Rania duduk di lantai atas yang sekarang di rukonya ada ruang pribadi untuknya. Ia melirik dua orang yang sedang duduk di hadapannya itu secara bergantian. Rupanya dua orang itu adalah pegawai baru yang di rekomendasikan oleh Reyhan. Hanya ada dua orang wanita di hadapannya, satu lagi dimana? Padahal kan Rania meminta tiga orang pegawai baru, yang satunya lagi itu minta laki-laki.
Apa Reyhan belum mendapatkan pegawai laki-lakinya? Tapi, Reyhan kemana dia? Mengapa dia belum datang juga? Pikir Rania.
Dua orang pegawai baru itu saling menyikut, bertanya-tanya mengapa calon ibu bos-nya itu malah melamun? Akhirnya salah satu dari mereka memberanikan diri untuk membuka suara.
"Maaf, bu! Jadi, apa kami di terima?" tanya calon pegawai satu itu dengan nada bicara sopan dan ramah.
"Eh, maaf! Saya melamun, ya. Haha. Maaf, ya!" Rania tersadar dari lamunannya dan tiba-tiba tertawa asik sendiri. Membuat kedua calon pegawainya itu semakin merasa bingung dengan calon ibu bos.
"Tidak apa-apa, bu! Kami di terima?" dia mengulang pertanyaannya.
Kedua pelayan itu meraih tangan Rania dan mencium punggung tangannya seraya mengucapkan banyak terima kasih. Rania sendiri merasa kesakitan karena kedua pegawainya meremas buah tangannya lumayan keras.
"Haa.. iya, sama-sama. Kalian bisa mulai kerja sekarang juga!" balasnya sedikit merintih karena sakit.
"Iya, bu. Terima kasih banyak, ya!" ucap keduanya merasa sangat bersyukur.
Kedua pegawai yang ia terimanya itu segera bangkit dari duduknya, dan dengan langkah tergesa ia keluar dari ruangan pribadi Rania. Namun sebelum mereka membuka pintu, Rania menghentikkan langkah keduanya.
"Eh, tunggu!" keduanya menoleh, Rania berjalan menghampiri mereka.
"Ada apa, bu?"
__ADS_1
"Kalian datang dengan Reyhan tidak?"
Pertanyaan Rania membuat kedua pegawai barunya saling menyikut. Rania yang melihatnya di buatnya bingung.
"Hey, kalian kenapa?!"
Kedua pegawai baru itu berdiri dengan posisi siap seperti mau upacara.
"Kami tidak tahu, bu!" jawab mereka secara bersamaan.
Rania menatap mereka bergantian, pegawai barunya ini kenapa, ya? Ia melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kelakuannya sedikit aneh, sedikit somplak juga. Rania tersenyum kecil.
"Ya sudah, kalian mulai bekerja saja!" titahnya, membuat kedua pegawai barunya itu kompak memberi hormat.
Memangnya kalian pikir aku tiang bendera? Haha, rupanya aku akan mendapat hiburan baru dengan kehadiran kalian. Gumamnya.
Setelah kedua pegawai barunya keluar dari ruangan peribadinya, Rania langsung mengecek ponsel. Namun sama sekali tidak ada pesan yang masuk.
Apa Reyhan tersinggung dengan ucapanku kemarin, ya? Ah, masa sih Reyhan orangnya begitu? Reyhan yang aku kenal adalah orang yang suka bercanda, bukan Reyhan yang mudah tersinggung. Positive thingking aja, mungkin dia sedang ada urusan. Apalagi ia sudah memliki tunangan. Ah, sudahlah.
.
.
.
Coretan Author:
__ADS_1
Hari ini update 2 bab, biar kalian puas bacanya, hehe. Habis baca, VOTE atuh ya! Maksa nih, haha. Tuan tajir ganti judul mulai hari ini. Lebih tepatnya nambahin kata doang, biar lebih banyak minat pembaca menjadi TERPAKSA MENIKAHI TUAN TAJIR. Rekomendasikan pada pembaca lain, ok?!