Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Rania di culik


__ADS_3

Setelah meeting kedua selesai, Bagas langsung saja pulang. Badannya sudah terasa lelah sekali, ia mengecek ponselnya namun baterainya habis. Sepertinya ia langsung pulang je rumah saja, karena Rania tadi tidak minta di jemput, dan ia pikir Rania sudah pulang juga.


Namun pada saat ia sampai di rumah, Rania tidak ada. Mungkin Rania masih di rumah ibunya. Bagas segera men-charger ponselnya terlebih dahulu, setelah itu ia mandi untuk bersih-bersih. Badannya terasa sangat lengket sekali.


Setelah selesai mandi, Bagas pergi ke meja makan dan sudah tersedia banyak sekali makanan, namun Rania belum juga pulang. Ia mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Rania. Tapi berulang kali, panggilannya tidak di jawab juga oleh istrinya. Bagas mulai cemas, namun ia haru tetap tenang. Percaya, tidak akan terjadi sesuatu dengan Rania.


"Apa dia lagi di jalan, ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Bagas mencoba untuk menunggunya sebentar lagi, semoga saja Rania memang sudah ada dalam perjalanan pulang. Yang lebih baiknya lagi, semoga Rania di antar oleh abangnya, karena ia sudah membelikannya motor.


Lima menit kemudian, Rania tidak kunjung datang juga. Bagas sudah kelihatan gelisah sekali. Ia berdiri di samping kursi, dengan sesekali melirik jam tangannya. Ia menengok ke arah pintu, namun belum ada tanda-tanda kalau Rania akan pulang.


Kegelisahannya terus bertambah, akhirnya Bagas melangkahkan kaki mendekati arah pintu, semoga saja Rania cepat pulang. Rania tetap tidak ada, Bagas kembali ke meja makan. Menatap semua makanan yang sudah tersaji di meja makan. Kemudian ia berpikir, mungkin Rania sedang makan di rumah ibunya. Ya, itu bisa jadi.


Tapi mengapa Rania tidak menghubunginya kalau dia mau makan malam di sana? Mengapa dia tidak menghubunginya kalau akan pulang terlambat?


Bagas kembali berjalan ke arah pintu, ia membuka pintu luar untuk melihat kedatangan Rania, sekalian untuk menyambutnya ketika datang sewaktu-waktu. Bagas terus berusaha menenangkan pikirannya, ketika melihat jam di tangannya sudah menunjukan pukul delapan malam.



Video-nya bisa lihat di akun instagram saya, ya! Yuk, tonton sekarang juga! Follow ya, wind.rahma


Kecemasannya semakin bertambah beberapa kali lipat. Rupanya ada yang tidak beres. Akhirnya Bagas memutuskan untuk menghubungi ibu mertuanya. Untuk menanyakan apakah Rania sudah pulang atau masih ada di sana?


Bagas merogoh ponselnya di saku celana, ia mencari kontak nomer bu Sari. Ia menempelkan ponselnya ke telinganya.


"Hallo, bu. Maaf mengganggu malam-malam," ucap Bagas ketika telponnya sudah terhubung dengan bu Sari.


"Iya, nak Bagas tidak apa-apa! Ada apa?" tanya bu Sari dari sebrang sana.


"Bu, tadi Rania ke rumah ibu kan?"


"Iya, betul. Memangnya kenapa, nak Bagas?"


"Em.. sekarang Rania masih ada di sana atau sudah pulang? Soalnya dia belum kembali juga."


Seketika bu Sari cemas. "Lah, kok bisa? Rania sudah pulang sejak satu jam yang lalu, nak Bagas!"


"Hah? Yang benar, bu? Tapi kok dia belum datang juga, ya?" jarak rumah bu Sari ke rumahnya hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam saja, tapi kenapa Rania bisa belum sampai.


"Nak Bagas coba telpon saja, siapa tahu masih di jalan atau mobilnya terjebak macet!" sebenarnya bu Sari cemas, namun dia ingat perkataan Nadira tadi. Lebih baik berdo'a yang baik saja, semoga Rania sampai dengan selamat sampai rumah.


"Barusan saya sudah telpon, tapi tidak di angkat juga. Ibu benar, mungkin dia terjebak macet. Nanti aku hubungi dia kembali, terima kasih atas infonya, bu! Maaf mengganggu!"

__ADS_1


"Iya, nak Bagas. Kabari ibu kalau Rania sudah sampai, ya!" pesan bu Sari, sebelum akhirnya ia mematikan sambungannya.


Bu Sari mengusap dadanya, ia bukan hanya mencemaskan Radit yang tidak pulang juga sampai sekarang, tapi ia lebih cemas lagi ketika mendengar Rania belum sampai di rumah.


"Bodoh.. Bodoh sekali, kenapa aku tidak jemput saja dia tadi?" Bagas memukul meja makan dengan keras.


"Mudah-mudahan kamu cepat sampai, sayang! Karena aku tidak akan memaafkan diri aku sendiri, kalau sampai terjadi apa-apa dengan dirimu!" Bagas kembali memukul meja makan itu, tidak hanya itu, ia juga menendang kaki meja dengan sangat keras.


***


"Pak, sesuai aplikasi, ya!" pinta Rania pada sopir taksi online.


"Baik, bu," jawab sopir taksi online tersebut.


Tiba-tiba saja Rania tertegun, tidak tahu kenapa suara sopir taksi online itu tidak asing di telinganya. Kemudian Rania melirik sekilas, siapa tahu dia kenal dengan orang itu. Namun sayangnya sopir itu menggunakan topi dan menutupinya lagi dengan topi yang ada di sweater yang dia kenakan. Sopir itu juga memakai masker.


Rania melihat ke jalan melalui kaca samping, seketika ia sadar. Kalau jalan yang sedang ia lalui itu bukan arah jalan ke rumahnya, ia mengerutkan dahinya.


"Pak, ini bukan arah jalan rumah saya, saya kan sudah minta sesuai aplikasi, pak!"


"Iya, bu. Maaf! Tapi kalau kita lewat jalan alternatif ini, kita tidak akan terjebak macet. Begitu, bu!" jawab sopir itu.


Rania menganggukkan kepalanya, sebelumnya ia belum pernah sih lewat jalan alternatif lain ke arah rumahnya. Tapi setelah ia pikir lagi, kenapa setelah satu jam lamanya, ia tidak sampai-sampai juga. Rasanya muter-muter di situ terus. Aneh.


"Bisa lebih cepat lagi tidak, pak? Soalnya suami saya pasti sudah menunggu saya di rumah."


Ngomong-ngomong suami, Rania jadi ingat Bagas. Dia mungkin sudah sampai di rumah duluan. Rania mengambil ponselnya di tas, begitu ia mau menghubungi nomer Bagas, tiba-tiba mobil melewati polisi tidur dan sopir lupa untuk mengerem, akhirnya ponsel Rania terjatuh.


"Maaf, bu! Tadi saya tidak lihat ada polisi tidur," ucap sopir.


"It's okay, tidak apa-apa!"


Rania berusaha mengambil ponselnya yang jatuh ke bawah kursi samping kemudi, ia berusaha untuk mengambilnya, tapi tidak bisa. Karena jalanan yang sedang ia lalui ini banyak sekali polisi tidur, itu membuatnya sangat kesulitan.


Rania memutuskan untuk mengambil ponselnya nanti saja, ketika ia sudah sampai. Tapi sepuluh menit sudah berlalu, mobil yang ia tumpangi itu tidak sampai-sampai ke tujuan. Padahal gunanya jalan alternatif itu untuk mempercepat dan memperpendek jarak. Tapi kenapa ini justru malah semakin jauh rasanya? Rupanya ada yang tidak beres.


"Pak, kenapa belum sampai juga, ya?"


"Maaf, saya lupa belok kanan ketika di pertigaan tadi. Jadi kita muter balik untuk kembali ke pertigaan tadi, dan lumayan jauh. Maaf!" ucap sopir tadi, benar-benar alasan yang tidak masuk akal.


"Kira-kira berapa lama lagi, ya?" Rania sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah, perasaannya juga sudah tidak enak rasanya.


"Kira-kira lima belas menitan lagi, bu. Sekali lagi saya minta maaf, ibu nanti boleh bayar separuhnya karena saya telah membuat ibu harus muter lebih jauh!" ujar sopir itu.

__ADS_1


Rania mengangguk, terserah sopir saja, lah. Yang penting ia akan segera sampai di rumah.


Lima menit berlalu, berarti sepuluh menit lagi ia akan sampai di tujuan. Namun sopir tiba-tiba berhenti mendadak, tidak tahu kenapa.


"Ada apa, pak?" tanya Rania, lagi. Ia semakin heran saja dengan sopir taksi online yang satu ini, sedikit patut di curigai.


"Sepertinya ban-nya kempes, bu. Saya cek dulu!" sopir itu sudah membuka sabuk pengamannya, beriap untuk turun.


"Tunggu, pak!" Rania menghentikan sopir yang nyaris turun dari mobil. "Apa anda tidak bisa mengeceknya nanti saja, ya?! Di tempat yang lebih ramai, jalan ini sepi sekali!" Rania menggaruk tengkuknya, bukannya ia takut kalau ada hantu semacam itu, ia justru lebih takut kalau ada semacam begal.


"Kalau beneran kempes, takutnya kalau di paksakan di bawa jalan bisa pecah ban-nya, bu."


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya, pak!" teriak Rania ketika sopir taksi online itu sudah turun dari mobilnya.


Ini kesempatan Rania untuk mengambil ponselnya yang terjatuh tadi, ia harus mengambilnya sekarang juga. Sebelum sopir kembali untuk melajukan mobilnya.


Ketika Rania membungkuk untuk mengambil ponsel yang ada di bawah kursi samping kemudi, tiba-tiba seseorang membuka pintu samping mobil dan menutup seluruh bagian kepala Rania. Rania sontak berteriak ketika ada seseorang yang berani berbuat macam-macam kepadanya.


"Tolong... Siapa di sana? Tolong.... Tolong... Hei, siapa di sana? Lepaskan aku...! Tolong...." teriak Rania sekuat tenaga dan sekeras mungkin, tapi rupanya yang ia lakukan ini sia-sia. Karena seseorang yang berbuat jahat kepadanya itu bukan hanya menutup bagian kepalanya saja, tapi dia juga mengikat kedua tangannya.


"Tolong... Siapapun kamu, jangan pernah berani berbuat macam-macam sama aku! Karena kamu akan menyesal jika tahu siapa suamiku, suami aku pasti akan datang menyelamatkanku . Dan di saat itu juga riwayatmu akan tamat!" ancaman Rania membuat seseorang tiba-tiba tertawa, seseorang itu duduk di samping Rania.


"Tolong... Lepaskan aku! Lepaskan...!" Rania berontak, ia merasa tangannya sangat kesakitan karena di ikat terlalu keras. Tenggorokannya-pun sudah sangat kering, suaranya sudah terdengar serak hanya untuk berteriak minta tolong.


Kemana sopir taksi online itu? Kemana dia? Apa jangan-jangan sopir taksi online itu ikut di serang oleh orang jahat ini juga? Pikir Rania dalam hati.


Rania sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi? Ia sangat ketakutan, benar-benar takut. Bagaimana jika sesuatu buruk terjadi padanya, pada kandungannya? Dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada kandungannya.


"Percuma teriak, tidak akan ada orang yang bisa menyelamatkanmu, hahaha." bisik orang itu tepat di telinga Rania.


Rania tercekat dalam kebisuan, ketika mobil sudah di lajukan oleh sesorang yang ia pikir itu pasti orang jahatnya, namun ada orang lain lagi di sana. Mereka tidak hanya satu orang, dua orang bahkan bisa jadi lebih. Karena saat itu ia sama sekali tidak bisa melihat.


"Kalau kamu takut, kamu berdo'a saja! Semoga Tuhan berbaik hati sama kamu!" orang yang berbeda kembali berbisik di telinga Rania, tadi orang itu berbisik di telinga sebelah kanannya. Sekarang di telinga sebelah kirinya, dugaannya benar, kalau tidak hanya dua orang saja di sana. Sudah ada tiga orang yang ia ketahui.


Siapakah mereka?


.


.


.


Coretan Author:

__ADS_1


Penasaran kan, siapa orang yang menculik Rania? Yuk, baca terus kelanjutannya! Dan tunggu update episode kelanjutannya dengan cara tambahkan ke favorit, nanti akan ada notifikasi.


Follow ig: wind.rahma


__ADS_2