Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Kehilangan kesadaran


__ADS_3

Ke esokan harinya, Rania menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh suaminya untuk besok. Sekaligus pakaian untuknya selama di sana. Ia memasukan pakaian itu ke dalam koper dan beberapa dokumen penting yang sudah Bagas siapkan sebelumnya.


"Ada lagi yang mau kau bawa? Takutnya ada yang ketinggalan" tanya Rania pada suaminya yang sedang duduk di sofa dengan menatap layar laptop yang menyala dan jari-jari yang lincah menyentuh keyboard, wajahnya terlihat sedang fokus dan serius.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Bagas, rupanya ia sedang benar-benar fokus dengan pekerjaannya. Akhirnya Rania menutup saja kopernya, lalu ia berjalan menghampiri sang suami dengan duduk di sampingnya.


"Masih lama?" tanyanya lagi dengan sedikit mengintip layar leptop, penasaran apa yang sedang suaminya kerjakan itu.


"Sebentar lagi" jawabnya tanpa memalingkan pandangan dari layar laptopnya.


"Mau aku buatkan minuman? Kopi mau?" tawar Rania.


"Boleh, tapi jangan terlalu manis, ya!" pintanya.


"Iya" Rania bersiap untuk berdiri namun Bagas menarik lengannya untuk kembali duduk.


"Tahu gak kenapa tidak usah terlalu manis?" kali ini Bagas menatap wajah Rania.


"Kenapa? Takut diabets?" pikir Rania.


"Karena manisnya udah ada di senyummu, eakss" godanya lalu tertawa kemudian.


"Ihh..dasar gombal! Lagi fokus kerjaan aja masih sempat godain istri" Rania memukul bahu Bagas dengan manja.


"Haha, suntuk tahu aku tegang kayak gini buat ngadepin besok presentasi di sana" Bagas menghembuskan nafas panjang.


"Ya sudah, aku buatkan kopi dulu" kemudian ia bangun dari duduknya, baru saja dua langkah ia pergi dari sana. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu dan membalikkan badannya.


"Kopi hitam atau kopi susu?" tanyanya karena ini pertama kali ia akan membuatkan kopi untuk suami setelah sekian lama berumah tangga.


"Kopinya saja, susunya kan sudah ada di kamu" ujarnya lagi-lagi menggoda, membuat ia mendapatkan lemparan sandal melayang di udara dari Rania dan tepat mengenai kepalanya.


"Kau.." Bagas mengambil sandal yang di lempar oleh istrinya barusan, ia mau melempar balik namun istrinya sudah lari terbirit-birit sambil cekikikan ke luar kamar.


Bagas hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kekonyolan istrinya. Ternyata bukan cuma dirinya yang konyol, istrinya lebih dari kata itu. Pasangan somplak.


***


Pagi hari sekitar pukul tujuh, sekretaris Frans bersama pak sopir sudah menunggunya di halaman rumah. Seorang pelayan berjalan di belakang Bagas dan Rania membawakan koper yang akan di bawa oleh tuannya. Dengan cekatan sopir itu segera membukakan garasi mobil dan membantu memasukan koper ke dalamnya.


Karena terburu-buru, Bagas harus segera berangkat setelah semalam ia berpamitan pada ayah, kakak ipar dan tantenya.


"Sayang, aku pergi dulu, ya! Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada" pamitnya mengecup kening istrinya kemudian.

__ADS_1


"Kau juga hati-hati, ya! Ingat, di sana untuk urusan pekerjaan bukan untuk hal lain" Rania mengingatkan, ia juga khawatir kalau Bagas berbuat macam-macam di luaran sana.


"Iya, aku harus segera pergi"


"Hati-hati" kemudian Rania mencium punggung tangan suaminya.


Setelah itu Bagas masuk ke dalam mobil karena pak sopir sudah membukakan pintu utuknya.


"Frans, jaga tuanmu dengan baik!" pinta Rania di angguki oleh sekretaris Frans cepat.


"Baik, nona" balasnya, ia segera masuk juga karena sopir sudah mengitari mobil untuk segera mengemudikan mobilnya.


Rania melambaikan tangannya ketika mobil sudah melaju dan keluar dari gerbang utama. Ia berdiri mematung di sana sambil melihat punggung mobil yang semakin menjauh hingga hilang dari pandangannya.


Rania kembali masuk ke dalam rumah dan menuju meja makan, tadi ia belum sempat menghabiskan roti cokelat yang tersisa sepotong lagi. Ia segera menghabiskannya karena tidak mau menyisakan yang namanya makanan. Karena masih banyak di luaran sana yang kelaparan, makanya ia begitu menghargai yang namanya makanan. Seafood tiga porsi saja ia dengan terpaksa harus menghabiskannya, apalagi cuma roti yang tinggal secuil.


Sepotong roti itu sudah masuk ke dalam mulutnya, untuk mendorong kunyahan roti agar cepat ketelan, ia meminum segelas susu yang masih utuh. Setelah itu ia pergi dari sana, berniat untuk kembali ke kamar dan mengambil tas slempang mau pergi ke ruko. Namun setelah pergi dari sana, muncul dua sosok wanita menyebalkan bagi kalian, dari balik tembok dekat dapur. Ia tersenyum dengan liciknya, sepertinya ia telah melakukan sesuatu.


Seorang pelayan menepuk pundak Arsilla dan membuatnya terkejut setengah mati, padahal pelayan itu sama sekali tidak mengejutkannya.


"Nona sedang apa di sini?" tanya pelayan itu, namun tangan Arsilla segera membungkam mulutnya dan raut wajah yang menunjukan takut, dan panik.


"Tidak usah banyak tanya! Kau diam saja, lakukan tugasmu dan kembali sana!" ia mengedikkan dagunya, memberi kode pada pelayan untuk segera pergi.


"Ba-baik, nona" jawab pelayan itu takut, setelah Arsilla melepas bungkamannya.


***


Di ruko, Rania sedang mencoba laptop barunya di lantai atas. Betapa senangnya akhirnya ia melakukan pekerjaan dengan mudah jika ada laptop. Di tengah bahagianya, tiba-tiba seseorang datang mengahampiri dengan wajah girangnya.


"Hei, Rania.." panggilnya lirih namun terdengar jelas.


"Rey.." Rania menutup layar laptopnya, menatap Reyhan aneh karena tidak biasanya ia terlihat seceria seperti sekarang ini.


"Aku mau ajak kamu makan, aku traktir kamu" ucapnya.


"Traktir aku makan?"


"Iya"


"Ada apa ini? Kamu ulang tahun hari ini?" biasanya memang orang yang sedang ulang tahun yang mau neraktir orang lain makan.


"Tidak!" Reyhan menggeleng.

__ADS_1


"Lalu?" Rania semakin penasaran.


"Aku lagi bahagia aja, aku lagi ada rejeki lebih. Makanya aku mau neraktir kamu makan" jelasnya masih berdiri di depan Rania.


"Oh, dapet warisan ya?" tebak Rania sambil menunjuk Reyhan.


"Warisan apa? Gak lah" bantahnya.


"Kalau mau neraktir makan, kenapa cuma aku? Yang lainnya juga harus kebagian dong" protes Rania karena Reyhan pilih kasih.


"Ya karena cuma kamu yang belum aku traktir. Yang lainnya udah" jelasnya masih semangat mengajak Rania makan.


"Oh, kalau Diva sudah ikut juga?" Rania takut kalau ini akan menjadi kesalah pahaman lagi.


"Sudah. Ayo, mumpung aku lagi bahagia, nih!" ajak Reyhan lagi dengan mengulurkan tangannya untuk membantu Rania berdiri.


Rania mengangguk dan menerima uluran tangan dari Reyhan untuk beranjak berdiri Namun, saat gadis itu berdiri, pandangannya tiba-tiba memudar. Kepalanya terasa berputar dan terasa semakin berat, begitupun dengan napasnya yang semakin lama mendadak sesak membuatnya terengah-engah.


Reyhan menyipitkan kedua matanya, memperhatikan Rania yang tiba-tiba memejamkan mata sambil menggenggam tangannya. "Rania, kamu kenapa?"


Rania membuka matanya sejenak, ia hanya menggelengkan kepala singkat. Perutnya terasa sakit dan panas seperti sedang di aduk, hingga membuat dirinya untuk berbicara saja rasanya tak sanggup.


Tangan Rania semakin erat mencekeram lengan Reyhan. Ia berusaha untuk mengatur napasnya perlahan.


"Rania, kamu baik-baik saja?" Raut wajah Reyhan berubah menjadi panik. Ia mencemaskan Rania. Rania tetap diam. Wajahnya semakin memucat, seolah-olah darah sudah terserap habis oleh tenaganya. Ia semakin mempererat cengkramannya.


"Rey, aku..." suara Rania tercekat sebelum akhirnya gadis itu kehilangan kesadarannya.


Reyhan seketika berusaha menahan tubuh Rania yang nyaris ambruk ke lantai agar tidak terjatuh.


"Rania, kamu kenapa? Rania, bangun?" Reyhan menepuk-nepuk pipi Rania pelan berulang kali untuk menyadarkannya, namun gadis itu tetap saja tidak sadarkan diri.


"Pak Reyhan, Rania kenapa?" tiba-tiba seseorang muncul dan bertanya ketika melihat Rania tidak sadarkan diri. Dia tak lain adalah Diva.


Diva juga ikut panik melihat Rania tidak sadarkan diri, kepanikannya menbuat seluruh pegawai naik ke lantai atas untuk melihatnya. Reyhan meminta Diva untuk menelpon ambulan, kemudian ia membopong tubuh Rania dan menbawanya dari dari sana.


.


.


.


.

__ADS_1


Coretan Author:


Hai pembaca setia yang manis.. Gimana, part ini bikin tegang gak? Penasaran kan dengan kelanjutannya, sampai jumpa di next part. Tekan gambar love untuk di jadikan favorit, dan akan mendapat notifikasi ketika update lagi.


__ADS_2