
Bagas tidak turun lagi ke bawah untuk kembali ke meja makan, ia memilih untuk masuk ke kamarnya saja dan duduk menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia tidak menyangka kalau masalahnya yang selesai menimbulkan masalah baru bagi dirinya saat ini. Seharusnya hari ini menjadi kebahagiaan besar baginya dan papahnya, namun sebaliknya.
Bagas menelungkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya, ia tidak tahu harus bagaimana cara meluruskan semua ini. Namun ia mengingat kembali kata-kata ayahnya.
"Papah juga kecewa dengan sikap Arsilla yang ikut memberi penderitaan pada Rania. Papah tidak tahu harus mengatakan apa lagi, papah merasa bersalah sekali dengan Rania"
Kata-kata itu terngiang di kepalanya terus menerus, tapi jika ia cerna seperti ada yang aneh. Ia membangunkan punggung dari tempat bersandarnya.
"Papah bilang kakak melakukan hal yang sama pada Rania, dia juga membuat Rania menderita. Berarti selama ini dia menanggung penderitaan yang amat besar" pikirnya ketika mencerna baik-baik perkataan ayahnya.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" Bagas merasa paling salah di sini, karena dirinya Rania menjadi korban atas kepentingan pribadinya. Di tambah lagi Rania menjadi korban atas rasa trauma yang di alami rumah tangga Arsilla, Bagas tahu betul itu.
Bagas kembali berpikir, terus berpikir. Sampai akhirnya ia mendapat solusi untuk memahkan masalah ini.
"Hanya ada satu cara! Semoga ini berhasil!" ucapnya setelah memikirkan jalan keluar dari masalah ini.
Pintu kamarnya terbuka dan muncul Rania di ambang pintu.
"Hei, kenapa kau ada di sini? Bukannya tadi bilang mau ke kamar ayah jemput dia buat makan?" tanya Rania bingung, kemudian ia menutup kembali pintu kamarnya lalu menghampiri Bagas dan duduk di sampingnya.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Jangan membuat seseorang untuk mengulangi kalimat yang sama!"
Bagas masih tetap diam, rupanya ia akan mengatakan sesuatu pada Rania namun ia bingung untuk mengatakannya. Ia terlihat sedikit gelisah.
"Hei, kau kenapa? Ada apa? Apakah ada masalah? Ceritakan pada istrimu ini!" tanya Rania berbondong-bondong. Sejak pergi ke kamar ayahnya, Bagas kembali dengan raut wajah aneh, ia juga tidak lagi kembali ke meja makan setelah Rania menunggu sendirian karena kedua wanita menyebalkan itu kembali ke kamarnya.
"Begini, sayang. Aku mau bicara serius!" Bagas yang semula sama sekali tidak memandang istrinya, kini ia memegang erat kedua bahu Rania dan mentapnya lekat serius.
Rania menatap mata Bagas serius juga, sebenarnya apa yang telah terjadi. Akhirnya Bagas mau bicara juga.
***
Rania mengetuk pintu kamar seseorang, tidak lama kemudian muncul Brahma di baliknya. Rania menunduk seketika Brahma menatap dirinya.
__ADS_1
"Ayah, Rania mau bicara," ucap Rania seraya meremas jemarinya. Ia juga sebenarnya takut juga jika ayah mertuanya ini sedang dalam kuasa amarah.
Brahma menatap Rania penuh rasa bersalah, ia tahu kalau Rania pasti akan membicarakan masalah mengenai cctv.
Kini Brahma dan Rania berdiri di balkon, Brahma mengajaknya untuk bicara di sana saja. Karena suasana malam dengan gemerlap bintang, terangnya bulan, hembusan angin malam sedikit saja dapat meredakan amarahnya.
Rania memegangi besi pagar balkon, sambil menatap indahnya langit malam, ia dapat merasakan dinginnya angin yang mampu menusuk sampai ke tulangnya. Sampai dirinya mengusap lengannya karena kedinginan.
Rania menoleh pada ayah mertuanya, memandang lurus ke depan. Mungkin ini saatnya Rania untuk bicara.
"Ayah, Rania mau bicara soal.."
"Papah sudah tahu kamu mau membicarakan soal apa, Rania," potong Brahma sebelum Rania melanjutkan pembicaraannya.
"Pertama, papah mau meminta maaf sebesar-besarnya atas semua yang telah Bagas dan Arsilla lakukan kepadamu," tutur Brahma, "Papah betul-betul tidak tahu, Rania. Kenapa kamu juga tidak pernah bilang sama papah atas semua yang telah terjadi?"
"Ayah, aku tidak apa-apa" ucap Rania dengan lapang dada.
"Papah tahu kamu pasti terluka, Rania. Kamu memang menantu yang baik. Kamu juga istri yang baik untuk Bagas, tapi kenapa Bagas yang tidak pernah mensyukuri itu" sahut Brahma, ia tidak tahu jalan pikiran Bagas seperti apa.
"Rania," lagi-lagi Brahma tidak memberi celah untuk Rania bicara.
"Tujuan papah meminta Bagas untuk segera menikah itu, bukan sekedar papah mau mewariskan seluruh harta papah. Itu hanya iming-iming supaya Bagas mau mendengarkan papah. Tujuan sebenarnya adalah, agar Bagas mempunyai istri yang bisa memberikan perhatian untuk dia" Brahma menyeka air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Papah sadar, Bagas tumbuh menjadi pria yang arogan seperti itu karena kesalahan papah. Sejak kecil Bagas memang sama sekali tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Ibunya meninggalkan dia pada saat melahirkannya. Itulah sebabnya Arsilla juga membenci Bagas, karena kalau Bagas tidak ada, mungkin ibunya masih hidup sampai detik ini," Brahma membeberkan semuanya.
"Papah juga tidak bisa memberikan perhatian dan kasih sayang lebih, karena waktu papah habis untuk kerja keras banting tulang untuk menghidupi keluarga. Bagas sering mengira kalau papah tidak menyayanginya, padahal semua ini ada alasannya."
Brahma menepuk pundak Rania pelan, "Rania, papah senang sekali kamu hadir dalam hidup Bagas. Tetapi papah sedih, ternyata Bagas sama sekali tidak menginginkan kehadiranmu," Brahma tidak dapat menahan lagi rasa sedihnya, dinding pembatas tidak dapat lagi menahan bendungan air mata yang memaksanya untuk mengalir.
"Ayah, biarkan aku bicara," pinta Rania.
"Maafkan papah, nak!" Brahma di penuhi rasa bersalah, ia terus memohon agar Rania berlapang dada untuk memafkan kesalahan dirinya dan putra putrinya.
__ADS_1
"Ayah, Bagas memang berbuat jahat pada Rania. Tapi itu dulu. Sekarang ia telah berubah, ia benar-benar sudah berubah menjadi lebih baik, ayah" Rania terus meyakinkan Brahma.
"Rania, kamu betul-betul anak baik. Sampai kamu rela menutupi rasa sakit kamu dengan tidak menyalahkan Bagas. Papah tahu kamu sangat terluka. Tapi papah mohon, jangan tutupi semua ini! Kamu tidak pandai berbohong, Rania," Brahma terkekeh tidak mau percaya juga.
"Ayah, dengarkan aku! Bagas memang benar-benar sudah berubah, Rania mohon percayalah! Rania pikir papah hanya melihat dokumen rekaman cctv itu sebagian saja, sampai papah tidak tahu kalah Bagas sebenarnya sudah berubah," Rania terus meyakinkan ayah mertuanya itu untuk mempercayai perkataannya.
Brahma tertegun, Rania benar juga. Ia memang melihat rekaman cctv itu sebagian, karena ia langsung marah pada Bagas sampai ia tidak melanjutkan melihat rekaman itu.
"Ayah, Rania mohon, percayalah!" Rania menggenggam sebelah tangan auah mertuanya, "Bagas telah berubah, dan sekarang Rania sedang mengandung calon anak Bagas, calon cucu ayah" ucapnya seraya memberi seulas senyum bahagianya.
Brahma masih membisu, sepertinya Rania berbicara jujur padanya. Setelah ia berpikir berulang kali, akhirnya ia mau percaya pada Rania. Namun, hanya untuk sementara. Karena ia akan kembali melihat rekaman cctv setelah ini untuk mengetahui kebenarannya.
Brahma memeluk Rania sebagai tanda kasih sayang dan kebahagiannya. Rania seperti anak kandungnya sendiri, bahkan Bagas-pun yang anak kandungnya tidak pernah ia peluk, Bagas selalu menolaknya karena merasa tidak di sayangi.
"Selamat ya, Rania. Akhirnya papah akan mempunyai cucu. Papah percaya sama kamu, tolong tuntun Bagas ke arah yang lebih baik lagi," bisiknya tepat di telinga Rania.
Bagas berdiri di belakang di ambang pintu tidak jauh dari sana, dapat menyaksikan betapa terharunya ketika ia melihat Rania di peluk papahnya. Rupanya Rania berhasil membuat Brahma percaya akan semua itu.
Brahma melepaskan pelukan Rania, ia tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata haru, air mata bahagia karena memiliki menantu yang begitu luar biasa.
"Masalah kakak iparmu, nanti papah akan bicara padanya. Sekarang kamu istirahat, ya! Jaga baik-baik calon cucu papah!" pintanya.
"Baik, ayah. Terima kasih sudah percaya dengan Rania!" ucapnya di angguki Brahma.
Brahma sangat beruntung di karuniai menantu seperti Rania. Dia sosok wanita yang hebat, ia sampai bisa menyayangi seorang menantu seperti ia menyayangi anak kandungnya sendiri.
.
.
.
Coretan Author:
__ADS_1
Gimana nih, feel-nya dapat gak di bagian chapter ini? Antara menantu dan mertua. Komen, ya! Like, tambahkan ke favorit. Jangan lupa nabung poin, biar bisa VOTE banyak!