Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Pergi ke Ruko


__ADS_3

Matahari sudah menampakan sinarnya, pertanda pagi hari sudah tiba. Para penghuni rumah tuan tajir sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan.


Semuanya senang ketika melihat Bagas sudah kembali memakai pakaian kantor. Artinya Bagas sudah sehat. Setelah melaksanakan sarapan, bu Sari berpamitan kepada semuanya. Rania sangat sedih harus berpisah lagi dengan ibunya. Bu Sari pulang ke rumahnya di antar sopir. Sedangkan Bagas pergi bekerja seperti biasa dengan sekretaris Frans.


Rania merogoh ponselnya di saku depan celananya. Kemudian ia mengetikan sesuatu seperti sedang mengirimkan pesan kepada seseorang. Setelah itu Rania kembali ke dalam rumah.


Di dalam perjalanan, bu Sari merasa senang akhirnya ia bisa pulang juga agar tidak membebani anaknya di sana. Apalagi membuat Arsilla yang merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Tapi bu Sari sedih juga, ia begitu mengkhawatirkan puteri bungsunya di sana. Walaupun bu Sari tahu, puteri bungsunya itu memiliki sifat dari ayahnya. Yang bisa juga keras apabila ia di jahati.


Semoga anakku kuat tinggal di sana, semoga Bagas selalu melindunginya.


Pak sopir yang mengantar bu Sari melihat ke jok belakang melalui kaca spion. Melihat air mata berlinang di pipi bu Sari.


Sela Rian ibu itu senang mempunyai anak yang beruntung bisa nikah dengan tuan Bagas, tapi kenapa dia malah sedih ya? Pikir pak sopir.


Pak sopir kembali fokus menyetir dan melihat ke depan, kemudian ia memberhentikan laju mobilnya di depan minimarket.


"Kenapa berhenti, pak?"


"Maaf, bu. Ada sesuatu yang harus saya beli. Ibu tunggu di sini, ya!"


"Baik, pak sopir"


Pak sopir langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam minimarket. Tidak lama, hanya sekitar 15 menitan pak sopir kembali dengan membawa 2 kantong plastik besar di tangannya, yang tidak tahu apa yang baru saja ia beli. Banyak sekali.


Pak sopir kembali masuk dan menghidupkan mesin setelah membayar parkir. Memundurkan mobilnya dan masuk ke area jalan raya.


Mobil pun sampai di halaman rumah bu Sari, di sambut oleh segerombolan ibu-ibu si biang gosip yang sudah pasti kedatangan bu Sari akan jadi bahan gosipnya yang menarik. Pak Burhan dan Nadira juga keluar dari rumah ketika mendengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya.


Pak sopir membuka pintu dan bu Sari keluar dengan ekspresi yang biasa-biasa saja, tidak memasang wajah bahagia ataupun sedih. Nadira segera menanyakan keadaannya dan keadaan adiknya di sana. Tidak lupa menanyakan ada hal apa sampai ibunya harus datang ke sana di tambah harus nginap.


Bu Sari tidak langsung menjawabnya, ia memilih untuk masuk saja dan duduk di kursi rotan ruang tamu. Di ikuti oleh pak Burhan yang ikut penasaran juga. Pak sopir membawa masuk 2 kantong plastik berisi sesuatu yang sempat ia beli tadi di minimarket dan menaruhnya di atas meja.


"Apa itu?" tanya bu Sari heran, kenapa yang tadi ia beli di taruh di meja ruang tamu.


"Tuan yang meminta saya membelikan semua ini untukmu! Saya permisi"

__ADS_1


Baru saja bu Sari akan kembali bicara, tapi pak sopir langsung keluar dan pergi begitu ia berpamitan.


"Itu apa, bu?" tanya Nadira.


"Ibu juga gak tahu, lihat aja!"


Kemudian Nadira membuka kantong plastik itu, di dalamnya terdapat banyak makanan ringan, roti, dan cemilan lainnya. Pak Burhan yang juga penasaran ikut mengintip.


"Cuma itu?" tanya pak Burhan.


Mata bu Sari dan Nadira langsung menatap pak Burhan.


"Uang? Mana uang jatahku? Pasti kamu sudah di beri banyak uang kan oleh dia?"


Bu Sari menghela nafas panjang, yang di pikiran suaminya hanya ada uang, uang dan uang. Tanpa ia tahu bagaimana nasib anaknya di sana.


"Harusnya kita beryukur dengan apa saja yang kita dapat, ayah!"


"Halah, bersyukur apanya kalau cuma di kasih begituan doang. Palingan itu gak seberapa. Atau jangan-jangan kamu umpetin uangnya, iya kan?" tuduh pak Burhan pada istrinya sendiri.


"Astagfirullaahal'adzim, ayah. Istigfar!"


"Cukup, ayah! Apa ayah mau ibu sakit lagi gara-gara ayah bentak-bentak ibu terus? Belum tentu juga kan Rania di sana hidup enak. Yang di pikiran ayah tuh cuma uang, tanpa mikirin Rania yang tidak tahu bagaimana ia di sana di perlakukan?!"


"Halah, kalian sama aja." pak Burhan beranjak dari kursi dan pergi ke kamar.


Nadira mencoba menenangkan ibunya agar tidak terpancing dengan semua kata-kata ayahnya.


"Sabar ya, bu. Ayah kan memang begitu"


Bu Sari mengangguk, dan berusaha untuk terlihat kuat di depan puterinya.


******


Rania yang sudah bersiap-siap mengganti pakaian rapi pergi naik angkot. Tidak lupa memakai tas slempang yang selalu menemaninya pergi kemanapun.

__ADS_1


Rania pergi ke sebuah ruko yang minggu lalu sudah ia sewa. Di sana sudah banyak karyawan yang pernah Rania minta pada Reyhan untuk bekerja di sana. Rania juga meminta Reyhan untuk mengurus semuanya tentang rencananya membuka toko online selama ia mengurus Bagas yang sedang sakit.


Rey kemana ya? Kenapa dia tidak terlihat?


Kemudian Rania menanyakan pada salah satu pekerjanya, yang pekerja nya juga tidak tahu bahwa wanita yang sedang ada di hadapannya itu boss aslinya.


"Rey nya kemana, ya?"


"Maaf, anda siapa?" tanya balik wanita itu.


Waw, bahkan orang yang bekerja di sini tidak mengenali aku ini siapa. Hey, aku ini adalah orangyang menjadi bossmu. Jahat banget ya Rey, tidak memberitahu mereka aku ini siapa.


Sebuah tangan menepuk pundak Rania dari belakang. Rania menoleh, ternyata dia Reyhan, orang yang sedang ia cari.


"Kenapa? Kangen sama aku?"


Rania mendecak, ia sudah tahu kalau pertanyaan Reyhan hanya sebatas candaannya.


"Tadi dia nyari pak Rey" kata pekerja itu.


Reyhan yang mendengarnya tersenyum, pekerjanya menyebut Rania dengan sebutan dia. Dia belum tahu kalau Rania adalah bossnya.


"Wati" nama pekerja itu adalah wati, "Kenalin, ini ibu Rania, boss kamu yang asli!"


Wati yang mendengarnya langsung terkejut, orang yang saat ini ada di hadapannya itu ternyata bossnya. Ia langsung mohon-mohon dan minta maaf.


"Maaf, bu. Maafkan saya! Saya sudah bersikap tidak sopan tadi sama ibu. Saya tidak tahu" wati meminta agar bossnya memaafkannya.


Rania tersenyum melihatnya, "Sudah, tidak apa-apa!"


Reyhan mengajak Rania masuk untuk melihat rukonya. Banyak juga barang yang sudah tersedia di sana, yang sudah di handle oleh Reyhan sesuai permintaan Rania.


Dari kejauhan, seseorang menggunakan jaket kulit berwarna hitam mengambil ponselnya. Dan berbicara dengan seseorang uang ia hubungi.


"Sudah saya temukan orangnya!"

__ADS_1


Hanya itu yang ia ucapkan, tidak tahu maksudnya apa. Ia langsung mematikan ponsel dan pergi begitu saja setelah ia seperti memberikan sebuah informasi tentang keberadaan seseorang.


Bersambung...


__ADS_2