
Bagas dan Rania tengah menunggu di meja makan, ia akan malam bersama sekaligus memberi tahu sang papah tentang kehamilan Rania. Ia rasanya sudah tidak sabar ingin memberitahu soal itu. Karena pasti papahnya itu akan merasa sangat senang lebih dari pada yang ia kira. Tapi ia lihat papahnya tidak datang dan keluar dari kamarnya juga. Malahan yang datang kakak dan tantenya.
"Selamat malam kak, tante" sapa Bagas tidak seperti biasanya, mungkin ia terlalu bahagia.
"Malam Bagas" balas mereka seraya memberi seulas senyuman.
"Malam kakak ipar, tante" Rania juga ikut menyapanya.
Arsilla dan Hera sama sekali tidak membalas ataupun memberi senyuman. Mereka langsung saja menarik kursi dan duduk di sana. Bagas sama sekali tidak mencurigai sikap kakak dan tantenya seperti ketika ia menyapanya. Mungkin karena ia terlalu fokus pada kebahagiaan yang akan di sampaikan pada papahnya. Rania justru mendapat tatapan sinis dari mereka berdua.
Setelah menunggu hampir sepuluh menit, namun Brahma tidak mendatangi meja makan juga. Bagas merasa cemas kalau terjadi sesuatu dengan papahnya.
"Kak, tante, papah ada kan?" tanyanya, karena takutnya Brahma masih ada pekerjaan lain di luar rumah.
"Ada, justru tadi papah pulang lebih awal. Memangnya kamu gak tahu?" jawab dan tanya balik Arsilla.
Bagas mengerutkan keningnya dalam, ia mengingat kalau tadi siang ia juga pergi melihat ruko proyeknya sekalian ke tempat ruko Rania.
"Kalau begitu aku akan periksa papah di kamarnya, aku takut papah sakit. Karena papah tidak biasanya seperti ini" ujar Bagas bergegas pergi dari sana untuk ke kamar papahnya.
Di meja makan, tinggal Rania dan dua wanita menyebalkan, Arsilla dan Hera. Arsilla langsung berdiri dan mencondongkan tubuhnya di hadapan Rania dengan tangan mengebrak meja keras.
Brakkk..
Rania terpelonjat ketika kakak iparnya tiba-tiba saja menggebrak meja. Namun satu yang harus ia ingat, yaitu bersikap tenang.
"Hei gadis gembel, kampungan, matre! Kamu sengaja kan bujuk Bagas buat ngelakuin hal yang bisa bikin kamu hamil? Itu semua kamu lakukan agar seluruh harta keluarga ini jatuh ke tangan anakmu kelak, benar kan?" maki dan tuduh Arsilla tiada henti.
"Dasar gadis tidak tahu diri!" Hera menimpali.
Huh.. Tenang Rania, tenang! Kamu harus bersikap tenang untuk menghadai dua wanita rese ini. Rania menghembuskan napas pelan.
"Kakak ipar, tenanglah! Aku sama sekali tidak punya niatan seperti itu. Mungkin itu cuma pikiran kakak ipar saja yang terlalu kotor!" ucap Rania dengan tenang dan beraninya. Ia sama sekali tidak menunjukkan kalau dirinya sedang terancam.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu, atau...!"
"Atau apa?" tukas Rania, ia berdiri dari duduknya dan memberikan tatapan tidak kalah seramnya dengan Arsilla. Memang ia tidak dapat menahan lagi emosinya, apalagi ia sedang hamil sehingga membuatnya gampang terpancing amarah.
"Hentikan gadis gembel!" Hera juga ikut Berdiri untuk membantu Arsilla menyerang. "Jangan mentang-mentang kau ini istri Bagas, seenak jidat berani menantangku dan Arsilla. Kau ini tidak lebih dari seorang gadis miskin yang cuma numpang hidup di rumah ini! Menyedihkan!" maki Hera tiada henti.
Pertarungan semakin sengit dan seru, sehingga mengundang para pelayan di dapur untuk menyaksikannya. Mereka mengumpat di balik tembok dengan hebohnya, tangan di kepalkan lalu di pukulkan pada telapak tangan sebelahnya. Mereka semua mendukung Rania dan ingin Rania menghajar saja kedua wanita itu.
"Dengar ya, tante! Tante tidak tahu siapa saya sebenarnya, kau cuma tahu namaku tapi tidak dengan kisah hidupku. Kau hanya tahu aku dari cerita orang lain tanpa mengenalku dengan baik" seru Rania karena tidak terima dirinya terus maki.
"Dan untukmu kakak ipar! Kalau kau membenciku, silahkan! Tapi jangan pernah bujuk orang lain untuk ikut membenciku juga, paham!"
Kata-kata Rania barusan membuat Hera berpikir sejenak, perkataannya itu ada benarnya juga. Ia telah menilai Rania dari satu sudut pandang saja tanpa tahu siapa dia sebenarnya. Namun pikiran itu segera ia tepis karena tidak ingin termakan oleh ucapan gadis tersebut.
Perkataan Rania membuat Arsilla bungkam, ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Hera juga mendadak diam setelah mendengar hal itu, ia merasa kalah lagi menyerang Rania untuk yang kesekian kali.
Perkataan Rania membuat pelayan yang menyaksikan terus memberi semangat dari jauh. Akhirnya nona yang mereka dukung dapat mengalahkan dua nona yang ia juga tidak suka. Mereka bersorak dalam hati, jingkrak-jingkrak bersama karena nona yang mereka anggap lemah lembut ini bisa lebih kasar untuk membalas serangan Arsilla dan Hera.
Sementara Bagas, ia membuka pintu kamarnya perlahan. Ia melihat papahnya sedang duduk di tepi ranjang dengan memandang ke sembarang arah.
Brahma menoleh sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Papah kenapa? Papah sakit? Aku dan yang lain sudah menunggu papah di meja makan tapi.."
"Cukup Bagas! Hentikan sandiwaramu itu!" bentak Brahma memotong kalimat Bagas, membuat Bagas tertegun, ia tidak mengerti mengapa papahnya itu marah tanpa sebab.
Bagas duduk di samping papahnya, wajah ayahnya terlihat sangat murka namun ia masih tidak mengerti apa yang membuatnya seperti sekarang ini.
"Pah.. Aku cuma mau kasih tahu kalau Rania sedang hamil. Ia sedang mengandung anakku, cucu papah" lirihnya namun tidak memudarkan semangat Bagas untuk mengatakan hal itu.
"Kebohongan apa lagi yang kamu katakan, Bagas?" pekik Brahma dan menatapnya tajam, ia memelototi Bagas. Ia terlihat marah sekali.
"Pah, aku tidak tahu kenapa papah jadi marah seperti ini! Papah kenapa? Kalau ada masalah bisa kita bicarakan baik-baik, pah!"
__ADS_1
"Cukup, Bagas! Papah minta hentikan sandiwaramu! Jika kamu memulai sesuatu dengan kebohongan, maka sisanya menjadi kebohongan juga" seru Brahma dengan nada tinggi.
"Maksud papah apa, pah? Aku betul-betul tidak mengerti!" keluh Bagas.
"Bagas, kamu tahu kan, papah mengecek ruangan monitoring cctv setiap empat bulan sekali? Dan hari ini papah meminta orang yang memonitoring keamanan rumah ini untuk menjelaskan apa saja yang terjadi di rumah ini. Semua ruangan kita pakai cctv kecuali kamar papah, kamu dan Arsilla. Itu cuma kita yang dapat mengeceknya."
"Waktu papah tanya kejadian apa saja yang terjadi, orang yang memonitoring keamanan rumah kita itu terlihat gugup. Makanya papah curiga sesuatu telah terjadi di rumah ini. Papah memintanya untuk memperlihatkan data selama empat ini. Ternyata papah kecewa dan menyesal telah melihatnya"
"Selama ini kamu membohongi papah. Kamu telah menikahi anak orang yang kamu jadikan bahan kepentingan kamu sendiri. Kamu telah membuat anak orang menderita! Papah baru tahu dan papah kecewa, sangat kecewa. Papah pikir hubungan kalian baik-baik saja. Papah pikir hubungan kalian semanis yang papah kira, tapi ternyata papah salah. Papah tidak tahu apa yang kamu lakukan selama berada di dalam kamar bersamanya. Papah mengira kamu menyiksa gadis yang tidak berdosa itu." Bicara Brahma panjang lebar meluapkan amarahnya.
"T-tapi pah.."
"Apalagi, Bagas? Apa yang akan kamu katakan pada papah? Papah sudah tahu semuanya. Papah juga kecewa dengan sikap Arsilla yang ikut memberi penderitaan pada Rania. Papah tidak tahu harus mengatakan apa lagi, papah merasa bersalah sekali dengan Rania"
"Mungkin salah papah juga terlalu menekan kamu untuk cepat-cepat menikah, sehingga kamu memilih siapa saja yang akan kamu nikahi. Kamu memang tepat menikahi gadis baik seperti Rania, tapi Rania memiliki suami yang salah" Brahma merasa sangat terpukul mengetahui semua ini, ia sangat kecewa, ia menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang telah terjadi.
"Maafkan aku, pah! Aku bisa jelaskan semuanya!"
"Papah tidak butuh penjelasan apapun dari kamu, semuanya sudah sangat jelas. Papah minta kamu keluar!"
"Keluar Bagas!" bentak Brahma membuat Bagas tidak mampu berkutik sedikitpun, ia mengangguk dan keluar dari kamarnya.
Bagas menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya di pintu kamar papahnya.
"Papah sudah tahu semuanya, tapi kenapa papah tidak bilang kalau aku hanya pernah berbuat sekejam itu pada Rania. Apa papah cuma melihat sebagian saja, tanpa melihat perubahanku yang sudah benar-benar mencintai Rania. Aku harus segera meluruskan semua ini."
Bagas akan kembali bicara untuk meluruskan semua ini ketika emosi papahnya sudah mereda. Karena tidak baik berbicara dengan orang dalam keadaan sedang di kuasai amarah.
.
.
.
__ADS_1
Coretan Author:
Bantu promo ya, kalau mau! Biar saya fokus nulis naskah aja. Tong hilap (Jangan lupa) Like, komen, tambahkan ke favorit! Vote yang banyak atuh, ya!