Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Permintaan


__ADS_3

Bagas terbangun dari tidurnya, tubunya merasa terbebani oleh sesuatu. Setelah ia mengucek-ngucek kedua matanya, ia mendapati Rania yang tidur di dadanya dan posisi masih dalam keadaan duduk. Tangannya memeluk dirinya. Bagas nyaris mendorong tubuh Rania, tapi ia langsung sadar bahwa itu tidak lagi pantas ia lakukan.


Bagas tersenyum memandang wajah Rania yang begitu imut dan cantik dalam jarak dekat. Ingin rasanya ia mengecup kening Rania. Tapi, seperti itu bukan waktu yang tepat juga untuk ia lakukan.


Gadis bodoh, kau cantik. Gadis imut, kau sangat cantik.


Bagas menyingraikan sehelai rambut yang jatuh ke wajah Rania. Ia mengelus pangkal rambut Rania pelan. Kali ini Bagas benar-benar menyentuh Rania dengan lembut.


Lagi-lagi niat jahil terlintas di dalam pikiran Bagas.


Maafkan aku ya gadis bodoh.


Bagas mendekatkan tangannya ke wajah Rania, dengan hati-hati ia memencet hidung Rania sampai Rania terbangun karena tidak bisa nafas.


"Tenggelam, aku tenggelam. Tolong aku tenggelam!" teriak Rania ketika bangun dari tidurnya membuatnya gelagapan, karena ulah Bagas yang memencet hidungnya.


Bagas yang menyaksikannya tertawa terbahak. Sedangkan Rania sedang mengantur nafasnya yang tidak beraturan. Rania melirik Bagas yang tengah asik mentertawakannya, ia heran kenapa Bagas bisa tertawa lepas seperti itu.


Hm, kenapa lagi dia? Apa dia mengerjaiku lagi. Oh, ya ampun. Aku baru sadar kalau aku ketiduran.


"Kau mentertawakan saya?" tanya Rania untuk memastikan.


"Tidak! Geer banget kau"


"Terus, kenapa kau tertawa?"


"Mau aja!"


Rania menyipitkan kedua matanya, ia melayangkan tatapan kecurigaan pada Bagas. Ia curiga bahwa Bagas lagi-lagi mengerjainya.


"Duduklah!" Bagas menepuk tempat tidur di sampingnya agar Rania duduk karena saat ini Rania masih berdiri.


Rania menata rambutnya yang berantakan lalu duduk menurut dengan perintah suaminya.


"Ada apa?" tanya Rania membelalakan matanya.


"Suruh ibumu untuk datang ke sini!"


Seketika Rania terkejut mendengar perintah Bagas barusan.


Apa aku tidak salah dengar? Dia ingin ibu untuk datang ke sini? Untuk apa? Apa dia belum puas membuatku tersiksa berada di rumah ini, sekarang ibu? Tidak aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi jika dia melakukan hal serupa terhadap ibu. Tapi, aku juga tidak boleh mikir yang tidak-tidak terlebih dahulu.


"Hey, apa kau tidak dengar?" Bagas membuyarkan lamunan Rania, membuat tubuh Rania tersentak karena terkejut.


"Eh, iya. Saya akan coba bicara dengan ibu untuk secepatnya datang ke sini!"


"Bagus!"


Rania masih penasaran kenapa Bagas meminta ibunya untuk datang ke rumahnya. Kemudian Rania memberanikan diri memberinya pertanyaan.

__ADS_1


"Tapi, untuk apa kau meminta ibu untuk datang ke sini?" tanya Rania dengan penuh ke hati-hatian, takutnya ia salah lagi.


Bagas melirik Rania tajam, "Heh, kau tidak perlu tahu. Kau cukup beri tahu ibumu untuk datang ke sini!"


"Sekarang?"


"Tahun depan!" bentak Bagas kemudian menarik lagi selimutnya, menyelimuti seluruh tubuhnya sampai ujung kepala.


Rania menggeleng-gelengkan kepalanya, ia berdecak sebal. Baru tadi Bagas membuatnya terharu, sekarang sudah membuat ia kesal lagi. Memang manusia yang satu ini gampang banget berubah-ubah, udah kayak mood cewek aja.


Rania merogoh ponsel yang ada di saku depan celananya, ia sedikit menjauh dari tempat tidur Bagas. Rania memutar-mutarkan ponselnya sambil berpikir, siapa yang akan dia telpon. Karena di rumahnya tidak ada lagi yang memiliki ponsel yang bisa ia hubungi selain abangnya. Rania juga berpikir kalau abangnya pasti sekarang sedang bekerja, lalu siapa lagi yang bisa ia hubungi.


Bang Radit kerja bagian shift pagi gak yah? Em, coba aku telpon deh, semoga dia ada di rumah dan Bagian shift siang.


Rania akan mencoba menghubungi abangnya saja, siapa tahu ia beneran bagian shift siang. Ia mendekatkan ponselnya ke dekat telinga setelah mengklik nomer abangnya.


TUTTT.. TUTTT..


Tidak ada jawaban.


Apa bang Radit lagi kerja yah? Coba sekali lagi deh.


TUTTT.. TUTTT..


"Hallo" suara dari seberang sana. Akhirnya ada jawaban juga.


"Hallo bang, maaf Rania mengganggu. Apa bang Radit lagi kerja atau masih di rumah?"


"Rania mau bicara sebentar sama ibu, ibu ada kan?"


"Ibu lagi ke warung!"


"Oh, em kira-kira masih lama gak, bang?"


"Gak tau"


"Ya udah, kalau begitu nanti Rania telpon lagi aja ya!"


"Gak usah!"


"Kenapa, bang?"


"Ibunya udah dateng"


"Beneran, mana?"


"Nih bu, Rania mau ngomong katanya!"


"Hallo, bu"

__ADS_1


"Iya, Rania. Ada apa? Tumben telpon"


"Suami Rania minta ibu untuk datang ke sini sekarang, ibu bisa?"


"Ada apa memangnya? Kenapa mendadak?"


"Ibu ke sini aja, itu pun kalau ibu bisa. Nanti akan ada supir ke sana buat jemput ibu"


"Oh, iya bisa, bisa, Rania. Ibu langsung siap-siap ya"


"Iya, bu. Terima kasih"


"Iya."


Setelah berbicara panjang lembar, sambungan telpon pun di matikan. Rania senang, akhirnya ibunya bisa datang ke tempat kediamannya sekarang. Walaupun ia juga merasa khawatir jika kakak iparnya tahu kalau ibunya akan menginjakan kaki juga di rumahnya. Ia takut ibunya akan tahu bagaimana ia di perlakukan selama ini oleh sang penghuni rumah.


Semoga saja ibu nanti tidak lama di sini, aku takut ibu bertemu dengan kakak ipar. Aku takut kakak ipar akan memaki dan menghina ibu sama seperti dia menghina dan memaki aku. Aku juga takut kalau sampai ibu tahu selama ini aku di perlakukan begitu. Aku takut ibu sedih. Aku takut ibu akan merasa lebih bersalah lagi. Ya Tuhan, semoga semuanya tetap baik-baik saja. Biarkanlah kebahagian berpihak kepadaku.


Rania kembali ke samping tempat tidur Bagas untuk memberitahu kalau ibunya bisa datang ke sini.


"Tuan, tuan" panggil Rania lirih.


Bagas membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya, hanya wajahnya yang ia buka.


"Ada apa gadis bodoh, ganggu aja?!"


Hey, tuan. Mungkin kau memang tercipta dan di takdirkan jadi orang yang paling menyebalkan di muka bumi ini.


"Maaf kalau saja mengganggu. Saya cuma mau memberitahu kalau ibu saya bisa untuk datang ke sini"


"Oh" jawabnya singkat.


Ini orang, tadi aja minta ibu supaya datang ke sini sekarang. Sekarang dia malah seakan-akan tidak memperdulikannya.


"Iya, tuan"


"Kalau begitu suruh supir untuk segera menjemputnya!"


"Baik"


Bagas kembali menyelimuti sekujur tubuhnya dan Rania berjalan mendekat ke sofa, ia melemparkan ponsel yang masih ia genggam ke atas sofa dengan keras, berusaha melampiaskan kekesalannya terhadap Bagas.


Kalau menyangkut nama ibu, aku marahnya gak main-main. Camkan itu tuan sombong. Sunggut Rania sambil berkacak pinggang, bibirnya ia sengaja di kerucutkan.


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR


Hy readers TUAN TAJIR. Semoga selalu setia untuk membaca cerita ini ya. Ajak semua teman terdekat untuk membaca cerita TUAN TAJIR ini.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, vote, tinggalkan komentar juga. Tambahkan ke favorit ya bagi yang belum, agar mendapat notifikasi ketika up🤗


__ADS_2